3 Days

  1. Title : 3 Days
  2. Author : Catharina Griselda
  3. Cast:
    1. Main Cast : Kim Joon Myun (Suho EXO)
    2. Support Cast : Oh Se Hun (Sehun EXO), Kim Seol Hyun (Seolhyun AOA), Choi Si Won (Siwon Super Junior) as Danielle
  4. Genre: family, hurt, comfort
  5. Length (jumlah kata): one shot (1.999 words)

 

Aku langsung terbangun, mimpi itu terlalu menyeramkan. Menoleh ke arah jam dinding, waktu masih menunjukan pukul satu dini hari.s

Awalnya aku ingin kembali tidur, namun ponselku bergetar hebat di atas meja belajar. Membuatku terpaksa meninggalkan ranjangku dan memeriksa siapa yang berusaha menghubungiku di saat seperti ini.

Nomor asing, tak seharusnya kuterima.

“Yeoboseyo?” tanyaku dengan suara serak.

“Aku perawat Lee dari Seoul Hospital. Tuan Oh, sedang dirawat di rumah sakit ini karena kecelakaan tabrak lari. Harap Anda bisa kemari.”

Aku langsung tercekat mendengarnya. Kupikir Se Hun sudah pulang daritadi lalu mengunci diri di kamarnya.

Bergegas aku berganti pakaian dan mengambil kunci mobilku dari laci meja belajar. Dengan mengendap – endap aku menuruni tangga dan langsung menuju garasi. Di sana, mobil tuan Oh belum terparkir – aku akan aman untuk malam ini jika berhasil membawa anak sialan itu pulang duluan.

“Aku Kim Joon Myun, ingin menemui pasien Oh Se Hun yang katanya dirawat di sini karena peristiwa tabrak lari,” ucapku begitu sampai pertama kali di Seoul Hospital.

Perawat yang berjaga di front desk, memeriksa bukunya sejenak lalu menyuruhku untuk pergi ke kamar 602 di lantai dua. Sambil berjalan ke sana, tanpa sadar aku berdoa agar anak sialan itu tak kenapa-napa.

Dengan perasaan tegang, kubuka pintu kamar 602. Punggung Se Hun yang paling pertama kulihat begitu membuka pintu.

“Se Hun.” Panggilku dari arah pintu dan ia pun langsung berbalik.

Seperti seorang bodoh, ia tersenyum ke arahku – dengan sudut bibir kanannya yang terluka dan mata sebelah kirinya yang membengkak dan kebiruan. Tapi aku langsung tahu begitu melihat luka-luka itu. Se Hun tidak mengalami tabrak lari, ia habis berkelahi dengan seseorang.

Langsung aku berbalik, hendak pergi. Namun Se Hun memanggilku.

“Aku telah mencoba menjadi sepertimu, Hyung. Apa kau masih tidak mau melihatku juga?”

Aku hanya bisa memejamkan mataku, mendengar pertanyaan memelasnya. Dalam hati aku merutukinya, kenapa ia begitu bodoh – sangat menginginkan perhatianku.

 

 

Kami berhasil pulang sebelum tuan Oh pulang. Namun nyonya besar Oh melihatku memapah cucu kesayangannya dalam keadaan babak belur. Ia langsung membuatku menjadi sama, tanpa mendengar penjelasanku terlebih dahulu.

Paginya aku sama sekali tidak memiliki niat untuk meninggalkan kamarku karena kedua tanganku yang tidak bisa berhenti bergetar. Si tua bangka terlalu asyik memukulku hingga ia tak peduli darah telah mengalir, membasahi kedua tanganku. Aku membalut asal, keduanya dengan perban seorang diri dan sengaja menghindari keluarga sial di luar sana yang sedang sarapan pagi.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku, namun aku tidak peduli dan tetap berbaring.

Pintu pun dibuka dan cepat-cepat aku memejamkan mataku, berpura-pura masih tidur agar siapapun yang baru saja masuk tidak menggangguku.

“Joon Myun.” Panggil tuan Oh.

“Aku tahu kau sudah bangun dan hanya berpura-pura untuk menghindariku.” Lalu ia menghela napas dengan berat.

“Aku tahu semua ini bukan salahmu, jadi aku telah memutuskan untuk mengirimmu ke Amerika selesai SMA nanti,” ucap tuan Oh dengan berat lalu ia pun langsung pergi setelahnya.

 

 

Aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah dan berdiam diri beberapa saat di dalam kamar. Karena bosan, aku pergi mengunjungi toko kelontong milik tuan Moon, di ujung komplek.

Namun hari ini, yang berjaga di toko bukan tuan Moon melainkan seorang pemuda yang sebaya denganku dan berperawakan lebih tinggi dariku. Wajahnya rupawan, malah sekilas terlihat mirip denganku. Aku tidak pernah melihat pemuda ini di komplek.

“Selamat datang, ada yang bisa kubantu?” tanya pemuda itu dari balik meja kasir, begitu aku menghampirinya.

“Aku mencari tuan Moon.” Pemuda itu malah menoleh ke arah tanganku, yang tertutup lengan panjang kausku.

“Itu pasti sakit,” ucapnya prihatin.

Aku hanya terdiam, berpura-pura tidak mengerti. Lalu aku jadi bingung sendiri – bagaimana ia bisa seakan melihat apa yang kusembunyikan?

“Seol Hyun! Kim Seol Hyun!” teriaknya tiba-tiba.

Lalu dari pintu belakang, masuklah seorang gadis berambut bergelombang sebahu, yang mengenakan seragam seperti milikku juga Se Hun – hanya lebih kusam.

“Tolong bantu Kim Joon Myun dengan lukanya,” ucapnya, lalu segera pergi ke ruang belakang.

Tiba-tiba seseorang menyentuh tangan kananku dan sambil meringis kesakitan, aku langsung menarik tanganku.

“Mianhae, mari kuobati lukamu.” Ajak Seol Hyun.

Ia menyuruhku untuk duduk di belakang meja kasir sementara ia sendiri duduk di hadapanku dan mulai menggulung lengan bajuku. Entah kenapa, aku langsung merasa nyaman dengan gadis ini dan mempercayainya untuk mengurusku.

“Pasti sakit sekali,” ucapnya sembari mengoleskan salep ke tangan kiriku.

“Sudah biasa, tidak sakit. Aku biasa berkelahi di sekolah.”

Seol Hyun berhenti sejenak, mendengar jawabanku. Ia seperti memikirkan sesuatu.

“Nona Seol Hyun, apa…”

“Kenapa kau berkelahi? Apa ada yang mengganggumu di sekolah?” tanya Seol Hyun, langsung memotong pembicaraanku. Tersirat nada cemas di dalam pertanyaannya.

“Kau bukan ibuku, aku bahkan tidak mengenalmu.” Jawabku ketus.

Setelah itu, tidak terjadi lagi pembicaraan di antara kami berdua. Seol Hyun menyelesaikan mengobati kedua tangaku, bahkan membalutnya kembali dengan perban yang rapi.

 

 

Aku baru kembali ke kediaman Oh, malam harinya.

“Ke mana saja kau seharian ini?!” tanya tuan Oh, dengan nada membentak, begitu aku masuk ke ruang tamu.

Aku menoleh sejenak ke arahnya, namun tidak menjawab apa-apa.

Baru saja hendak pergi, tiba-tiba tuan Oh mencengkram keras bahu kananku.

“Aku belum selesai bicara denganmu, anak muda!” bentaknya.

Namun aku sama sekali tidak merasa takut dengan bentakannya. Aku malah merasa muak dan benar-benar tidak bisa menahan rasa kesalku lagi. Kutepis tangannya sambil berbalik, memberikan tatapan membunuh ke arahnya.

“Aku juga tidak pernah selesai bicara denganmu, tuan Oh!” teriakku, sanking kesalnya.

“Aku telah membencimu selama dua belas tahun kehidupanku bersama keluarga sialanmu – yang bisa kuingat! Aku membenci Se Hun dan si tua bangka sialan itu! Aku sangat membenci kalian semua!” Lalu cepat-cepat aku berlari ke kamarku, tanpa peduli akan panggilannya.

Aku mengunci diriku di dalam kamarku. Bergelung di dalam selimut, ketika kurasakan tubuhku mulai bergetar. Aku meneteskan air mataku untuk tuan Oh. Betapa aku membenci diriku sendiri, karenanya.

 

 

Ada seberkas cahaya yang menerobos masuk ke dalam mataku, memaksaku untuk melepaskan alam mimpiku. Hari pasti sudah siang, aku kembali melewatkan sehari untuk sekolah.

Melakukan sedikit peregangan sebelum turun dari tempat tidur, ketika kurasakan kedua tanganku sama sekali tidak sakit.

“Ini aneh,” ucapku, sembari menggulung lengan kaus yang kupakai sejak kemarin.

Betapa terkejutnya diriku, mendapati kedua tanganku sudah tidak terbalut perban sama sekali. Tak hanya perban, lukanya pun ikut menghilang. ‘Apa bertemu nona Seol Hyun di toko kelontong tuan Moon hanyalah khayalan belaka,’ tanyaku dalam hati.

Aku memutuskan untuk membuktikannya sendiri. Cepat-cepat aku pergi menuju toko kelontong Pak Moon – tanpa pamit. Sayangnya, ketika sampai di sana, tidak kudapati pemuda sebelumnya maupun nona Seol Hyun. Malahan lebih parahnya lagi adalah ketika kutanya tuan Moon dan ia malah menjawab bahwa kemarin tokonya tutup.

‘Aku pasti sudah gila.’ Batinku sambil melangkah keluar dari toko kelontong tuan Moon.

“Kim Joon Myun!” Seseorang berteriak memanggil namaku dari arah kanan, namun sewaktu aku menoleh ke sana – tak ada siapa-siapa.

Lagi, ada yang memanggilku dari arah yang sama. Dan kali ini, entah penglihatanku benar atau hanya khayalan, sekilas ada sosok si pemuda misterius yang mengenakan setelan jas serba putih – memberikan aba-aba dengan tangan kanannya, menyuruhku untuk mengikutinya.

Entah karena dorongan dari mana, aku mengikutinya. Ia menuntunku hingga sampai ke sekolahku sendiri. Terus menuntunku hingga ke aula barat di lantai dua, dengan tampilan yang lebih kuno. Di tengah panggung utama, berdiri sepasang siswa dan siswi yang sepertinya sedang bertengkar hebat. Aku hanya bisa ternganga, menyaksikan dari deretan bangku penonton.

“Duduklah, kita dengarkan kedua orang itu,” ucap si pemuda misterius, yang entah bagaimana sudah mengisi bangku di samping kananku.

Aku hanya bisa menurut.

“Ngomong-ngomong, namaku Danielle.” Lalu Danielle menjetikkan jarinya dan aku tiba-tiba dapat mendengar perdebatan di antara kedua orang tadi. Bahkan aku bisa mengenali mereka, tuan Oh muda dan nona Seol Hyun.

“Oppa, aku hamil. Aku sangat ketakutan, Oppa.” Keluh Seol Hyun sambil berurai air mata.

“Kau tidak perlu takut, semua akan baik-baik saja. Aku akan bertanggungjawab dan segera menikahimu,” ucap tuan Oh muda, dengan nada begitu tulus.

“Tapi bagaimana dengan keluargamu, Oppa? Ibumu sangat tidak merestui hubungan kita.” Tuan Oh muda tidak menjawab.

Lalu setelah itu, kondisi aula kembali seperti semula. Seperti aula barat yang biasa kukenal.

“Kau pasti tahu, mereka mempertahankan bayi tersebut.” Aku terdiam.

“Bayi laki-laki itu, terlahir tujuh belas tahun silam pada tanggal 22 Mei.” Mataku mulai berkaca-kaca, aku tahu siapa yang dibicarakannya.

Aku tidak ingin Danielle melanjutkannya. Aku tidak ingin tahu, yang aku inginkan adalah menghabisi si keparat tak berperasaan itu.

Aku berlari dan terus berlari meninggalkan lingkungan sekolahku. Menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.

“Antarkan aku ke gedung Oh Light,” ucapku begitu duduk di dalam taksi tersebut.

“Apa kau yakin?”

Suara Danielle – ia pria yang berada di balik kemudi. Secara reflek aku ingin segera meninggalkan taksi tersebut. Namun saat aku hendak membuka pintu, semua pintunya tiba-tiba terkunci.

“Biarkan aku pergi, Danielle. Aku harus menyelesaikan semuanya,” ucapku marah.

“Lalu apa?”

Pertanyaan itu, aku sama sekali tidak bisa menjawabnya. Saat ini aku hanya merasa kesal, pikiranku kalut.

Pembicaraan kami tidak berlanjut, ponselku tiba-tiba berdering. Panggilan dari tuan Oh. Belum sempat kujawab panggilan itu, seseorang dari arah kemudi memanggilku – menanyakan aku hendak ke mana. Dia bukan Danielle, hanya seoerang pria paruh baya. Aku termenung, tidak percaya akan penglihatanku.

“Tolong tunggu sebentar, tuan.” Jawabku, lalu menerima panggilan Tuan Oh.

“Joon Myun, pergilah ke Seoul Hospital. Se Hun sedang dalam kondisi kritis saat ini,” ucap tuan Oh dengan nada sangat panik lalu segera mengakhiri panggilannya.

“Seoul Hospital, secepatnya.”

 

 

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, aku langsung masuk ke dalam kamar Se Hun. Di dalam sana, terbaring lemah Se Hun yang tak sadarkan diri dengan begitu banyak peralatan medis melekat di tubuhnya. Hanya ada tuan Oh, duduk di samping ranjang putranya sambil menggenggam erat tangannya. Wajahnya terlihat benar-benar cemas – namun entah kenapa aku benar-benar ingin mencibirnya karena hal itu.

“Sekarang kau baru cemas, tuan Oh?” tanyaku dengan nada sangat sinis.

Mendengar cibiranku, tuan Oh segera mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahku, tatapannya sendu.

“Apa maksudmu, Kim Joon Myun?”

“Sekarang anakmu terbaring kritis di sana – hebat kau bisa ada di sini dan mempedulikannya. Seingatku hanya ada si tua bangka di rumah yang selalu membelanya.” Aku tersenyum sinis kepadanya.

“KIM JOON MYUN!” teriak tuan Oh, marah. “Untuk apa kau datang kemari jika hanya ingin membuat keributan?!” sambungnya, dengan nada lebih pelan.

“Kau hebat sekali, berani memarahiku. Sangat hebat…”

Dan perkataanku tidak pernah selesai. Semua terjadi begitu cepat, yang kusadari hanya rasa sakit di pipi kananku. Dia menamparku.

Entah bagaimana, aku hanya bisa meresponnya dengan tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kau tertawakan?!”

“Tentu saja kau, Oh Woo Sung!” bentakku.

“Pertama kau membunuh Kim Seol Hyun, menelantarkan anakmu tujuh belas tahun yang lalu, dan sekarang Se Hun?” Aku mengakhirinya dengan tertawa renyah.

Tuan Oh tidak bisa berkata apa-apa. Ia pasti benar-benar terkejut bahwa aku telah mengetahui semuanya.

“Kenapa kau terdiam, hah?!” Sekali lagi aku membentaknya.

“Se Hun menelan begitu banyak pil tidur untuk bunuh diri,” ucapku, sinis.

“CUKUP!” teriaknya, lalu tiba-tiba ia terjatuh berlutut sembari terisak.

“Aku menyesal telah menjadi seorang pengecut dan menelantarkanmu, Seol Hyun. Aku benar-benar menyesal…”

Aku benar-benar bingung, saat ini ia seperti tidak melihatku dan malah melihat nona Seol Hyun – ibuku.

Ragu-ragu, aku pun ikut berlutut di hadapannya. Kulihat tatapan matanya menerawang jauh, ia tidak melihatku sama sekali.

Tubuhnya bergetar hebat. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin. Entah ada dorongan dari mana, untuk pertama kalinya aku memeluknya.

“Tenanglah, tuan Oh. Tenang,” ucapku sembari menepuk-nepuk punggungnya.

Awalnya ia tidak mau tenang, namun tiba-tiba kurasakan ia membalas pelukanku. Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehangatan darinya.

“Maafkan aku, Kim Joon Myun – anakku.”

 

 

Semingu setelah kejadian itu, Se Hun akhirnya dipulangkan. Selama ini rupanya aku telah salah – merasa iri kepadanya. Ternyata Se Hun lebih merasa kesepian daripadaku.

Hari ini aku akan berangkat ke Amerika bersama Se Hun. Kupikir Se Hun akan lebih bahagia untuk tinggal denganku di sana.

Saat aku sedang duduk termenung sendiri di kamarku, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. Tanpa menoleh, aku menyuruh siapapun di sana untuk masuk.

“Joon Myun.”

“Aku belum bisa memaafkanmu,”jawabku.

“Aku tahu.” Tuan Oh terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia tertawa renyah.

“Besok pagi, cepatlah pergi ke Jepang bersama Se Hun untuk mengunjungi makam ibumu. Sebelum nyonya besar mulai histeris lagi.” Lalu tuan Oh pergi sembari masih tertawa.

Sekarang luka di hatiku masih terlalu dalam, namun aku berjanji suatu saat nanti aku akan bisa memaafkannya. Terlebih, belajar untuk mulai menerima dan mencintainya sebagai seorang Ayah.

 

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s