Curse (Part 1)

Title : Curse (Part 1)

Author : Catharina Griselda

Facebook / Twitter : Catharina Griselda / @almighty_rina

Genre : AU, angst, historical, yaoi

Rating : PG-13

Main Cast : Kim Jae Joong (JYJ)

Jung Yun Ho (TVXQ)

Note : Cerita pertamaku tentang historical yang bersambung, jadi maaf kalau ada sesuatu di dalam ceritanya yang tidak berkenan. Author juga akan memastikan bahwa akhir dari fanfic ini happy ending karena mengingat teman author yang selalu protes mengenai fanfic author yang lain yang katanya sad ending.

Jika ada keluhan atau apapun, kontak author via Twitter (@almighty_rina) atau Facebook (Catharina Griselda). Bisa juga lewat Line dengan id @gipsy_wizard.

Jangan jadi silent readers ya!!! Selamat membaca!!!!

“Tuan besar… gawat!”

Menteri Han langsung mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dibacanya, begitu salah seorang pelayan rumahnya tiba-tiba berada di hadapannya dengan wajah panik.

“Ada ribut-ribut apa?”

“Perdana menteri Jung telah berhasil melakukan kudeta dn meminta seluruh menteri untuk masuk ke istana…” jelas pelayan itu, masih dengan raut wajah panik.

“Apa?!”

Tiba-tiba pintu kamar menteri Han dibuka, lalu dengan lancangnya masuklah seseorang berkerudung hitam ke dalam. Si pelayan langsung panik, sementera menteri Han tidak, karena ia mengenali dengan pasti postur tubuh itu.

Orang berkerudung itu, segera melepas jubahnya lalu membungkuk memberi hormat kepada menteri Han. Tak lain dan tak bukan, orang itu adalah shaman Lon See. Tujuh tahun tidak bertemu dan kerutan di wajahnya masih sama, begitu juga postur tubuhnya yang pendek dan agak bungkuk. Sekilas, menteri Han jadi teringat akan perkataan shaman Lon See pada kunjungannya sebelumnya.

“Pan Se, pergilah,.” titah menteri Han kepada pelayannya yang terlihat makain panik.

Pelayan itu hanya ingin cepat-cepat pergi menjauh dari pria tua menyeramkan di hadapannya. Cepat-cepat ia memberi hormat lalu segera pergi. Menyisakan menteri Han dan shaman Lon See yang duduk saling berhadapan.

“Sudah lama sekali,” ucap menteri Han, lalu tersenyum ramah kepada tamunya.

“Begitu para menteri masuk, semua putra mereka akan dibunuh atas perintah perdana menteri,” ucap shaman Lon See, tidak ingin terjebak dalam basa-basi yang melelahkan.

“Putraku tidak pernah berada di muka umum, jadi aku tidak terlihat memiliki seorang putra. Hanya So Kyung yang perdana menteri ketahui keberadaannya.”

“Jangan keras kepala!” bentak shaman Lon See.

“Jika ia tetap berada di sini… maka jelas takdirnya akan terputus di sini dan pondasi Joseon akan runtuh.” Jelas shaman Lon See dengan tegas, tetapi menteri Han malah tertawa terbahak-bahak.

“Itu sangat tidak mungkin… aku ini salah satu sahabat dari perdana menteri sendiri. Jikalau perdana menteri mengetahui putraku, ia pun pasti tidak akan membunuhnya.”

Shaman Lon See benar-benar kehilangan kesabaran. Jika cara baik-baik tidak bisa dilakukan, maka orang yang tidak percaya akan kemampuannya ini, harus diberi pelajaran.

“Terserah padamu… tetapi aku sudah memberitahumu, tuanku.” Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, shaman Lon See langsung pergi dengan senyum sinis yang menghiasi wajahnya.

Tidak selang lama setelah shaman Lon See pergi, menteri Han segera meninggalkan kediamannya untuk menuju ke istana. Tanpa sadar bahaya yang telah mengintai keluarganya, sedari pagi.

_Curse_

“Aku bingung.. kenapa ia begitu lama?” keluh seorang gadis cantik yang sedari tadi tidak bisa berhenti mondar-mandir.

Gadis itu begitu cantik dengan hanbok mewah serta ornamen sanggulnya, yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang gisaeng. Tusuk konde berujung bunga mawar emas yang bertengger di gulungan sanggulnya, menandakan rumah bordil kepunyaannya.

“Agassi… mungkin ia tidak akan datang,” ucap salah seorang pelayan yang menemaninya bersama 8 orang pengawal lainnya.

Dan bukannya mendengar perkataan pelayannya, gisaeng itu tetap memutuskan untuk menunggu. Tak lama kemudian, penantiannya terjawab oleh seorang tentara berkuda yang dikenalinya berasal dari kuil istana. Telihat jelas dari seragam putih bergaris hitam di kedua pergelangan tangan serta celana panjangnya.

Tentara yang mulutnya ditutupi kain hitam itu, berhenti tepat di hadapan sang gisaeng. Turun dari kudanya sambil menggendong seorang bocah berpakaian layaknya bangsawan. Bocah itu tidak sadarkan diri dan pakaiannya kotor berlumuran darah, wajahnya sangat pucat.

“Ada apa?” Tanya sang gisaeng sambil mengambil bocah tersebut dari gendongan si tentara.

“Dadanya sempat terluka parah, tetapi ketua sudah berhasil mempertahan hidupnya. Nanti malam, ketua akan datang ke tempat yang dijanjikan untuk mengobati anak ini…” jelas si tentara lalu segera naik ke atas kudanya. Tetapi belum sempat pergi, karena sang gisaeng menundanya dengan sebuah pertanyaan.

“Lalu adikku… di mana dia?”

“Seluruh keluarga menteri Han terbunuh.” Jawab tentara itu lalu segera pergi.

Meninggalkkan sang gisaeng dalam keadaan syok, menderanya. Kutukan itu telah terjadi padanya.

_Curse_

10 tahun kemudian…

“Joongie.. sebelah sini!” panggil salah seorang pelanggan

“Ya…”

Pemuda berwajah cantik itu segera menghampiri pelanggan yang memanggilnya. Tubuhnya kurus seperti seorang gadis, tetapi pemuda itu sangat ceria dan sehat.

Setiap pelanggan memanggilnya Joongie, panggilan akrab yang diambil dari namanya. Meski ada begitu banyak pelayan di rumah bordil Nue, tetapi kebanyakan pelanggan tidak ingin dilayani pelayan lain. Hingga tidak jarang… pemuda cantik itu baru bisa beristirahat selepas dini hari. Jadi pelanggan hanya bisa melihat Joongie, tiap 2 hari sekali.

Mengenai alasan mengapa pemuda bertangan halus seperti Joongie sampai bisa menjadi pelanggan di rumah bordil, tidak ada yang tau dengan jelas. Hanya sang kepala gisaeng yang merupakan pemilik rumah bordil Nue, juga seorang pria tua yang kabarnya pelanggan tetap sang kepala gisaeng, yang tau.

“Aku ingin…” Belum selesai pelanggan itu menyebutkan pesanannya, Joongie langsung mengalihkan perhatiannya, karena ada seseorang yang menyentuh bahunya dari belakang.

“Oh… Noona,” ucap Joongie begitu melihat ternyata yang menyentuhnya tadi adalah salah seorang gisaeng yang sebaya dengannya, An Na.

“An Na Noona, ada apa?”

“Joongie, ketua mencarimu… Tinggalkan saja pekerjaanmu di sini, biar pelayan lain yang mengurus.”

Setelah minta maaf dan pamit kepada pelanggan sebelumnya, Joongie segera pergi ke lantai 3, di mana ruang sang ketua berada. Biasanya, yang naik sampai ke lantai ini adalah pelanggan dari kelas bangsawan, karena gisaeng-gisaeng yang menghuni lantai ini adalah sekelompok gisaeng terbaik yang dimiliki Nue.

“Ketua…. Joongie sudah datang,” ucap pelayan yang berjaga di depan kamar ketua.

Dari dalam kamar, ketua langsung mempersilakan Joongie untuk masuk dan pelayan itu segera membukakan pintu untuknya.

“Ketua…” Joongie langsung membungkuk memberi hormat, tidak berani untuk mengangkat kepalanya sebelum diperintahkan.

“Rupanya kau sudah besar..”

Joongie segera mengangkat kepalanya, mendengar suara serak itu berbicara tepat di hadapannya. Betapa terkejutnya Joongie ketika melihat wajah si empunya suara. Begitu berkeriput dengan salah satu mata yang ditutupi kain hitam, mungkin karena buta. Belum lagi dengan kumis panjang serta janggut putihnya.

“Tuanku, kumohon pergilah…,” ucap ketua, tiba-tiba.

“Tentu, Choi Yon Ji… Aku hanya ingin memastikan…” Lalu pria tua itu segera pergi dan ketua langsung memanggil Joongie untuk mendekat kepadanya.

Wajah ketua masih tetap seperti dulu, setelah dilihat dari dekat. Tidak terlihat tanda-tanda penuaan, masih tetap cantik. Terkadang, Joongie merasa heran dengan wajah ketua yang sudah genap 17 tahun dikenalnya.

“Malam ini akan ada tamu penting, aku menugaskanmu untuk menjadi pelayan pribadinya.”

“Pelayan pribadi?” Ketua hanya tersenyum, menanggapinya. Dalam hati ia mengatakan bahwa anak di hadapannya ini terlalu polos untuk dibodohi.

“Tentu…. Saya akan bersiap.”

_Curse_

“Aku ingin semuanya berjalan sesuai rencana…”

“Tentu, tuanku…” Lalu pria tua itu segera pergi, setelah diiyakan oleh pelayan kepercayaan ketua yang berjaga di depan pintu.

Pria tua yang sama seperti 17 tahun yang lalu. Shaman Lon See.

To Be Continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s