The King’s Bestfriend

  1. Judul : The King’s Bestfriend
  2. Cast :
    1. Major Cast : Kim Joon Myeon (Suho), Wu Yi Fan (Kris)
    2. Minor Cast : Song Jae Rim (The Moon That Embraces The Sun), Kim Jong In (Kai)
  3. Genre : friendship, AU, historical
  4. Length : 2.865 words
  5. Abstrak Cerita : Persahabatan selama 18 tahun yang berujung pada kebimbangan. Sulit untuk memilih antara teman masa kecil atau keluarga sendiri. Siapakah yang lebih penting?
  6. Author Notes : Ok… jadi cerita ini mengambil sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi pada sejarah Korea, era Joseon. Fanficnya bertujuan untuk mendorong pembaca untuk meningkatkan kesetiaan dan juga tidak mengenyampingkan orang tua, karena persahabatan itu sendiri.

Dengan tatapan jahil, raja yang masih muda itu hanya sibuk melihat ke arah kanan-kirinya secara bergantian. Para menteri tak menggubrisnya, sibuk saling berargumen.

Perdana menteri di sebelah kanannya, jelas mendukung keputusan dari menantunya sendiri. Sementara menteri pertahanan yang merupakan Ayah dari sahabatnya, menentang keras keputusannya.

“Yang mulia…” Ah… Yi Fan, kepala pengawal raja sekaligus sahabatnya itu, sepertinya sudah merasa tidak tahan dengan perdebatan sang Ayah. Yi Fan yang setia berdiri di samping rajanya, berpikir, jika dibiarkan… keduanya yang sama ngototnya itu akan berakhir dengan perpecahan kabinet.

“Tenang!” Akhirnya raja membuka mulutnya dan seluruh menteri langsung terdiam, menatap heran. “Aku ingin istirahat… kita lanjutkan besok.”

Dan begitu saja, rapat darurat itu dibubarkan seperti hal yang tidak penting. Hanya  menyisakan sang raja dan Yi Fan.

“Yang mulia.. bertindaklah sebagaimana mestinya.” Tetapi yang diingatkan malah tertawa terbahak-bahak. “Yang mulia…” protesnya, karena sahabatnya tetap tidak menggubrisnya.

Ayolah, bagaimana bisa setelah menjadi kepala pengawalnya, Yi Fan melupakan sikap dan sifat saat sang raja saat masih menjadi pangeran dulu? Pangeran Kim Joon Myeon yang mengacaukan pesta penyambutan bagi para utusan, yang mengacaukan prosesi hukuman mati, dan yang terjatuh di podium saat penobatan. Konyol, menjadi gambaran sang pangeran yang telah menjadi raja saat ini.

Berkebalikan dari Joon Myeon, Yi Fan adalah seorang yang sempurna. Sama-sama dididik oleh menteri pertahanan sendiri dan hasilnya malah bagaikan langit dan bumi. Terkadang Joon Myeon berpikir bahwa sahabatnya lebih pantas menjadi raja ketimbang dirinya.

“Selama ada dirimu… aku tidak perlu merubah sikapku. Aku percaya hubungan selama 18 tahun, tidak mungkin membuat kita terpisahkan.” Yi Fan hanya menatap bingung ke arah rajanya. “Saat kita tidak terpisahkan, maka peranku sebagai seorang raja akan tetap kumainkan sebaik mungkin.” Joon Myeon meninggalkan singgasananya, tetapi sebelumnya ia meremas bahu Yi Fan lalu pergi dari aula utama begitu saja. Meninggalkan Yi Fan dalam kebingungan.

Remasan itu adalah pertanda Joon Myeon menaruh harapan besar, kepada sahabatnya. Ia tahu… bahwa sebentar lagi akan terjadi pergolakan di istana dan saat itu terjadi… maka hidupnya bisa saja berakhir, jika Yi Fan berbalik darinya.

Perkataan ambigu dari sahabatnya, menjadi bahan pikiran bagi Yi Fan. Malam itu, ia sengaja meminta izin untuk pulang ke kediaman keluarganya, hanya untuk sekedar menjernihkan pikirannya. Tetapi sesampainya di sana, yang didapat malah sebaliknya.

Tanpa mengijinkan putranya untuk beritirahat terlebih dahulu, sang menteri pertahanan langsung memanggil Yi Fan ke kamarnya, untuk memberikan kabar yang benar-benar mencengangkan.

“Persiapkan dirimu, Yi Fan. Dalam waktu 3 bulan dari sekarang, Kaisar dari dinasti Jin akan tiba untuk mengganti raja yang dungu itu.” Begitu santainya, menteri pertahanan mengatakan hal itu.

“Tapi.. apakah raja tahu akan hal ini?” Yi Fan berharap jawabannya ya, tetapi malah sebaliknya. Ayahnya beserta 8 menteri lainnya yang sama-sama berasal dari dinasti Jin, telah sepakat untuk memberontak sebelum sang kaisar tiba. Mengatakan pemberontakan itu bermaksud untuk membantu kaisar, tetapi yang sebenarnya adalah Ayah Yi Fan yang ingin mendapat pujian dari kaisar lalu menjadi raja baru di Joseon.

“Dia muridmu, Ayah…” Dan ayahnya hanya melemparkan tatapan sinis.

“Lalu? Saat seorang guru dan murid sudah tidak sejalan.. maka jalan satu-satunya adalah saling menyingkirkan untuk menyelesaikannya.” Lalu Yi Fan pun diminta segera kembali ke kamarnya. Besok, ayahnya mengharapkan Yi Fan untuk bertingkah seperti biasanya di hadapan sang raja.

Sama seperti Yi Fan, Joon Myeon pun mengadakan pertemuan di tengah malam dengan perdana menteri. Meski ia sangat yakin Yi Fan tidak akan mengkhianatinya, tetapi sebagai manusia biasa.. masih saja ada keraguan yang menyelimuti hatinya.

‘Menteri pertahanan Wu adalah dalangnya. Dalam waktu kurang dari 2 bulan, pemberontakan itu pasti akan dimulai.’ Joon Myeon memegangi kepalanya yang berdenyut, mengingat perkataan Ayah mertuanya. Kepalanya sakit memikirkan bagaimana nantinya dirinya harus melawan guru sekaligus Ayah dari sahabatnya sendiri. Mungkin benar… Yi Fan akan sangat membencinya.

“Yang mullia… kepala pengawal Wu meminta izin untuk bertemu.” Tiba-tiba kasim agung berteriak dari luar, menyadarkan Joon Myeon dari lamunannya.

“Persilakan masuk.”

Tak selang lama, Yi Fan memasuki kamarnya. Berseragam lengkap dengan wajah kusut, Yi Fan memberi hormat kepada rajanya. Sebelum ia sempat mengatakan apapun, Joon Myeon sudah berbicara terlebih dahulu. Berbicara dengan fasihnya akan rencana pemberontakan yang didalangi ayahnya.

Dan sekali lagi, sebelum Yi Fan sempat mengatakan apapun untuk menyangkal perkataan Joon Myeon, ia mengatakan hal yang benar-benar membuat Yi Fan menganga.

“Jika kau sampai harus menusukku dengan pedangmu… aku akan tetap menganggapmu sebagai sahabat juga saudaraku sendiri.”

Setelahnya, Yi Fan sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Ia bahkan tidak dapat mengungkapkan rasa bimbangnya dan betapa kecewanya dirinya akan kelemahan Joon Myeon. Kelemahannya yang bisa melupakan begitu saja… kekejaman yang akan dilakukannya, hanya karena mereka sahabat lama.

“Sekarang kembalilah… aku akan beristirahat sekarang.” Tanpa mengatakan apapun lagi, Yi Fan langsung pergi.

Malam itu adalah malam terakhir Yi Fan berbicara dengan sahabatnya, karena keesokan harinya Joon Myeon telah berubah. Joon Myeon menjadi lebih serius dan diam, selama rapat negara berlangsung. Bahkan dengan tegas ia mensahkan keputusannya di hadapan seluruh anggota kabinet, bahwa keputusan kaisar untuk menurunkannya dari jabatannya, tidak akan diakui sama sekali. Joseon akan menyerang, jika kaisar tetap bersikukuh dengan perkataannya untuk mencampuri urusan negara lain.

Tiba-tiba menteri pertahanan berlutut di hadapan Joon Myeon, begitu keputusan tersebut disahkan. “Maka maafkan hamba… yang mulia. Hamba akan mengundurkan diri dari posisi hamba saat ini,” ucapnya, dengan angkuh. Berharap dengan keangkuhannya itu, sang raja akan menarik kembali ucapannya.

“Maka kembalilah ke negaramu, sekalian.” Sontak seluruh menteri merasa terkejut, mendengar jawaban Joon Myeon. “Bahkan… kupikir kaisar sudah terlalu ikut campur dengan menanamkan orang-orangnya di kabinet mendiang ayahku.” Lanjutnya, tak kalah angkuh.

Sidang hari itu tidak hanya berakhir dengan keputusan yang kontroversial, juga diikuti dengan pengusiran menteri pertahanan serta 8 orang menteri lainnya yang mendukungnya. Raja memerintahkan mereka semua untuk kembali ke negaranya, sebelum akhir bulan.. yang berarti tinggal tersisa 3 hari lagi.

Seperti biasanya, setelah sidang berakhir, maka hanya tersisa Joon Myeon, Yi Fan, dan kasim agung. Suasana benar-benar canggung, karenanya.

“Apa ada yang ingin kau katakan?” Yi Fan tahu bahwa pertanyaan itu ditujukan kepadanya, tetapi ia memilih bungkam. “Kalau begitu… baiklah.” Lalu Joon Myeon meninggalkan singgasananya.

Baru saja akan pergi, tetapi tiba-tiba Yi Fan menghalangi jalannya. Berlutut dengan tatapan memelas. “Kumohon.. tarik kembali ucapan yang mulia. Ini bukan permintaaan sebagai bawahan… ini permintaan dari sahabatmu, yang mulia.”

Bukannya menjawab, Joon Myeon malah mensejajarkan posisinya dengan Yi Fan. “Aku tidak bisa untuk kali ini. Aku baru memerintah setahun dan rakyat membutuhkan sosok pemimpin yang kuat.”

“Tapi… kau akan terbunuh!” Yi Fan meninggikan suaranya, karena putus asa akan ketidakpekaan sahabatnya itu.

“Maka aku akan mati dengan perjuangan.” Yi Fan langsung berdiri, mendengar jawabannya. Ia benar-benar kesal dengan sifat keras kepala sahabatnya.

“Aku akan pergi… aku harus mengikuti ke mana pun ayahku pergi.” Yi Fan memberikan penghormatan terakhir di hadapan rajanya yang bahkan belum berdiri, lalu tanpa berbalik lagi ia pergi dan meninggalkan pedangnya di hadapan Joon Myeon. Dalam hati Yi Fan mengatakan bahwa dirinya tidak akan melukai Joon Myeon dengan pedangnya yang merupakan lambang persahabatan itu sendiri… dengan meninggalkannya, ia berharap Joon Myeon akan mulai menganggapnya sebagai seorang musuh.

Pedang itu adalah pemberian raja terdahulu, sebagai hadiah atas pencapaian Yi Fan. Ia adalah lulusan terbaik dari ujian militer, yang langsung membuatnya terpilih sebagai kepala pengawal putra mahkota.

“Tidak kusangka… persahabatan ini akan berakhir,” ucap Joon Myeon sambil memandangi pedang sahabatnya. Selesai sidang hingga larut malam, hanya memandangi pedang tersebut yang dilakukannya. Joon Myeon bahkan tidak menggubris permohonan kasim agung agar dirinya segera kembali ke kamarnya dan beristirahat.

Tetapi perhatiannya langsung teralih begitu salah satu dari pengawalnya, menghampirinya dengan wajah ketakutan. “Ada apa?” tanya kasim agung.

“Yang mulia.. menteri pertahanan dan kedelapan menteri, membawa pasukan dari luar Hanyang untuk menyerang istana!” jelas pengawal itu, panik.

“Apa! Yang mulia… Anda harus segera mengamankan diri…” mohon kasim agung.

“Tidak!” sela Joon Myeon, tegas. “Amankan saja keluarga kerajaan yang lain juga keluarga Ayah mertua.” Lau ia segera meninggalkan aula utama sambil terus memberikan perintah kepada rombongan yang mengikutinya.

Dan tepat saat Joon Myeon memasuki istana timur, kediamannya, ia berbalik dan berkata kepada kasim agung, satu-satunya orang yang tersisa tanpa perintah, “Kunyatakan menteri pertahanan dan kedelapan menteri yang terlibat, sebagai pemberontak.”

Pintu gerbang utama menuju Hanyang, adalah yang paling pertama ditutup. Berhasil memblokade 3 orang menteri beserta pasukannya, yang juga harus melawan pasukan istana serta pasukan menteri keadilan. Pintu sebelah barat dan timur, tidak sempat ditutup, sehingga terjadi pertarungan sengit antara 4 orang menteri dan pasukan masing-masing dengan sebagian pasukan pengawal keluarga kerajaan, pasukan perdana menteri, kementrian keuangan, serta sejumlah pasukan kecil dari anggota kabinet yang tersisa. Hanya tinggal tersisa jalan rahasia menuju Hanyang, yang dibiarkan tanpa penjagaan. Sengaja Joon Myeon melakukannya demi mengetahui berapa harga persahabatannya. Karena yang mengetahui jalan rahasia itu, hanya dirinya juga Yi Fan seorang.

Joon Myeon sendiri, sudah mengenakan baju zirah emasnya, melindungi pusat istana beserta 8 orang pengawal yang biasa mengawalnya. Seperti sudah siap menemui ajal, mereka berdiri di hadapan aula utama… dalam kesunyian yang mencekam.

Terdengar suara begitu banyak langkah kaki, yang membuat kedelapan pengawal raja langsung siaga mengelilingi Joon Myeon. “Tidak kusangka… kau sangat berani, yang mulia,” ucap menteri pertahanan yang sudah tiba beserta seorang menteri dan sejumlah besar pasukan yang berbaris di belakang mereka.

“Lancang! Kalian dilarang membawa senjata di dalam istana raja!” bentak kasim agung, yang setia berdiri di samping sang raja.

“Jika kau mau meninggalkan tahta… maka kami akan melucuti persenjataan kami semua.” Lagi… sang menteri pertahanan mengucapkannya dengan angkuh, bahkan mengakhiri perkataannya dengan melempar seulas senyum merendahkan.

“Di mana Yi Fan, guru?!” Joon Myeon malah menanyakan hal lain, bukannya menjawab hinaan yang dilontarkan menteri pertahanan sendiri.

Yi Fan telah berbalik darinya… ia pasti lebih memilih membantu ayahnya, batin Joon Myeon. Betapa bodohnya aku, lalu iapun tesenyum.

Karena kesal tak dihiraukan, menteri pertahanan segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk membunuh Joon Myoen. Terjadilah pertaruangn tidak seimbang yang membuat Joon Myeon semakin terdesak. Satu per satu pengawalnya berguguran, kurang dari 3o menit yang ditargetkannya untuk bertahan. Ayah… kurasa aku akan segera menyusulmu, batin Joon Myeon yang pada akhirnya hanya tersisa seorang diri.

“Berhenti!” teriak menteri pertahanan, yang langsung menghentikan pergerakan seluruh pasukan yang sudah mengepung Joon Myeon. “Aku yang akan menghabisi bocah ingusan ini.” Dan begitulah, pasukan langsung membuka jalan untuk sang menteri pertahanan. Rasanya sungguh memalukan, seorang petarung yang sangat berpengalaman… hendak membunuh petarung yang sudah dipenuhi luka dan berlumuran darah.

Sambil tersenyum penuh kemenangan, menteri pertahanan menghunuskan pedangnya ke arah leher Joon Myeon. “Sekedar saran, jika kau terlahir kembali, jangan pernah muncul kembali di hadapanku.” Dan ia mengakhirinya dengan tertawa terbahak-bahak, benar-benar gila. “Sekarang… matilah!”

Berakhir.. ini semua sudah berakhir, batin Joon Myeon. Ia menjatuhkan pedangnya begitu saja lalu memejamkan kedua matanya, siap menerima ajalnya. Entah kenapa.. sekeliling terasa sunyi dan dingin, setelah memejamkan mata. Gelap… mungkinkah ia sudah mati?

Tiba-tiba, “AKH!!!” Itu suara menteri pertahanan…. kenapa ia berteriak?

Penasaran, Joon Myeon membuka matanya perlahan-lahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah menteri pertahanan yang memegangi punggung tangan kanannya yang tertancap anak panah dengan wajah benar-benar kesakitan. Pedang yang dibawanya jelas sudah terjatuh. Disusul oleh pasukan yang mengelilinginya yang tiba-tiba tewas begitu saja, karena hujan anak panah.

Kejadian begitu cepat hingga Joon Myeon hanya bisa menatap heran, kenapa mereka tewas begitu saja. Terlalu cepat hingga tidak dilihatnya ada anak panah yang melesat ke arahnya. Menembus baju zirahnya lalu merobek dagingnya. Basah dan pengap, yang dirasanya sebelum kegelapan menjemputnya.

“Yang mulia.. yang mulia… kau sudah sadar?” tanya kasim agung, cemas.

Tiga hari setelah siuman, Joon Myeon langsung mengadakan rapat darurat yang dihadiri para menteri yang tersisa. Masih terlihat luka-luka menghiasi tubuh mereka. Rapat itu bertujuan menjatuhkan hukuman langsung kepada 9 orang yang terlibat dalam pemberontakan malam itu.

“Bawa masuk para tersangka!” titah sang raja. Pintu menuju aula utama langsung terbuka. Masuklah satu per satu para pemberontak yang dimulai oleh menteri pertahanan. Tampang mereka semua mengenaskan, hasil interogasi selama raja tidak sadar.

Mata Joon Myeon hampir saja melompat keluar, melihat Yi Fan berada di akhir barisan. Sama-sama dipenuhi luka, tapi kenapa? Terpaksalah Joon Myeon berbisik kepada kasim agung, meminta penjelasan mengapa Yi Fan bisa berlutut di hadapannya saat ini. Ternyata… orang yang memanahnya tepat di perut adalah Wu Yi Fan sendiri, yang datang bersama jendral Jae Rim pada detik-detik di mana menteri pertahanan hampir saja membunuhnya. Jendral Jae Rim dan pasukannya lah yang telah menewaskan seluruh pasukan menteri pertahanan.

“Yang mulia… seluruh tersangka telah mengakui perbuatannya saat interogasi berlangsung. Mohon yang mulia menjatuhi hukuman yang sepantasnya.” Perdana menteri langsung mengingatkan, begitu laporan hasil interogasi diberikan olehnya melalui kasim agung kepada sang raja.

Tidak perlu waktu lama untuk membaca dan memahami isinya. Sudah jelas, seluruh tersangka bersalah dan Yi Fan yang paling bersalah karena telah berani memanah Joon Myeon, raja sendiri.

Walaupun berat, keputusan tetap harus diambil. Dua orang menteri yang mengumpulkan seluruh pasukan untuk menyerang Hanyang, dianggap sebagai dalang utama, karena sangat tidak mungkin untuk mengumpulkan pasukan sebanyak itu dari luar Hanyang dalam waktu kurang dari semalam. Mereka dijatuhi hukuman mati. Sementara menteri pertahanan dan 6 orang menteri lainnya diputuskan untuk dikembalikan kepada kaisar sebagai tahanan dengan pengawalan ketat.

“Untuk kepala pengawal Wu Yi Fan… aku belum bisa memutuskan.” Seluruh anggota kabinet langsung terkejut, mendengar keputusan Joon Myeon. Sementara perdana menteri tersenyum, mendengar keputusan itu. Ia tahu… menantunya mengadili mereka semua, bukan sebagai seorang raja melainkan sebagai seorang murid juga seorang sahabat. Tidak bijak memang, tapi untuk saat ini memang harus dipertimbangkan.

Serangan dari Kaisar Jin sendiri, tidak pernah terjadi. Kedatangannya berujung pada sebuah perundingan yang berlangsung selama kurang lebih sebulan. Kaisar datang dengan damai, karena ia sendiri merasa malu dengan perbuatan rakyatnya, yang memberontak tanpa perintahnya.

Kesepakatan untuk mempertahankan Joon Myeon sebagai raja dari Joseon, diperoleh setelah Joon Myeon sepakat untuk menikahkan putri dari sang kaisar dengan adiknya sendiri, Pangeran Jong In. Ditambah dengan perjanjian Joseon untuk mengirimkan pasukan bantuan jika kaisar sedang berperang.

Semua berakhir damai dan memuaskan. Hanya menyisakan nasib Yi Fan yang menjadi tahanan rumah. Joon Myeon akhirnya datang ke kediaman Yi Fan, bermaksud membacakan langsung hukuman yang dijatuhkannya untuk sahabatnya tersebut.

Ia lihat, keadaan Yi Fan sudah membaik. Setidaknya wajahnya sudah tidak lebam-lebam lagi dan ia bisa berjalan tanpa dibantu oleh pengawal yang ditugaskan untuk menjaga kediamannya. Seperti sudah tahu akan maksud kedatangan Joon Myeon, ia segera berlutut di hadapan sahabatnya itu. Joon Myeon sampai merasa sedikit canggung, karena baru kali ini ada raja yang langsung mendatangi tahanannya dan tahanannya sendiri seperti sudah sangat siap untuk menerima hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya.

“Wu Yi Fan… dengan ini raja Joseon sendiri telah memutuskan untuk memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan Anda,” ucap kasim agung lalu memberikan gulungan yang berisi hukuman untuk Yi Fan, kepada Joon Myeon.

“Hamba siap menerima perintah.” Jawab Yi Fan, pasrah.

“Sesuai hukum Joseon, perbuatan kepala pengawal raja, Wu Yi Fan, sangatlah tidak dapat ditolerir dan hukuman yang setimpal untuknya adalah hukuman mati.” Joon Myeon berhenti membacakan gulungan yang ditulisnya, ingin melihat terlebih dahulu bagaimana reaksi Yi Fan. Tetapi tidak ada reaksi sama sekali, Yi Fan sendiri sudah sangat mengetahui akan hukuman apa yang layak untuk dijatuhkan kepada pemberontak sepertinya.

“Dengan mempertimbangkan jasa dari Wu Yi Fan sendiri, aku telah memutuskan untuk meringankan hukumannya. Kepala pengawal raja, Wu Yi Fan, akan diturunkan dari jabatannya dan dibuang ke Provinsi Jeolla… di sana ia akan menjadi pengawal tingkat pertama dan selama setahun masa jabatannya, ia tidak akan mendapatkan promosi maupun upah dari negara.” Yi Fan tidak tahan untuk tidak mengangkat kepalanya dan memberikan tatapan heran kepada Joon Myeon. Bagaimana mungkin dirinya yang sudah memanah seorang raja, tidak dijatuhi hukuman mati?

Dilihatnya wajah Joon  Myeon sesaat, ingin mengetahui apakah ada raut bercanda di sana. Tetapi tidak ada, dan ia malah jadi dimarahi kasim agung, karena telah lancang melihat wajah raja.

“Kenapa kau melakukannya, yang mulia?” tanya Yi Fan, bingung. Ia malah bertanya, bukannya berterima kasih atas hukuman yang diberikan kepadanya.

“Ayo pergi.” Joon Myeon tidak mau menjawab pertanyaan itu. Ia belum siap dan lebih memilih untuk berjalan pergi, meninggalkan kediaman sahabatnya secepat mungkin. Karena hanya ini yang bisa dilakukannya sebagai bentuk terima kasih atas perbuatan Yi Fan yang menyelematkannya.

Jika saja waktu itu… Yi Fan hanya membantu ayahnya dengan memberitahukan jalan rahasia itu, maka sudah pasti dirinya saat ini sudah terkubur di dalam tanah. Tetapi Yi Fan juga memutuskan untuk membantunya dengan memanggil jendral Jae Rim dan pasukannya, yang telah diasingkan oleh menteri pertahanan sendiri ke provinsi Gyeong-Do, dekat Hanyang, untuk segera menyelamatkan Joon Myeon. Hingga hujan anak panah itu, berhasil menyelamatkan nyawa Joon Myeon.

_The King’s Bestfriend_

“Yang mulia… kepala pengawal kerajaan tingkat keempat, ada di sini.” Joon Myeon menengok dengan malasnya ke arah pintu. Kasim agung benar-benar penggangu yang telah membangunkannya pagi sekali. Tetapi ia tetap membiarkannya masuk, karena tahu siapa orang yang dengan lancangnya berusaha menemuinya pagi-pagi di kamar pula.

“Yi Fan… sudah kuduga.” Yi Fan tidak menjawab, ia memberi hormat terlebih dahulu. “Bagaimana kabar pengawal yang baru saja dipromosikan ke Hanyang?” Sekali lagi, Yi Fan tidak menjawab. Joon Myeon jadi kesal sendiri, dibuatnya.

“Apa alasan kedatanganmu masih sama seperti 3 tahun yang lalu?”

“Benar, yang mulia.” Joon Myeon tersenyum mendengarnya.

“Jawaban dari kenapa aku menyelamatkanmu waktu itu adalah…”

Bukan bermaksud berkhianat, Yi Fan memanah rajanya sekaligus sahabatnya sendiri hanya karena hingga detik terakhir ia tidak dapat memilih. Antara ayahnya yang berpikiran jahat atau sahabatnya yang melemah?

Anak panah itu adalah langbang kebimbangan dan bentuk kesetiaan. Kebimbangan yang menancap di punggung tangan ayahnya dan kesetiaan demi hubungan Ayah dan anak, yang menancap di perut sahabatnya sendiri.

Hingga akhir, bukan pedang Yi Fan yang sempat melukai persahabatan mereka. Hingga akhir… mereka tetap bersahabat.

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s