A Brother’s Love

  1. Judul : A Brother’s Love
  2. Author : Catharina Griselda
  3. Main Cast : Oh Se Hun ( Sehun EXO K ), Lee Hyun Ah / Oh Se Ra ( OC )

Support Cast : Lee Dong Hae ( Donghae Super Junior ) as Mr. Lee

  1. Genre : AU, angst, family
  2. Length : Oneshoot [ 3.283 words ]
  3. Rating : Universal
  4. Disclaimer : fanfic ini asli buatan sendiri jadi tolong jangan diplagiat

“Tugasmu adalah menyembuhkan mental adikku hingga ia dapat kembali hidup normal.”

“Aku mengerti, Tuan Lee. Tidak perlu cemas, kau mempercayakan adikmu pada orang yang tepat.”

Pembicaraan itu berakhir sampai di sana. Kurang dari 5 menit dan Se Hun sudah berhasil meyakinkan seorang Lee Dong Hae, untuk mengurus adiknya. Padahal pertemuan Se Hun dengan pasien seminggu yang lalu, tidak begitu baik dan kini pasien itu benar berada di genggamannya.

Se Hun bukan orang yang suka menunggu dalam melakukan segala sesuatu, jadi selesai urusannya di ruang kerja Tuan Lee, Se Hun bergegas pergi ke lantai 2. Di sana ada kamar seorang tuan puteri yang pasti sangat senang dengan kedatangan Se Hun.

“Sudah kubilang aku tidak mau makan!”

Teriakan sang tuan puteri disusul dengan suara sesuatu yang pecah, langsung terdengar oleh Se Hun. Padahal pintu kamarnya masih tertutup rapat.

Sebelum membuka pintu, Se Hun menghembuskan napasnya dengan berat. Ini akan menjadi hari yang melelahkan, batin Se Hun.

Benar saja, setelah Se Hun membuka pintu, ia langsung menemukan mangkuk yang pecah dengan seluruh isinya yang berceceran di lantai dekat pintu, juga pada daun pintu. Kedua pelayan muda yang bertugas melayani sang tuan puteri, tak berdaya dan hanya berdiri di pinggir ranjangnya, lalu serempak membungkuk ke arah Se Hun.

“Tinggalkan kami.” Perintah Se Hun dan kedua pelayan itu langsung menurut.

Salah satu pelayan diminta untuk membawakan sarapan yang baru, melalui bisikan Se Hun, sebelum pergi keluar.

Tinggal tersisa Se Hun dan si tuan puteri, Lee Hyun Ah, sekarang. Hyun Ah benci kondisi ini. Kondisi di mana Hyun Ah hanya berduaan dengan orang menyebalkan minggu lalu. Ya… Hyun Ah dapat dengan jelas mengenali suara seorang Oh Se Hun.

Se Hun mendekati Hyun Ah lalu memilih duduk di pinggiran ranjangnya. Sambil melipat kedua tangannya di depan dada, Se Hun memperhatikan wajah Hyun Ah.

“Untuk apa kau di sini?! Ingin mengambil keuntungan dari gadis buta?!”

Se Hun tertawa mendengar kecurigaan Hyun Ah. Gadis ini sangat berani juga sombong, itu yang terbaca oleh Se Hun, dari kecurigaan Hyun Ah.

“Kudengar kau hebat dalam Biologi dan tunanganmu adalah seorang dokter.”

Hyun Ah tidak merespon. Gadis itu pasti sedang berpikir bahwa pernyataan yang dilontarkan Se Hun barusan, sama sekali bukan jawaban dari kecurigaannya.

“Memangnya kenapa?!”

Lagi, Se Hun tidak memberikan jawaban dan malah meninggalkan Hyun Ah. Berjalan ke arah pintu untuk mengambil nampan berisi sarapan baru bagi Hyun Ah, lalu menutup pintu dan kembali ke tempatnya semula.

“Begini saja… karena Biologi adalah bidangmu, bagaimana kalau kita bermain?”

Hyun Ah tidak merespon, masih berpikir akan permainan apa yang dimaksudkan Se Hun, juga segala kemungkinan terburuknya mengingat dirinya yang buta, berduaan dengan seorang pria.

“Jawab pertanyaanku tentang nama-nama Latin dan tiap kali kau salah, kau harus memakan sarapanmu sesuap.” Jelas Se Hun sambil menaruh nampan yang dibawanya di atas paha Hyun Ah.

“Itu konyol.” Balas Hyun Ah sambil mendorong nampan, kembali kepada Se Hun.

“Kenapa? Kau takut?”

Jackpot! Se Hun baru saja menggunakan kelemahan Hyun Ah supaya menerima kelemahannya.

“Tidak! Berikan pertanyaanmu!” Hyun Ah segera merebut nampan yang tadi didorongnya.

“Baik, kita mulai dari yang mudah. Portunus sp?”

“Kepiting.” Hyun Ah tersenyum penuh kemenangan.

Aurelia aurita?”

“Ubur-ubur.” Lagi Hyun Ah tersenyum.

Macaca nigra?”

“Monyet… kera… ah monyet…”

“Monyet sulawesi dari Indonesia.” Sela Se Hun. “Sekarang makanlah sesuap.” Sambung Se Hun.

Begitu seterusnya hingga pada akhirnya Hyun Ah menghabiskan sarapannya. Dan saat sarapannya telah habis, Hyun Ah baru sadar dan marah karena Se Hun telah membuatnya makan bahkan tanpa paksaan.

Selesai dengan masalah sarapan, Se Hun segera memeriksa agendanya untuk mencaritahu kegiatan Hyun ah berikutnya. Ah… ternyata terapi untuk kesembuhan mental Hyun Ah.

Sekali lagi Se Hun hanya menghembuskan napasnya dengan berat sambil menjauh dari Hyun Ah untuk menaruh nampan yang tadi, dibawanya keluar kamar. Se Hun membuka pintu sesaat untuk mengembalikan nampan kepada pelayan yang berjaga di luar lalu kembali ke samping Hyun Ah.

Se Hun dengan jelas dapat melihat ekspresi pelayan tadi yang begitu terkejut melihat nona yang biasa dilayaninya, menghabiskan sarapannya.

“Apa yang kau lakukan, kembali ke sini?! Pergi sekarang juga!” bentak Hyun Ah sambil mendorong Se Hun agar menjauh. Tetapi bukannya menjauh, Se Hun malah menahan kedua tangan Hyun Ah yang terus mencoba mendorongnya.

“Lepaskan aku!”

Hyun Ah masih mencoba melawan dengan berusaha meronta untuk melepaskan diri. Tetapi bagaimanapun juga, Se Hun adalah seorang laki-laki sementara Hyun Ah hanya seorang perempuan yang lemah. Se Hun tentu menang dan mempertahankan posisinya.

“Berhenti menjadi penggerutu, Lee Hyun Ah!” bentak Se Hun tiba-tiba, yang berhasil membuat Hyun Ah diam karena terkejut. “Kau akan kehilangan semuanya karena kebutaan juga sifat burukmu itu. Bahkan tunanganmu pun akan meninggalkanmu, jika ia sadar dari komanya.” Sambung Se Hun, datar, lalu melepaskan kedua tangan Hyun Ah.

PLAK!!!

Hyun Ah malah menampar Se Hun begitu tangannya dilepaskan Se Hun. Dengan berlinang air mata, Hyun Ah mengusir Se Hun dan memintanya untuk tidak pernah kembali lagi.

Untuk saat ini, Se Hun akan membiarkan Hyun Ah sendiri, tetapi besok, ia akan kembali lagi untuk mempercepat kesembuhan Hyun Ah.

Saat akan pulang ke apartemennya, Tuan Lee memaksa Se Hun untuk tetap tinggal dan menemani Hyun Ah, karena Tuan Lee akan melakukan perjalanan bisnis selama sebulan. Lagipula, semua itu bisa terjadi hanya karena Tuan Lee kagum terhadap Se Hun yang telah berhasil membuat Hyun Ah menghabiskan sarapannya. Padahal sejak Hyun Ah menjadi buta akibat kecelakaan sebulan yang lalu, Hyun Ah selalu menolak menghabiskan makanannya, dengan dalih tidak lapar atau bahkan tidak mau makan sama sekali, karena merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi.

Dengan menginap, Se Hun berharap Hyun Ah bisa cepat sembuh dan ia cepat mendapatkan bayarannya.

Seperti pada pagi hari, siangnya Se Hun memperhatikan makan siang Hyun Ah juga harus diantarkan ke dalam kamarnya. Kesimpulannya berarti Hyun ah tidak pernah meninggalkan kamarnya setelah mengalami kebutaan. Mungkin, Hyun Ah juga hanya meninggalkan ranjangnya jika hendak pergi ke kamar mandi yang juga berada di dalam kamarnya.

Tetapi untuk hari ini, Se Hun akan membiarkan Hyun Ah dengan kebiasaan lamanya. Besok, Se Hun akan memulai terapi dengan cara lain untuk Hyun Ah.

Dan keesokan hari pun datang dengan begitu cepat. Kebetulan, hari ini adalah hari keberangkatan Tuan Lee. Hyun Ah benar-benar kesal karena kakaknya dengan begitu teganya meninggalkannya di tangan Oh Se Hun yang menyebalkan.

Kebiasaan Hyun Ah untuk menunjukkan kekesalannya adalah dengan menolak makan. Se Hun tentu saja tidak mau ambil pusing dan membiarkan Hyun Ah melewatkan sarapannya.

Dan tepat pukul 8 pagi, Se Hun akhirnya mendatangi kamar Hyun Ah. Gadis itu sedang melipat kedua tangannya di depan dada sambil duduk di atas ranjangnya, saat Se Hun masuk ke dalam kamarnya.

“Siapa?!” bentak Hyun Ah, mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.

“Ayo kita pergi ke taman belakang. Kudengar, kau menyukai duduk berlama-lama di sana.”

Se hun, batin Hyun Ah. Ternyata caranya menolak sarapan kurang efektif bagi seorang Oh Se Hun.

“Aku tidak mau.” Jawab Hyun Ah, ketus.

“Tidak bisa atau tidak mau, karena kau buta dan takut terjatuh ketika berjalan?”

“Oh Se Hun!” teriak Hyun Ah. Ia benar-benar sudah kesal karena lagi-lagi Se Hun menyinggung soal kebutaannya.

“Seharusnya kau memanggilku Oppa. Selisih umur kita 4 tahun, ingat.”

Hyun Ah tidak merespon. Ia hanya menginginkan Se Hun untuk secepatnya pergi seperti psikolog lainnya dan tidak menggangu kehidupannya hingga akhirnya ada seseorang yang mendonorkan kornea yang cocok untuknya.

Dengan diamnya Hyun Ah, Se Hun sadar terapi dengan cara halus tidak akan membawanya ke mana-mana. Jadi Se Hun mengambil inisiatif dan memutuskan utntuk menggendong Hyun Ah. Terntu saja Hyun Ah berusaha memberontak, tetapi pada akhirnya mereka tetap sampai juga di taman belakang.

Hyun Ah hanya duduk di atas rumput sambil memeluk kedua kakinya, setelah Se Hun menurunkannya. Hembusan angin yang meniup rambutnya, cukup membuat Hyun Ah sedikit tersenyum dan Se Hun dapat memperhatikannya dengan sangat jelas.

Setelah seorang pelayan menyerahkan tongkat berjalan Hyun Ah, Se Hun berhenti mengamati Hyun Ah. Ia harus segera memulai terapi.

“Ayo berdiri, kita belajar berjalan.”

“Aku tidak mau.” Hyun Ah tetap bersikeras tetapi Se Hun pun sama.

Se Hun berjongkok di samping Hyun Ah lalu menarik tangan kanannya dengan memaksa. Diselipkannya tongkat berjalan ke genggaman Hyun Ah lalu Se Hun kembali berdiri dan memperhatikan Hyun Ah yang malah melempar tongkat itu jauh-jauh.

“Aku tidak butuh tongkat itu! Aku tidak mau belajar berjalan! Kembalikan aku ke kamarku!” Hyun Ah terus berteriak dan bukannya mendengar, Se Hun malah pergi menjauh, kembali masuk ke dalam rumah.

Saat Se Hun masuk, para pelayan yang menunggu langsung hendak membantu Hyun Ah untuk kembali ke kamarnya tetapi dilarang oleh Se Hun. Semua pelayan dilarang membantu Hyun Ah dalam bentuk apapun tanpa seijinnya.

Sambil menunggu Hyun Ah untuk berusaha, Se Hun meminta beberapa pelayan untuk menyiapkan kamar tamu di lantai dasar. Mulai malam ini dan sampai Hyun Ah bisa menaiki tangga sendiri, kamarnya akan terus berada di bawah.

Sudah 3 jam berlalu dan Se Hun terus memperhatikan Hyun Ah yang bersikukuh mempertahankan posisinya. Sama sekali tidak mau berusaha, batin Se Hun.

“Tuan Oh, tolong sudahi sesi terapi ini. Sebentar lagi akan turun hujan dan nona belum makan dari pagi tadi.” Tegur salah seorang pelayan wanita, yang sepertinya pengasuh Hyun Ah, tiba-tiba. Tetapi Se Hun tidak akan menyudahinya. Tidak sampai Hyun Ah mau berusaha.

“Pergilah. Aku akan membiarkan Hyun Ah kelaparan dan kehujanan jika itu bisa membuatnya setidaknya sedikit berusaha.”

“Aku akan melaporkan hal ini pada Tuan Lee.” Ancam pelayan wanita itu.

“Silakan saja. Tuan Lee sudah memberiku izin khusus untuk menyembuhkan Hyun Ah dengan cara apapun yang dibutuhkan.” Se Hun balas mengancam.

Pelayan wanita itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dan akhirnya memutuskan untuk pergi dengan raut wajah kurang bersahabat.

Hujan mulai turun, tetapi belum deras. Hyun Ah mulai bergerak-gerak tidak nyaman ketika tetesan hujan mulai membasahi puncak kepalanya.

Para pelayan yang menunggu, benar-benar gelisah melihat Hyun Ah. Mereka takut jika sampai Hyun Ah jatuh sakit dan Tuan Lee akan memecat mereka semua. Tetapi Se Hun tetap diam dan menunggu. Untuk hari ini, cukup sampai Hyun Ah memiliki niat untuk berdiri sendiri dan Se Hun bisa melanjutkan sisanya esok hari.

Tiba-tiba hujan mejadi sangat deras dan guntur berbunyi. Hyun Ah sangat takut dengan guntur hingga ia tiba-tiba bangkit berdiri dan Se Hun langsung keluar bersama 2 orang pelayan.

Kedua pelayan itu langsung memayungi juga menyelimuti Hyun Ah sementara Se Hun mengambilkan tongkat berjalannya.

Sama seperti Hyun Ah, Se Hun pun basah kuyup karena kehujanan. Bedanya adalah Hyun Ah kembali berteriak-teriak marah karena menyadari ia tidak dibawa ke dalam kamarnya, semernata Se Hun hanya mengekor dalam diam.

Se Hun meminta para pelayan untuk meninggalkannya berduaan dengan Hyun Ah, di dalam kamar baru Hyun Ah. Se Hun hanya ingin mengetahui reaksi Hyun Ah akan peristiwa tadi.

“Pergi!” kenapa kau selalu menyiksaku?!” Hyun Ah berteriak histeris dan melemparkan lampu meja secara asal, yang untungnya berhasil dihindari Se Hun.

“Kalau kau membutuhkan uang… aku akan membayarnya sekarang juga!”

Se Hun tidak mempedulikan teriakan Hyun Ah dan malah mendekatinya lalu memerangkap kedua tangannya dengan kuat.

“Dengar, Lee Hyun Ah!” bentak Se Hun, memaksa Hyun Ah diam karena takut. “Aku sama sekali tidak membutuhkan uang dari keluarga ini karena aku tidak pernah memintanya.” Sambung Se Hun, tegas.

“Jika kau ingin menyingkirkanku… buatlah kakakmu yakin bahwa kau cukup mandiri dalam kebutaan ini dan aku akan dengan senang hati menyingkir dari kehidupanmu tanpa jejak sedikitpun.” Lalu Se Hun pergi begitu saja. Meninggalkan Hyun Ah yang terus mengumpat tanpa henti.

Malam harinya, Hyun Ah jatuh sakit. Hyun Ah terserang flu hanya karena terkena sedikit air, membuatnya semakin rewel. Butuh waktu 2 hari penuh bagi Hyun Ah untuk sedikit membaik.

Setelah 2 hari itu, Se Hun mulai memberikan terapi mental juga fisik, yang masih sangat sulit untuk dituruti sepenuhnya oleh seorang gadis manja seprti Hyun Ah. Kadang, Se Hun merasa jengkel sendiri dan ingin berhenti. Tetapi semangatnya akan perjanjian dengan Tuan Lee, memaksanya untuk tidak menyerah.

Hyun Ah sendiri juga terus berusaha, karena ingin Se hun cepat pergi, meski kadang membantah. Setelah sebulan penuh, akhirnya Hyun Ah mulai kembali ceria dan menerima kebutaannya.

Hyun Ah sudah bisa berjalan sendiri di lantai dasar juga mengelilingi taman belakang dengan bantuan tongkat berjalan. Dan hari ini, Hyun Ah meminta sesi terapinya dilangsungkan di taman belakang.

Se Hun dan Hyun Ah duduk berdampingan di taman belakang sambil sesekali membicarakan hal yang tidak penting. Lebih tepatnya Hyun Ah yang memulai pembicaraan tidak penting itu. Tetapi setidaknya Hyun Ah memanggil Se Hun dengan sebutan Oppa, bukan dengan nama lengkapnya.

“Oppa…”

“Hmm?” gumam Se Hun yang sama sekali tidak menunjukkan antusias akan pertanyaan yang akan diajukan Hyun Ah.

“Jika bukan uang yang Oppa inginkan, lalu apa?”

Se Hun tidak menjawab. Anak ini terlalu ingin tahu, batin Se Hun.

“Oppa tahu… jika aku belum bertunangan, seharusnya kita berpacaran?”

“Kenapa?” Hyun Ah langsung sedikit mendorong Se Hun, karena gaya bicara Se Hun yang benar-benar seperti orang sedang bosan.

“Karena Oppa menyebalkan, keras kepala, dan mau menang sendiri. Kita sesifat.” Jawab Hyun Ah asal. “Ayo kita pergi berkencan jika aku sembuh nanti.” Sambung Hyun Ah, yang sangat berhasil dalam mengejutkan Se Hun.

Belum sempat Se Hun menjawab ajakan Hyun Ah, tiba-tiba seorang pelayan mendatangi Se Hun dan memintanya untuk segera menemui Tuan Lee di ruang kerjanya. Se Hun terpaksa meninggalkan Hyun Ah lalu menemui Tuan Lee di ruang kerjanya.

Saat Se Hun menemui Tuan Lee, tanpa banyak basa-basi, Tuan Lee langsung memberikan sebuah amplop tebal kepada Se Hun. Tuan Lee meminta Se Hun untuk segera memeriksa isi amplopnya di dalam ruangannya.

Awalnya Se Hun membaca tiap lembar dengan asal. Lagipula lembaran-lembaran yang berada di atas hanya berisi peraturan, kewajiban, hak, juga berberapa kemungkinan dalam menemukan orang hilang. Tetapi begitu sampai di lembaran terakhir, Se Hun tidak pernah merasa cukup untuk membacanya hanya sekali. Berulang-ulang, memastikan bahwa ia tidak salah membaca.

“Ini…. bagaimana mungkin?” tanya Se Hun tidak percaya, sambil mengacung-ngacungkan lembaran terakhir ke arah Tuan Lee.

“Hyun Ah adalah adikmu yang keluargaku adopsi saat usianya 5 tahun. Kalau tidak salah… nama Hyun Ah sebelum diadopsi adalah Oh Se Ra.” Jelas Tuan Lee.

“Hanya kau satu-satunya keluarga kandung yang tersisa bagi Hyun Ah. Aku tahu ini sangat tidak mungkin, tetapi bisakah kau mempertimbangkan untuk mendonorkan korneamu kepada Hyun Ah?” Lalu Tuan Lee mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jasnya. Botol itu, Tuan Lee berikan ke dalam genggaman Se Hun dengan raut wajah menyesal.

“Pikirkanlah, Oh Se Hun. Keluarga kami adalah keluarga penting di Korea dan memiliki seorang Adik yang buta akan menyulitkan untuk ke depannya.” Tuan Lee mengambil jeda sejenak, melihat pandangan kedua mata Se Hun yang kosong. “Minumlah kapsul di dalam botol itu dan aku akan mengurus sisanya.

“Aku… tidak tahu.” Jawab Se Hun, sebelum ia tiba-tiba berlari keluar dari ruang kerja Tuan Lee. Bahkan Se Hun pergi dari kediaman Tuan Lee.

Se Hun memacu mobilnya dengan sangat kencang hingga sampai di apartemennya. Di apartemennya, Se Hun mengamuk sejadi-jadinya. Se Hun berteriak dan menangis, mengingat kekejamannya dalam melaksanakan terapi untuk Hyun Ah, adiknya yang selama ini dicarinya.

Pada akhirnya, Se Hun hanya duduk termenung seorang diri di pojok dapur yang gelap. Raut wajah Se Hun begitu kacau. Ia menggenggam seuntai liontin berbandul hati, memperhatikannya.

Perlahan, Se Hun merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.

“Tuan Lee, aku akan melakukannya. Besok…. aku akan melakukan tes.”

Se Hun langsung menyudahi pembicaraannya secara sepihak dan kembali termenung layaknya mayat hidup. Besok Se Hun akan melakukan tes dan mengakhiri semuanya. Tetapi tiba-tiba permintaan Hyun Ah yang belum sempat dijawabnya pagi tadi, kembali terlintas di dalam pikirannya.

Tidak… Se Hun harus memenuhi janji itu. Setidaknya hanya hal itulah yang bisa dilakukan Se Hun sebelum benar-benar meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

Tiga hari setelah Se Hun melakukan tes, Se Hun mengajak Hyun Ah pergi keluar untuk berkencan. Sebenarnya, Hyun Ah awalnya tidak mau pergi, tetapi dengan sedikit bujukan Se Hun, akhirnya Hyun Ah memutuskan untuk pergi.

Hyun Ah memilih Sungai Han sebagi tempat kencan mereka. Meski sebenarnya Se Hun bingung dengan apa yang akan mereka lakukan di sana.

Dan benar, sesampainya di Sungai Han dengan menumpang mobil Se Hun, Hyun Ah hanya menginginkan untuk berjalan di sepanjang Sungai Han sambil bergandengan tangan. Tanpa Hyun Ah sadari, Se Hun menangis tertahan di sepanjang perjalanan. Memegang tangan adiknya untuk pertama kalinya setelah 19 tahun.

Sore menjelang dan Hyun Ah belum ingin pulang. Hyun Ah memilih untuk duduk sesaat di pinggir Sungai Han, bersebelahan dengan Se Hun.

“Ceritakan sedikit tentangmu, Oppa,” ucap Hyun Ah, membuka pebicaraan.

“Bagaimana ya… aku anak adopsian yang mempertahankan nama pemberian kedua orang tua kandungku. Saat diadopsi, usiaku 10 tahun, sudah berpisah setahun dengan adikku yang diadopsi saat berusia 5 tahun.” Se Hun berhenti berbicara. Ia benar-benar ingin menangis.

“Aku juga diadopsi… tapi aku tidak tahu siapa keluargaku. Aku sedang berusaha mencari mereka.” Jelas Hyun Ah tiba-tiba.

Se Hun terkejut dengan perkataan Hyun Ah, tetapi ia memilih bungkam.

“Orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Jadi apa yang kuminta sebagai bayaran dari terapimu adalah mencari adikku melalui keluargamu yang terpandang di seluruh Korea Selatan.”

Suara Se Hun bergetar karena menahan tangisannya dan Hyun Ah menyadarinya, hanya saja mengabaikannya.

“Dan Oppa menemukannya?”

“Ya… Dia sangat cantik dan kami sesifat.”

Hyun Ah agak merasa aneh dengan perkataan Se Hun. Sekali lagi, Hyun Ah memutuskan untuk mengabaikannya.

Se Hun tidak bisa lagi menahan tangisannya. Se Hun hanya menangis dalam diam, menunggu hingga Hyun Ah hendak pulang.

“Kenapa kau menangis, Oppa?”

“Aku hanya takut untuk berpisah dengan adikku.” Jawab Se Hun, singkat.

Sebelum pulang, Hyun Ah ingin mencoba meraba wajah Se Hun. Setidaknya memberikan gambaran baginya setelah operasi nanti untuk menemukan Se Hun. Ya… Hyun Ah merahasiakan operasinya dari Se Hun, untuk memberikan kejutan kepadanya.

Se Hun mengelap air matanya lebih dulu sebelum membiarkan Hyun Ah meraba wajahnya. Dan ketika Hyun Ah merabanya, Se Hun meremas tangannya sendiri untuk mencegah tangisannya yang siap meledak setiap saat.

“Wah… Oppa sepertinya tampan.” Komentar Hyun Ah setelah selesai meraba wajah Se Hun.

Se Hun tidak menjawab apa-apa. Ia hanya meminta Hyun Ah untuk cepat pulang, karena besok akan menjadi hari yang sangat penting bagi keduanya.

“Saranghae… Oh Se Ra….”

_A Brother’s Love_

Sebulan setelah operasi, akhirnya Hyun Ah dikeluarkan dari rumah sakit dengan penglihatan sempurna. Min Ho, tunangan Hyun Ah sudah sadar dari komanya sejak Hyun Ah melakukan operasi dan tinggal seminggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.

Tetapi masih ada 1 hal lagi yang mengganjal di hati Hyun Ah. Mengenai siapa yang telah mendonorkan kornea matanya untuk Hyun Ah.

Dan sepertinya Hyun Ah sudah sedikit mendapatkan bayangan kecurigaan, karena Se Hun yang tiba-tiba menghilang dan mengingat terakhir kali Se Hun memanggilnya dengan nama Oh Se Ra.

Tuan Lee hanya bisa memberikan selembar foto bergambar pemuda yang mengenakan setelan jas putih dengan latar sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga mawar merah, kesukaan Hyun Ah, sebagai jawaban mengenai siapa yang telah mendonorkan kornea untuknya. Tatapan mata pemuda berambut pirang di dalam foto itu begitu tajam dan raut wajahnya juga dingin. Sama sekali tidak ada senyum di sana, begitu suram.

Juga seuntai liontin berbandul hati, yang bisa dibuka. Ketika Hyun Ah membuka hati itu, di tengahnya berisi foto seorang anak perempuan kecil dan di sisi penutupnya terukir nama Oh Se Ra.

“Itu Kakak kandungmu, pemuda di dalam foto. Ia meninggal karena kecelakaan sehingga kami mengambil korneanya untukmu.” Jelas Tuan Lee. “Maaf karena tidak memberitahumu bahwa kau bukan Adik kandungku.”

“Aku tahu…”

Tuan Lee benar-benar terkejut dengan jawaban Hyun Ah. Dari mana adiknya bisa mengetahui hal seperti itu? Batin Tuan Lee.

“Apa pemuda di foto ini adalah Oh Se Hun?”

Tuan Lee tidak mampu untuk menjawab. Ia kembali teringat akan permintaan Se Hun terakhir kali kepadanya.

‘Tolong rahasiakan siapa aku sebenarnya kepada Hyun Ah. Biarkan aku beristirahat dengan tenang dan Hyun Ah mendapatkan hidupnya kembali.’

“Aku…”

“Aku tahu.” Sela Hyun Ah. “Bisa tolong keluar sebentar, Kak?” Tuan Lee keluar begitu saja.

Setelah Tuan Lee pergi keluar, Hyun Ah langsung menangis histeris. Dadanya terasa begitu sakit membayangkan pengorbanan Se Hun dan bagaimana kebodohannya selama masih bisa bersama dengan Se Hun. Hyun Ah sangat menyesal dengan setiap perkataan kasar yang telah dilontarkannya kepada Se Hun.

“Mianhae… mianhae, jeongmal….”

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s