Death Promise With An Angel

Title : Death Promise With An Angel

Author : Catharina Griselda

Genre : alternate universe, fantasy, romance, sad

Rating : Teen

Main Cast : Choi Soo Young (Sooyoung SNSD)

Cho Kyu Hyun (Kyuhyun Super Junior)

Wu Yi Fan (Kris)

Support Cast : Xi Lu Han (Luhan)

Choi Si Won (Siwon Super Junior) as Danielle

Aku ingin dicintai, bukan mencintai

Aku ingin meninggalkan, bukan ditinggalkan

Aku ingin melukai, bukan dilukai

_Death Promise With An Angel_

Kejadian semalam seakan seperti mimpi bagi Soo Young. Ia merasa begitu sakit hati di dalam mimpi itu. Melihat bagaimana seorang Cho Kyu Hyun, pria tampan yang merupakan calon suaminya, meninggalkannya begitu saja saat hendak mengucap janji sehidup semati di altar. Pagi ini, Soo Young terbangun di atas ranjang empuknya, bukti nyata bahwa semua itu hanya mimpi.

Jujur saja, mimpi itu benar-benar mustahil untuk Soo Young, bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta hingga menikah dengan seorang Cho Kyu Hyun, sahabatnya sendiri? Pria itu memang keren, lucu, jahil, sembrono, dan terkadang sangat menyebalkan, jelas bukan tipenya. Soo Young bahkan sampai senyum-senyum sendiri membayangkan mimpi itu.

“Berhenti senyum-senyum sendiri dan habiskan sarapanmu, sekarang! Sebentar lagi aku ada kelas dan aku tidak mau sampai terlambat karena acara sarapan ini!” Bentak Kyu Hyun. Soo Young tidak menanggapi bentakan itu, yang ada malah ia ingin tertawa terbahak-bahak, kembali mengingat mimpi semalam.

Kebiasaan sejak duduk di bangku SMA hingga duduk di bangku universitas tingkat II, mereka selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama di cafeteria kampus. Terkadang Wu Yi Fan dan Xi Lu Han, bergabung dalam acara sarapan itu dan biasanya Kyu Hyun menjadi pendiam setelah mereka bergabung.

Soo Young tidak pernah tahu akan perasaan ketiga pria itu terhadapnya, akan tetapi Soo Young sangat yakin bahwa ketiga pria itu adalah sahabat terbaiknya selama di kampus. Belakangan ini, Soo Young lebih dekat dengan Yi Fan karena mereka berada di jurusan yang sama. Sementara Lu Han dan Kyu Hyun berada di jurusan yang sama tetapi sedang berlangsung perang dingin di antara mereka. Alasannya mudah saja, Lu Han mendukung Yi Fan yang menyukai Soo Young sementara Kyu Hyun adalah saingannya. Kyu Hyun sudah mengetahui perasaan Yi Fan kepada Soo Young, sebulan setelah belajar di kampus yang sama.

“Youngie-ya!” Soo Young segera menghentikan langkahnya begitu juga Kyu Hyun yang berjalan di sampingnya. Mereka sama-sama menoleh ke ujung lorong, bedanya ada di raut wajah masing-masing di mana Soo Young terlihat senang sementara Kyu Hyun memasang wajah dingin.

“Ada apa, Lu Han?” Lu Han berusaha mengatur napasnya yang naik turun tidak beraturan di hadapan Soo Young dan Kyu Hyun, ia belum terlalu siap untuk menjawab pertanyaan tadi.

“Langsung saja ke intinya, kami ingin pergi ke perpustakaan sekarang,” ucap Kyu Hyun sinis, tetapi Lu Han tidak menanggapinya. Sekarang mereka saling benci dan tidak mungkin untuk saling mendengarkan satu sama lain.

“Yi Fan mencarimu, katanya ada yang ingin disampaikan.”

“Oh, di mana dia sekarang?”

Rahang Kyu Hyun mengeras mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Soo Young. Seharusnya Soo Young tidak mempedulikan di mana Yi Fan berada saat ini atau ingin mengetahui apa yang ingin dikatakan olehnya. Kyu Hyun tidak suka hal ini, Soo Young seharusnya lebih memperhatikannya karena mereka sudah bersahabat baik lebih lama dibandingkan dengan Yi Fan maupun Lu Han, itu pikirnya. Lagipula bisa saja Yi Fan menyatakan perasaannya sekarang dan Kyu Hyun hanya akan menjadi seorang pecundang yang bahkan tidak bisa menyatakan perasaan kepada sahabat baiknya sendiri.

“Di taman belakang kampus, Yi Fan memintaku untuk membawamu ke sana.” Lu Han mengakhiri ucapannya dengan melempar pandangan sinis kepada Kyu Hyun.

“Kalau begitu, ayo kita ke…..”

“Jangan, Choi Soo Young!” Teriak Kyu Hyun, frustasi.

Baik Soo Young maupun Lu Han, sama-sama terkejut dan menatap bingung ke arah Kyu Hyun. Kyu Hyun seakan hilang kendali dan tiba-tiba saja emosinya meledak. Mengapa Soo Young tak bisa memahami perasaannya, tanya Kyu Hyun dalam hati.

“Ada apa, Kyu? Kenapa kau tiba-tiba berteriak seperti orang kesetanan begitu?”

Kyu Hyun tidak menjawab sama sekali tetapi terlihat jelas kilatan kemarahan di matanya. Egonya terlalu kuat bahkan di saat seperti ini pun ia masih gengsi untuk mengakui perasaannya terhadap Soo Young.

“Tidak ada yang ingin kau katakan, bukan?” tanya Lu Han, sinis. “Ayo kita pergi, Youngie.”

Dengan perasaan tidak enak, Soo Young pergi bersama Lu Han. Beberapa kali Soo Young menoleh ke belakang hingga akhirnya ia benar-benar tidak bisa melihat Kyu Hyun lagi. Ekspresi Kyu Hyun yang terakhir dilihatnya adalah ekspresi penuh kekecewaan juga sedih.

“Jadi, apa yang sebenarnya Yi Fan ingin katakan kepadaku?” tanya Soo Young sambil berjalan di belakang Lu Han.

“Entahlah, kau harus mencaritahu sendiri. Aku hanya perantara pesan di sini.”

Lu Han sengaja memimpin jalan sesuai instruksi Yi Fan karena sesungguhnya, mereka tidak pergi ke taman belakang melainkan ke fakultas seni di mana Soo Young dan Yi Fan biasa belajar di sana.

“Kenapa kita menuju fakultas seni?” Soo Young menghentikan langkahnya karena bingung.

“Aku sengaja berbohong agar Kyu Hyun tidak mengikuti kita. Sekarang kau sudah tahu tujuannya, pergilah ke sana sendiri. Yi Fan menunggumu di kelas biasa.” Lalu Lu Han pergi begitu saja, meninggalkan Soo Young seorang diri.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di fakultas seni dan Soo Young tiba-tiba merasa bimbang. Ia merasa tidak seharusnya bertemu dengan Yi Fan melainkan menyusul Kyu Hyun yang mungkin sudah berada di perpustakaan, saat ini.

‘Aku ingin meninggalkan, bukan ditinggalkan’

‘Aku ingin menyakiti, bukan disakiti’

Aneh, kata-kata itu terngiang-ngiang dengan jelas di dalam benak Soo Young. Soo Young sadar betul bahwa suara yang mengucapkan kata-kata itu adalah suaranya, tapi di mana dan kapan, Soo Young tidak bisa mengingatnya.

“Sebaiknya aku menemui Yi Fan daripada berpikir yang tidak-tidak.” Gumam Soo Young seraya melangkahkan kakinya, memasuki lingkungan fakultas seni.

Ketika Soo Young sampai di kelas di mana ia biasa belajar, ternyata benar Yi Fan sudah menunggu di sana. Yi Fan menunggunya sambil memeluk sebuket bunga mawar merah kesukaan Soo Young, berdiri di atas meja di mana para dosen biasa mengajar.

Wajah Yi Fan langsung menggambarkan kegembiraan dan kedua pipinya bersemu merah saat Soo Young menghampirinya. Beberapa langkah lagi sebelum Soo Young benar-benar berdiri di hadapannya, Yi Fan melompat turun dari meja lalu berlutut. Soo Young hanya menghampirinya dengan wajah bingung tetapi di dalam hatinya, ia merasakan perasaan aneh antara harus pergi dari hadapan Yi Fan sekarang juga atau tetap diam di sini dan mendengarkan apa yang ingin Yi Fan sampaikan.

“Aku bukan orang yang romantis dan bukan juga orang yang mudah menyanjung orang lain,” ucap Yi Fan, gugup. Ia mengelus tengkuknya sesaat yang entah mengapa terasa sangat pegal.

Soo Young hanya memberikan senyum dipaksakan menanggapi perkataan Yi Fan yang kesannya terlalu menggantung. Sejak daritadi hati dan pikirannya bergelut sendiri, entah mengapa.

“Aku berusaha menjadi yang terbaik, selama ini…. dan ternyata aku tidak bisa. Mungkin aku bukan yang terbaik untuk saat ini, tetapi aku akan mencoba.” Yi Fan terus berputar-putar pada topik yang sama. “Jadi… mungkinkah untuk…”

“Ya?” Desak Soo Young yang sudah tidak sabar lagi dengan kelanjutan ucapan Yi Fan.

“Jadilah gadisku dan aku….. akan menjadi yang terbaik untukmu.” Yi Fan sedikit berbisik di akhir kalimatnya. Dengan malu-malu, Yi Fan menyodorkan buket bunga itu kepada Soo Young.

“Aku…”

‘Aku ingin dicintai, bukan mencintai’

“Aku akan menerimanya. Ya, aku mau menjadi gadismu.” Jawab Soo Young tiba-tiba. Perkataan itu seakan begitu saja terlontar dari mulut Soo Young dengan mudahnya, padahal hatinya bimbang. Sepertinya, kalimat yang tiba-tiba melintas di dalam pikiran Soo Young yang membuatnya bisa tiba-tiba melontarkan kalimat seperti itu.

Yi Fan langsung berdiri mendengar jawaban Soo Young. Dipeluknya Soo Young dengan erat, bahkan buket bunga yang dibawanya sebelumnya, dijatuhkan begitu saja. Yi Fan memeluk Soo Young dengan kedua mata terpejam karena terlalu senang.

Pelukan itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba terdengar suara seperti ada barang yang terjatuh. Yi fan membuka kedua matanya dan melepas pelukannya. Soo Young langsung berbalik karena penasaran. Keduanya langsung kaget bukan main dengan pemandangan yang  disuguhkan untuk mereka saat ini, Kyu Hyun jatuh tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Letak tubuh Kyu Hyun dengan mereka tidak begitu jauh dan Yi Fan segera menghampirinya, berusaha meyadarkannya. Yi fan berteriak kepada Soo Young yang diam mematung untuk segera memanggilkan ambulan.

‘Kyu Hyun membuntutiku dan sekarang ia tahu semuanya, ia mendengar semuanya’ rutuk Soo Young dalam hati.

Hanya Soo Young yang menunggu Kyu Hyun di rumah sakit. Yi Fan sedang menemui keluarga Kyu Hyun agar mereka segera ke rumah sakit. Cemas bahkan sangat cemas yang dirasakan oleh Soo Young. Sudah 1 jam Kyu Hyun ditangani di dalam UGD.

“Keinginanmu terkabul, bukan?”

Soo Young benar-benar terkejut, ia langsung menegakkan tubuhnya, membuka kedua matanya, dan menoleh ke sebelah kirinya. Di sana, duduk seorang pemuda rupawan yang mengenakan jas lengkap berwarna putih mutiara. Pemuda itu tersenyum ramah kepada Soo Young seakan ia sangat mengenalinya.

“Apa maksudmu?” Senyum di wajah pemuda itu langsung memudar mendengar pertanyaan Soo Young. Sekarang wajahnya justru seperti cemas, aneh sekali.

“Aku lupa akan efek sampingnya. Kau pasti melupakan semuanya,bukan?”

“Hah?” Soo Young semakin bingung, dibuatnya.

Pemuda itu kembali memamerkan senyum manisnya kepada Soo Young. Kejadian berikutnya yang benar-benar membuat mulut Soo Young menganga adalah kedua mata pemuda itu yang tiba-tiba berubah warna menjadi kemerahan, berkilat. Lalu pemuda itu menjentikkan jarinya dan Soo Young menemukan bahwa ia sudah tidak berada di rumah sakit lagi.

Soo Young melihat ke sekelilingnya dan ia yakin benar bahwa ia sedang duduk di sebuah taman yang dirasanya familiar, sekarang. Pemuda ajaib itu tidak berada di sampingnya lagi, melainkan sekarang ada seorang gadis yang mengenakan gaun pengantin, menangis sambil menutupi wajahnya. Soo Young yakin sekali bahwa ia mengenali postur tubuh itu. Ia berusaha menyentuh bahu gadis itu dan ternyata tangannya malah menembus bahu gadis itu. Berarti antara gadis itu yang khayalan atau justru Soo Young yang sudah meninggal.

“Jangan menangis lagi, Choi Soo Young-ssi.”

Merasa ada yang memanggil, Soo Young menoleh ke asal suara begitu juga gadis di sampingnya. Soo Young sangat terkejut begitu sedikit melirik ke sampingnya dan menemukan bahwa gadis yang mengenakan gaun pengantin itu adalah dirinya. Lebih terkejut lagi ketika melihat orang yang memanggilnya ternyata adalah pemuda yang ditemuinya saat di rumah sakit, memberinya mimpi aneh dan buruk. Pakaian pemuda itu juga sama seperti saat di rumah sakit, aneh.

“Kau siapa? Apa aku mengenalmu?” Pemuda itu tidak menjawab dan malah mendekati ‘Soo Young’ dalam balutan gaun pengantin, sambil tersenyum.

“Aku Danielle, malaikat mimpi dan cinta,” ucap pemuda itu, sesaat setelah berdiri di hadapan ‘Soo Young’.

“Ma-malaikat?” tanya ‘Soo Young’, gugup.

“Aku malaikat mimpi dan cinta yang sanggup membalikkan keadaan, menghapus semua mimpi burukmu.” Danielle mengucapkannya dengan benar-benar yakin.

“Benarkah?” tanya ‘Soo Young’ tidak yakin. Danielle terdengar seperti orang gila di hadapannya. Jika tidak gila, paling-paling orang ini mabuk atau meracau, pikir ‘Soo Young’.

“Sebutkan saja, aku pasti membantumu.” Bujuk Danielle.

Soo Young berpikir sejenak. Rasa sedihnya menggelapkan pikirannya. Jika saja pemuda ini berkata jujur, maka dirinya akan lebih baik mungkin, pikirnya.

“Aku ingin dicintai, bukan mencintai. Aku ingin meninggalkan, bukan ditinggalkan. Aku ingin melukai, bukan dilukai.”

“Aku akan mengabulkannya, tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Berikan aku sesuatu yang berharga bahkan sangat berharga jika aku berhasil mengabulkan permintaanmu.” Danielle tersenyum remeh, mengakhiri ucapannya.

“Aku akan membiarkan orang yang mencintaiku dengan tulus, mati.”

Tepat setelah ‘Soo Young’ mengatakan kalimat itu, Soo Young yang lain kembali ke tempat semula. Raut wajahnya benar-benar terkejut, belum bisa begitu menerima kenyataan yang baru dilihatnya.

“Kuberi waktu sampai tengah malam, siapkan dirimu,” ucap Danielle lalu segera bangkit berdiri, merapikan jasnya, dan hilang begitu saja.

Soo Young tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran Soo Young hanya bisa dipenuhi akan nasib Kyu Hyun yang jadi seperti ini karena kebodohannya. Sekarang, Soo Young sudah mengingat semuanya dan sangat menyesal. Danielle telah memutar waktu untuknya dan yang ada malah ia mencelakai Kyu Hyun, pria yang sangat mencintainya. Tapi mengapa waktu itu Kyu Hyun meninggalkan dirinya begitu saja jika begitu mencintainya?

Soo Young diam membisu sambil memikirkan nasib Kyu Hyun. Yi Fan dengan setianya duduk di sampingnya, menemaninya sambil menggengam tangan kirinya.

“Ayo kita pergi makan, dari siang kau belum makan apapun, Youngie.” Bujuk Yi Fan. Sudah dari siang semenjak ia sampai di rumah sakit, ia telah membujuk Soo Young untuk pergi makan. Tetapi Soo Young sama sekali tidak bergeming, tetap duduk di depan ruang UGD sambil membisu, pikirannya kacau.

“Youngie… orang tua Kyu Hyun akan menunggunya hingga sadar, ayo kita pergi makan.” Bujuk Yi Fan sekali lagi.

“Choi Soo Young, aku ingin berbicara denganmu.”

Soo Young menoleh ke sebelah kanannya dan menemukan Danielle berdiri di dekatnya, mengenakan setelan jas berwarna hitam. Yi Fan merasa benar-benar bingung dengan keberadaan Danielle. Hei! Ia tidak mengenalnya sama sekali.

Soo Young berdiri begitu juga Yi Fan. Yi Fan merasa tidak percaya dengan kepergian Soo Young bersama seorang pria yang asing di matanya. Aku harus ikut, batin Yi Fan.

“Aku akan pergi sendiri, Yi fan,” ucap Soo Young, datar.

“Tapi…”

“Tenang, Yi Fan. Aku hanya akan meminjamnya sebentar, benar-benar sebentar.” Danielle tersenyum lalu mendahului pergi. Tak selang lama, Soo Young mengekor. Danielle membawa Soo Young ke atap gedung rumah sakit. Pemandangan Seoul yang tidak pernah tidur, benar-benar indah dari atas sana.

“Tinggal 1 jam lagi,” ucap Danielle, memulai pembicaraan.

“Kenapa waktu itu Kyu Hyun meninggalkanku?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja, bukan karena penasaran tapi lebih karena rasa bersalah.

“Cho Kyu Hyun? Pria itu merasa bersalah waktu itu.”

“Merasa bersalah?”

“Ya, di hari seharusnya kau menikah adalah hari di mana Yi Fan meninggal karena kecelakaan, tabrak lari. Kyu Hyun merasa bersalah karena merebutmu darinya saat kalian kuliah dulu. Ia mendahului Yi Fan, menyatakan perasaannya di saat sebenarnya ia tahu bahwa Yi Fan menyukaimu lebih dulu.”

“Bagaimana bisa? Aku kan…”

“Kalian 1 SMA tapi Kyu Hyun baru menyukaimu setelah mengetahui perasaan Yi Fan.” Sela Danielle.

Pembicaraan itu berakhir di sana, meninggalkan lebih banyak bahan pikiran bagi Soo Young. Hati kecilnya berteriak-teriak dipenuhi rasa marah, kecewa, senang, terkejut, bahkan sedih. Ia tidak bisa membiarkan Kyu Hyun dibawa pergi begitu saja, di lain sisi ia juga merasa bersalah kepada Yi Fan. Seharusnya ia lebih peka dulu sehingga semua ini tidak akan terjadi. Sekarang semuanya sudah terlambat dan tak ada jalan keluar lain. Baiklah, saat Danielle menjemput Kyu Hyun nanti, Soo Young akan melarangnya dan meminta untuk membawanya saja.

Tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka dan keluar seorang dokter dari sana. Raut wajahnya menunjukkan kelegaan, berarti Kyu Hyun baik-baik saja di dalam sana. Soo Young segera menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Kyu Hyun. Dari awal pemeriksaan pada tubuh Kyu Hyun, tidak ada penyakit apapun. Kyu Hyun hanya tiba-tiba pingsan dan baru sadar sekarang.

“Terima kasih, dokter.” Lalu dokter itu berbalik hendak pergi dan tiba-tiba terdengar suara jentikkan jari. Dokter itu sekakan membeku begitu juga dengan keadaan sekitar.

Sial! Rutuk Soo Young dalam hati. Danielle pasti datang untuk menjemput Kyu Hyun sekarang.

“Yi Fan? Bagaimana kau?” Soo Young terkejut sendiri sekarang. Bukan Danielle yang manghampirinya, melainkan Yi Fan dalam balutan jas putih. Kenapa Yi Fan terlihat seperti malaikat?

“Aku hanya punya waktu sebentar, jadi tolong dengarkan baik-baik.” Yi Fan menarik tangan Soo Young dan menggenggamnya erat-erat.

“Aku ingin kau hidup bahagia dengan Kyu Hyun, jangan mengingatku ataupun masa lalu. Hanya itu yang kuminta darimu.”

“Kenapa? Kenapa kau mengalah? Apa aku tidak berarti di matamu?” Soo Young mulai meneteskan air mata. Ia kecewa akan keputusan Yi Fan yang begitu tiba-tiba.

“Karena aku mencintaimu, Choi Soo Young. Dari dulu, sekarang, dan selama-lamanya.”

Yi Fan perlahan memudar setelah mengucapkan kata-kata itu. Hanya tersisa sebentuk cincin bertahtahkan batu berlian berbentuk phoenix mungil, di genggaman Soo Young. Kenangan terakhir yang tertinggal di saat Yi Fan memintanya untuk tidak mengingatnya. Dia tetaplah seorang pria bodoh bahkan setelah meninggal.

Kini hidup seorang Choi Soo Young hanya tinggal dengan Cho Kyu Hyun. Cinta yang akhirnya bersatu meski dengan pengorbanan.

_Death Promise With An Angel_

“Aku mendengarkan pembicaraanmu dengan Soo Young di atas. Aku tahu ini gila dan aku sulit untuk percaya, tapi biarlah aku menggantikan posisi Kyu Hyun.”

Danielle berpikir sejenak, tawaran Yi Fan tidak menggiurkan tapi juga tidak salah. Yi Fan juga tulus mencintai sorang Choi Soo Young, gadis beruntung.

“Baik, aku akan mengambil nyawamu saja.” Yi Fan tersenyum mendengar persetujuan Danielle.

“Ketulusanmu telah menyelamatkanmu dari api neraka. Kau akan menjadi malaikat mimpi dan cinta sepertiku dan suatu hari nanti kau akan menemukan jodohmu yang sebenarnya.” Danielle hendak pergi, tetapi ia berbalik lagi, tersenyum kepada Yi Fan.

“Jika kau tidak tulus, kau tidak mungkin bisa melihatku.”

“Ya?” tanya Yi Fan, bingung.

_The End_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s