Please, Be My Sister!

Please, Be My Sister!

Oleh : Catharina Griselda

 

‘Adiknya itu beda jauh dengan kakaknya.’

‘Kakaknya populer, adiknya pendiam.’

Seorang Sebastian  benar-benar sudah gerah dengan seluruh penilaian orang lain kepada dirinya terlebih adiknya. Mereka memang berbeda, tetapi Sebastian  pikir… adiknya itu sempurna, bahkan lebih sempurna darinya.

Yohanna, adiknya, dinilai dari penampilan… kutu buku sejati. Ia pendiam dan tidak ada yang mau berteman dengannya. Tapi jika dilihat dari nilai eksaknya, Yohanna selalu menjadi juara umum dalam setiap ujian. Ditambah menjurai olimpiade Kimia juga kejuaraan catur international. Benar-benar hebat di mata Sebastian  pribadi, tetapi orang lain tidak bisa melihat itu semua.

Selalu dibanding-bandingkan, membuat Yohanna sering memendam kekesalan sendiri. Rasa kesal itulah yang mendorong hubungan Yohanna dan Sebastian  menjadi renggang. Di rumah menghindar, di sekolah juga menghindar. Sebastian  jadi gerah sendiri, dibuatnya.

Jadi, ia mencoba untuk menceritakan masalahnya kepada Jacob, sahabatnya. Dari Jacob lah… sebuah saran yang cukup memuaskan, didapatkan.

‘Coba cari tahu kesenangannya… lalu kalian bisa kembali akrab.’

Perkataan Jacob masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya. Bahkan perkataan itu yang mendorongnya, seorang kapten basket sekolah, hingga mau duduk di dalam ruang ekskul catur, di mana Yohanna menjadi ketuanya.

Bukannya jadi dekat, Yohanna malah terpaksa menyuruh Sebastian  untuk pergi dikarenakan ruang catur yang jadi kacau akibat tim basket dan penggemarnya.

Berlanjut ke langkah selanjutnya, mengikuti ekskul science bahkan duduk di samping Yohanna. Lagi.. ia malah diusir, karena murid tahun terakhir dilarang mengikuti ekskul tersebut.

Pada akhinya, yang tersisa tinggal menemui Yohanna di perpustakaan, tempat favoritnya sewaktu beristirahat. Ditemani Jacob, ia dapat mendengar denan jelas suara tawa Yohanna, dari dalam perpustakaan. Dalam hati, ia bertanya-tanya… mengapa adiknya bisa sebahagia itu…?

Dan langsung terjawab begitu mereka masuk dan melihat Yohanna sedang bercanda dengan teman seangkatannya yang sedang menjaga perpustakaan, Mark. Bahkan sanking asyiknya bercanda, mereka sampai tidak menyadari kedatangan 2 orang populer itu. Baru tersadar ketika keduanya menarik kursi dari salah satu meja deretan terdepan.

Sebastian  mengambil sembarang buku, karena ia ingin mengawasi Yohanna. Jujur, Sebastian  merasa cemburu dengan keakraban Yohanna dan si Mark itu. Ia terus memperhatikan hingga gerak-gerik Mark mulai menunjukan ketidaknyamanan, lalu Yohanna yang tiba-tiba berbalik dengan pandangan tidak bersahabat.

“Apa yang Kakak lakukan di sini?” Tanya Yohanna, ketus, begitu berdiri di hadapannya.

“Menemui adikku.” Sebastian  melemparkan senyum andalannya yang malah membuat adiknya bergidik karena jijik.

“Pergilah, kita masih bisa bertemu di rumah.” Yohanna langsung hendak berbalik pergi, namun terhenti karena ucapan Sebastian , berikutnya.

“Dengan apa? Dengan cara memusuhiku?!”

Yohanna tidak mau berbalik. Tega sekali kakaknya membawa urusan keluarga, hanya  karena ia merasa yang paling menderita di sini.

“Dengan apa, Yohanna?! Jawab!” bentak Sebastian , kesal dengan kebisuan adiknya.

Sambil mengepalkan kedua tangannya, Yohanna berbalik. Wajahnya merah padam, menahan luapan emosi.

“Aku membenci Kakak!”

Sebastian  tidak sanggup mengatakan apa-apa, apalagi Yohanna mulai menangis.

“Aku benci selalu dibandingkan di sekolah ini! Aku yang pintar tapi kau yang populer! Aku yang selalu berperestasi dan kau yang disukai karena kau seorang kapten!”

“Yohanna… aku…”

Tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata, Sebastian  akhirnya memilih untuk memeluk Yohanna. Awalnya meronta namun setelah Sebastian  mulai berbisik, ia seakan pasrah dalam diam.

“Maaf… jika kehadiranku mengganggumu. Maafkan Kakak yang hadir hanya untuk membuatmu terluka. Tapi tenanglah… tahun depan kau akan seutuhnya menjadi dirimu, Yohanna.”

Yohanna tetap menangis sambil mencengkram erat blazer seragam kakaknya. “Maafkan aku juga, Kak. Aku hanya benci dengan kejadian 2 tahun belakangan ini. Aku bukan membencimu.”

Sebastian  melepaskan pelukannya lalu mengelap bekas air mata dari wajah adiknya.

“Tersenyumlah, Yohanna. Karena menurut Kakak, kamu adalah yang terhebat.”

“Aku… maafkan aku, Kak. love you…” Lalu Yohanna kembali memeluk kakaknya.

“Love you too, my dear sister.”

Keharmonisan kembali terbangun di antara keduanya, di perpustakaan. Mark dan Jacob, hanya menjadi kacang di masing-masing tempat. Menyaksikan dengan tenang, keakraban yang kembali terjalin di antara Sebastian  dengan Yohanna.

The End

 FF ini menjadi salah satu kontributor dalam sebuah buku. Event yang diikuti adalah ‘Cinta di Perpus’ oleh AE Publishing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s