A Modern Niulang and Zhinu

Judul : A Modern Niulang and Zhinu

Author : Catharina Griselda

Main Cast : Oh Se Hun ( Sehun EXO K ), Tia Hwang (ChoColat)

Support Cast : all EXO-K & EXO-M member

Genre : AU, fantasy, comedy, romance, angst

Length : Oneshoot [ 3.914 words ]

Rating : Universal

Author Note : FF ini terinspirasi dari legenda Niulang dan Zhinu yang berasal dari Tiongkok, juga drama seri Arang and The Magistrate, yang merupakan drama favorit author.

Dan tak bosan-bosannya, author ingin mengingatkan bahwa plagiat itu dilarang….

Selamat membaca!!!!

“Tolong.. ikat lukanya…,” ucap Se Hun dengan napas terbata-bata.

Mendengar napas Se Hun yang tidak begitu baik, Lu Han jadi panik sendiri dan melupakan pelajaran yang pernah didapatnya di sekolah, mengenai pertolongan pertama. Mata Lu Han bergerak-gerak gelisah mncari sesuatu untuk mengikat luka bekas gigitan ular di lengan atas Se Hun.

Hyung…” panggil Se Hun lemah.

Mata Lu Han terus mencari hingga akhirnya ia menangkap sesuatu yang tersangkut di semak-semak. Seutas pita berwarna merah muda. Lu Han segera mengambil pita tersebut dan mengikatnya kencang-kencang pada lengan atas Se Hun.

“Ayo, kita harus segera kembali ke perkemhan.” Ajak Lu Han sambil membantu Se Hun berdiri.

Lu Han juga Se Hun yang dipapahnya, akhirnya kembali ke perkemahan paling terakhir, saat hari mulai senja. Awalnya, Chan Yeol juga Baek Hyun yang melihat kedatangan mereka dari kejauhan, hendak meledek mereka. Tetapi tidak jadi karena mereka menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Se Hun.

“Tolong Se Hun… kita harus kembali ke Seoul, sekarang juga!” teriak Lu Han, panik, hingga seluruh isi perkemahan keluar.

Jadi perkemahan yang baru berlangsung selama seminggu itu, terpaksa berakhir, karena Se Hun harus dirujuk ke rumah sakit. Seluruh member EXO kembali ke Seoul, untuk menemani Se Hun.

Karena pertolongan pertama yang dilakukan Lu Han, Se Hun tidak perlu menginap terlalu lama di ruamh sakit. Se Hun keluar dari ruamh sakit, dijemput oleh Lu Han dan ia sama sekali tidak bisa berhenti mengeluh segala sesuatu yang berhubungan dengan menginapnya dirinya di rumah sakit.

Mengikuti anjuran dokter, Lu Han langsung mengantar Se Hun ke dorm lalu melanjutkan aktivitasnya sendiri. Se Hun tertinggal sendiri di dorm, karenanya. Jadi Se Hun memilih untuk menghabiskan waktu di kamarnya sendiri, termenung.

Pada akhirnya, karena bosan, Se Hun memutuskan untuk memeriksa tumpukan pakaiannya yang telah dicuci bersih, dari perkemahan. Awalnya, tidak ada yang aneh dari tumpukan pakaian di atas meja belajar itu, hingga tiba-tiba Se Hun menemukan seutas pita berwarna merah muda di atas jaketnya.

Se Hun meneliti pita itu dan menyadari bahwa ternyata pita itu milik seorang yeoja. Mungkin untuk mengikat rambut, tetapi yang pasti ia merasa tidak membutuhkannya. Lebih baik dibuang, batin Se Hun.

Se Hun sudah hendak membuang pita itu ke tempat sampah yang terletak di dapur, ketika tiba-tiba dirasanya sesorang menahan tangannya. Padahal, Se Hun sangat yakin bahwa ia hanya seorang diri di dorm. Jadi Se Hun segera menoleh ke sampingnya dan menemukan seorang yeoja berperawakan mungil, berdiri tepat di sampingnya.

Yeoja itu mengenakan gaun putih selutut. Wajahnya polos juga cantik, terutama sepasang matanya. Mata dengan iris hazel yang bulat. Se Hun sampai ternganga melihat kecantikannya.

“Tolong jangan dibuang… itu pita kesayanganku,” ucap yeoja itu dengan malu-malu. Se Hun jadi tersadar.

“Siapa kau? Bagaiman kau Masuk?” Yeoja itu malah tersenyum, mendengar pertanyaan Se Hun.

“Aku Tia… Tia Hwang dan kau pasti tidak mau tahu bagaimana caraku masuk ke sini.” Jelas yeoja itu, Tia.

“Faktanya adalah aku sangat ingin tahu, Ms. Hwang!” balas Se Hun, tegas.

Dan Se Hun langsung mendapatkan apa yang diinginkannya. Tia berbicara panjang lebar selama hampir setengah jam, mengenai hidupnya yang begitu sial. Mulai dari dirinya yang terjatuh dari pendakian gunung, terbaring koma di China, lalu melayang-layang sebagai roh karena Se Hun yang mengikat lukanya dengan pita rambutnya.

“Tunggu dulu…” Tia mengehntikan ucapannya. “Tadi katamu kau adalah roh? Aku tidak percaya itu… kau pasti salah satu dari seorang fans yang menyelinap masuk. Ayo keluar!” Se Hun hendak menarik tangan Tia, tetapi tidak bisa. Tangannya malah menembus pergelangan tangan Tia.

Mulut Se Hun menganga lebar melihat hal mistis yang baru saja terjadi di hadapannya. Se Hun membalik-balikkan tangannya di hadapan wajahnya. Takut juga bingung menyelimuti perasaan Se Hun.

“Bagaimana… bagaimana… bagaimana?” Se Hun hanya bisa terus mengulang kata tanyanya hingga Tia harus menutup mulut Se Hun dengan tangannya.

“Sudah kubilang… aku jadi roh karenamu… karena kau mengambil pita rambutku saat aku hendak kembali ke tubuhku.” Lalu Tia melepaskan tangannya dari mulut Se Hun yang masih menganga juga.

Rasanya sangat aneh ketika roh membekap mulutmu dan rasanya begitu nyata.

“Jadi.. bisakah kau berhenti menganga?” tanya Tia, sebal.

Hingga malam harinya, Se Hun akhirnya sudah berhenti menganga dan lebih memilih untuk berdiam diri. Sementara itu, Tia malah mengelilingi dorm sambil berkomentar dan ia paling takjub ketika masuk ke kamar D.O, biasnya.

“Hei… orang seperti apa D.O Oppa itu?” tanya Tia, yang tiba-tiba muncul kembali di hadapan Se Hun. Tetapi Se Hun tidak merespon dan hanya menatap kosong ke arah Tia.

“Halo?” Tia melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Se Hun.

Sebenarnya Se Hun tahu daritadi Tia berbicara kepadanya, hanya saja menahan diri untuk tetap diam. Tetapi sekarang Tia benar-benar sudah terdengar menganggu, jadi Se Hun berusaha untuk menangkap pergelangan tangannya dan lagi-lagi hanya mengangkap angin kosong. Untungya kejadian kedua, jadi Se Hun tidak begitu terkejut.

“Baik…” Tiba-tiba Se Hun bangkit berdiri. “Kau adalah roh dan aku manusia, jadi aku bisa mengabaikanmu.” Lalu Se Hun pergi dari ruang tengah, di mana daritadi ia duduk di sana dan kembali ke kamarnya.

Baru Se Hun berbaring sesaat di atas ranjangnya ketika tiba-tiba Tia menembus pintu kamarnya dan langsung menghampiri Se Hun. Tia menyentuh tangan Se Hun dan rasa dingin langsung menjalar di sana, membuat Se Hun terganggu.

“Kau tidak boleh mengabikanku, hanya kau yang bisa mengembalikanku…” rengek Tia, memberikan puppy eyes kepada Se Hun.

Se Hun sama sekali tidak tergerak dengan puppy eyes itu dan malah memilih untuk meninggalkan ranjangnya, sekedar untuk menyetel musik keras-keras lalu kembali berbaring di atas ranjangnya. Berharap suara Tia tidak terdengar, karena ‘Growl’ yang mengalun dengan keras. Tetapi suara Tia malah semakin terdengar juga diiringi dengan suara jeritan penuh kegembiraan layaknya seorang fans histeris.

Tia malah menari-nari sendiri degnan ‘Growl’ dan Se Hun jelas tidak suka itu. Berisik, batin Se Hun.

“Diam!” teriak Se Hun keras-keras bersamaan dengan pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka, menunjukkan Lu Han di ambang pintu dengan wajah bingung.

Hyung?” Tia berhenti menari dan menoleh ke arah Lu han.

“Lu Han Oppa!” teriak Tia senang dan langsung berlari ke arah Lu Han lalu memberikannya pelukan.

“Hentikan itu!” teriak Se Hun, tidak suka melihat kehebohan Tia.

Lu Han benar-benar bingung melihat Se Hun yang tiba-tiba berteriak-teriak tidak jelas. Belum lagi dengan rasa dingin yang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya.

Lu Han sampai harus mengambil inisiatif dan meletakkan tangannya di dahi Se Hun. Jelas tidak demam, batin Lu Han.

Se Hun menepis tangan Lu Han dengan wajah tidak suka. Dia tidak demam apalagi gila.. hanya roh itu terus mengganggunya dan Luhan tidak akan pernah tahu, karena ia tidak bisa melihatnya.

“Manager memberimu libur hingga Minggu, jadi istirahatlah dengan baik. Jangan sakit lagi..” –Atau menjadi gila- sambung Lu Han, dalam hati.

“Ya, benar. Aku harus ISTIRAHAT!” teriak Se Hun yang tiba-tiba langsung meninggalkan ranjangnya dan memeluk Lu Han.

Lu Han menatap ngeri atas perbuatan Se Hun. Sementara Se Hun yang bisa melihat Tia, hanya berusaha melindungi Lu han dari pelukan Tia lainnya.

“Kau yakin sehat?” Se Hun hanya mengangguk. “Baiklah… mungkin aku akan tidur di sofa hari ini.” Lu Han langsung mengambil bantal dan selimutnya, lalu pergi keluar.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Se Hun marah, begitu Lu Han pergi keluar.

“Berusaha melakukan skinship dengan biasku.” Jawab Tia, santai.

Mendengar jawaban Tia, Se Hun langsung membanting dirinya ke atas ranjang. Menghembuskan napas keras-keras, karena kesal kepada Tia. Roh penasaran itu benar-benar membuatnya gila.

“Semua member juga biasmu….” gumam Se Hun, kesal. Tetapi Tia malah tertawa terbahak-bahak, mendengar gumaman Se Hun.

“Apa yang kau tertawakan?!” tanya Se Hun, kesal.

“Kau bukan biasku… aku bahkan tidak tahu siapa namamu. Aku juga tidak menyukai Kai, Tao, juga Suho Oppa.”

Se Hun langsung membelalakkan matanya, mendengar pengakuan Tia. Roh itu mnengenal semua member, sementara dirinya? Benar-benar tidak bisa dipercaya.

Karena sangat tidak mungkin lagi untuk marah kepada Tia, Se Hun memilih untuk memunggungi Tia dan menutup telinganya dengan bantal. Berharap besok.. Tia sudah menghilang. Dan harapan itu mengantarkan Se Hun ke alam mimpi.

Rasa dingin yang menyelimuti sekujur tubuh Se Hun, menariknya untuk sadar. Malas membuka mata, rasanya masih ngantuk. Tetapi dining.. rasa dingin itu tidak hilang meski Se Hun sudah membenarkan letak selimutnya.

Dengan terpaksa, Se Hun perlahan-lahan membuka matanya. Terkejut… itu yang pertama kali dirasa oleh Se Hun, begitu membuka mata. Tia berbaring di sampingnya, juga memejamkan mata. Mereka saling berhadapan, Se Hun tidak menghadap dinding lagi. Terlebih… Tia menyusupkan tangan mungilnya di pinggang Se Hun, seperti memeluk guling saja.

Pantas… rasanya dingin, batin Se Hun. Tetapi di dalam hati, Se Hun merasa hangat. Ada rasa berkecamuk di dalam perutnya dan rasanya menggelitik. Melihat wajah Tia, mendorong Se Hun untuk sekedar menglusnya dan Se Hun benar-benar melakukannya. Hanya untuk menangkap angin kosong, bukan kelembutan.

Kekosongan itu membuat Se Hun tersadar dan berteriak kencang, ingin mengusir Tia. Roh seharusnya tidak tertidr, batinnya.

Tia membuka mata bersamaan dengan pintu kamar Se Hun yang tiba-tiba dibuka dari luar. Menujukkan sosok Tao, Kai, juga Xiumin, yang peuh tanya.

“Se Hun… kau tidak apa-apa?” tanya Xiumin, khawatir.

Bukannya menjawab, Se Hun malah memberikan tatapan kesal ke arah Xiumin yang sebenarnya ditujukan kepada Tia. Tia yang mendekat ke arah Kai, yang mengundang tatapan itu.

“Dasar menyebalkan!!!” teriak Tia, tepat di wajah Kai.

“Menyebalkan!” Tia melakukan hal yang sama kepada Tao.

“Pergi!” bentak Se Hun, bermaksud kepada Tia. Tetapi yang bisa melihat kelakuan Tia di sana, hanya Se Hun seorang, sehingga baik Xiumin, Tao, juga Kai, sama-sama merasa tersinggung dengan bentakan Se Hun. Sadar akan ketegangan yang mulai muncul, Se Hun segera berusaha menjelaskan. Tetapi ketiga sahabatnya itu sudah terlanjur kesal dan Xiumin lah yang paling kesal, sebagai yang tertua.

“Kau tahu Se Hun… seharusnya otakmu diperiksa, karena mungkin saja ada endapan bisa di sana,” ucap Xiumin, kesal, sebelum pergi.

Se Hun tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah pintu kamarnya kembali ditutup. Ia hanya bisa menahan emosinya sebisa mungkin sambil menatap benci kepada Tia.

Roh bodoh itu telah membuat Se Hun terlihat seprti orang gila. Ia jadi merasa menyesal bahwa sempat terlintas wajah cantik Tia di pikirannya. Mengganggu akal sehatnya juga sempat membuatnya merasakan perasaan aneh.

Tia kembali mendekat ke arah Se Hun sambil memberikan senyum lebar kepadanya. Baru saja terlintas suatu legenda di pikirannya, yang membuatnya merasa seperti tokohnya. Se Hun harus tahu, batinnya.

“Kau tahu bahwa kita seakan seperti tokoh dalam sebuah legenda?” Se Hun tetap bungkam, tetapi tidak berhasil menyurutkan rasa gembira Tia, mengingat legenda itu.

“Kehidupan kita saat ini.. bagaikan Niulang dan Zhinu. Aku Zhinu dan kau Niulang!” sambung Tia, lalu tertawa.

Se Hun mersa tidak tertarik sama sekali dan memilih untuk mengusir Tia, ketimbang berdebat. Sudah cukup masalah yang dialaminya hari ini dan akan sangat tidak bijak bila menambahnya lagi.

Syukurnya… Tia mengerti juga dan memilih untuk kembali berbaring di samping Se Hun. Tetapi kali ini, Tia tidak memeluk Se Hun, karena ia tahun Se Hun sedang kesal.

“Jangan terlalu dekat, dingin.” Omel Se Hun, memunggungi Tia.

Awalnya Tia hnedak protes, teapi tidak jadi… setelah mendengar penuturan Se Hun selanjutnya.

“Bersikap baik dan aku akan membantumu untuk pulang.”

Se Hun akhirnya bisa tertidur, meski tidak nyenyak, karena rasa bersalah. Berharap saja semoga besok semua akan kembali seperti semula.

Dan keesokan hari menjemput dengan begitu cepat. Se Hun bangun lebih telat dari biasanya, karena walau bagaimanapun juga… tidur dengan roh, rsanya tetap saja dingin.

Se Hun keluar dari kamarnya, meninggalkan Tia… yang anehnya begitu lelap dalam tidurnya. Pergi ke dapur untuk sarapan juga mungkin berbaikan dengan Tao, Kai, juga Xiumin. Sayangnya… semua member sudah pergi ke luar, keculi Lu Han yang sedang asyik dengan ponselnya, sambil duduk di meja makan.

Hyung.” Sapa Se Hun, mengambil posisi duduk di hadapan Lu Han.

“Oh.. hi.” Balas Lu Han tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.

Se Hun tidak mau ambil pusing dan memilih untuk melanjutkan dengan keperluannya sendiri, di dapur. Tetapi ketenangan di antara keduanya tidak berlangsung lama, karena begitu Se Hun mulai melahap sandwichnya, tiba-tiba Tia sudah mengisi kursi di sampingnya. Lagi-lagi hawa dingin datang bersamanya.

“Pagi, Niulang.” Sindir Tia, tetapi Se Hun tidak merespon apapun dan fokus dengan sarapannya.

“Menyebalkan.” Gumam Tia, lalu mengalihkan perhatiannya kepada Lu Han. “Kira-kira.. kapan aku bisa bertemu D.O Oppa?” sambung Tia.

Se Hun merasa sensitif dengan perkataan Tia yang terakhir. Bagaimana tidak?! Tia mengetahui nama semua member bahkan member yang tidak disukainya sekalipun. Lalu… bagaimana dengan dirinya… yang bahkan namanya saja tidak diketahui?

“Berisik…” gumam Se Hun, kesal. Sebenarnya hanya ditujukan kepada Tia, tetapi Lu Han juga mendengarnya dan jadi bertanya-tanya, karenaya.

“Tidak ada apa-apa, Hyung.” Elak Se Hun.

Untungnya Lu Han percaya dan kembali sibuk dengan dirinya sendiri. Sementara Se Hun, terus diganggu oleh Tia. Setiap kalimat yang diucapkan Tia, selalu berakhir dengan dirinya yang dipanggil Niulang.

“Berhenti memangilku Niulang!” bentak Se Hun, tiba-tiba, yang menoleh ke arah Tia.

“Se Hun?” Lu Han benar-benar khawatir dengan Se Hun yang tiba-tiba meninggikan suaranya, meski tidak tahu apa yang dibicarakannya.

“Jadi namamu Se Hun?”, “Apa yang tadi kau katakan, Se Hun?”

Baik Tia maupun Lu Han, sama-sama bertanya kepada Se Hun, yang hanya membuatnya bingung. Tetapi tidak mungkin untuk menjawab Tia, jadi Se Hun memilih untuk menjawab Lu Han. Meski dalam Hati, Se Hun ingin menjawab Tia dengan sedikit menyombongkan diri.

“Tadi aku menanyakan cerita dari Legenda Niulang dan Zhinu, Hyung.” Bohong besar, sebenarnya ia tidak ingin tahu!

“Oh..tapi kau tidak perlu membentakku… Se Hun,” ucap Lu Han, kesal.

Lalu Lu Han mulai bercerita dan mau tidak mau,Se Hun terpaksa mendengarkannya. Lagipula, ternyata legenda itu tidak terdengar seperti kisah percintaan belaka. Dan yang pasti, terlintas ide jahat di dalam pikirannya, karena cerita dari Lu Han.

Selesai dengan urusan sarapan, Se Hun segera kembali ke kamarnya. Tia tetap mengekor meski Se Hun menutup pintu kamarnya, tepat di hadapan wajahnya.

“Apa maksudnya itu, Se Hun?!” tanya Tia, tidak terima atas perlakuan Se Hun. Dan bukannya minta maaf, Se Hun malah tersenyum-senyum sendiri sambil berbaring di atas ranjangya. Baru sa ja terlintas ekspresi kesal Tia di dalam pikirannya, yang memaksanya tersenyum-senyum sendiri.

“Jadi… kapan kau akan memulangkanku, Se Hun?”

Se Hun malah memberikan tatapan jenaka kepada Tia.

“Kau tidak akan pernah pulang.. sayangku Tia. Sama seperti Zhinu, kau baru akan pulang jika ibu tirimu menjemput. ”Tia langsung membelakkan matanya, karena begitu tidak percaya dengan perkataan Se Hun.

“Tapi aku tidak punya Ibu tiri…!” protes Tia.

“Kalau begitu… mulailah mencari, Zhinu. Mulai sekarang aku akan menjadi Niulang mu yang tampan, anggota boyband terkenal, kaya sejak lahir, juga aku tidak memiliki sapi seperti Niulang, sebagai info.” Balas Se Hun, sombong.

“Kau hanya perlu mengembalikan pita itu ke dekat tubuhku. Tubuhku hanya bersemayam di China… tidak jauh.” Tia menunjukkan aegyonya agar Se Hun luluh. Sayangnya… hati Se Hun tidak tergerak.

“Memangnya kau yakin cara itu akan berhasil?” Tia tidak berani menjawab, tidak yakin.

“Paksa aku.” Lalu Se Hun mengambil pita rambut Tia, yang diletakkannya sembarangan di atas nakas. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Se Hun mengikatkan pita itu di pergelangan tangan kirinya.

“Se Hun!”

Tiba-tiba pintu kamar Se Hun dibuka dari luar, menunjukkan Lu Han dengan ekspresi wajah bingung. Dalam hati, Lu Han bertanya-tanya Se Hun tadi berdebat dengan siapa, karena ia yakin sekali tadi mendengar Se Hun berdebat.

“Aku bai-baik saja, Hyung,” ucap Se Hun sambil mengangkat tangan kirinya, bermaksud mengusir Lu Han secara halus.

“Kau yakin… karena tadi…” Ucapan Lu Han terhenti begitu ia memperhatikan apa yang berada di pergelangan tangan kiri Se Hun. Tanpa sadar, Lu Han jadi tersenyum jahil, melihat pita merah muda melingkar di sana.

“Selera yang bagus.” Lalu Lu Han memutuskan untuk menutup pintu dan pergi., memberikan privasi pada sifat feminim yang tiba-tiba menguasai Se Hun.

Hyung.. tunggu…” Se Hun bermaksud mengejar Lu Han, karena sadar dengan pikiran Lu Han terhadap dirinya. Tetapi diurungkan dan malah timbul emosi kepada Tia.

“Semua ini salahmu!” teriak Se Hun, frustasi, berdiri sambil bertolak pinggang di hadapan Tia.

“Karena itu… cepat pulangkan aku!” bentak Tia, tidak mau kalah.

“Dalam mimpimu.” Se Hun memutuskan untuk mengacuhkan Tia dan melanjutkan apa yang hendak dilakukannya tadi.

Jadi, Se Hun yang telah mengambil keputusan untuk menahan Tia, benar-benar melakukannya. Meski pada awalnya hampir setiap menit Tia memohon utnuk dipulangkan. Tetapi setelah sebulan berlalu, akhirnya Tia memilih untuk bungkam dan mengikuti Se Hun ke manapun. Berharap dengan perubahan sikap itu, maka Se Hun akan berbaik hati dan memulangkannya.

“Sudah berapa lama kau jatuh koma?” tanya Se Hun, tiba-tiba. Lu Han sudah tertidur pulas di atas ranjangnya sendiri, jadi ia tidak akan mendengar apapun.

“Ditambah sebulan di sini.. berarti sudah satu setengah bulan.” Tia sibuk menggoyang-goyangkan kakinya sambil duduk di tepi ranjang Se Hun, memunggungi Se Hun.

“Apa kau benar-benar ingin pulang?” –Tidak ingin selalu berada di sampingku?-

“Aku benar-benar ingin pulang. Menemui Ayah, Ibu, juga kedua Kakak kembarku yang menjengkelkan.” Se Hun sedikit kecewa mendengar jawaban Tia. Bagaimana pun juga, ia ingin menjadi egois dengan mempertahankan roh cantik itu di sampingnya.

Tiba-tiba Tia berbalik dan menatap Se Hun. Meski kamarnya sedang gelap, tetapi pandangan peuh harap Tia, masih cukup terlihat di penglihatannya.

“Jadi… apa kau akan memulangkaknu?” Se Hun malah berbalik, menunggungi Tia.

“Hmm.. kita lihat besok.” Se Hun bisa dengan jelas mendengar desahan kecewa Tia, karena jawabannya. Teapi untuk saat ini biarkan saja, biarkan dirinya menyimpan yeoja tak kasat mata itu, lagipula ia tidak akan mendapatkan kerugian apapun.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, keesokan harinya sejak pagi-pagi sekali, EXO sudah dipanggil untuk latihan. Se Hun tidak bisa fokus dengan latihan itu, meski sudah 3 jam berlatih. Perhatiannya teralih, karena ia dapat melihat dengan jelas bahwa Tia sedang duduk di pojok ruang studio dengan raut wajah murung.

“Bisa istirahat sebentar?” tanya Se Hun, saat seluruh member sedang sibuk berlatih koreografi yang baru.

“Baik…. kita istirahat 30 menit.” Jawab Suho, yang disambut dengan seluruh member yang berhamburan mengambil botol minum masing-masing.

Se Hun memilih untuk duduk di samping Tia sambil menikmati air mineralnya. Tak selang lama, D.O bergabung dengannya.

Kehadiran D.O, sedikit membuat Se Hun was-was, karena bagaimana juga D.O adalah member favorit Tia. Tetapi nyatanya Tia tidak merespon dan tetap murung.

Se Hun benar-benar ingin menghibur Tia. Mengusapnya dengan lembut juga menenangkannya. Tetapi ia tidak bisa, karena member lain akan kembali menganggapnya gila jika seandainya ia melakukan kedua hal itu.

Se Hun hanya menatap sendu ke arah Tia, mengacuhkan D.O yang sudah daritadi mengajaknya ngobrol. Ia baru sadar ketika D.O mulai mengguncangkan tubuhnya.

“Se Hun.” Se Hun hanya menatap bingung, menanggapi D.O.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya D.O, panik. Dan bukannya menjawab, SE Hun malah bangkit berdiri dan pergi keluar, meniggalkan seluruh member dalam kebingungan.

Kelakuan aneh Se Hun dipicu oleh Tia yang tiba-tiba berlari keluar. Dan bagian teranehnya adalah Se Hun seperti melihat Tia menangis sambil berlari. Aneh bukan? Roh bisa menangis?

Se Hun mengikuti Tia hingga ke atap gedung SM. Ia berdiri di atas dinding pembatas, siap melompat ke bawah.

“Tia…” Tia berbalik mendengar panggilan Se Hun dan karena itu, Se Hun dapat dengan jelas melihat air mata yang mengering di pipi Tia.

Se Hun mengambil inisiatif untuk mendekat ke arah Tia dan Tia malah berteriak-teriak histeris agar Se Hun tidak mendekat. Bahkan ia juga mengancam akan melompat jika Se Hun terus mendekat.

Bukannya mendengar ancaman Tia, Se Hun malah terus mendekat. Dan nyatanya, Tia sama sekali tidak melompat. Se Hun bahkan sudah berdiri benar-benar di dekatnya.

Pabbo!” bentak Se Hun, tiba-tiba.

“Kau itu roh dan kalau pun kau jatuh ke bawah… tidak akan terjadi apapun padamu.” Tia menatap tidak suka kepada Se Hun lalu mendengus sebal dan melompat turun, menghampiri Se Hun.

“Se Hun menyebalkan!” Tia memukul-mukul dada Se Hun sambil menangis histeris. “Biarkan aku pulang… antarkan aku pulang.. jebal!!!” rengek Tia, sambil meremas kaus Se Hun.

Se Hun malah tersenyum, melihat kelakuan Tia. Roh itu benar-benar telah membuatnya gila dengan begitu banyak perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya sendiri. Dan sekarang bukan lagi saatnya untuk egois dan mengembalikannya ke tubuhnya, semula. Jika memang jodoh, maka mereka akan bertemu kembali, batin Se Hun.

“Ne.. alu akan mengembalikanmu.” Tia mengangkat kepalanya, menatap bingung atas pernyataan Se Hun.

Pabbo… aku akan memulangkanmu ke China.” Tia tidak sanggup berkata-kata dan langsung memeluk Se Hun. Sat itu.. yang dirasa Se Hun brebeda, pelukan ini terasa hangat.

“Tetapi aku harus meminta izin untuk pergi ke sana. Jadi tolong bersabarlah.”

Kepastian sudah diberikan dan yang tersisa hanya pelaksanaannya, yang ternyata memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Izin tidak kunjung diberikan, mengingat EXO sebentar lagi akan comeback dengan “Overdose”. Dan sejauh itu pula, dengan janji kosong, Tia tetap bahagia.

Sudah hari ketujuh semenjak kejadian itu dan akhirnya Se Hun mendapat respon dari agensi untuk menemui sang direktur. Sebelum pergi dari dorm, Se Hun meminta Tia untuk tetap tinggal di dorm, meskipun sedikit merasa berat mengingat keberadaan D.O di sana. Tetapi Se Hun tetap pergi, demi Tia.

Kabar baik langsung menyambut Se Hun, setelah 30 menit berada di ruangan sang direktur. Ia diijinkan pergi ke China selama tidak bermalam di sana. Berarti Tia bisa pulang, tanpa masalah.

Se Hun bergegas pulang, karena Tia. Senyum tidak sedikitpun hilang dari wajahnya, meski masih berada di lift. Bahkan sambil berjalan menuju dorm pun, Se Hun tidak bisa berhenti mengusap pita yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Tidak sampai Se Hun masuk ke dalam dorm.

Tia sedang memeluk D.O, itu pemandangan pertama yang dilihat Se Hun saat pertama kali masuk ke dorm. Se Hun diam mematung di hadapan D.O, hanya itu tanggapannya.

Tiba-tiba Tia melepas pelukannya dan berbalik. Se Hun membelalakan matanya, salah tingkah dengan Tia yang melihatnya.

“Se Hun… kau sudah pulang?”, “Se Hun?”

Baik pertanyaan D. O maupun Tia, sama sekali tidak ditanggapi Se Hun. Tak menoleh lagi ke belakang, Se Hun melangkah cepat ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras. Dan tak selang lama, Tia sampai di kamarnya dengan menembus pintu.

“Ada apa dengamu? Apa direktur tidak mengijinkanmu pergi ke China?” Se Hun bisu, menyibukkan dirinya dengan laptopnya sambil duduk di atas ranjang. Percuma untuk menghiraukan Tia yang hanya akan membuatnya semakin kesal.

“Se Hun…” panggil Tia, manja. Tiba-tiba ia duduk di samping Se Hun, merangkul bahunya.

“Bisakah kau pergi?” Tia menatap heran kepada Se Hun, atas pertanyaannya. “Kenapa kau harus ada di sini?”

“Se Hun… aku…”

“Pergi!” bentak Se Hun, tiba-tiba. Tia sampai langsung bangkit berdiri, karena bentakan itu.

“Aku tidak mengerti dengan emosimu, Se Hun. Kenapa kau begitu labil?!”

“Labil? Labil katamu?!” Se Hun menutup laptopnya keras-keras lalu berjalan mendekati Tia dan berhenti di hadapannya.

“Aku begini karena kau… dari awal kita bertemu, aku langsung terpesona dengan kecantikanmu.” Se Hun menutup kedua matanya. “Tetapi aku tidak tahu bahwa pesona itu berubah menjadi suka. Aku menahanmu karena suka, bukan supaya kau bahagia dengan biasmu, Tia Hwang…”

Lalu Se Hun melepas pita rambut Tia dari tangannya dan mengambil korek api dari laci meja belajarnya. Se Hun membakar pita itu, tepat di hadapan Tia, lalu memilih untuk berbaring di atas ranjang, sambil menutupi wajahnya dengan sebuah bantal. Tidak mau untuk mengetahui lagi apa yang dikatakan Tia.

Dan saat itulah Se Hun melakukan kesalahan terbesarnya, karena saat dirinya sudah tenang pada malam hari, Tia sudah tidak berada lagi di kamarnya, juga di seluruh ruangan di dorm. Hanya tersisa sedikit abu sisa pita yang terbakar tadi.

Se Hun sungguh menyesal.

5 bulan kemudian

EXO sedang menggelar fan signing dan Se Hun juga berada di sana. Memberikan tanda tangannya sejak pagi dan kini sudah 2 jam berlalu, senyuman mulai pudar di wajah Se Hun yang mulai keram. Bahkan beberapa fans harus kecewa karena Se Hun yang bertingkah tidak profesional dan hanya langsung memberi tanda tangannya tanpa melihat si penggemar terlebih dahulu. Setidaknya… ia masih menanyakan nama mereka.

“Nama?” tanya Se Hun, ketus. Ia ketus karena rasa lelah juga bosan.

“Tia… Tia Hwang…”

Pengucapannya, suaranya, Se Hun sangat kenal itu. Se Hun segera mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dirinya, hingga tanpa sadar, mulutnya menganga.

Sama, batin Se Hun, senang. Mereka memang jodoh, sama seperti Niulang dan Zhinu.

‘Tia… Tia Hwang….”

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s