Faith

  1. Judul : Faith
  2. Author : Catharina Griselda
  3. Main Cast : Choi Jin Ri ( Sulli F[x] ), Choi Min Ho ( Minho SHINee )
  4. Support Cast : Choi Si Won ( Siwon Super Junior ), Lee Jin Ki ( Onew SHINee )
  5. Genre : AU, angst, romance
  6. Length : Oneshoot [ 2.962 words ]
  7. Rating : Universal
  8. Disclaimer : fanfic ini asli buatan sendiri jadi tolong jangan diplagiat

Luka yang terlalu dalam, tidak mungkin untuk diobati. Paling, luka itu hanya akan meninggalkan bekas jika berusaha diobati. Lalu… apakah luka itu sendiri ingin diobati?

Tepat jam  6, Jin Ri membuka matanya begitu mendengar alarm  jam wekernya berbunyi. Seperti biasanya, Jin Ri mematikan alarmnya lalu menyilang tanggal 1 pada kalender.

Awal musim semi di tahun keempat. Bentuk silang warna merah itu selalu menghiasi kalender Jin Ri. Choi Min Ho, pria itu yang membuat Jin Ri selalu melakukannya tiap hari.

Kini, Jin Ri harus bangun tiap pagi, hanya untuk melakukan kegiatannya dan melihat foto pre weddingnya yang terpasang indah di dinding, yang berhadapan langsung dengan ranjangnya. Foto yang selalu tampak menyedihkan di mata Jin Ri, apalagi dengan Min Ho yang memeluknya dari belakang. Benar- benar tampak romantis, tapi mungkin jika dilihat oleh Min Ho.

Jin Ri belum beranjak dari ranjangnya, baru duduk dan tiba-tiba ponselnya bergetar di samping kalender. Saat Jin Ri memeriksanya, ternyata panggilan dari Min Ho. Sesungguhya , Jin Ri tidak mau menerima panggilan dari Min Ho, tetapi demi rahasianya, Jin Ri menerimanya.

“Yeoboseyo, Ri-ya!” sapa Min Ho dengan semangat begitu Jin Ri menerima panggilannya. Jin Ri sama sekali tidak merespon.

“Aku harap hari ini kita bisa menemui kakakmu.” Jin Ri hanya terdiam, termenung sebenarnya. “Ri-ya… kau di sana?” sambung Min Ho, berusaha memastikan sambungannya tidak terputus.

“Ya… Orabeoni sudah kuhubungi. Kita akan sarapan bersama di kantornya.” Jawab Jin Ri, datar.

Jawaban yang terdengar terlalu dingin di telinga Min Ho, justru malah membuatnya cemas dan menanyai keadaan Jin Ri. Dan Jin Ri hanya mengelak, mengatakan dirinya baik-baik saja, hanya saja moodnya tidak begitu baik, mengingat mereka akan menikah sebulan lagi.

“Baiklah kalau begitu, kuberi kau waktu 1 jam untuk mempersiapkan diri. Bye, Ri-ya.”

Begitu saja… selalu tidak penting, batin Jin Ri. Tetapi untuk saat ini, Jin Ri akan mengutamakan apapun yang diinginkan Min Ho. Menurutinya setidaknya sampai Jin Ri akhirnya siap untuk membuka kedoknya sendiri.

Dan tepat 1 jam kemudian, Min Ho sudah berada di ruang tamu apartemen Jin Ri. Min Ho mudah untuk masuk, karena password apartemen Jin Ri adalah kombinasi dari tanggal dan tahun lahir Min Ho, seperti yang diberitahu Jin Ri dulu.

Min Ho awalnya memilih untuk duduk-duduk saja sambil menunggu, tetapi 20 menit telah berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa Jin Ri akan segera keluar dari kamarnya, membuat Min Ho memilih untuk mendekati kamar Jin Ri. Min Ho berniat untuk mengetuk dan mengingatkan Jin Ri untuk segera keluar, tetapi diurungkan karena pintu itu tidak tertutup rapat dan Jin Ri sedang berbicara dengan seseorang dari ponselnya.

“Ne… nado saranghae.”

DEG!!!

Min Ho merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Kalimat yang diucapkan Jin Ri, terdengar seperti ia baru saja mencurangi Min Ho dari belakang. Pikiran itu bisa muncul begitu saja, karena Min Ho tahu , ia pernah salah terhadap Jin Ri dan Jin Ri sangat mungkin untuk meninggalkannya karena itu. Tetapi tidak… Min Ho tidak boleh memikirkan hal seperti itu, mereka harus saling percaya hingga hari pernikahan nanti dan seterusnya.

Jadi Min Ho memilih untuk pura-pura tidak mendengar dan masuk ke dalam di saat Jin Ri sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tujuan Min Ho melakukannya, hanya supaya Jin Ri tidak mengetahui dirinya yang tadi sempat mendengarkan sedikit pembicaraan Jin Ri.

“Sudah datang rupanya?” tanya Jin Ri sambil memandang pantulan dirinya di cermin. Suara Jin Ri masih terdengar dingin juga ketus.

“Ne, bukankah kita akan pergi untuk sarapan?” tanya Min Ho, bingung.

“Aku malas… pergilah tanpaku.” Jawab Jin Ri, asal.

Min Ho merasa sangat terkejut dengan perilaku juga perkataan Jin Ri hari ini. Sangat baru, Jin Ri tidak pernah seperti ini sebelumnya. Min Ho sampai harus memeriksa penampilan Jin Ri, melihat sebenarnya Jin Ri hendak pergi atau tidak. Tetapi penampilannya sudah sangat menunjukkkan kesiapannya untuk pergi.

Tiba-tiba Jin Ri bangkit berdiri dan meninggalkan meja riasnya sambil membawa tas tangannya. Jin Ri berdiri di samping Min Ho dan melingkarkan tangannya ke lengan atas Min Ho.

“Aku hanya bercanda, ayo pergi!” ajak Jin Ri, memaksa Min Ho untuk mulai berjalan. “Apa jadinya kau tanpaku.” Gumam Jin Ri.

“Mungkin, aku akan merasa kukurangan.” Balas Min Ho dengan nada jahil.

Perjalanan menuju kantor Choi Si Won, kakaknya Jin Ri, leibh terasa normal dibandingkan sebelumnya. Setidaknya Jin ri bisa tertawa juga bercanda dengan Min Ho. Candaan juga tawa Jin Ri, lumayan untuk sedikit menghibur Min Ho yang merasa gugup, karena pagi ini merupakan kali pertama Min Ho bertemu dengan kakaknya Jin Ri. Selama ini , Min Ho hanya mengetahui nama Choi Si Won, bukan orangnya.

“Ri-ya… bagaimana kalau kakakmu tidak menyukaiku?” tanya Min Ho tiba-tiba saat mereka sudah memasuki gedung kantor Si Won.

“Tidak mungkin… Orabeoni pasti sangat menyuikaimu.” Suara Jin Ri terdengar sangat antusias.

Dan tanpa Min Ho sadari, baik dirinya maupun Jin Ri, sudah berhadapan dengan seorang Choi Si Won yang ternyata sangat dikenalinya. Si Won yang dulu sangat populer, si juara olimpiade Fisika, dan seorang Hyung yang dulu satu genk dengannya.

Min Ho duduk benar-benar di hadapan Si Won sementra Jin Ri sendiri duduk di samping kakaknya. Min Ho merasa benar-benar canggung dengan posisi duduknya hingga ia hanya memakan sedikit demi sedikit steak di hadapannya.

“Apa kau tidak menikmati sarapannya? Tidak sesuai selera, Choi Min Ho?” Si Won menekankan pengucapannya akan nama Min Ho. Menunjukkan bahwa Si Won benar-benar tidak menyuikai orang dihadpannya.

“Jika kau merasa sarapan ini kurang mewah, maka aku minta maaf, Tuan Choi Min Ho.” Sindir Si Won lagi.

“Tidak… maksudku….”

“Orabeoni, cukup.” Jin Ri akhirnya membuka mulutnya, karena takut penyamarannya selama ini akan terbongkar.

Tiba-tiba Si Won bangkit berdiri dari kursinya lalu melemparkan serbetnya dengan kasar ke atas meja makan. Wajah Si Won terlihat benar-benar kesal di mata Min Ho, yang hanya mengarah pada ketidaksukaannya terhadap Min Ho.

“Kita keluar sebentar, Choi Jin Ri!” Lalu Si Won melenggang pergi begitu saja yang langsung disusul oleh Jin Ri.

Hampir selama 5 menit berada di luar, Si Won tidak berbicara sama sekali dan hanya memberikan tatapan sulit dimengerti kepada adiknya sendiri. Si Won masih mencoba berpikir bagaimana caranya untuk berbicara dengan halus kepada adiknya.

“Mulailah berbicara, Orabeoni.”

“Kenapa harus Choi Min Ho? Kenapa harus Min Ho yang itu?” Si Won berusaha untuk sebisa mungkin tidak terdengar marah, tetapi suaranya sendiri telah mengkhianatinya.

“Karena aku ingin membalasnya, mengembalikan apa yang seharusnya menjadi miliknya.” Si Won memberikan tatapan tidak mengerti kepada adiknya. Membalasnya , dengan cara apa? Dan apakah masalah ini berkaitan dengan waktu SMA dulu?

“Orabeoni akan segera tahu… nanti, seminggu sebelum pernikahanku.” Lalu Jin Ri meninggalkan Si Won dan kembali duduk di dalam ruang kerja Si Won bersama dengan Min Ho.

Min Ho tidak berani menanyakan apapun setelah Jin Ri kembali ke hadapannya. Hebatnya lagi, peristiwa sebelumnya telah membuat Min Ho benar-benar kehilangan selera makannya. Sebelumnya karena canggung dan sekarang karena Si Won.

Si Won akhirnya kembali bergabung, juga kehilangann selera makannya. Si Won malah sibuk dengan ponselnya sementara Jin ri sendiri  berpura-prua tidak peduli dan meneruskan menyantap sarapannya.

“Hyung…” panggil Min Ho tiba-tiba, yang berhasil menarik perhatian Si Won juga Jin Ri.

“Jika Hyung tidak bisa mempercayaiku saat ini, maka setelah menikah nanti aku bisa menunjukkan bahwa Jin Ri akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.” Si Won malah tersenyum snis mendengar perkataan Min Ho.

“Bagaimana caranya? Dengan menyiksanya seperti di sekolah? Apa masalah pembullyan itu tidak cukup untukmu?” Jin Ri segera meremas paha kakaknya untuk mengingatkan Si Won dalam pengendalian diri.

“Aku tidak membullly Jin Ri.” Min Ho menaikkan suaranya, tidak terima. Min Ho paling benci ketika seseorang mengungkit masa lalunya saat di sekolah. Jin Ri akan teringat dan meninggalkannya, itu yang ditakutkan oleh Min Ho.

“Lalu masalah saat kegiatan dansa bodoh di sekolah saat kelas XI… bagaimana kau…”

“Orabeoni, cukup!” bentak Jin Ri, tiba-tiba. Jin Ri langsung meninggalkan kursinya dan berlari keluar dari ruang kerja kakaknya.

Rasanya benar-beanr ingin menangis, sesak. Jin Ri mengambil langkah cepat dengan pergi keluar sebelum penyamarannya terbongkar. Dalam hitungan detik dan Si Won tidak berhenti, maka Jin Ri akan meledak.

Jin Ri tidak sadar Min Ho mengikutinya, hingga dirasanya tangan Min Ho menyelimuti pinggangnya. Min Ho memeluk Jin Ri dari belakang juga menaruh dagunya di bahu Jin Ri.

“Mian…” Min Ho lalu terdiam, begitu juga Jin Ri.

“Apa yang dikatakan Hyung tidak salah… tapi kumohon jangan tinggalkan aku karena semu a kesalahpahaman di masa lalu.” Jin Ri tidak menjawab dan ia malah melepaskan tangan Min Ho dari pinggangnya. Min Ho benar-benar terkejut karenanya.

“Aku mau pulang,” ucap Jin Ri, tanpa menoleh kepada Min Ho, lalu pergi begitu saja.

Awalnya Min Ho hendak menyusul Jin Ri, tetapi tiba-tiba seseorang menahan bahunya dari belakang. Seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Choi Si Won sendiri.

Min Ho segera berbalik dengan wajah kebingungan dan tiba-tba sebuah tinjuan mengenai bibirnya hinggga ia terpental ke belakang. Terjatuh di lantai dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

“Mungkin dulu kami miskin hingga kau bisa mempermainkan Jin Ri… tapi sekarang, aku sudah cukup kaya untuk melindunginya, Tuan Choi.” Lalu Si Won berbalik, hendak pergi, sebelum Min Ho bangkit berdiri dan tiba-tiba mendorongnya dari belakang.

“Aku tidak pernah mempermainkannya, Hyung!” bentak Min Ho dan Si Won hanya tersenyum sinis sambil duduk di lantai.

“Sekedar info, Tuan Choi, karena kegiatan dansa bodoh itu, Jin ri menangis semalaman dan sakit keesokan harinya. Kau mengajaknya menjadi pasanganmu… hanya untuk menertawainya,” ucap Si Won, sinis.

“Aku benar-benar tulus, waktu itu. Aku mengajaknya karena aku menyukainya.” Jelas Min Ho sambil mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi.

“Jika kau tulus… kau tidak akan mundur begitu saja hanya karena teman-temanmu menertawaimu, yang mengajak Jin Ri.” Si Won bangkit berdiri lalu merapikan jasnya. “Waktu itu karena kami miskin, karena itu Jin Ri menjadi korban bullyan. Sekarang… semuanya berubah dan kau hanya akan sakit karenanya. Jauhi Jin Ri sebelum semuanya terlambat…. karena aku lebih mengerti dia dibandingkan siapapun.” Lalu Si Won pergi dan menghilang di balik pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat.

Apa yang dikatakan Si Won telah menjadi beban pikiran bagi Min Ho. Belum lagi dengan Jin Ri yang sama sekali tidak bisa dihubungi. Hanya operator juga kotak pesan suara yang setia menyahuti Min Ho.

Sudah seharian Jin Ri menghilang, hingga sore harinya, Min Ho memaksa datang ke apartemen Jin Ri. Min Ho tahu passwordnya, hanya saja kali ini tidak langsung menerobos masuk. Min Ho merasa bersalah jadi ia harus menunggu sampai Jin Ri mendengar bel apartemennya dan membukakannya pintu. Tetapi hingga malam menjemput, Jin Ri tetap tidak membukakan pintu dan ponselnya tetap tidak bisa dihubungi.

Mungkin besok, batin Min Ho. Ini kali pertamanya mereka bertengkar hebat, jadi Min Ho juga masih tidak begitu memahami situasinya.

Besok menjadi 3 hari, 3 hari menjadi seminggu, dan seminggu akhirnya menjadi 2 hari sebelum hari pernikahan. Min ho cemas, sangat cemas. Ketakutan terbesar Min Ho adalah Jin Ri meninggalkannya, dan sepertinya hal itu benar-benar terjadi.

Drt…Drt..Drt…

Min Ho yang sedang rapat langsung memilih keluar dari raungan, begitu mengetahui yang menghubunginya adalah Jin Ri. Baru hari ini mereka bisa kembali berhubungan dan Min Ho tidak mungkin menyia-nyiakannya.

“Yeoboseyo, Ri-ya..”

“Min Ho… mianhae… aku tidak menghubungimu dari kemarin…” Suara Jin Ri terdengar berat juga lelah. Aneh… tidak seceria biasanya.

“Tak apa… yang terpenting kita akan menikah 2 hari lagi.” Balas Min Ho, dengan sabar.

“Ne.. kalau begitu selamat bekerja.” Lalu Jin Ri memutus panggilannya begitu saja. Min Ho merasa janggal dengan hal itu, tetapi ia memutuskan untuk mengabaikannya. Lagipula, tidak baik rasanya memberikan tekaran kepada Jin Ri, di saat seprtinya ia sedang berada dalam kesulitan.

Min Ho berpikir untuk menghubungi Jin Ri, selesai rapat, tetapi nyatanya ia tidak bisa melakukannya. Karena masalah pernikahan, Min Ho terpaksa cepat-cepat menyelesaikan segala urusan terkait jabatanya sebagai wakil presdir di perusahaan keluarganya. Terpaksalah, masalah hubungan Min Ho yang terasa janggal, dinomor duakan.

Karena terlau sibuk, Min Ho bahkan tidak menghadiri latihan pemberkatan yang diselenggarakan pada malam sebelum hari pernikahan. Dan tanpa Min Ho sadari, Jin Ri meradang karenanya. Pikiran Jin Ri yang awalnya sedikit goyah, karena rasa bersalah, pada akhirnya menjadi bulat untuk kembali ke rencananya semula.

Hari yang ditunggu-tunggu unuk Min Ho, akhirnya datang. Min Ho sudah bersiap di altar dengan balutan jas putih, yang membuatnya semakin tampan. Seluruh keluarga juga kerabat dari Min Ho, sudah memenuhi gedung gereja sayap kiri. Bagian teraneh adalah sayap kanan yang seharusnya diisi oleh keluarga juga kerabat Jin Ri, yang tak tampak satupun juga. Hanya Si Won yang terlihat dari pagi tadi hingga sekarang, 5 menit menjelang dirinya yang akan menemani Jin Ri berjalan menuju altar.

Memang, seharusnya ayahnya yang mengantarkan Jin Ri menuju altar, tetapi entah mengapa Jin Ri lebih memilih Si Won untuk melakukannya. Lagipula, memang sedikit janggal bahwa Jin Ri sama sekali tidak mengenalkan kedua orang tuanya pada keluarga Min Ho, dengan dalih mereka menetap di luar Korea.

Sebenarnya, keluarga Min Ho sama sekali tidak menyetujui pernikahan ini mengingat mereka sama sekali tidak mengetahui asal-usul Jin Ri, tetapi dengan bujukan dan paksaan Min Ho, akhirnya hari ini bisa terjadi. Meskipun kakaknya Min Ho tetap tidak menyetujui pernikahan ini dan menolak untuk menjadi pengiring mempelai pria, tetapi Lee Jin Ki, sahabat terbaik Min Ho, selalu siap untuk posisi itu.

“Jangan terlalu tegang, wajahmu jadi jelek.” canda Jin Ki, yang berdiri tepat di sebelah Min Ho.

Min Ho hanya menoleh dan tersenyum sekilas kepada Jin Ki, sebelum kembali melihat ke arah pintu di mana pengatinnya akan keluar dari sana, dengan wajah tegang.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Wedding March mengalun dengan spontan. Para tamu yang hadir, segera berdiri dan menoleh ke arah pintu, hanya untuk menemukan seorang gadis, yang merupakan pengurus gereja, berlari menghampiri Min Ho dengan wajah panik.

“Tuan Choi…” Gadis itu malah mengambil jeda sejenak untuk mengatur napasnya.

“Ada apa?” tanya Min Ho, tidak sabar sekaligus panik.

“Mempelai wanitanya tidak datang…” Para tamu langsung gaduh, mendengar berita mengejutkan itu.

“Dan kakaknya meninggalkan ini untuk Anda.” Gadis itu menyerahkan sebuah amplop berwarna hijau lime, kepada Min Ho.

Min Ho menerima amplop itu dengan tergersa-gesa. Saat ini pikirannya kacau dan sangat sulit untuk merespon segala sesuatu yang terasa berputar di sekitarnya.

“Mungkin Jin Ri hanya gugup… Ayo susul ke apartemennya!” ajak Jin Ki lalu segera menarik tangan Min Ho untuk mengikutinya.

Seperti kehilangan nyawa, itu yang dilakukan Min Ho sepanjang perjalanan menuju apartemen Jin ri. Jin Ki sibuk mengemudi dalam diam dan Min Ho hanya berusaha mengendalikan emosi dan pikirannya agar tetap sinkrom, di samping Jin Ki.

Sesampainya di apartemen Jin Ri, Min Ho tetap duduk diam sambil termenung di dalam mobil Jin Ki. Jin Ki sampai harus mengingatkan Min Ho bahkan sampai menawarkan untuk mengantarkannya ke ruang apartemen Jin Ri. Tetapi Min Ho menolaknya lalu berjalan layaknya sebuah robot sampai dirinya akhirnya sampi di depan apartemen Jin Ri.

Ragu… itu yang dirasakan Min Ho saat hendak menekan password untuk membuka pintu apartemen Jin Ri. Rasanya, saat ini Min Ho tidak  diterima untuk berada di sini.

“Buka suratnya dan kau akan mengerti.” Min Ho menoleh ke sebelah kanannya dan menemukan Si Won berdiri di sana, masih mengenakan setelan jas hitamnya, untuk pernikahan Jin Ri.

“Apa ada pria lain?” tanya Min Ho dengan suara yang hampir seperti bisikan. “Apa Jin Ri tidak pernah mencintaiku?”

“Tidak, Min Ho… kau hanya tidak pernah mengerti tentang Jin Ri.” Lalu Si Won pergi begitu saja, meninggalkan Min Ho yang jatuh terduduk di depan pintu apartemen Jin Ri.

Sekitar 15 menit Min Ho diam termenung, sebelum akhirnya ia teringat akan surat yang dimaksud Si Won. Dengan tangan bergetar juga pandangan yang kabur, karena air mata, Min Ho akhirnya membuka surat yang ditujukan untuknya.

Min Ho, annyeong!

Mian… aku hanya menawarkan surat ini sebagai penjelasanku. Tetapi aku juga memang sengaja melakukan ini semua, karena aku sangat membencimu….

Choi Min Ho, seperti yang kau tahu, kita satu SMA dulu. Kau mengajakku untuk menjadi pasanganmu pada kegiatan dansa kelas XI. Asal kau tahu… waktu itu aku bahagia sekali, karena walaupun aku dibully oleh teman-teman seangkatan sendiri, tetapi setidaknya siswa populer yang kusukai itu, menyukaiku juga.Ternyata itik buruk rupa bisa bersanding dengan seekor elang, pikirku.

Tetapi apa nyatanya? Kau hanya mempermainkanku dan langsung menolakku sebagai teman kencanmu begitu angkatan kita mengetahui bahwa kau mengajakku. Aku sangat sakit hati dan karenanya aku memutuskan untuk membalas dendam.

Rasa malu yang kau dapatkan hari ini juga rasa sakit pada hatimu, kuanggap impas dengan apa yang kurasakan dulu.

Jika takdir memang mempertemukan kita kembali, kuharap kita kembali bertemu sebagai orang baru… orang yang tidak saling mengenal.

“Ternyata… Jin Ri pernah menyukaiku.” Gumam Min Ho, tidak percaya sekaligus menyesal.

Min Ho P.O.V

Ok.. Jin Ki Hyung benar-benar berat dan aku harus memapahnya pulang. Jin Ki Hyung mabuk berat, karena terlalu senang bahwa sesaat lagi kita akan segera dibebas tugaskan.

Benar… kami sedang menjalani wajib militer sekarang. Sebenarnya hanya Jin Ki Hyung yang sudah dipanggil oleh negara, tetapi aku memutuskan untuk mengikutinya, karena seperti yang kalian tahu… aku gagal menikah.

Akan sangat berbahaya jika kolonel mengetahui kami keluyuran juga mabuk-mabukkan.

Tiba-tiba terdengar suara yeoja yang berteriak minta tolong dari arah lorong yang gelap. Suara yang kuketahui.

Awalnya aku tidak mau mencari masalah dengan menolongnya, tetapi akhirnya aku memutuskan untuk menolongya dan menelantarkan Jin Ki Hyung, di pelataran toko.

Nyatanya, keputusanku untuk melakukannya tidaklah salah.

“Jin Ri…,” ucapku terkejut, saat membantu yeoja yang baru saja kutolong, untuk berdiri.

“Min Ho…” balas Jin Ri, canggung.

Kami berbincang sesaat dan kuputuskan untuk mengantarnya sampai ke gedung apartemennya yang baru. Setidaknya.. dari perbincangan tidak penting itu,aku mengetahui bahwa setelah 2 tahun ia meninggalkanku, belum ada satupun namja yang berusaha mendekatinya.

“Well… kurasa aku mengantarmu sampai di sini saja. Selamat malam,” ucapku, lalu segera berbalik, hendak pergi. Tetapi tiba-tiba tangan Jin Ri menahanku, memaksaku untuk berbalik.

“Kurasa.. kejadian malam ini membuatku berhutang 1 makan siang denganmu…. sebagai ucapan terima kasih.” Aku terkejut mendengar perkataan Jin Ri.

“Tawaran yang sangat menggiurkan… tapi sayangnya, seperti yang kau lihat, aku sedang bertugas.” Aku mengusap puncak kepalaku yang hanya ditutupi rambut tipis, sambil tersenyum canggung.

“Tetapi mungkin… seminggu lagi adalah hari yang baik.” Sambungku.

“Ne, kurasa restoran favoritmu akan cukup baik.”

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s