Let Her Go (Finalis XOXO Party BIG30)

 

  1. Judul : Let Her Go
  2. Main Cast : Choi Jin Ri [ F(x) ], Kris / Wu Yi Fan
  3. Support Cast : Kim Junsu [ JYJ ] as Danielle, Xi Lu Han / Lu Han [ EXO-M ], Huang Zi Tao / Tao [ EXO-M ]
  4. Genre : AU, romance, sad, fantasy
  5. Length : Oneshoot [ 5.060 words ]
  6. Note : Inspirasi cerita didapat dari drama Korea ( Arang And The Magistrate ) yang benar-benar berkesan sekali buatku, tapi jalur cerita dijamin berbeda.Aku berharap, semoga setelah membaca fanfic ini, bisa menginspirasi pembaca agar rela melepaskan apa yang memang seharusnya dilepaskan. Seberapa besarpun rasa sayang dan cinta kita, kita tidak boleh terus menahan apa yang seharusnya sudah pergi.Jangan lupa juga untuk follow @almighty_rina ya!!! Sebagai bagian dari finalis XOXO Party BIG30, saya mengucapkan selamat membaca!!!Juga dipasang di wp pribadi https://kloversfamilies.wordpress.com

 

Ada yang mengatakan, jika kau mendapatkan sebuah ciuman dari hantu, maka keesokan harinya, akan timbul lebam di tempat di mana hantu itu menciummu. Tapi, bukankah hal itu hanya sebuah mitos?

*********

Sama seperti 89 hari yang lalu, pipi sebelah kanan Kris tampak lebam. Lebam itu tidak terasa menyakitkan. Kris hanya mendapatkannya begitu saja, setelah ia bangun tidur.

Orang tuanya sempat mengira  bahwa Kris adalah seorang berandalan di kehidupan malamnya, tapi setelah lebam itu tak kunjung sembuh, muncul pertanyaan lain. Bahkan Kris pernah dipaksa untuk menemui beberapa dokter spesialis karena lebam itu. Tapi, hasilnya nihil.

“Hai tampan.” sapa salah satu pengunjung yang saat ini duduk di hadapannya dengan tatapan menggoda. Pakaian minim dengan warna mencolok yang digunakan gadis itu juga cukup menggoda.

“Hai, mau pesan apa?” balas Kris dengan datar. Ia tidak terlalu suka digoda para pengunjung.

Raut wajah gadis itu langsung berubah begitu mendengar jawaban Kris. Gadis itu pikir, seorang bartender di sebuah club malam, akan mudah digoda dengan penampilan fisiknya, tapi ternyata semua itu salah. Kris sama sekali tidak tertarik.

Lu Han, rekan kerjanya, dapat menyadari perubahan wajah pelanggan itu. Ia langsung mengalihkan perhatiannya dari seorang pelanggan mabuk yang sedang menggodanya, kepada gadis di hadapan Kris. Bahkan, Lu Han langsung mengambil alih, menanyakan pesanan gadis itu. Tapi yang Lu Han dapat, malah gadis itu pergi meninggalkannya sambil sedikit mengumpat.

Satu pelanggan lagi hilang karena Kris, selalu karena Kris!

“Berhentilah menjadi brengsek dan layani mereka dengan baik,” ucap Lu Han sambil berjalan melewati Kris yang menyibukkan dirinya, mengatur botol-botol minuman keras di rak.

Kris segera berbalik mendengar Lu Han mengatakan hal itu kepadanya. Sungguh keterlaluan, batin Kris. Bagaimana bisa sahabatnya sejak kecil mengatakan hal seperti itu kepadanya berhari-hari? Lu Han seakan orang asing yang tidak mengetahui apa penyebabnya bersikap dingin seperti ini.

Kris menahan bahu Lu Han. Memaksa Lu Han untuk tidak kembali kepada pelanggan yang sempat ditinggalkan sebelumnya.

“Apa lagi, sekarang?” tanya Lu Han, ketus.

“Berhenti menjadi brengsek, katamu! Apa kau ini orang asing! Bisa-bisanya kau berbicara seperti itu kepadaku!” Kris meninju pelan bahu Lu Han sementara ia hanya mendapat balasan berupa tatapan bosan dari Lu Han.

“Ya, kenyataannya aku bisa. Berhentilah menjadi seorang brengsek, Yi Fan! Kau akan membuat kita bangkrut!” gertak Lu Han sambil menepis tangan Kris yang berganti, mencengkram bahunya kuat.

Sadar bahwa Lu Han sudah tidak bisa diajak bicara lagi, membuat Kris tidak punya pilihan lain. Lagipula, emosinya saat ini sudah benar-benar melampaui batas, hingga dengan mudahnya, Kris melayangkan tinjunya ke wajah Lu Han.

Lu Han jatuh tersungkur ke atas lantai bar yang dingin dan Kris melewatinya begitu saja, tanpa penyesalan sedikitpun. Pikirannya saat ini terlalu gelap untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.

Tak ada yang menyadari peristiwa pemukulan itu di club malam. Suara musik terlalu keras, dan hanya sekumpulan orang yang cukup depresi dan mabuk yang akan berada di sana. Lagipula, kalaupun ada yang melihat, peristiwa pemukulan di sebuah club malam sama sekali bukanlah hal yang terbilang aneh.

Jadi, beginilah akhirnya. Kris duduk termenung di tangga bagian belakang club malam yang sepi. Biasanya, para pegawai club kemari, hanya untuk membuang sampah. Atau, pelanggan kemari untuk berkelahi.

Kris menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Perasaan bersalah muncul tapi di sisi lain, ia juga kesal dengan ucapan Lu Han. Sungguh, Lu Han terlalu keterlaluan untuk mengucapkan hal itu kepadanya.

Sejujurnya, Kris bukanlah orang brengsek. Ia hanya tidak bisa melupakan kekasihnya yang sudah meninggal setahun yang lalu. Ia tidak bisa melepasnya pergi, tak cukup kuat untuk itu. Mungkin wajahnya terlihat kuat, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya selalu bergetar dan sakit.

Tiba-tiba, seseorang memaksa mendorong pintu dari dalam. Menyadarkan Kris dari keterpurukannya. Ia segera bangkit berdiri karena tadi ia menghalangi pintu.

“Lu Han? Untuk apa kau kemari?” tanya Kris, berusaha menutupi kecanggungannya. Apalagi, setelah melihat sedikit darah di ujung bibir Lu Han. Darah itu bahkan belum kering dan sahabatnya itu sudah mengejarnya kemari.

“Maaf soal tadi. Aku hanya terbawa emosi,” ucap Lu Han lebih dulu.

“Aku juga minta maaf.” Lalu Kris menghampiri Lu Han dan memeluknya. “Aku sungguh-sungguh minta maaf karena membuat wajahmu seperti wajahku.” sambung Kris.

Lalu mereka berhenti berpelukan dan Lu Han langsung menggapai wajah Kris. Sedikit menggerakkannya ke arah kiri, ingin meneliti pipi Kris. Masih lebam, batin Lu Han.

“Ada apa? Apa sudah hilang?”

“Belum. Kau sudah mencoba berobat? Mungkin bukan sekedar lebam.” Kris hanya menggeleng pelan.

Ia menekan-nekan daerah lebam itu. Memastikan apakah sakit atau tidak. Tapi rasanya masih sama. Tidak ada benjolan juga, berarti bukan apa-apa.

“Kurasa, pelanggan tadi segera pergi karena melihat lebam itu. Kau seperti monster, kau tahu?” Kris melayangkan tinjunya sekali lagi ke bahu Lu Han, mendengar hal itu. Tapi pelan, hanya mendorong Lu Han sedikit.

“Jadi hilangkan itu atau pelanggan kita akan berlari ketakutan karena wajah monstermu itu.”

“Berhenti mengejekku sebelum aku memukulmu lagi.” ancam Kris, nada bicaranya santai.

“Ayo kembali! Aku tidak mau digoda para gadis genit itu seorang diri.”

Kris hanya tersenyum sebagai jawaban. Cukup meyakinkan Lu Han bahwa setidaknya, hubungan persahabatan mereka masih dapat dipertahankan.

Drt…Drt…Drt…

“Kau masuk saja duluan dan obati lukamu. Aku akan menerima ini dulu.”

Lu Han mengangguk mengerti lalu berlari kecil, kembali ke dalam club malam miliknya dan Kris.

“Ada apa, Tao?” tanya Kris, langsung begitu ia menerima panggilan itu.

“Jin Ri, Choi Jin Ri. Aku melihatnya.” jawab Tao. Terselip nada panik di sana.

“Choi Jin Ri? Siapa itu?” Kris bingung. Siapa Choi Jin Ri yang Tao maksud di sini?

“Jin Ri…gadis yang meninggal setahun yang lalu. Aku melihatnya melewatiku, baru saja.”

Lidah Kris terasa kelu seketika. Memang sulit untuk mempercayai hal ini. Tapi tetap saja, Kris terpengaruh. Membuatnya bisu seribu bahasa.

“Kau masih di sana?” Menyadarkan Kris.

“Ya, aku masih di sini. Mungkin kau hanya melihat orang yang mirip dengannya. Tidak mungkin Jin Ri lewat di hadapanmu. Ia sudah meninggal.”

“Aku mengenalinya. Gaun putih polos selututnya. Gaun yang sama yang dipakainya saat di dalam peti, aku ingat.” balas Tao tak mau kalah.

“Tak mungkin, aku tutup dulu ya.”

Tanpa menunggu jawaban Tao, Kris segera memutus panggilan itu. Memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya lalu kembali masuk ke dalam.

Kris kembali ke posisinya, di belakang meja bar. Berdiri seperti seorang tak bernyawa. Pandangan kedua matanya lurus ke depan, tapi kosong. Membiarkan para pelanggan memanggilnya tanpa mengindahkannya.

“Kris! Kris! Kris!” panggil Lu Han sambil menggoyangkan bahu Kris. Mencoba menarik pemuda itu, kembali ke kesadarannya.

Kris menoleh ke sampingnya. Menemukan Lu Han sedang mencengkram bahunya kuat. Lalu ia tersenyum. Hanya seulas senyum hampa.

“Pulanglah. Tenangkan dirimu. Kau hanya akan semakin kacau di sini.”

“Jin Ri…Dia…”

“Dia sudah meninggal.” sela Lu Han. “Dia sudah pergi setahun yang lalu.”

Kris tak begitu suka menerima ucapan Lu Han yang seakan membuyarkan harapannya. Tapi begitulah kenyataannya. Jin Ri, gadis itu memang sudah tiada. Hanya abunya yang tersisa di ruang penyimpanan, tak lebih.

“Sekarang pulanglah. Tenangkan dirimu, kau tidak akan bisa bekerja hari ini.” Lu Han meninggalkan Kris yang masih membisu. Kembali ke pelanggannya yang sudah menumpuk karena Kris.

Apa yang dikatakan Lu Han benar, batin Kris. Lebih baik ia pulang sekarang dan menenangkan diri. Besok semua akan jadi lebih baik, mungkin.

Pada akhirnya, Kris memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Merenungi nasib sambil berendam air hangat di dalam bak mandi. Aroma terapi yang menemaninya akan cukup menenangkannya saat ini.

‘Aku mengenalinya. Gaun putih polos selututnya. Gaun yang sama yang dipakainya sebelum meninggal dulu, aku ingat.’

Percakapannya bersama Tao tadi, kembali terngiang di dalam pikirannya. Mungkinkah, gadis yang dilihat Tao memang benar Jin Ri? Tapi bagaimana bisa?

“Tidak, tak mungkin. Gadis itu hanya sebuah kebetulan. Ya, hanya kebetulan saja.” gumam Kris.

Tapi ia tidak bisa tenang. Bahkan setelah ia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang sangat empuk.

Tidak bisa, Kris tidak bisa melepaskan perkara itu begitu saja. Ia penasaran dan terlalu dipenuhi harapan.

Kris menyalakan lampu kamarnya dan melirik ke arah jam dinding berbentuk burung hantu yang bertengger di atas pintu kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Itu berarti, sudah 3 jam berlalu semenjak Kris meninggalkan pekerjaannya dan berniat menenangkan diri.

Tapi kenyataan malah berkata sebaliknya. Kris malah tidak tenang dan memutuskan untuk menghubungi Tao. Membangunkannya dari tidur lelapnya.

“Ada apa?” tanya Tao dengan suara serak. Ia benar-benar baru bangun tidur, sepertinya.

“Apa kau yakin gadis itu adalah Jin Ri?” Terdengar Tao mendecak kesal di seberang sana. Tao pasti berpikir Kris sangat keterlaluan, menghubunginya untuk sesuatu yang tidak penting.

“Ya, aku yakin.” Lalu Tao langsung memutus hubungan sebelum Kris melanjutkan pembicaraan dan membuatnya tidak tidur sama sekali.

Baiklah, jawaban itu sudah cukup bagi Kris. Sepertinya, Kris harus menemukan gadis itu. Memastikan apakah Tao berkhayal atau justru Tuhan memang mengirimkan gadisnya kembali.

Alhasil, Kris terjaga hingga pagi harinya. Duduk di hadapan televisi, tanpa memperhatikan acaranya sedikitpun. Ia sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

Tiba-tiba, bel apartemennya berbunyi. Ada seseorang yang mengunjunginya.

Sebelum membuka pintu, Kris memeriksa kalender di ponselnya terlebih dahulu. Ia menemukan bahwa Sabtu ini bukanlah hari kunjungan orang tuanya. Itu berarti yang mengunjunginya adalah orang lain dan ia tak perlu repot-repot membereskan apartemennya.

“Sebentar!” teriak Kris sambil berjalan menghampiri pintu apartemennya.

Tanpa mencaritahu terlebih dahulu, siapa yang menekan bel apartemennya, Kris begitu saja membukakan pintu untuk orang itu. Membukanya hanya untuk menemukan seorang gadis yang sangat mirip dengan Jin Ri, memberikannya senyuman manis tapi bersemangat. Tergambar jelas dari pancaran kedua matanya yang bersinar.

“Jin Ri?” tanya Kris tak percaya. Tapi gadis itu tetap hanya tersenyum.

“Apa kau benar-benar Jin Ri?”

Hening, gadis itu tetap hanya tersenyum. Seakan enggan untuk menjawab pertanyaan Kris, atau mungkin tidak mengerti.

“Jin Ri.” Kris langsung menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Menyisakan ekspresi terkejut sekaligus bingung di wajahnya. “Jangan pergi lagi, aku mencintaimu…sangat.”

“Ya?” balas gadis itu, bingung.

Kris melepaskan gadis itu perlahan dan menatap wajahnya lekat-lekat. Meneliti tiap inci wajahnya dan tidak menemukan perbedaan apapun. Sungguh, demi apapun, wajah gadis ini sama persis dengan wajah Jin Ri, batin Kris.

Tapi, gadis itu sepertinya benar-benar tidak mengenal Kris. Ia seperti orang asing, bukan Jin Ri yang pernah mengisi hati dan pikiran Kris dulu.

“Hai, kudengar kau bisa membantuku, Paman. Jadi, aku mohon bantuannya.” Gadis itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan kepada Kris. Kris hanya menganga dibuatnya.

Dalam hati, Kris merasa sangat kesal dengan panggilan gadis itu kepadanya. Paman! Hei, tidakkah kau lihat wajah tampanku ini masih terlihat sangat muda! omel Kris dalam hati.

“Paman?” Gadis itu melambai-lambaikan kedua tangannya di hadapan Kris. Berusaha mendapatkan perhatian Kris yang memang dari sejak dulu, hanya untuknya.

“Bisakah kau tidak memanggilku Paman.” balas Kris dengan nada sepelan mungkin. Takut membuat gadis yang sangat mirip dengan Jin Ri itu, ketakutan dibuatnya.

Gadis itu hanya menggangguk sambil tersenyum. Senyumnya sangat manis, benar-benar senyum yang Kris rindukan.

“Namaku Illu, tolong bantu aku, tuan…kumohon.”

“Illu? Namamu bukan Jin Ri? Choi Jin Ri?” Gadis itu menggeleng.

Sudahlah Kris, Jin Ri sudah meninggal! Kau tahu itu! jerit pikiran rasionalnya. Tapi, hatinya tidak siap menerima kenyataan itu. Gelengan itu masih sulit direspon.

“Aku…” Kris berpikir sejenak. “Apa yang bisa kulakukan untukmu, Ill-Illu?” Kris terbata-bata memanggil nama gadis di hadapannya.

“Aku tak tahu, Danielle hanya menyuruhku untuk mengatakan hal ini kepadamu.”

“Danielle? Siapa itu?”

“Itu aku!” teriak seseorang yang baru saja keluar dari lift, suaranya lembut.

Kris menoleh ke arah kirinya dan pandangannya langsung menangkap sesosok pemuda berwajah rupawan dengan pakaian setelan jas lengkap berwarna hitam. Pemuda itu berjalan ke arah Kris dan Illu sambil tersenyum. Wajahnya terlihat imut, dengan senyum itu.

“Aku Danielle. Senang bertemu denganmu, Wu Yi Fan.” Lalu pemuda itu membungkukkan tubuhnya, memberi salam kepada Kris.

“Bisa kita bicara?” tanya Danielle, postur tubuhnya benar-benar tegap, layaknya seorang tentara. Kris hanya mengangguk sekilas dengan memperlihatkan wajah bingung.

“Illu, pergilah ke bawah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya,” ucap Danielle tanpa menengok kepada Illu.

Awalnya, Illu akan langsung pergi begitu saja, tapi tiba-tiba Kris mencengkram pergelangan tangannya. Mencegahnya pergi.

Kris takut kehilangan, jadi ia menyuruh Illu menunggu di dalam apartemennya. Setelah mendapat persetujuan dari Danielle, Illu baru mau masuk ke dalam apartemen Kris.

“Jadi, dari mana kau mengenalku? Siapa gadis itu? Apa ia Jin Ri? Apa ini hanya mimpi? Apa…”

“Cukup.” sela Danielle. “Kau terlalu banyak bertanya, lalu kapan aku akan menjawab?”

“Maaf.” balas Kris. Jujur, ia sangat penasaran.

“Bantulah Illu untuk pergi.”

“Apa? Pergi?” tanya Kris tak mengerti. Ada sedikit nada tak rela terselip di dalam kalimat yang baru saja dilontarkannya.

“Ya. Terkadang, membiarkan seseorang pergi, lebih baik daripada menahannya.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?”

“Kau harus mengerti. Hanya kau yang bisa mengerti. Aku pergi.” Danielle segera berbalik, hendak pergi. Tapi Kris menahan bahu Danielle. Memaksa Danielle untuk tidak pergi sebelum ia mengerti apa yang dimaksudnya.

“Waktumu tidak banyak. Ingat itu,” ucap Danielle, dingin. Ia bahkan tak mau melihat Kris saat mengatakannya.

Danielle menepis tangan Kris, pelan, dari bahunya. Lalu kembali berjalan ke arah lift.

Sampai pintu lift menutup kembali, Kris hanya bisa diam mematung di tempatnya, tanpa mendapat apapun. Jawaban, maupun keinginan untuk mengejar Danielle dan meminta penjelasan lebih banyak.

“Permisi, tuan?”

Kris segera berbalik. Ia menemukan Illu berdiri di belakangnya, memasang wajah bingung.

“Panggil saja aku Kris. Kris lebih baik.” Lalu Kris tersenyum. Ia berbalik sebentar untuk menutup pintu.

“Jadi, Kris…apa kau akan membantuku?” tanya Illu antusias dan hanya dijawab anggukan singkat oleh Kris, disertai senyuman memukaunya.

“Kau duduklah dulu di sana.” Kris menunjuk sofa empuknya yang berhadapan langsung dengan televisi. “Aku akan ke kamarku sebentar.” sambung Kris lagi.

“Oh, baiklah. Aku akan duduk di sana.”

Setelah memastikan Illu duduk di sofa yang diminta Kris, Kris bergegas masuk ke dalam kamarnya. Mengambil ponselnya dan menghubungi Tao. Hanya untuk berterima kasih lalu kembali memutus panggilan itu. Tao bahkan tak tahu apa yang dimaksud Kris, yang penting, ia bisa kembali tidur lebih cepat.

Kris keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Illu. Duduk di sebelah Illu yang menatap lurus ke arah televisi. Illu bahkan tidak menyadari Kris sudah berada di sampingnya. Ia seperti membeku dalam kebisuannya. Tapi terlihat sangat cantik di mata Kris. Kecantikannya seperti candu.

Perlahan, tangan Kris bergerak ke arah rambut Illu. Ia ingin mengusap rambut sebahu Illu yang dibiarkan terurai itu. Ia ingin merasakan kelembutannya, sekali lagi. Hanya sekali saja.

Tapi belum sempat, Illu tiba-tiba menengok ke arahnya dengan wajah datar. Kris hanya bisa menarik tangannya kembali dengan canggung. Lalu mengusap tengkuknya sambil tersenyum kecil.

“Apa Danielle memberitahumu, apa yang bisa kau bantu untukku?”

“Ya, ia memberitahuku.”

Wajah Illu tiba-tiba langsung berbinar dan tiba-tiba saja, Illu menarik kedua tangan Kris. Menggenggam telapak tangan yang besar itu dengan telapak tangannya yang mungil.

“Bagus. Kapan kau akan membantuku, kalau begitu?”

“Secepatnya, Illu…secepatnya.” Lalu, sekali lagi Illu kembali membuat Kris terkejut. Tanpa rasa canggung sedikitpun, Illu memeluk Kris dengan erat. Menunjukkan rasa terima kasihnya.

Jantung Kris berdetak lebih cepat. Ia seperti merasakan aliran listrik ringan mengalir di dalam dirinya. Akhirnya, Kris bisa merasakan lagi pelukan Jin Ri. Pelukan hangat yang diberikan gadis itu lebih dulu, yang sebenarnya tabu bagi Jin Ri.

Illu mendorong Kris perlahan. Ia menatap Kris dengan antusias. Seperti seekor anak anjing yang akan diberi makanan kesukaannya.

“Ayo kita pergi keluar. Jalan-jalan seperti dulu,” ucap Kris setelah melihat wajah Illu yang sangat antusias.

“Keluar? Untuk membantuku?”

“Ya.” jawab Kris, asal. Sejujurnya, hingga detik inipun, Kris belum mengerti bantuan seperti apa yang Illu butuhkan. Saat ini, keegoisannya untuk menganggap Illu sebagai pengganti Jin Ri, lebih penting ketimbang memikirkan bantuan apa yang dibutuhkan Illu.

Kris mengajak Illu keluar dengan mengendarai mobil sportnya. Sepanjang perjalanan, Illu tidak bisa berhenti untuk terkagum-kagum dengan pemandangan gedung pencakar langit yang disuguhkan pertama kali untuknya, setelah mengenal Kris. Gedung-gedung itu terlihat benar-benar cantik di mata Illu.

Kris mengajak Illu menuju sebuah butik yang biasa dikunjunginya bersama mendiang kekasihnya. Kris sengaja membawa Illu kemari karena ia tidak begitu suka melihat gaun yang dikenakan Illu. Hanya mengingatkannya pada kenangan pahit. Lagipula, Illu tidak mengenakan alas kaki sama sekali, jadi Kris setidaknya, harus membelikan sepasang untuknya.

“Cobalah yang ini. Kau pasti suka.” Kris menyodorkan sepasang sepatu bertumit tinggi berwarna merah muda kepada Illu. Tapi Illu langsung menolaknya. Ia lebih memilih sepatu berwarna biru muda beralas datar yang tidak dipilih Kris untuknya.

“Kau suka yang ini?” Illu mengangguk setuju saat Kris menunjuk sepatu itu. Dari sejak pertama masuk ke butik, sepatu itu sudah menarik perhatian Illu.

“Kalau begitu, cobalah.”

Kris menyuruh Illu duduk lalu ia berlutut di hadapannya. Memasangkan sepatu yang diinginkan Illu dengan perlahan. Seakan takut sepatu itu akan melukai kaki Illu yang sangat lembut.

“Bagaimana, kau suka?” Illu hanya menggangguk sambil memamerkan wajah antusiasnya kembali. “Kalau begitu kita beli yang ini.”

Selesai membayar untuk sepasang sepatu yang langsung dikenakan Illu, mereka berpindah ke butik lain yang letaknya tidak begitu jauh. Tapi, Illu menolak masuk ke butik itu karena melihat etalasenya yang hanya memamerkan beberapa gaun yang dikenakan masing-masing manekin. Illu tidak suka gaun, terlalu feminim.

Sama seperti Jin Ri, batin Kris. Ia bahkan tersenyum sendiri mengetahui Illu tidak begitu menyukai gaun.

“Baiklah, kita ke butik yang lain saja.”

Kris menarik tangan Illu untuk mengikutinya, tapi Illu tidak mau mengikutinya. Kris terpaksa berbalik, melihat Illu yang menggeleng pelan kepadanya sambil tersenyum. Sangat mirip, batin Kris.

“Aku ingin ke taman bermain.”

“Ta-taman bermain?” tanya Kris terkejut.

“Ya, aku ingin ke sana.” jawab Illu dengan jujur.

Mungkinkah gadis ini mempermainkannya? Mengatakan nama yang berbeda di hadapannya ketika sesungguhnya ia adalah Jin Ri?

Kris yakin sekali, waktu itu pertengkaran terakhir yang terjadi di antara mereka adalah masalah pergi ke taman bermain. Dulu, Kris terlambat menjemput Jin Ri hingga mereka terpaksa membatalkan pergi ke Everland. Padahal, Jin Ri sangat ingin pergi ke sana dan sehari setelah pertengkaran itu, Kris mendapat kabar meninggalnya Jin Ri. Ia meninggal karena sebuah peristiwa tabrak lari.

“Kau yakin tidak mengenalku?” tanya Kris, berusaha menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Tapi Illu hanya menggeleng, raut wajahnya terlihat polos dan bingung.

“Lalu, bagaimana bisa kau tiba-tiba ingin pergi ke taman bermain?”

“Oh, itu. Danielle sering mengatakan padaku saat ia melakukan tugasnya. Ia menceritakan bahwa taman bermain adalah tempat yang terlalu menyenangkan untuk membawa seseorang pergi.” jelas Illu dengan antusias.

“Pergi? Apa maksudmu?”

“Ya, pergi. Ke tempat di mana aku berada. Kami satu keluarga besar di sana, tapi aku paling dekat dengan Danielle. Aku langsung mengenalnya begitu aku membuka mataku.”

Kris berpikir sejenak. Pada akhirnya, Kris setuju untuk membawa Illu pergi ke taman bermain. Lagipula, membawa Illu pergi ke sana, sama seperti menepati janji kepada Jin Ri yang tidak pernah bisa ditepatinya.

Illu sangat antusias untuk mencoba seluruh wahana yang ditawarkan Everland. Kris bahkan sampai kewalahan untuk menemaninya. Pikiran Illu seakan bercabang karena ia ingin mencoba 2 wahana di waktu yang bersamaan. Tapi setiap kali hal itu terjadi, maka Kris dengan sabarnya akan memilihkan wahana yang lebih cocok untuk seorang gadis, seperti Illu.

Hari sudah mulai gelap, mereka berdua menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencoba semua wahana. Kris merasa cukup lelah sementara Illu tetap tersenyum. Tak ada guratan kelelahan sedikitpun di wajahnya.

Kini, mereka hanya duduk di sebuah kursi besi panjang. Illu menatap langit, sementara Kris memperhatikannya.

Kris benar-benar merindukan wajah gadisnya. Ekspresinya yang polos seakan ia seorang bayi yang baru lahir. Kris rindu semua itu dan entah ada mukjizat apa, hari ini, kerinduannya itu terbayar sudah. Kehadiran Illu di sampingnya adalah sebuah berkah. Ia bahkan sampai lupa untuk memikirkan perkataan Danielle mengenai bantuan yang bisa diberikannya untuk Illu.

“Saranghaeyo,” ucap Kris tiba-tiba. Baru kali ini, ia bisa mengucapkan kata itu lagi kepada seseorang. Meskipun nama mereka berbeda, tapi di mata Kris keduanya sama secara fisik.

Illu hanya menatap bingung ke arahnya. Ia terlalu polos untuk mengerti kata cinta yang baru saja diucapkan Kris untuknya.

“Tunggu di sini, aku segera kembali.” Kris langsung pergi meninggalkan Illu. Ia berniat untuk membelikan es krim yang dulu sangat disukai mendiang kekasihnya.

Illu duduk sendirian sambil menatap langit. Menunggu bukanlah hal yang disukainya saat masih hidup dulu, tapi sekarang, ia seakan tak peduli dengan hal seperti itu. Bahkan jikalau Kris meninggalkannya di taman bermain saat ini, ia tidak akan menangis. Ia hanya akan tetap diam di tempat karena ia terlalu polos untuk mengerti.

“Bocah bodoh itu tak tahu tentangmu.”

Illu menoleh ke samping kanannya, tempat di mana Kris duduk sebelumnya, dan ia menemukan Danielle yang sekarang menempati posisi itu. Pakaiannya masih sama dan selalu sama, sepanjang Illu bersama dengannya.

“Danielle? Apa yang kau lakukan di sini? Ingin bertemu Kris?”

Danielle menggeleng lemah. Lalu ia mengeluarkan sebuah jam saku dari balik jas hitamnya.

“Apa yang kau lihat?” Illu tiba-tiba saja sudah berada di jarak yang sangat dekat dengan Danielle. Ia ingin tahu, apa yang sedang dilakukan Danielle. Padahal, Danielle hanya memperhatikan detik demi detik jamnya berlalu. Menandakan waktu yang semakin sempit.

“Aku hanya ingin kau tahu, bahwa apapun yang terjadi nantinya, tolong jangan salahkan siapapun.” Illu hanya mengangguk, menanggapi perkataan Danielle. Perkataan yang sesungguhnya meminta dengan ikhlas kepada Illu yang sebenarnya adalah Jin Ri yang telah meninggal untuk menetap di bumi dalam damai. Tidak menjadi hantu pendendam yang terus menghantui orang-orang yang disayanginya. Karena jika sampai esok pagi, Kris belum mampu untuk membantu Illu, maka Illu akan menjadi roh penasaran.

“Sekarang aku harus pergi, Kris sebentar lagi kemari.”

“Ya, hati-hati.”

Danielle segera bangkit berdiri lalu berjalan menembus kerumunan orang. Menghilang, entah ke mana.

Tak lama kemudian, Kris kembali dengan 2 bungkus es krim di tangannya.

“Ini.” Kris menyodorkan es krim rasa strawberry kepada Illu. Tapi Illu tidak langsung menerimanya. Ia bingung, apa yang diberikan Kris untuknya.

“Ambil dulu, nanti aku jelaskan.”

Kris kembali duduk di sebelah Illu setelah Illu menerima es krim itu. Sejujurnya, Kris lumayan bingung dengan sikap Illu. Ia seakan bukan manusia sehingga tidak tahu apa-apa.

“Pertama kau buka bungkusnya seperti ini.” Kris merobek bungkus es krimnya lalu Illu menurutinya. Kesusahan memang, tapi berhasil.

“Lalu, kau masukkan ke dalam mulut.” Kris memasukkan es krim rasa cokelat itu ke dalam mulutnya lalu mengeluarkannya kembali. Masih sama, Illu mengikutinya. “Kau bisa menggigit es krim ini atau menghisapnya. Terserah padamu.”

Kris kembali melahap es krimnya sementara Illu memperhatikannya. Es krimnya ia biarkan meleleh begitu saja.

“Masukkan ke mulutmu. Makan saja, ini kesukaanmu,” ucap Kris seakan ia berbicara dengan Jin Ri. Tapi Illu tetap menurutinya dan menghisap perlahan-lahan es krimnya hingga habis. Padahal, rasanya hambar di mulut Illu. Sama sekali tidak terasa kelezatannya.

Illu memperhatikan Kris yang masih sibuk dengan es krimnya. Pemuda itu terlalu lama hanya untuk menghabiskan sebatang es krim saja.

“Di mulutmu.” Tanpa aba-aba, Illu membersihkan sisa lelehan es krim di bibir Kris dengan ibu jarinya. Benar-benar mengingatkan Kris akan Jin Ri. Terlalu mirip, kelakuannya sama persis.

“Sudah bersih?” tanya Kris, mencoba untuk tidak canggung.

Illu mengangguk sambil menarik tangannya. Tak ada sedikitpun perasaan canggung, menyelimuti Illu. Ia hanya merasa apa yang dilakukannya wajar.

“Ayo kita pulang.” ajak Kris.

Kris bangkit berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Illu berdiri. Illu menyambut tangan Kris dengan gembira. Ia merasa, Kris adalah orang yang sangat baik.

Selama di perjalanan pulang, Kris tidak bisa berhenti memikirkan Illu yang berada di sebelahnya. Ia sungguh penasaran dengan kemiripan Illu dengan Jin Ri. Mengapa gadis itu begitu asing dengan dunia manusia dan mengapa tangan gadis itu terasa begitu dingin saat ia menggenggamnya.

“Ngomong-ngomong, apa yang Danielle katakan?”

“Soal apa?” Kris sedikit tidak konsentrasi karena ia sibuk melihat jalan.

“Soal bantuan itu. Apa yang Danielle minta untuk kau lakukan?”

Pertanyaan Illu sukses membuat Kris sadar bahwa ia belum menemukan jawaban atas ucapan ambigu tadi pagi dengan Danielle. Ia masih bingung dengan apa yang dikatakan Danielle perihal membiarkan pergi. Apakah yang dimaksudnya adalah membiarkan Illu pergi, begitu? Tapi Kris tidak akan sanggup. Jika Illu memang manusia yang sungguh-sungguh memiliki fisik yang sama persis dengan Jin Ri, maka ia tidak akan membiarkannya pergi. Cukup Jin Ri yang tidak bisa dijaganya.

“Aku bingung akan permintaan Danielle.”

“Memangnya ia meminta apa?”

Kris tidak menjawab lagi. Ia membiarkan sisa perjalanan menuju apartemennya dalam keheningan. Bahkan tanpa sadar, Illu sudah tak sadarkan diri di sampingnya saat mobilnya berhenti di basement gedung apartemennya. Tapi tak apa, Kris cukup kuat untuk menggendong Illu hingga ke apartemennya. Merebahkan gadis manis itu di atas tempat tidur empuknya.

Kris duduk di atas lantai, di samping tempat tidurnya. Sibuk memperhatikan Illu yang seakan begitu menikmati mimpinya. Wajahnya begitu polos dan damai. Dunia ini seakan bukan untuknya. Ia lebih cocok hidup di dunia para malaikat.

Kris tak bosan-bosannya memperhatikan Illu hingga rasa kantuk menguasainya. Memaksanya masuk ke dalam dunia mimpi.

Kris mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Tempat di mana ia berada saat ini terlalu mengerikan. Sebuah ruang yang gelap dan lembab. Bahkan suara tetesan air di dalam sini, terasa seperti suara dentingan pedang yang saling menyerang. Terlalu berisik, memaksa Kris menutup kedua telinganya dan berjalan tak menentu arah, berusaha mencari jalan keluar.

Di mana aku? tanya Kris dalam hati. Ia melihat ke arah kiri dan kanannya, masih sama, gelap. Terlalu mencekam, memacu jantung Kris untuk berdetak lebih kencang di setiap langkahnya.

“Oppa…”

Itu suara Jin Ri, batin Kris. Tapi ia tidak tahu darimana suara itu berasal, terlalu gelap, Kris berusaha mencari.

“Oppa…”

Kris menghentikan langkahnya. Menengok ke sekelilingnya dan menemukan bahwa dirinya berada di tempat hampa. Tak ada apapun, sepertinya.

“Aku akan selalu menunggumu, Jin Ri. Aku akan selalu menunggumu.”

Itu ucapan Kris sendiri, ucapannya saat mengunjungi ruang penyimpanan abu beberapa hari yang lalu. Udara terasa semakin panas setelah Kris mendengar suara itu. Seakan ia mendekati kobaran api.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Jin Ri. Aku bersumpah, tidak akan.”

Suaraku lagi, batin Kris. Sungguh, saat ini ia bingung dan tidak bisa bergerak. Kedua kakinya kaku dan keringat dingin mulai mengucur, membasahi kaus tipis yang dikenakannya sebelum dan sesudah berada di alam mimpi.

“Oppa…Oppa…Oppa…” Suara itu semakin mendekat, berasal dari arah kanan.

Kris menengok ke sana, menunggu apa yang akan keluar dari sana. Apakah Jin Ri, atau mahkluk lain. Suasana terasa semakin mencekam, disertai hawa dingin yang hampir membuat Kris membeku.

“Oppa!”

Kris terkejut di tempatnya berdiri dari tadi. Jin Ri tiba-tiba berada di hadapannya dengan wajah sangat pucat. Ada seringai sadis, menghiasi wajahnya yang terasa lebih kejam dari biasanya. Belum lagi gaun yang dikenakannya serba hitam dan bibirnya yang dipoles lipstick yang sangat merah. Ini bukan Jin Ri yang dikenal Kris selama ini. Lebih mirip iblis, bukan malaikat yang pernah mengisi hidup Kris.

“Oppa? Kenapa kau ketakutan seperti itu? Tidakkah kau rindu denganku?” Kris tak bisa menjawab sama sekali. Lidahnya kelu dan bibirnya terkunci rapat.

Tiba-tiba, Jin Ri mencengkram wajahnya sambil memamerkan wajah dinginnya. Mencengkram dengan begitu kencang. Kuku-kukunya memanjang, menusuk wajah Kris, mengalirkan darah segar di antara jari-jari lentiknya.

“Kenapa kau diam, Oppa? Apa kau tidak rindu denganku, Jin Ri-mu?”

Tidak…dia bukan Jin Ri-ku. Dia bukan Jin Ri-ku. Kris berusaha menggerakkan kepalanya, menghalau cengkraman iblis dalam wujud Jin Ri. Tapi tidak bisa, iblis itu terlalu kuat.

“Kau tidak akan melepaskanku, bukan begitu, Oppa?”

Jin Ri menggerakkan tangannya yang lain ke arah perut Kris. Menghujam perut Kris dengan kuku-kuku tajamnya. Kris hanya bisa mengerang kesakitan. Rasanya benar-benar sakit, seakan kuku-kuku itu benar-benar nyata.

“Kris!Kris!Kris!”

Wajah dingin iblis itu langsung berubah menjadi cemas. Kuku-kukunya berhenti mengoyak kulit perut Kris dan cengkramannya pun melonggar. Kris seakan tertarik, menjauh dari sang iblis yang hanya bisa diam terpaku.

“Kris!”

Kris membuka kedua matanya dan menemukan dirinya sudah berada di dalam kamarnya kembali. Rasa sakit di wajah dan perutnya, memang nyata. Darahnya juga nyata.

Kris melihat ke atas tempat tidurnya, tubuh Illu bergetar hebat di sana dan Danielle berdiri di seberang Kris. Menatap cemas ke arah Illu.

“Apa yang terjadi?” tanya Kris sambil berusaha untuk bangkit berdiri. Meski sulit karena rasa sakit yang dirasanya, tapi akhirnya ia berhasil berdiri.

“Illu, Jin Ri-mu, akan diadili di neraka, sekarang. Selamat, tuan Wu.” balas Danielle dengan nada sangat sinis.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” ucap Kris, menghampiri Danielle dan berdiri di sebelahnya. Menatap iba kepada Illu yang tak berhenti bergetar dalam keadaan tak sadar.

“Lakukan sesuatu, Danielle!” teriak Kris. Ia berlutut di sebelah Illu dan memegangi tangannya. Berharap tubuh Illu akan berhenti bergetar.

“Aku tidak bisa melakukan apapun. Jin Ri yang kau lihat di dalam mimpimu barusan, adalah iblis yang akan membawanya ke neraka.” Danielle berhenti sejenak, memaksa Kris memberikan tatapan memelas kepadanya. “Sekali lagi terima kasih atas keegoisanmu.”

BRAK!!!

Jendela di kamar Kris tiba-tiba terbuka lebar. Udara dingin masuk begitu saja sementara tubuh Illu seakan memudar seiring dengan getarannya yang semakin hebat. Kris menggenggam tangan Illu semakin kencang. Ia benar-benar cemas dan terkejut. Apalagi, sekarang ia tahu pasti bahwa Illu ternyata adalah Jin Ri. Pantas, ia seperti mahkluk dari dunia lain.

“Lakukan sesuatu!” teriak Kris, panik. Ia benar-benar takut kehilangan Illu yang seakan memudar terbawa angin yang menerobos masuk ke dalam kamarnya.

“Hanya kau yang bisa! Ini belum terlambat!” balas Danielle. Suara gemuruh angin semakin kencang. Illu semakin memudar.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Lepaskan Jin Ri! Biarkan ia pergi!”

Kris tidak bisa. Ia tidak sanggup sepasrah itu dan membiarkan Illu pergi. Bagaimanapun juga, Illu dan Jin Ri itu sama. Setidaknya, keegoisan Kris mendorongnya untuk memiliki salah satunya.

“Lepaskan dia, Kris…Sekarang!”

Kris bingung, sangat bingung. Kenyataannya, ia hanya akan membuat Jin Ri menderita jika ia sampai dibawa ke neraka, tapi Kris tidak rela.

Waktu semakin mendesak. Kris akhirnya melepaskan cengkramannya, membiarkan Illu melebur bersamaan dengan perkataannya,”Aku membiarkanmu pergi.”

Tubuh Illu menghilang seiring dengan perkataan Kris barusan.  Terbawa bersama dengan hembusan angin yang berubah menjadi tenang. Jendela kembali menutup dan kamar Kris kembali tenang seakan tak pernah terjadi apapun.

“Terima kasih, terima kasih karena sudah melepaskannya.” Danielle mencengkram pelan bahu Kris yang masih berlutut di sebelah tempat tidurnya. Masih syok dengan keadaan yang baru saja terjadi, yang hampir saja membuat pujaan hatinya terjerumus ke dalam kobaran api neraka.

Danielle memaksa menarik tubuh Kris agar berdiri. Menghadapnya dengan tatapan kosong, seakan sangat kehilangan.

“Tugasku sudah selesai, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa.” Danielle berbalik, hendak pergi, tapi Kris segera menahannya. Tiba-tiba, ada yang ingin ditanyakannya.

“Kenapa kau mengirim Illu kemari, jika hanya ingin membuatku melepaskan Jin Ri?”

Danielle kembali membalikkan tubuhnya. Memasang raut wajah antusias akan pertanyaan Kris.

“Jin Ri yang meminta untuk dikirim kembali kemari. Lagipula, aku sudah jenuh melihatnya selama 89 malam terakhir mendatangimu diam-diam, hanya untuk memberikanmu sebuah kecupan, kau tahu bahwa itu melanggar aturan akhirat.” omel Danielle.

“Kecupan? Apa maksudmu?”

Danielle mengusap pipi sebelah kanannya sambil tersenyum. Memberikan sebuah pengertian yang tersirat dibalik tindakannya.

Awalnya Kris bingung, tapi kemudian ia mengerti. Lebam itu, tanda kecupan dari roh Jin Ri. Berarti, mitos itu benar. Sebuah kecupan dari sesosok mahkluk halus, akan memberikan lebam pada kulitmu. Lu Han memang benar sekali untuk urusan mitos itu.

“Huh…ternyata tak hanya kau yang tidak mau melepaskan. Gadis bodoh itu juga tidak mau, menunggu di akhirat terlalu lama. Sungguh merepotkan.” Danielle kembali berbalik tapi sekali lagi, Kris menahannya, hanya untuk mengucapkan terima kasih.

“Tak perlu sungkan, tuan Wu. Suatu hari nanti, aku akan kembali, menjemputmu.” Lalu Danielle menghilang begitu saja, bersamaan dengan suara tawanya.

Hari yang sungguh menyenangkan sekaligus melelahkan. Mengejutkan tapi memberikan begitu banyak pelajaran berharga hanya dalam 1 hari. Kini, hanya tersisa sepasang sepatu berwarna biru muda di atas tempat tidur Kris. Saksi bisu akan keikhlasan Kris, melepaskan Jin Ri, sekaligus kenangan manis yang hanya sebatas pengenang, bukan pengikat.

 

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s