Getting Married Because of Debt (Part 3)

Title : Getting Married Because Of Debt (Part 3)

Author : Catharina Griselda

Facebook / Twitter : Catharina Griselda / @almighty_rina

Genre : AU, romance, sad, angst

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Main Cast : No Min Woo (ex-TRAX), Hwang Sun Ye (OC), Park Hong Bin (VIXX)

Support Cast : Oh Se Hun (Sehun EXO-K), Park Chan Yeol (Chanyeol EXO-K), Xi Lu Han (Luhan EXO-M)

Disclaimer : Ff ini murni hasil kerja keras saya, jadi tolong hargai dan jangan copas!!!

Note : Maaf kalau ada sesuatu di dalam ceritanya yang tidak berkenan. Jika ada keluhan atau apapun, kontak author via Twitter (@almighty_rina) atau Facebook (Catharina Griselda).

Jika kalian menemukan sedikit kejanggalan pada part ini, harap jangan banyak bertanya dulu karena nanti akan dijelaskan seiring berjalannya fanfic ini. Maaf kalau agak bosan ya!!!

Fanfic ini juga akan dipost di wp pribadiku https://kloversfamilies.wordpress.com

Jangan jadi silent readers ya!!!

 

 

Tinggal 5 menit lagi menuju acara pemberkatan. Presdir No saat ini sudah menunggu di altar sementara Sun Ye masih menunggu di ruang ganti. Menunggu slayer juga tiara mendiang Presdir No Eomma untuk dipasangkan pada rambutnya yang disanggul.

Beberapa helai rambut dibiarkan terlepas dari sanggul Sun Ye. Polesan wajahnya terlihat begitu natural apalagi pada bagian bibir yang hanya dipoles lipgloss rasa lemon, kesukaan Sun Ye, karena Presdir No takut setelah mereka berciuman nanti, bibirnya jadi merah akibat lipstick.

Gaun pengantin yang dikenakan Sun Ye adalah buatan perancang ternama. Dengan gaun berlengan sutra hingga pergelangan tangan kiri dan tanpa lengan untuk yang kanan. Sun Ye terlihat elegan dalam balutan gaun kuning gading berekor panjang itu.

Buket bunga anggrek bulan sabit yang dibawanya, senada dengan kalung juga sepasang anting emas putih yang dikenakannya. Mungkin ini hanya pernikahan yang dipaksakan tetapi Sun Ye benar-benar ingin menangis melihat pantulan dirinya di cermin. Ia merasa begitu cantik saat ini.

Tiba-tiba seseorang mengetuk dari luar. “Masuk,” ucap Sun Ye.

Sekretaris Park menyembulkan kepalanya ke dalam sambil memasang senyumnya yang menggemaskan. Mau tidak mau, Sun Ye jadi ikut tersenyum karenanya.

“Sudah saatnya untuk keluar, ppali.” Lalu kepala sekretaris Park, kembali menghilang keluar. Para penata rias, rambut, juga gaun, semuanya menyusul keluar digantikan oleh Se Hun yang masuk ke dalam.

Anak itu terlihat tampan dengan setelan jas hitamnya, batin Sun Ye. Meski wajahnya masih agak babak belur berkat peristiwa 2 hari yang lalu.

“Noona, aku siap mengantarmu.” Se Hun menggerakkan tubuhnya seperti seorang butler, memberikan tangannya kepada majikannya sambil membungkukkan tubuhnya.

Sun Ye hanya tersenyum sambil menerima tangan dongsaengnya. Mungkin… ini terakhir kalinya untuk bercanda dengan dongsaengnya. Setelah pernikahan ini, mungkin Sun Ye tidak akan pernah tersenyum lagi.

 

_Getting Married Because of Debt_

 

Lagu Wedding March mengalun dengan merdu, mengiringi langkah Sun Ye dan Se Hun yang mengantarnya menuju altar. In Hye, sahabat Sun Ye, sekaligus pengiring mempelai wanita, tampak cantik dengan gaun polos selutut warna peach, berjalan di belakang mereka sambil memegangi ekor gaun Sun Ye.

Se Hun dapat merasakan bahwa Sun Ye begitu gugup, cengkramannya begitu kuat seakan meremas tangan Se Hun yang dibalut sarung tangan.

“Kau benar-benar cantik, Noona. Tenanglah.” Bisik Se Hun.

Sebenarnya Sun Ye bukannya takut terlihat tidak cantik, ketakutannya justru pada seorang pria yang berdiri di altar sambil membelakanginya. Sesaat lagi, status pria itu akan terikat dengannya. Pria yang luar biasa dingin tetapi setidaknya mungkin ia tidak akan berada di rumah 24 jam penuh. Bukankah Presdir No sangat sibuk?

Tanpa disadari, ternyata Se Hun sudah menyerahkan tangan Sun Ye untuk diambil oleh Presdir No. Sun Ye berdiri di altar, bersanding dengan Presdir No yang mengenakan setelan jas putih. Jujur, Sun Ye merasa Predir No tampak gagah dengan balutan jas itu.

Baik Chan Yeol atau sekretaris Park, yang mengenakan pakaian yang seragam dengan Se Hun maupun In Hye, masing-masing berdiri di samping kedua mempelai. Chan Yeol membawa cincin Sun Ye sementara In Hye membawa cincin Predir No.

Rasa gugup Sun Ye tidak terasa berangsur berkurang setelah acara bertukar janji selesai. Kini tinggal acara bertukar cincin lalu mempelai pria dipersilakan mencium mempelai wanita.

Sun Ye diminta pastor untuk memasangkan cincin terlebih dahulu kepada Presdir No. Cincin milik presdir terasa begitu longgar, batin Sun Ye. Sementara cincin yang disematkan di jari manis Sun Ye justru sebaliknya. Cincin itu seakan dibuat sesak supaya Sun Ye tidak bisa melepasnya.

Tapi untuk apa? Bukankah pernikahan ini hanya kebohongan belaka?

“Mempelai pria boleh mencium mempelai wanita,” ucap pastor begitu mereka selesai bertukar cincin.

Ini saat yang paling menegangkan bagi Sun ye. Presdir No semakin mendekatkan wajah rupawannya ke arah Sun Ye. Deru napasnya semakin terasa menerpa wajah Sun Ye. Tinggal sedetik lagi dan pernikahan mereka telah sakral melalui sebuah ciuman.

Tetapi tiba-tiba Sun Ye memalingkan wajahnya. Ia tidak menginginkan ciuman ini. Ia tiba-tiba merasa ciut dan ingin mundur dari semua kegilaan ini.

Berbeda dari Sun Ye, Presdir No harus mencium Sun Ye. Jika ciuman ini tidak terjadi, maka pernikahan mereka tidak akan terlihat nyata. Jadi Presdir No terpaksa menarik kepala Sun Ye dan menciumnya paksa.

Hanya sesaat dan mungkin tidak berarti bagi Presdir No, tetapi Sun Ye malah merasa bibirnya kelu dan berakhir dengan sakit. Apa Presdir No begitu memaksanya?

“Sekarang kalian resmi sebagai suami istri.”

 

_Getting Married Because of Debt_

 

‘Bertingkahlah seperti kita saling mencintai. Lakukan tugasmu dengan baik, No Sun Ye.’

Perkataan itu terus terngiang-ngiang dengan jelas di dalam pikiran Sun Ye. Presdir No memberikan peringatan pertamanya pagi tadi seusai pemberkatan.

Kini, Sun Ye sedang berdiri di samping suaminya sambil memasang senyum terbaiknya. Sudah sekitar 10 menit berlalu dan Sun Ye mulai merasa bibirnya kelu. Sementara Presdir No masih sibuk membicarakan bisnis dengan seorang pria yang mengaku sebagai presdir dari Hwaeun Group.

Oh…ayolah pria berkumis tebal…berhenti berbicara! Malam ini adalah malam resepsi pernikahannya, batin Sun Ye.

Sun Ye begitu tidak memperhatikan pembicaraan suaminya hingga ketika pria itu menyudahi pembicaraan mereka, Presdir No harus sedikit menyenggolnya agar memberikan senyum perpisahan kepada pria itu.

Sedikit canggung, yang Sun Ye bisa berikan hanya seulas senyum dipaksakan.

Tiba-tiba sesuatu menarik perhatian Sun Ye ketimbang harus mengikuti suaminya berbincang dengan para tamu yang bahkan tak dikenalnya.

“Bisakah aku pergi sebentar?” tanya Sun Ye begitu pria tadi pergi.

“Tidak…masih banyak tamu yang harus mengenalmu.” Jawab Presdir No, datar.

Kedua mata Sun Ye bergerak-gerak gelisah memperhatikan gerak-gerik Se Hun. Ya…Se Hun yang telah menarik perhatian Sun Ye.

Se Hun sedang dikerubungi banyak gadis, meski ia hanya mengenakan kemeja biru muda polos juga celana hitam dan sepatu  olahraga putih kesayangannya.

Sun Ye merasa risih bukan tanpa alasan. Se Hun belum diperbolehkan untuk berpacaran dan jika ia sampai menyukai seseorang dari pesta resepsinya, maka pelajaran sekolah Se Hun nanti bisa terganggu.

“Aku benar-benar harus pergi.” Sun Ye melepaskan tangan Presdir No yang daritadi melekat di pinggangnya. Lalu tanpa persetujuan Presdir No, Sun Ye menghampiri meja wine di mana Se Hun dan para gadis berdiri mengelilinginya.

“Oh Se Hun!” bentak Sun Ye tiba-tiba sambil berjalan ke arah Se Hun. Jarak di antara mereka memang sudah dekat, tetapi tetap saja membuat Se Hun malu.

“Noona….” Protes Se Hun begitu Sun Ye berdiri di hadapannya. Tetapi pandangan noonanya tidak mengarah kepada Se Hun melainkan kepada gadis-gadis yang berada di sekitarnya.

Se Hun mengerti arah pandangan Sun Ye. Tinggal sesaat lagi dan wanita itu akan segera meledak.

“Kita bicara lagi nanti.” Se Hun memberikan isyarat lewat matanya kepada gadis-gadis di sekitarnya. Isyarat yang mnyuruh mereka pergi dan untungnya dimengerti dengan sempurna.

Kini tinggal tersisa Se Hun dan noonanya. Kenapa udara sekitar terasa lebih panas? Se Hun membuka 2 kancing kemejanya.

“Buka saja semua, Oh Se Hun. Tunjukkan otot-otot tidak bergunamu untuk mendapatkan seorang gadis,” ucap Sun Ye, sinis.

“Ini bukan untuk menggoda, Noona.” Protes Se Hun.

“Sudah berapa kali kubilang bahwa….”

“Hwang Sun Ye…”

Suara itu… suara Presdir Park. Suara yang baru saja menyela pembicaraannya…. Park Hong Bin?
Sun Ye berbalik ke belakang dan langsung menemukan Presdir Park yang mengenakan setelan jas hitam. Jujur, Sun Ye berpikir bahwa Presdir Park terlihat sangat tampan juga gagah dalam balutan jas itu.

“Presdir…”

“Chukkae, untuk pernikahanmu.” Presdir Park tersenyum. Wajahnya mungkin tersenyum tetapi sorot matanya lain. Seperti menyimpan kesedihan juga kekecewaan di sana.

Sun Ye tidak tau harus menjawab apa, jadi ia hanya terdiam sama seperti Se Hun. Tetapi tiba-tiba tatapan Presdir Park teralih dari Sun Ye.

Sun Ye dapat merasakan tangan seseorang di pinggangnya. Ralat…tangan suaminya, tangan Presdir No.

“Min Woo.” Sapa Presdir Park melihat Presdir No berdiri di samping Sun Ye. “Lama tidak berjumpa dan sekarang kau sudah menikah.” Sambungnya.

“Benar…di mana Elias? Apa ia tidak datang, Hong Bin?” Presdir Park menggeleng pelan. Sebenarnya ia merasa tersinggung jika ada orang lain yang mulai membicarakan tentang Elias, dongsaengnya.

“Kulihat kau banyak berubah, Min Woo. Sudah menemukan dongsaengmu yang hilang?” sindir Presdir Park dan posisi pun berganti. Senyum di wajah Presdir No hilang seketika.

Sun Ye sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Tetapi yang pasti tangan Presdir No sekarang sedikit meremas pinganggnya. Pria berwajah cantik itu baru saja menegang karena ucapan dari Presdir Park.

“Kulihat Nyonya Oh juga tidak ada di sini.” Sambung Presdir Park.

Predir No tidak membalas apapun yang dikatakan Presdir Park, ia malah semakin meremas pinggang Sun Ye, membuat Sun Ye benar-benar merasa tidak nyaman.

“Presdir…” rintih Sun Ye. Sun Ye sebisa mungkin menjaga rintihannya hanya mengeluarkan suara yang bisa didengar Presdir No. Tetapi nyatanya Presdir Park pun dapat mendengar rintihannya lalu tersenyum.

“Lepaskan, Min Woo. Kau baru saja membuat nona Hwang kesakitan.”

“Sebenarnya Nyonya No, Hong Bin. Kami permisi, masih banyak tamu yang lain.” Lalu Presdir No membawa pergi Sun Ye dan Se Hun yang mengekor di belakang mereka.

Presdir Park hanya melihtat kepergian mereka sambil tersenyum licik. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Pandangan kedua matanya tidak pernah meninggalkan pasangan yang saat ini sedang berbincang dengan tamu penting lainnya.

“Elias, kau tau harus melakukan apa.”

 

_Getting Married Because of Debt_

 

Perjalanan pulang ke apartemen Presdir No, hanya berduaan di dalam mobil sportnya, benar-benar terasa tidak menyenangkan tetapi belum seperti kondisi Sun Ye saat ini.

Sun Ye melihat sekilas ke arah jam dinding di kamar Presdir No. Baru 5 menit berlalu, batinnya.

Baik Sun Ye maupun Presdir No sudah berada di atas ranjang. Keduanya melakukan aktivitas masing-masing. Sama sekali tidak ada keromantisan di antara keduanya. Sperti bukan pasangan yang baru menikah.

Presdir No duduk dengan nyaman di atas ranjangnya di sebelah kiri sambil mengetik dengan laptopnya. Sun Ye duduk di sebelah kanan dan benar-benar di ujung ranjang, sejajar dengan kedua kaki Presdir No.

“Sun Ye…” panggil Presdir No, tiba-tiba.

Sun Ye menoleh dan Presidr No tiba-tiba menutup laptopnya dengan kasar. Apakah ia marah? Tanya Sun Ye dalam hati.

“Kenapa kau tadi memalingkan wajahmu saat aku hendak menciummu? Kau sendiri tau kalau keluarga dan sahabat-sahabatku melihatnya tampak mencurigakan.”

“Aku hanya gugup, presdir.” Jawab Sun Ye, gugup.

“Berhenti memanggilku presdir!” bentak Presdir No. “Panggil saja aku Min Woo atau Oppa, arra?” Sun Ye mengangguk tetapi tetap diam.

“Juga berhenti terlalu mencemaskan Se Hun. Kau tau tadi kau membuatku malu?”

“Mianhae.” Jawab Sun Ye, masih tetap gugup.

Keheningan mengisi kamar Presdir No, setelahnya. Di dalam pikirannya, Presdir No ingin Sun Ye segera memenuhi perjanjian dalam kontrak agar urusan mereka cepat selesai. Tetapi ia malu untuk meminta hal seperti itu.

Jadi Presdir No lebih memilih untuk langsung bertindak.

Tiba-tiba Presdir No bergeser dari posisi duduknya dan langsung memeluk Sun Ye dari belakang. Presdir No mulai menciumi tengkuk Sun Ye yang tereskpos dengan gugup sambil memeluk pinggangnya dari belakang.

Bagaimanapun juga ini adalah kali pertamanya.

Tetapi Sun Ye sama sekali tidak mau hal yang dilakukan Presdir No sampai berlanjut. Tidak… belum bisa. Jadi ia berusaha melepaskan pelukan Presdir No.

“Presdir… maksudku Min Woo…aku…”

 

To Be Continued

Ok… bagaimana? Lanjutkah?

Part berikutnya author protect ya…

Jika ingin pass nya, bisa langsung follow @almighty_rina dan mention alamat email kalian ke sana. Nanti akan author kirim pass nya ke alamat email itu.

Gomawo ya….

 

3 thoughts on “Getting Married Because of Debt (Part 3)

  1. Terakhir update ff ini pas sebulan yg lalu ternyata ya~
    Boleh aku review ya?
    Diriku menemukan typos, pada kata” berikut:
    pensata, smuanya, membserikan, wanitas, stidaknya, dengna, untuks, marasa, presidr, tau.
    Minwoonya lucu bgt hahaks

    Boleh minta e-mailnya u/ pw next chapter?🙂

    Sippo…. Keep writing n fighting!! ^^
    Ditunggu kelanjutannya ya😉

  2. annyeong!!! thor…
    aku new reader di blog author…
    salam kenal yh……
    sejujurny pas aku baca dari teaser sama prt 3 krg dpt feelny tapi nanti aku baca ulang biar dapat feelny hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s