I Was Wrong (Ficlet)

Judul : I Was Wrong

Author : Catharina Griselda

Facebook / Twitter : Catharina Griselda / @almighty_rina
Genre : romance, sad ending

Length : Ficlet

Cast : Choi Ga Eul ( OC )

Lee Jung Shin ( CN Blue )

Note : Sebenarnya ini ff untuk lomba, cuma waktu itu kalah jadi aku putuskan untuk post di wp pribadi. Pernah di post di http://ffcnblueindo.wordpress.com/

 

 

Toxoplasma…pernahkah kalian mendengar nama itu? Belum? Tetapi bagi Choi Ga Eul, nama itu sama sekali tidak asing. Ia sudah sangat mengenal nama itu sejak usianya 26 tahun, di hari pernikahannya.

Nama itu telah merenggut kebahagiaan kehidupan pernikahannya bersama seorang Lee Jung Shin, pemuda berusia 23 tahun yang begitu tulus mencintainya. Mungkin…sampai ia nantinya mengenal nama itu.

Berkat toxoplasma, Ga Eul sama sekali tidak mengijinkan Jung Shin untuk menyentuhnya. Bahkan setelah 3 tahun menikah, kamar mereka benar-benar terpisah dan setiap kali Jung Shin menyatakan keinginannya untuk memiliki seorang putra atau putri darinya, maka Ga Eul akan menghindar sebisa mungkin atau setidaknya mengganti topik pembicaraan mereka.

Sama seperti pagi ini, seperti biasa, mereka sedang sarapan pagi berdua, duduk berhadapan dan tidak seperti biasanya, pagi ini Jung Shin lebih diam. Hanya terdengar dentingan piring yang beradu dengan sendok dan garpu, yang memenuhi ruang makan. Padahal biasanya ada saja yang dibicarakan oleh Jung Shin, si cerewet itu.

“Kenapa kamu sama sekali tidak berbicara pagi ini? Apa ada sesuatu yang kurang baik di rumah sakit?” tanya Ga Eul, yang mencoba mengambil inisiatif.

Jung Shin hanya menoleh sesaat lalu kembali sibuk dengan sarapannya. Sepertinya ia terlalu malas untuk sekadar menatap wajah istrinya itu. Bukan malas…lebih tepatnya kesal.

“Shin, ada apa denganmu?” tanya Ga Eul sekali lagi.

Jung Shin sudah tidak bisa menahan luapan emosinya lagi. Sendok yang digunakannya, dibantingnya begitu saja ke atas meja lalu ia bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan. Tetapi sebelum keluar dari ruang makan, ia sempat menghentikan langkahnya dan menoleh sesaat ke arah Ga Eul yang hanya menatapnya bingung dalam diam, masih duduk di meja makan.

“Aku akan pulang telat hari ini, tidak usah menungguku.”

 

_ I Was Wrong _

 

“Sudah kau coba untuk menanyakan hal itu kepadanya?” tanya Un, rekan dokter umum yang bekerja bersama Jung Shin tiap harinya. Mereka sedang berada di ruangan Jung Shin, menyelesaikan beberapa berkas pasien yang harus mereka serahkan kepada dokter pimpinan, malam ini juga.

“Aku tidak tahu…aku merasa tidak yakin untuk menanyakan hal itu kepadanya. Lagipula, kalaupun Ga Eul setuju…berarti harus kakaknya sendiri yang melakukannya.”

Jung Shin menjawab sambil tetap memperhatikan berkas-berkas yang menumpuk tidak beraturan di atas mejanya. Tetapi sebenarnya, pertanyaan Un sangat mengganggu pikirannya. Bagaimana tidak? Pagi tadi ia malah kesal sendiri dengan Ga Eul hingga lupa untuk menanyakan perihal masalah bayi tabung yang dianjurkan oleh Un.

“Mungkin sebaiknya kau cepat menanyakan hal itu karena jika usianya sudah 30 tahun, maka akan buruk bagi programnya nanti. Keberhasilannya hanya tersisa 25%.” Lanjut Un.

“Mungkin…memang aku harus cepat-cepat menanyakan hal itu kepadanya.”

Sisa hari itu, dilalui Jung Shin dengan tidak begitu baik karena takut akan penolakan yang nantinya menjadi jawaban dari Ga Eul. Jam 5 sore tadi, Un sudah meninggalkan ruangannya dan kembali ke ruangannya sendiri karena berkas-berkas yang harus mereka urus telah selesai. Hal itu berarti hilang sudah pengalih perhatian Jung Shin.

Sejujurnya, Jung Shin merasa sangat heran dengan perilaku istrinya itu. Apakah ia merasa malu karena Jung Shin lebih muda darinya ataukah sebenarnya ia memiliki kekasih lain di luar sana? Karena selama ini, Ga Eul sama sekali tidak merasa tertarik untuk berdekatan dengannya atau membicarakan masalah anak yang sangat diinginkannya. Atau mungkinkah, Ga Eul sedikit menyimpang? Entahlah…tidak baik untuk berpikiran yang tidak-tidak. Mungkin besok pagi Jung Shin bisa menanyakan perihal program bayi tabung itu kepada Ga Eul.

 

_ I Was Wrong _

 

Pukul 3 dini hari, Jung Shin sampai di rumahnya dan menemukan Ga Eul tidak menunggunya seperti yang dimintanya pagi tadi. Keadaan rumah gelap gulita dan pintu kamarnya tertutup rapat. Sama seperti malam lainnya di mana tak pernah sekalipun ia melihat ke dalam sana, apa yang berada di balik pintu kamar istrinya. Sempat penasaran untuk membangunkan istrinya dan segera menanyakan apa yang ingin ditanyakannya. Tetapi tidak jadi karena rasanya sedikit canggung jika masuk ke kamar yang merupakan teritori istrinya sendiri, bahkan di malam pertama setelah mereka menikah. Masih ada besok pagi, batin Jung Shin sambil berlalu menuju ke kamar tidurnya yang tepat berada di samping kamar tidur Ga Eul.

Keesokan paginya, Jung Shin terbangun dari tidurnya karena ia mendengar suara tawa yang cukup keras dan sepertinya berasal dari ruang tamu rumahnya. Jung Shin berusaha memperoleh kesadarannya dan meneliti sekeliling kamarnya. Sinar matahari menembus gorden kamarnya, berarti hari sudah cukup siang. Untung saja hari ini libur, kalau tidak ia akan terlambat ke rumah sakit dan dimarahi oleh Kakak iparnya sendiri, si pimpinan rumah sakit killer.

Awalnya, Jung Shin ingin mengabaikan suara tawa itu. Ia berpikir mungkin saja Ga In, Adik iparnya berkunjung ke rumah. Tetapi pikiran itu langsung buyar setelah Jung Shin tidak mendengar lagi suara tawa Ga Eul, karena biasanya jika ia mengobrol dengan Ga In maka sepanjang obrolan itu akan selalu dihiasi oleh tawanya.

Jung Shin yang penasaran akhirnya keluar dari kamar tidurnya dan mencari-cari asal suara yang sangat dikenalnya. Benar…dari ruang tamu. Awalnya Jung Shin ingin menampakkan batang hidungnya, tetapi tidak jadi karena sedikit dari penglihatannya sekilas, ia melihat sesosok pria yang tidak dikenalnya sedang memegang pergelangan tangan istrinya dengan begitu erat. Menaruh tangan istrinya yang lain di atas pahanya. Apakah mereka sedang bermesraan? Tanya Jung Shin dalam hati kecilnya.

Semakin lama Jung Shin mengintip apa saja yang dilakukan oleh istrinya dengan pria asing yang terus menerus memegangi pergelangan tangan istrinya, semakin geram Jung Shin. Ingin rasanya ia memukuli pria bajingan yang sekarang sedang bersama istrinya. Karena tidak tahan, Jung Shin memilih untuk kembali ke kamarnya dan secepatnya berganti pakaian. Lalu ia kembali keluar dari kamarnya sambil membawa kunci mobilnya. Sengaja melewati ruang tamu padahal ia bisa keluar dari rumah lewat garasi.

“Shin? Kamu sudah bangun?” tanya Ga Eul, terselip nada kaget dalam suaranya. Ga Eul juga cepat-cepat melepaskan tangannya dari pria yang menurut Jung Shin sangat bajingan.

“Ya…kenapa? Aku mengganggu acara bermesraan kalian?” balas Jung Shin dengan nada ketus. Membuat kedua tersangka di ruang tamunya, menjadi salah tingkah.

Mendengar jawaban dari Jung Shin menyadarkan Ga Eul untuk segera menjelaskan semuanya sebelum terlambat. Jung Shin hanya salah paham…ia tidak mengerti apa-apa. Ga Eul segera bangkit berdiri dan menahan tangan Jung Shin agar tidak keluar dari rumah mereka sebelum ia sempat meluruskan semuanya.

“Tidak Shin…kamu salah paham…pria ini hanya..”

“Hanya apa?! Selingkuhanmu?!” sela Jung Shin sambil menepis tangan Ga Eul kasar. Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar tetapi seseorang kembali menahannya dan kali ini si pria bajingan yang penampilannya luar biasa rapi itu…benar-benar memuakkan.

“Kau salah paham…Ga Eul hanya…”

BUG!!!

Jung Shin terpaksa memukul wajah pria itu. Ia benar-benar sudah tidak dapat menahan emosinya lagi hingga terpaksa memukul seseorang di hadapan istrinya sendiri. Istrinya yang begitu dicintainya. Tetapi hatinya saat ini terlalu sakit dan semua penghalang harus segera disingkirkan.

“Kamu tahu Ga Eul….aku sudah muak dengan semua ini. Kita akhiri pernikahan kita sehingga kamu bisa bersama dengan pria bajingan ini.” Jung Shin menunjuk tubuh pria yang terduduk di lantai, pria yang baru saja dipukulnya. “Sekarang aku mengerti kenapa kita tidak bisa memiliki anak….KARENA KAMU TIDAK PERNAH MENCINTAIKU!!!”

Lalu Jung Shin keluar dari rumah dan segera menuju ke garasi di mana mobilnya terparkir. Ia memacu mobilnya dengan sangat kencang dan setelah hari itu…ia tidak pernah pulang lagi ke rumah yang ditempatinya bersama Ga Eul. Ia lebih memilih untuk menetap bersama Un, sahabatnya, di apartemen mewahnya.

 

_ I Was Wrong _

 

Sudah seminggu Jung Shin tidak masuk kerja juga tidak menghubungi istrinya. Dan malam di mana Jung Shin tepat seminggu menetap di apartemen Un, Un pulang kerja bersama dengan Dr. Choi Ma Joon, Kakak iparnya.

Wajah Kakak iparnya terlihat begitu kesal di mata Jung Shin tetapi ia sama sekali tidak peduli. Salah adiknya sendiri, lalu kenapa harus ia yang terlihat begitu kesal. Selama setengah jam, mereka hanya duduk berhadapan dalam diam di ruang tamu Un. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan hingga tiba-tiba Ma Joon melemparkan sebuah amplop coklat tebal ke hadapannya.

“Apa ini?” tanya Jung Shin, ketus.

“Surat perceraianmu…aku sendiri yang berinisiatif mengantarkannya kepada pria brengsek sepertimu.”

“Maksudmu?!” Jung Shin benar-benar kesal dengan jawaban yang dilontarkan Kakak iparnya.

“Kupikir kamu pria baik-baik, Lee Jung Shin. Tetapi ternyata yang bisa kamu lakukan hanya melukainya saja.” Ma Joon bangkit berdiri lalu memberikan senyuman penuh kemenangan kepada Jung Shin. “Pria yang datang ke rumahmu pagi itu adalah Dr. Yoon, sahabatku dan ia homosexual kalau kamu perlu tahu. Ga Eul selama ini tidak ingin memiliki anak darimu karena ia tahu kalau anak itu nantinya hanya akan membuatmu sedih dan meninggalkannya. Tetapi tak kusangka caramu meninggalkannya lebih parah…hanya karena salah paham.” Sambung Ma Joon dengan nada tenang sementara Jung Shin mulai merasa tidak nyaman dengan kenyataan yang diungkapkan oleh Kakak iparnya sendiri.

“Maksudmu?” tuntut Jung Shin, meminta kejelasan untuk otaknya yang terasa bekerja begitu lamban.

“Ga Eul terkena toxoplasma dan hal itu yang menjadi batasannya untuk memiliki anak darimu. Pagi di mana kamu menuduhnya adalah pagi di mana pemeriksaan rutin demi kesembuhannya dilakukan oleh Yoon. Sekarang semuanya sudah jelas dan tentunya sudah terlambat. Tandatangani berkas-berkas perceraianmu dan pergilah dari hidup adikku, selama-lamanya.” Lalu Ma Joon berlalu dari hadapan Jung Shin begitu saja. Meninggalkannya dengan rasa menyesal yang begitu besar. Bodoh…bodoh….bodoh…

The End

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s