Getting Married Because of Debt (Part 2)

Title : Getting Married Because Of Debt (Part 2)

Author : Catharina Griselda

Facebook / Twitter : Catharina Griselda / @almighty_rina

Genre : AU, romance, sad, angst

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Main Cast : No Min Woo (ex-TRAX)

Hwang Sun Ye (OC)

Park Hong Bin (VIXX)

Support Cast : Oh Se Hun (Sehun EXO-K)

Park Chan Yeol (Chanyeol EXO-K)

Xi Lu Han (Luhan EXO-M)

Disclaimer : Ff ini murni hasil kerja keras saya, jadi tolong hargai dan jangan copas!!!

Note : Maaf kalau ada sesuatu di dalam ceritanya yang tidak berkenan. Jika ada keluhan atau apapun, kontak author via Twitter (@almighty_rina) atau Facebook (Catharina Griselda).

Jika kalian menemukan sedikit kejanggalan pada part ini, harap jangan banyak bertanya dulu karena nanti akan dijelaskan seiring berjalannya fanfic ini. Maaf juga kalau part ini agak membosankan karena part selanjutnya akan mulai menceritakan pernikahan dari si tokoh utama.

Fanfic ini juga akan dipost di wp pribadiku https://kloversfamilies.wordpress.com

Jangan jadi silent readers ya!!!

 

“Presdir No, Hwang agassi sudah ada di sini.”

“Persilakan dia masuk.”

Suara seseorang yang duduk di balik pintu itu terdengar benar-benar tenang. Padahal suasana para pekerja yang daritadi dilalui Sun Ye, seakan dipenuhi ketegangan. Tak ada satupun dari para pekerja itu yang menolehkan kepalanya saat Sun Ye juga sekretaris Park melalui mereka.

“Silakan masuk, Hwang agassi.”

Sekretaris Park mendorong pintu di hadapannya. Setelah sedikit membungkukkan tubuhnya kepada sekretaris Park, barulah Sun Ye masuk ke dalam. Pintu segera ditutup dan Sun Ye dapat merasakan atmosfer kurang mengenakkan begitu berada di dalam ruangan ini. Apalagi ketika seorang pemuda berparas cantik itu memandanginya dengan seksama di balik meja kerjanya, benar-benar membuat canggung.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya pemuda itu, langsung ke intinya.

Kedua tatapan matanya begitu tajam seakan mengintimidasi Sun Ye untuk segera menjawab. Wajahnya juga begitu dingin, sulit untuk memberikan jawaban manis. Lebih baik mengikuti pertanyaannya yang langsung ke intinya.

“Tidak, presdir.” jawab Sun Ye, masih berdiri di dekat pintu sambil memegangi tali tas yang tersampir di bahu sebelah kirinya karena terlalu gugup.

“Baiklah kalau begitu.”

Pemuda itu kembali mengalihkan perhatiannya dari Sun Ye ke arah berkas-berkas yang berada di atas mejanya. Memeriksanya dengan begitu teliti hingga mengabaikan Sun Ye yang masih berdiri di dekat pintu dengan kegugupan yang sama sekali tidak berkurang.

“Tidak banyak hal yang menarik dari latar belakangmu.” gumam pemuda itu, akhirnya memecah kesunyian yang penuh rasa canggung bagi Sun Ye.

“Ne.”

Entah mengapa, Sun Ye menjawab begitu saja dengan suara yang sedikit bergetar. Padahal ia sendiri tahu, bahwa pemuda itu sama sekali tidak sedang berbicara dengannya. Tetapi karena jawaban itu juga, akhirnya pemuda itu kembali sadar akan keadaan Sun Ye dan mempersilakannya untuk duduk di salah satu sofa yang berada di hadapan meja kerjanya.

Sun Ye hanya duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan pemuda tadi yang juga mengikutinya dan memutuskan untuk duduk di sofa di hadapannya. Pemuda itu membuka beberapa berkas yang dapat Sun Ye lihat meski hanya sedikit, di atas meja yang membatasi mereka berdua. Total 4 lembar berkas itu, sudah dibubuhi tanda tangan Sun Ye.

Saat Sun Ye sedang mencoba melihat berkas-berkas itu karena penasaran akan apa yang diperhatikan pemuda di hadapannya sedaritadi, tiba-tiba pemuda itu justru mengangkat kepalanya dan Sun Ye tertangkap basah begitu saja.

“Hentikan kebiasaan mengintipmu saat kita menikah nanti. Aku tidak suka.”

Sun Ye baru sadar bahwa ia ketahuan. Segera mengangkat kepalanya dan langsung memberikan tatapan canggung kepada pemuda di hadapannya.

“Jika kita menikah nanti, aku ingin kau memanggilku dengan namaku, bukan presdir seperti yang kau ucapkan di dekat pintu tadi.”

Sun Ye tak bergeming, hanya memperhatikan saja.

“Aku juga tidak ingin kau menggunakan akhiran formal untuk namaku. Pernikahan kita akan terlihat palsu jika seperti itu.”

Sekali lagi, Sun Ye hanya diam. Pemuda itu mulai merasa bahwa tatapan Sun Ye memang untuknya, tetapi pikirannya sama sekali tak ada di sana. Gadis idiot, batin pemuda itu.

“Apa kau mendengarkan?”

“Ne, presdir.”

Panggilan Sun Ye membuat pemuda itu merasa tak nyaman. Ia hanya berdecak kesal, cukup membuat Sun Ye sadar akan kesalahannya. Tapi Sun Ye sama sekali tidak tahu nama calon suaminya. Sun Ye hanya tahu dari sekretaris Park bahwa calon suaminya adalah Presdir No, tidak lebih.

“Kita akan menikah lusa, jadi kenapa kau masih memanggilku presdir?”

Sun Ye tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana bisa ia berkata jujur? Bisa marah pemuda di hadapannya dan ia juga pasti merasa bahwa Sun Ye memang benar tidak memperhatikan ucapannya.

“Sudahlah.” sela pemuda itu. Terselip nada kesal yang kentara di dalam suaranya.

“Perjanjian yang sudah kau tanda tangani mengatakan bahwa kau boleh hanya mempertahankan pernikahan kita sampai kau melahirkan seorang putra untukku. Jika kau memang nantinya memutuskan untuk bercerai, maka aku sama sekali tidak akan mencegahnya. Hanya saja hak asuh anak, akan langsung jatuh ke tanganku.”

“Ne.” balas Sun Ye.

Untuk apa memikirkan soal anak sekarang, batin Sun Ye. Lagipula hubungan pernikahan ini sama sekali tidak dilandasi oleh cinta melainkan oleh kewajiban, jadi mana mungkin mereka bisa memiliki anak nantinya. Meskipun ia sendiri sangat yakin bahwa pemuda di hadapannya saat ini, pasti sangat menginginkan seorang putra secepatnya setelah menikah nanti. Tapi siapa yang tahu hari esok.

 

_Getting Married Because of Debt_

 

“Bagaimana keadaan di dalam tadi? Apa presdir membuatmu takut?”

“Presdir benar-benar membuatku hampir mati ketakutan. Aku bahkan tidak mampu mengakui bahwa aku sama sekali tidak mengetahui namanya.”

Sekretaris Park tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Sun Ye. Ia mengalihkan perhatiannya sejenak dari jalanan di hadapannya ke arah Sun Ye yang duduk di sampingnya.

“Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu? Kupikir kau sudah tahu semuanya.”

Sun Ye menggembungkan kedua pipinya karena kesal. Bukankah seharusnya sekretaris Park memberitahunya? Bukankah itu kewajibannya?

“Lagipula…kenapa tiba-tiba kau duduk di sampingku? Kau tahu kalau hal ini akan membuat masalah untuk ke depannya, bukan?”

Sun Ye memiringkan duduknya sedikit, ke arah sekretaris Park. Jujur, Sun Ye merasa tidak nyaman untuk bertingkah layaknya seorang tuan puteri di hadapan temannya sendiri. Ya…meskipun mereka baru menjalin hubungan pertemanan beberapa hari.

“Aku akan menikah lusa, Oppa. Selagi masih ada waktu…aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin.”

Sekali lagi sekretaris Park mengalihkan perhatiannya dari jalan untuk menoleh kepada Sun Ye sejenak. Gadis yang duduk di sampingnya saat ini, benar-benar gadis yang sangat menyenangkan juga tulus. Ia pasti akan menjadi pasangan yang sempurna bagi presdir yang sangat kaku.

“Tapi kau tahu namaku, kan?” goda sekretaris Park, tiba-tiba.

“Park Chan Yeol….apa aku berhenti memanggilmu Oppa nantinya dan berganti menjadi Chan Yeol saja?”

Sun Ye balas menggoda sekretaris Park dan ia sama sekali tidak mendapatkan balasan kembali. Sekretaris Park hanya diam dan memperhatikan jalan.

Benar, pikirannya sudah melayang jauh mengingat betapa menyedihkannya dirinya saat ini. Ia kehilangan namanya sendiri begitu sahabat baiknya menjadi seorang presdir. Padahal dulu sahabatnya akan memanggilnya dengan namanya sementara ia akan memanggil sahabatnya juga dengan namanya sendiri. Tapi sekarang yang tersisa dari namanya hanya marganya saja. Tak lebih dari sekretaris Park. Hubungan mereka semakin renggang seiring dengan memudarnya nama ‘Park Chan Yeol’. Ia ragu untuk tetap bertahan di samping sahabatnya sendiri jika harus kehilangan identitasnya sendiri. Padahal baru 5 bulan, tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan     ?

Kini hanya tersisa Byun Baek Hyun, seseorang yang sangat penting dalam hidupnya, yang masih memanggilnya dengan namanya sendiri. Setidaknya, jika ia berhenti dari pekerjaannya sebagai sekretaris, maka ia dapat kembali memanggil nama sahabatnya atau julukannya. Meski semua itu terdengar mustahil, tapi memang itulah harapan dari hati kecil seorang Park Chan Yeol.

Sisa perjalanan menuju rumah Sun Ye, dihabiskan dalam diam. Sebenarnya Sun Ye ingin menanyakan keadaan sekretaris Park, tapi ia memutuskan untuk tetap diam. Tetap diam karena merasa bersalah lebih tepatnya.

 

_Getting Married Because of Debt_

 

Sun Ye sudah kembali ke rumahnya dengan perasaan bersalah terhadap sekretaris Park yang begitu terasa. Se Hun belum pulang, hari ini ia ada pelajaran tambahan dan kemungkinan besar akan pulang saat makan malam nanti. Suasana rumah jadi begitu sepi, menyisakan ingatan sedih selama kurang lebih 2 hari yang dimilikinya untuk tetap tinggal di rumah ini.

Baru pukul 2 siang ketika Sun Ye selesai membersihkan rumah kecilnya dan tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ketukannya begitu keras dan tergesa-gesa seperti ada yang mendesak.

Sebelum membukakan pintu, Sun Ye mengintip melalui celah kecil yang ada di pintunya. Ia takut jika ada orang jahat yang mendatangi rumahnya, mengingat bagaimana kasarnya orang itu mengetuk. Penagih hutang mungkin? Tapi bagaimana mungkin…ia sama sekali tidak merasa berhutang dengan siapapun lagi kecuali calon suaminya. Tapi siapa yang tahu jika kedua orang tuanya tiba-tiba memiliki hutang di tempat lain.

Tetapi setelah Sun Ye membuka pintu, ternyata ada 2 orang di depan pintunya saat ini. Hebatnya, salah seorang di antara 2 orang itu sangatlah dikenali Sun Ye. Tak lain dan tak bukan, orang itu adalah Oh Se Hun yang dipapah temannya yang berambut coklat gelap dan berparas cantik. Kalau tidak salah ingat, nama temannya itu Lu Han.

Sun Ye segera membukakan pintu rumahnya dan ia begitu terkejut melihat Se Hun dalam keadaan setengah sadar dan babak belur. Lu Han terlihat begitu kesulitan, menahan Se Hun agar tetap dalam posisi berdiri di sampingnya.

“Noona…boleh kami…masuk?” tanya Lu Han dengan susah payah. Bocah di sampingnya benar-benar telah menyiksanya karena harus memapahnya dari halte bus yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Se Hun.

“Masuklah…”

Sun Ye segera memberikan jalan bagi Lu Han untuk masuk ke dalam lalu membantunya memapah Se Hun hingga sampai di kamarnya. Dengan santainya, Lu Han sedikit membanting bocah menyusahkan itu ke atas tempat tidurnya. Kemudian Sun Ye tiba-tiba menariknya keluar dari kamar Se Hun. Ia bahkan belum sempat bernapas dan sekarang Sun Ye sudah memberikan tatapan mengintimidasi, meminta penjelasan.

“Katakan…apa yang terjadi padanya? Apa ia berkelahi di sekolahnya?”

“Aku…aku…”

Sulit untuk menjawab Sun Ye saat ini. Tatapannya terlalu mematikan, berbeda jauh dari tatapan yang biasa didapatkannya setiap kali berkunjung ke rumah Se Hun. Ya…sebenarnya kunjungan itu bukan sepenuhnya untuk mengunjungi Se Hun, tetapi untuk melihat Sun Ye. Meski sebenarnya dirinya sendiri tahu bahwa Sun Ye tidak akan pernah balas melihatnya, usianya lebih muda 2 tahun dari Sun Ye.

“Katakan…Lu Han…Namamu Lu Han kan?”

Lu Han hanya balas mengangguk sambil berusaha mengatur napasnya.

“Se Hun…tadi dia…memang berkelahi.” Akhirnya Lu Han mau mengaku juga.

“Karena apa?” tuntut Sun Ye, layaknya seorang pengacara yang sedang meminta kesaksian dari tersangka di hadapannya.

“Se Hun sangat benci jika ada yang menyebutnya anak haram dan hari ini, hampir seluruh kelas menyebutnya seperti itu. Untuk jelasnya aku juga tidak begitu tahu karena aku sedang ujian saat Se Hun berkelahi dengan seluruh anggota kelasnya, sepertinya.” jelas Lu Han.

“Anak haram?”

“Ne, Noona. Marga Se Hun dan Noona yang berbeda menyebabkan ia sering dipanggil anak haram di sekolah.”

DEG!!!

Marganya…seharusnya aku menggantinya, batin Sun Ye. Rasa bersalahnya terhadap sekretaris Park, kini tertutupi akan rasa bersalah terhadap dongsaengnya sendiri. Bagaimanapun juga, ia ikut ambil bagian hingga Se Hun bisa pulang lebih awal dalam keadaan babak belur, hari ini.

“Pulanglah dan belajar Lu Han. Noona tidak mau mengganggu ujianmu dan gomawo…sudah mengantarkan Se Hun pulang.”

Lu Han hanya tersenyum sesaat lalu bergegas pergi keluar. Ia sendiri juga tidak mau berada lebih lama lagi di rumah itu dan ditanyai lebih banyak lagi. Biarlah urusan sepasang kakak beradik itu diselesaikan mereka sendiri.

 

_Getting Married Because of Debt_

Sun Ye setia menunggui Se Hun untuk kembali memperoleh kesadarannya. Tetapi hingga larut malam, Se Hun masih belum sadar juga. Se Hun hanya sesekali meracau tidak jelas sambil berteriak-teriak. Mungkin karena demamnya, efek dari perkelahiannya selain lebam-lebam yang membekas jelas di sekujur tubuhnya.

“Bisakah Noona membiarkanmu seorang diri di rumah nanti?” tanya Sun Ye sambil membelai lembut poni dongsaengnya.

Ia mulai bimbang dengan keputusannya sendiri, tetapi tak ada jalan lain. Menikah dengan presdir No yang baru ditemuinya siang tadi atau kehilangan Se Hun sebagai gantinya. Sejumlah uang yang ternyata tanpa diketahuinya adalah hutang keluarganya sendiri, dapat dibayar meski perlahan-lahan tetapi jika hutang itu berkaitan dengan Se Hun? Entah bagaimana cara untuk membayarnya.

“Tidurlah yang nyenyak hari ini…besok semuanya akan jadi lebih baik lagi.”

Sun Ye memutuskan untuk meninggalkan Se Hun sejenak. Sebelum meninggalkan kamar dongsaengnya, Sun Ye mengecup dahi dongsaengnya terlebih dahulu. Kebiasaan yang sudah tidak akan bisa ia lakukan lagi setelah menikah nanti.

Berakhirlah hari yang melelahkan itu dengan Sun Ye yang mengurung diri di dalam kamar mandi. Ia hanya bisa menangis di bawah pancuran dengan balutan pakaian yang masih lengkap membalut tubuhnya. Tinggal tersisa kurang dari 2 hari lagi dan kini semuanya menjadi beban berat bagi Sun Ye. Dongsaengnya yang mulai mempermasalahkan mengenai marganya yang baru diketahui Sun Ye sekarang ditambah calon suaminya yang begitu menyeramkan meski terlihat cukup tampan. Tetapi yang paling memberatkan pikiran Sun Ye saat ini adalah bagaimana jadinya nanti hidupnya tanpa dongsaengnya dan bagaimana kehidupan dongsaengnya nanti?

Terlalu berat…hidup terlalu berat dan mempermainkannya dengan begitu kejam.

 

To Be Continued

Gi mana? Lanjut????

Oh ya.. ada pengumuman buat para readers :

Setelah part 3, part 4 nantinya akan diprotect untuk mencaritahu seberapa banyak sih yg ngarepin kelanjutan ff ini….

Jika kalian ingin passwordnya…bisa langsung follow @almighty_rina lalu DM ke situ ya…nanti author bales ….

2 thoughts on “Getting Married Because of Debt (Part 2)

  1. Nah, iya, marganya Sehun yg bukan Hwang~ Dari awal dikirain marganya diubah disini, ternyata engga, n menjadi permasalahan di kemudian hr bg Sehun😦
    Kirain jg yg jemput itu presdir Woo sendiri, ga taunya sekretaris yg miris, sekretaris Park.. yg diketahui sebagai Park Chanyeol u.u

    Kalau nanti di-pw, minta lewat e-mail aja dong ya boleh😀
    Sippo…. Keep writing n fighting yo!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s