The Forgotten One (Part 3)

Title : The Forgotten One (Part 3)

Author : Catharina Griselda

Facebook / Twitter : Catharina Griselda / @almighty_rina

Genre : AU, romance, marriage life, sad

Rating : PG-13

Main Cast : Kim Jeon Myeon (Suho EXO-K)

Hwang Seul Mi (OC)

No Min Woo (ex – TRAX)

Support Cast : Choi Seung Hyun (T.O.P BigBang)

Wu Yi Fan (Kris EXO-M)

Xi Lu Han (Luhan EXO-M)

Kim Jong In (Kai EXO-K)

Park Chan Yeol (Chanyeol EXO-K)

Byun Baek Hyun (Baekhyun EXO-K)

Oh Se Hun (Sehun EXO-K)

Note : Cerita pertamaku tentang marriage life, jadi maaf kalau ada sesuatu di dalam ceritanya yang tidak berkenan. Author juga akan memastikan bahwa akhir dari fanfic ini happy ending karena mengingat teman author yang selalu protes mengenai fanfic author yang lain yang katanya sad ending.

Jika ada keluhan atau apapun, kontak author via Twitter (@almighty_rina) atau Facebook (Catharina Griselda).

Fanfic ini juga akan dipost di wp pribadiku https://kloversfamilies.wordpress.com

Jangan jadi silent readers ya!!!

“Bagaimana bisa aunty memilih pulang denganku….bagaimana dengan uncle?”

Seul Mi membelalakkan kedua matanya tidak percaya mendengar pertanyaan Seung Hyun. Uncle? Maksudnya Jeon Myeon? Uncle apanya?!

“Aunty….”

“Diam dan mengemudilah! Aku ingin cepat bertemu dengan Eomma dan menanyakan semuanya.”

Seung Hyun tidak bisa membantah bentakan Seul Mi barusan. Bagaimanapun juga, Seul Mi memiliki tingkatan lebih tua darinya. Sekarang yang tersisa hanya penyesalan, kenapa appanya bisa memiliki sepupu seperti Seul Mi.

“Lagipula seharusnya aunty tidak menungguku dan mengobrol dengan Min Woo tadi.”

“Memangnya kenapa?”

Pertanyaan Seul Mi bernada ketus, lebih baik Seung Hyun tidak memperpanjang masalah atau nanti berurusan dengan Samantha, Seul Mi Eomma.

“Ah…lupakan.”

_The Forgotten One_

Jeon Myeon memacu sepeda motor sportnya dengan kencang, mendahului mobil sport hitam mengkilat yang dikemudikan Lu Han. Sementara Jong In, tentu saja menumpang di mobil Lu Han, menahan napasnya karena Lu Han yang sama ngebutnya, tidak ingin ketinggalan jauh.

Mereka berpacu untuk cepat sampai di tempat mereka biasa berkumpul. Bisa dibilang memang bukan tempat yang pantas untuk para pelajar, hanya saja tempat itu merupakan satu-satunya tempat untuk menenangkan diri. Yup…Club Blue Moon, club milik Yi Fan juga Chan Yeol. Sebagai anggota kelompok juga sahabat dari Yi Fan dan Chan Yeol, mereka memiliki private lounge sendiri di club itu. Di lantai atas di mana tidak boleh ada yang mengganggu kegiatan mereka di dalam sana.

“Menepi sebentar…”

Suara Lu Han terdengar dengan sangat jelas di handsfree yang sengaja Jeon Myeon kenakan di telinga sebelah kanannya, akan tetapi ia memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Mereka harus cepat sampai atau tidak akan ada obrolan yang cukup panjang malam ini. Lagipula Yi Fan mengatakan acara kumpul malam ini adalah untuk membahas hal penting, jadi Jeon Myeon tidak akan mau ketinggalan sedikit pun.

“Menepilah…ini baru jam 6, kawan.” tegas Lu Han.

“Kau saja yang menepi…” balas Jeon Myeon.

Jeon Myeon malah semakin mempercepat sepeda motor sportnya. Lagipula keuntungan berada di tangannya yang bisa menyalip tiap mobil yang menghalanginya. Tidak seperti mobil Lu Han yang ruang geraknya agak terbatas.

“Sebentar lagi kau akan tahu kenapa harus menepi.”

Jeon Myeon tersenyum meremehkan di balik helmnya, mendengar ucapan Lu Han barusan. Kelakuan Lu Han benar-benar aneh setelah marah-marah mengenai guru No, sebelumnya. Entahlah apakah anak itu kerasukan setan atau mungkin sudah kehilangan akal sehatnya.

Saat Jeon Myeon semakin jauh meninggalkan mobil Lu Han, tanpa sadar ternyata ada sepeda motor lainnya yang mengikuti tepat di belakangnya. Itulah alasan mengapa Lu Han menyuruhnya menepi, tadi.

Jeon Myeon tetap tidak sadar dan terus mempercepat laju sepeda motor sportnya hingga akhirnya ia berbelok ke sebelah kanan ruas jalan di mana Club Blue Moon berada, masih dalam keadaan tutup. Sepeda motor yang mengikuti Jeon Myeon tidak ikut berbelok, terus lurus dan menjauh.

Lama sekali Lu Han, batin Jeon Myeon. Jadi setelah sampai ia hanya berdiri di samping motor sportnya, di bawah teriknya matahari dengan mengenakan jaket kulit hitam legam juga celana jeans. Panas, rasanya benar-benar panas seakan terpanggang sementara Lu Han dan Jong In berada di dalam mobil sport yang kecepatannya seperti seorang kakek tua yang mengemudikan. Rasanya konyol sekali jika terus menunggu.

Jadi Jeon Myeon memutuskan untuk masuk lebih dulu. Ia masuk melalui pintu samping yang biasa dilalui para pegawai club. Jam-jam seperti ini, baru ada para pegawai club yang sibuk membersihkan lantai dansa atau mungkin menyiapkan panggung serta beberapa kamar di ruang belakang, untuk bersenang-senang.

“Sudah datang…mana Lu Han dan si bocah tengik itu?”

Ternyata Yi Fan sudah sampai lebih dulu. Ia langsung bertanya begitu Jeon Myeon masuk, sambil duduk di depan meja bar, sibuk mengelap gelas. Bertingkah sok pemilik yang peduli, batin Jeon Myeon.

“Entahlah.” jawab Jeon Myeon sambil berjalan menghampiri Yi Fan. Ia memposisikan diri duduk di samping Yi Fan lalu mengambil salah satu gelas yang berada di hadapan Yi Fan. Yi Fan langsung memberikan tatapan tidak suka kepadanya. Maksudnya tatapan peringatan untuk berhenti mengacaukan pekerjaannya karena gelas yang baru saja diambil Jeon Myeon adalah gelas yang sudah dibersihkan hingga mengkilat.

“Mian,” ucap Jeon Myeon yang sadar akan tatapan mematikan dari Yi Fan. “Jadi untuk apa kita mengadakan pertemuan hari ini?” sambungnya.

“Membahas guru No.” jawab Yi Fan, santai.

Jeon Myeon hanya bisa tertawa hambar. Ada apa dengan guru itu. Kenapa semua teman-temannya seakan membahas orang itu dan bahkan Lu Han tiba-tiba marah kepadanya.

Biasanya Yi Fan tidak akan peduli dengan hal remeh seperti guru No. Berarti jika hari ini Yi Fan sampai sengaja mengajak berkumpul demi guru itu, maka ada sesuatu yang tidak beres dengan guru itu. Sesuatu yang tidak beres yang telah menyebabkan kemarahan seorang Yi Fan.

_The Forgotten One_

Semua anggota kelompok sudah berkumpul. Seperti biasanya, ketika yang lain duduk, maka Yi Fan sebagai ketua gank akan berdiri, memberikan beberapa alasan mengenai kumpulnya mereka malam ini.

Hanya Jeon Myeon yang tidak memperhatikan selama Yi Fan berbicara panjang lebar di hadapan mereka semua. Ia sibuk sendiri dengan dunianya, memperhatikan layar ponselnya yang sejak pertama kali masuk dan duduk di private lounge, sudah berada di genggamannya.

Ia tidak berusaha menghubungiku, batin Jeon Myeon.

Oh, ayolah….apa yang kau harapkan Jeon Myeon? Seul Mi selalu tidak mengingat apapun yang berkaitan dengannya jadi untuk apa malam ini ia peduli dengan ketidakpulangan dirinya ke apartemen mereka? Apartemen yang kebetulan tidak diingat juga oleh Seul Mi.

“Kusarankan untuk tidak sibuk dengan duniamu sendiri, bung!” bentak Yi Fan tiba-tiba.

Semua mata beralih, menatap ke arah Jeon Myeon dengan pandangan bingung. Biasanya ia yang paling antusias untuk mendengarkan Yi Fan berbicara. Antusias untuk memotong pembicaraan Yi Fan, lebih tepatnya. Jadi ketidakperhatiannya saat ini, terlihat dan disadari dengan jelas sekali oleh Yi Fan.

“Oh…lanjutkan saja.” jawab Jeon Myeon.

Jeon Myeon cepat-cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jeansnya. Yi Fan pasti akan bertambah gusar jika ucapannya tidak didengar. Belum lagi jika kegusarannya berakhir dengan sebuah perkelahian, ia benar-benar yakin meskipun Chan Yeol membelanya, tetap saja ia yang akan terluka parah. Lihat saja bentuk tubuh Yi Fan yang benar-benar meliki tubuh seorang atlet dengan otot-otot menonjol yang membentuk tubuhnya layaknya seekor banteng yang siap menanduk siapapun. Geezzz, mengerikan sekali.

“Baiklah, akan kulanjutkan. Lu Han, kau bisa berbicara sekarang.”

Pergantian posisi terjadi. Yi Fan berganti menduduki posisi Lu Han yang diapit Jong In dan Chan Yeol sementara Lu Han berada di posisinya, sebelumnya.

“Kita harus membuat guru sastra itu keluar dari sekolah. Maksudku berhenti mengajar,” ucap Lu Han, bersemangat.

Ada kilatan kemarahan yang tergambar jelas di kedua matanya. Belum lagi salah satu tangannya yang mengepal di samping tubuhnya. Astaga, pemuda kalem itu telah berubah menjadi monster seperti Yi Fan, batin Jeon Myeon.

“Maksudmu?” tanya Baek Hyun, malas.

“Guru No sudah mengalihkan perhatian Xiao Ge dariku. Ia harus membayarnya dengan kepergiaannya atau aku yang akan ditinggal oleh Xiao Ge!”

“Astaga, Lu Han!” Chan Yeol bangkit berdiri lalu menghampiri Lu Han dan merangkul bahunya. “Calm down, buddy.”

Lu Han merasa benar-benar tidak nyaman dengan skinship yang diberikan Chan Yeol. Bocah bermata besar itu telah benar-benar merusak moodnya yang memang sudah buruk. Dihempaskannya dengan kasar tangan Chan Yeol lalu memberikan tatapan maut kepadanya.

“Duduk, Yeol. Aku sedang tidak ingin main-main.”

Gantian, Baek Hyun yang bangkit berdiri lalu memberikan tatapan tidak suka kepada Lu Han. Lu Han baru saja membangkitkan kemarahan dari sahabat terbaik Chan Yeol. Tepat sekali, Baek Hyun merasa tidak terima dengan perlakuan cukup kasar yang diberikan Lu Han kepada Chan Yeol.

Sebelum kondisi bertambah parah, Yi Fan cepat-cepat bangkit berdiri lalu menyuruh semua orang kembali ke tempat duduknya masing-masing. Kecuali dirinya sendiri yang kembali ke posisi pertamanya, berdiri di hadapan semua orang.

“Intinya, apa yang dikatakan Lu Han ada benarnya. Kita harus membuat guru itu tidak betah lalu mengundurkan diri. Atau kita bisa mengirim petisi kepada kepala sekolah yang mengatakan bahwa Ajeossi itu mengajar dengan tidak benar.”

“Untuk apa?” tanya Jeon Myeon tiba-tiba dengan nada sinis.

Sepertinya permasalahan yang dibahas malam ini terlalu remeh. Tidakkah ada hal yang jauh lebih penting dari ini? Lagipula Xi Lu Han itu kan sangat populer…kenapa ia harus bersikeras mempertahankan Xiao Ge di sampingnya? Bukankah ada begitu banyak yeoja di sekolahnya yang rela melakukan apa saja untuk ketua ekskul foto itu?

“Membela teman, Myeon.” jawab Yi Fan, tak kalah sinisnya.

“Hari ini Xiao Ge dan besok, bisa saja Seul Mi yang menyukai guru itu,” ucap Jong In. Akhirnya ia buka suara juga setelah sekian lama bungkam atau lebih tepatnya tidak diberi waktu untuk berbicara. Sama seperti Se Hun yang duduk di paling ujung ruangan, menikmati sekaleng soda yang dibawanya dari lantai bawah.

“Tidak ada hubungannya dengan Seul Mi. Kami sudah menikah selama sebulan dan tidak ada perceraian yang dibenarkan di dalam agama kami.” jawab Jeon Myeon kesal. Bagaimana bisa anak itu tidak membelanya dan tiba-tiba membawa Seul Mi ke dalam pembicaraan ini.

“Mulailah berpikir realistis, Hyung. Guru No sering sekali memuji Seul Mi karena nilainya yang benar-benar memukau tiap kali tes dan ulangan. Dan asal Hyung tahu saja, Seul Mi selalu tersipu malu tiap guru itu memujinya.” jelas Jong In, panjang lebar.

Tidak bisakah anak ini diam, rutuk Jeon Myeon dalam hati. Seharusnya tadi Lu Han tidak membawanya dari sekolah. Biarkan anak itu pulang, mandi dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Atau mungkin tidur lebih cepat jika memang tidak ada kegiatan lagi.

“Kusarankan untuk berhati-hati, Hyung.”

Semua orang menengok ke ujung ruangan. Astaga! Selama ini ada orang di sana dan mereka semua tidak menyadari keberadaannya. Semua orang bertengkar daritadi dan akhirnya Oh Se Hun yang sudah kehabisan sodanya, membuka mulut. Daebak!!!

“Kudengar guru itu playboy. Ia sudah mengajar 3 tahun di sekolah sepupuku dan sepupuku pernah menjadi salah satu dari miliknya.” Se Hun berdiri sejenak, melemparkan kaleng soda kosongnya ke arah tong sampah di dekat ambang pintu.

Bodoh…tidak masuk sama sekali. Chan Yeol sebisa mungkin menahan tawanya karena tidak ada yang tertawa. Tetapi ia bisa melihat dengan jelas di wajah dingin anak itu yang sempat menunjukkan sedikit ekspresi malu.

“Prinsipnya adalah mengangkat gadis incarannya ke langit lalu menghempaskannya ke tanah dan menimpanya dengan bongkahan batu besar.”

_The Forgotten One_

Sepulang dari club, tepat pukul 1 dini hari, Jeon Myeon memutuskan untuk menginap di apartemen Se Hun. Jeon Myeon dapat menggunakan apartemennya karena Se Hun yang tiba-tiba dihubungi orang tuanya perihal neneknya yang jatuh sakit. Anak itu akan benar-benar kualat jika sampai tidak bertemu dengan neneknya untuk terakhir kali karena berkumpul dengan teman-temannya di sebuah club malam.

Jeon Myeon baru akan mematikan lampu di samping tempat tidur Se Hun ketika tiba-tiba ponselnya bergetar di samping lampu. Ada panggilan masuk, mungkin panggilan iseng. Tapi ternyata bukan, yang menghubungi adalah keponakannya.

‘Choi Seung Hyun’s calling’

Guru Fisika killer itu menghubunginya dini hari. Mungkinkah ada sesuatu yang buruk menimpa Seul Mi di apartemennya? Atau mungkin gadis bodoh itu mempertahankan egonya dan memutuskan untuk tidak pulang?

“Yeobose…”

“Aku harus berbicara denganmu, uncle.” sela Seung Hyun, tiba-tiba. “Ini mengenai aunty…”

Apa yang terjadi dengan gadisku? Jeon Myeon benar-benar panik. Mungkinkah gadis itu hilang saat ini atau tidak sadarkan diri di rumah sakit?

Apa yang terjadi? Kenapa keponakan tuanya itu malah berhenti berbicara?

To Be Continued

Lanjut? Perbanyak comment ya!

Satu lagi, fanfic ini sudah aku perpanjang dan akan terus diperpanjang seiring dengan bertambahnya comment kalian…..

Comment kalian adalah tanda cinta kalian terhadap fanfic ini

10 thoughts on “The Forgotten One (Part 3)

  1. Terjawab lagi pertanyaan ttg status SeulMi sama Guru Choi, ternyata Appa guru Choi adalah sepupu SeulMi😄
    Eaaaaaaaaa…
    Joon Myun cemburu😀
    hihihihi…
    Lucu aku bayangin Joon Myun beneran d panggil “uncle” sama Guru Choi .
    Guru Choi itu Choi Seung Hyun, TOP Big Bang kan..?😀
    Baiklah, mari kita lanjutkan k part selanjutnya~~~😀

  2. Nah, Joon bahkan dalam pikirannya menyatakan bahwa Seulmi adalah gadisnya~
    Akakak keponakan tua lol. Poor Seunghyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s