Getting Married Becacause Of Debt Part 1

Title : Getting Married Because Of Debt (Part 1)

Author : Catharina Griselda

Facebook / Twitter : Catharina Griselda / @almighty_rina

Genre : AU, romance, sad, angst

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Main Cast : No Min Woo (ex-TRAX)

Hwang Sun Ye (OC)

Park Hong Bin (VIXX)

Support Cast : Oh Se Hun (Sehun EXO-K)

Park Chan Yeol (Chanyeol EXO-K)

Disclaimer : Ff ini murni hasil kerja keras saya, jadi tolong hargai dan jangan copas!!!

Note : Maaf kalau ada sesuatu di dalam ceritanya yang tidak berkenan. Jika ada keluhan atau apapun, kontak author via Twitter (@almighty_rina) atau Facebook (Catharina Griselda).

Jika kalian menemukan sedikit kejanggalan pada part ini, harap jangan banyak bertanya dulu karena nanti akan dijelaskan seiring berjalannya fanfic ini.

Jangan jadi silent readers ya!!!

Suasana di luar masih gelap. Hanya terdengar bunyi kicauan burung disertai hembusan angin yang berbenturan dengan puluhan pohon pinus di sepanjang jalan di lingkungan rumah yang masih sangat tenang itu.

Sama seperti suasana di luar, suasana di dalam kamar seorang gadis yang masih terlelap tidur di balik selimut tebalnya, juga sama tenangnya. Belum lagi kamarnya yang gelap dan di luar kamar juga belum ada kegaduhan apapun.

Ya….belum. Kata belum itu harus digarisbawahi. Digarisbawahi dengan warna merah atau mungkin kata itu bisa dipertebal dalam penulisannya.

Benar saja…tiba-tiba ada seorang pemuda berambut pirang yang membuka pintu kamar gadis yang masih terlelap tadi. Langsung menyalakan lampu yang tepat berada di atas tempat tidur gadis itu. Lalu tanpa aba-aba, melompat ke atas tempat tidur gadis tadi dan memeluk erat si penghuni yang juga masih terlelap.

“Bangun, Noona…” bisik pemuda itu, tepat di telinga si gadis yang tetap terlelap.

Oh ayolah…pelukan serta lonjakan yang cukup kuat di atas tempat tidurmu. Bagaimana mungkin gadis itu masih tetap terlelap? Apa mungkin ia terlalu lelah?

“Noona, ayo bangunlah….”

Suara pemuda pirang itu sedikit mengeras. Bukan bisikkan lagi, lebih tepatnya sebuah bentakan.

“Noona, bangun!” bentak pemuda itu sekali lagi sambil mengguncangkan tubuh gadis mungil di sampingnya dengan kasar.

Astaga! Batin pemuda itu. Terkadang ia meragukan gender noonanya sendiri. Apakah benar ia adalah seorang perempuan atau justru seekor kuda nil betina yang sangat sulit untuk bangun.

Hari ini adalah hari yang penting bagi noonanya. Ia akan bertemu dengan calon suaminya yang berarti tidak boleh terlambat. Bisa kacau nanti jika noonanya sampai terlambat sedetik saja.

“Bangun, Noona!” bentak pemuda itu lagi, tidak berhenti mengguncang tubuh noonanya yang pada akhirnya mulai memberikan respon. Sedikit meracau lebih tepatnya.

“Bangun, Hwang Sun Ye!”

Akhirnya pemuda itu mengeluarkan bentakan andalannya. Memasukkan nama lengkap noonanya sendiri dengan bentakan super keras yang mungkin bisa didengar tetangga mereka. Benar-benar keterlaluan dan memalukan.

Benar saja, noonanya langsung mendapatkan kesadaran penuh lalu tiba-tiba terduduk di atas tempat tidurnya. Ia mengusap kedua matanya sekilas lalu menengok ke sebelah kanannya di mana ia menemukan dongsaengnya yang berbaring sambil memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya ia jadikan bantalan untuk kepalanya dan terukir seulas senyuman di wajah dinginnya.

“Keluar, Se Hun,” ucap Sun Ye, dingin.

Bagaimana bisa Se Hun membangunkannya dan sekarang ia bertingkah seakan ingin tidur di atas tempat tidurnya? Bukankah ia harusnya sudah berangkat sekolah, sekarang?

“Bangun, Oh Se Hun! Bukannya kau harus sekolah?!”

“Aku sudah terlambat karena Noona. Jadi aku tidak sekolah hari ini.”

“Bersiaplah…kita tetap akan berangkat ke sekolah.”

Sun Ye bangkit dari tempat tidurnya dan langsung keluar dari kamarnya lalu bergegas menuju kamar mandi di lantai pertama. Ia harus tergesa-gesa pagi ini karena sudah terlambat untuk aktivitasnya juga membuat dongsaengnya sendiri terlambat dan ketinggalan bus. Bus berikutnya baru ada sejam lagi jadi satu-satunya cara untuk pergi ke sekolah adalah pergi bersama dengannya, meminta bantuan dari seseorang yang tidak dikehendaki. Lebih tepatnya sangat tidak diinginkan.

_Getting Married Because Of Debt_

“Kenapa Noona meminta bantuannya… Lebih baik aku tidak pergi ke sekolah dibandingkan pergi dengannya.”

Se Hun menunjuk sebal keluar jendela. Sudah terparkir mobil sedan hitam mewah di depan pagar mereka dan baik Se Hun maupun Sun Ye sama-sama tahu pasti siapa yang mengirimkan mobil itu.

Siapa lagi kalau bukan Park Hong Bin…seorang CEO muda yang sangat menyukai noonanya. Sejak dari pertama noonanya memutuskan untuk bekerja sebagai sekretaris pribadinya di YoSun’s Corp, Se Hun sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sana.

Dulu, sebelum bekerja di YoSun’s Corp, Sun Ye hanyalah seorang pengantar minuman di sebuah club malam. Sun Ye akan datang ke club itu dengan pakaian seragam yang sangat minim juga ketat dan menggoda pada malam hari lalu baru pulang saat dini hari. Nah…di tempat laknat itulah Sun Ye bertemu dengan CEO Park.

Entah ada niat tersembunyi apa di balik pertemuan malam itu, yang jelas Sun Ye mendapatkan pekerjaan yang lebih baik setelahnya. Setidaknya dengan bekerja di YoSun’s Corp atas rekomendasi dari CEO-nya sendiri, Sun Ye mendapatkan gaji yang lebih baik juga seragam kerja yang seratus persen lebih pantas. Se Hun berani menjamin semua itu.

Hanya saja Sun Ye tetap tidak bisa beristirahat cukup karena tetap harus bekerja sambilan di sebuah minimarket ketika malam hari seusai menyelesaikan kuliah sorenya. Bisa dibilang semua kerja keras Sun Ye dilakukan hanya demi memenuhi biaya sekolah Se Hun yang luar biasa mahalnya.

Jadi terkadang, saat Se Hun sendirian di rumah peninggalan mendiang kedua orang tuanya, tanpa sadar ia sering menangis tertahan. Saat belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, menyantap makan malam seorang diri, bahkan terbawa di dalam mimpi. Mungkin itulah salah satu penyebab yang membuat Se Hun selalu memasang wajah dingin kepada siapapun kecuali noonanya. Karena rasa bersalahnya yang telah membuat hidup noonanya menderita.

“Aku tahu kau tidak menyukainya, Sehunnie…. Tapi dia adalah satu-satunya penolong kita untuk saat ini dan aku tidak mau kau bolos sekolah hanya karenaku…yang…”

“Terlambat bangun.” sela Se Hun, cepat. “Pendidikan lebih penting dibanding apapun, aku paham.” sambungnya lagi.

Sun Ye hanya tersenyum mendengar perkataan dongsaengnya. Sebegitu seringnyakah dirinya mengatakan kalimat mengenai pendidikkan itu hingga Se Hun langsung mengucapkannya dengan lancar, tanpa aba-aba darinya. Benar-benar menggemaskan.

“Kuharap Noona cepat menikah, sehingga ajeossi itu tidak mengganggu Noona lagi,” ucap Se Hun sambil berlalu keluar dari rumah, membawa tas ranselnya yang disampirkan asal di salah satu bahunya.

Ya…menikah. Bagi Se Hun mungkin kata itu layaknya penyelamat, hawa segar, tapi bagi Sun Ye, seperti pernyataan bahwa besok Seoul akan musnah.

_Getting Married Because Of Debt_

‘Kuharap Noona cepat menikah, sehingga ajeossi itu tidak mengganggu Noona lagi’

Perkataan Se Hun kembali melintas di dalam pikiran Sun Ye. Saat ini, ia sedang berada di dalam mobil CEO Park hanya bersama dengan seorang pengemudi yang mengemudi di bangku depan. Se Hun sudah turun dari mobil ini semenjak 15 menit yang lalu. Meninggalkan kekosongan di sebelahnya juga ketakutan di dalam pikirannya.

Pernikahan…kalau saja bukan karena hutang yang melilit keluarganya tanpa sepengetahuannya, pasti tidak akan pernah ada perkataan mengenai pernikahan. Mulai terlintas bagaimana tampang calon suami yang akan ditemuinya malam nanti, saat perjalanan menuju kantor.

Apakah ia berwajah bulat, oval? Mungkinkah ia bertampang sangar, imut, tanpa dosa? Bagaimana juga dengan bentuk tubuhnya, atletis atau justru malah seperti orang kaya lainnya yang bertubuh gemuk, pendek? Rambutnya….ah semuanya menjadi bahan pikiran untuk Sun Ye. Sun Ye mulai harap-harap cemas akan penampilan calon suaminya. Meskipun tidak bisa memilih, tetapi Sun Ye berani berharap bahwa setidaknya calon suaminya memiliki sekurang-kurangnya apa yang dimiliki CEO Park.

CEO Park berwajah tampan, atletis, juga tinggi. Bibirnya seksi belum lagi tatapan tajamnya. Sun Ye tidak bisa memungkiri bahwa sedikitnya ia merasa tertarik dengan CEO-nya itu. Ketertarikan itu bisa saja terus memuncak jika seandainya kondisinya mendukung juga jika CEO Park tidak terlalu terburu-buru, menunjukkan bahwa ia begitu tertarik terhadap Sun Ye.

“Agassi, kita sudah sampai,” ucap si pengemudi tiba-tiba.

Sun Ye langsung tertarik dari lamunannya. Kembali ke dunia nyata dan melihat keluar jendela hanya untuk menemukan bahwa mobil yang ditumpanginya memang sudah berhenti di hadapan sebuah gedung mewah, gedung YoSun’s Corp.

_Getting Married Because Of Debt_

Sun Ye sudah duduk di balik meja kerjanya yang berdiri kokoh di dekat ruang CEO. Ia begitu sibuk memeriksa jadwal serta email yang masuk di komputer hingga tak sadar  bahwa CEO Park sedang berjalan mendekati mejanya.

CEO berjalan sehati-hati mungkin agar Sun Ye tidak menyadari kedatangannya. Ia masih ingin memandangi wajah cantik Sun Ye yang sedang sibuk, karena jika Sun Ye sampai mengetahui kedatangannya, maka wajah cantik itu akan langsung berubah menjadi wajah segan dengan senyum yang dipaksakan. Biarlah sekarang tak ada senyuman di wajah ovalnya, tetapi setidaknya wajah itu terlihat natural.

“Tuan Park…”

Ah! Ketahuan karena sekretaris Liem. Kenapa kakek tua itu bisa menyadari kehadirannya begitu keluar dari ruangannya padahal Sun Ye saja tidak menyadarinya? Kedua mata sekretaris Liem benar-benar langsung jelas jika melihatnya, sepertinya.

“Oh, CEO Park.”

Sun Ye langsung bangkit berdiri dengan canggung. Ia pasti merasa canggung karena tidak menyadari kedatangan atasannya sendiri.

“Sekretaris Liem, sekretaris Hwang…selamat pagi.”

“Pagi, CEO Park.” balas Sun Ye lalu membungkuk memberi hormat ke arah CEO Park yang berdiri beberapa langkah dari lift yang membawanya kemari. Begitu juga dengan sekretaris Liem yang membungkuk memberi hormat.

“Pulanglah sekretaris Liem…kudengar hari ini adalah hari pertama putrimu bekerja.”

“Ye?” tanya sekretaris Liem, benar-benar tidak paham.

“Aku memberimu libur…pulanglah. Besok kembali bekerja seperti biasa.”

CEO Park berjalan menghampiri sekretaris Liem yang masih berdiri mematung dalam kebingungan di hadapan ruangannya. Sebenarnya bukan menghampiri sekretaris Liem, lebih tepatnya ingin masuk ke dalam ruangannya.

“Pulanglah.” perintah CEO Park sekali lagi, sebelum menutup pintu ruangannya, kemudian.

CEO Park tersenyum di balik pintu ruangannya. Jika hari ini sekretaris Liem pulang lebih dulu, maka ia bisa mengantar pulang Sun Ye karena siang ini tidak akan ada tumpangan untuknya. Lagipula banyak yang ingin dibicarakannya dengan Sun Ye.

_Getting Married Because Of Debt_

Drt…drt…drt…

Sudah jam makan siang dan Sun Ye bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Begitu juga dengan getaran ponselnya yang ia abaikan begitu saja, padahal ada panggilan masuk.

“Apa tidak akan diangkat?”

Sun Ye benar-benar terkejut dan sedikit terlonjak ke belakang hingga kursi kerjanya terdorong dan menabrak dinding di belakang dengan dirinya yang masih duduk di atasnya. Sejak kapan CEO Park berada di hadapan meja kerjanya? Bertumpu dengan kedua tangannya di atas meja kerjanya. Apakah daritadi CEO tampan itu memperhatikannya?

“CEO Park…”

“Angkat teleponmu.”

“Oh…”

Dengan tergesa-gesa, Sun Ye segera mengambil ponselnya dari atas meja kerjanya lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Saat itulah ia sadar bahwa ia sudah melupakan janji pentingnya, hari ini.

‘Mr. Park’s calling’

“Yeoboseyo…oh…ne, aku akan segera ke sana. Mohon tunggu sebentar…ne….”

Hanya itu. Singkat, padat, dan hanya sebentar, lalu Sun Ye memutus panggilan itu dan memberikan tatapan penuh harap kepada CEO Park yang masih berada di posisi yang sama. Tatapan penuh harap yang bermaksud agar CEO Park mau sedikit berbaik hati dan membiarkannya pulang lebih cepat 1 jam. Tak apa jika gajinya dipotong, tapi yang jelas ia benar-benar perlu pergi sekarang.

“Apa?” tanya CEO Park, bingung. Tatapan memelas Sun Ye seakan mengintimidasinya. Mengingatkan dirinya akan ingatan masa lalunya saat SMA dulu, akan seseorang yang sangat dikenali juga dirindukannya.

Berhenti menatapku seperti itu, Yenna…batin CEO Park.

“CEO Park, bisakah saya pulang lebih awal hari ini?”

“Maksudmu?”

CEO Park mengangkat alisnya, tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba gadis rajin ini ingin cepat pulang? Apakah panggilan tadi berisi kabar buruk?

“Saya harus pulang sekarang, CEO Park. Ada keperluan penting yang tidak bisa saya lewatkan.”

“Kalau begitu aku akan mengantarmu.”

Baru CEO Park akan kembali ke ruangannya lalu mengambil kunci mobilnya, tetapi Sun Ye segera melarangnya. Lebih tepatnya menolak tawarannya secara halus dengan alasan tidak mau merepotkan.

“Justru aku ingin mengantarmu pulang karena banyak yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Maaf, saya tidak mau merepotkan Anda lagi. Lagipula sudah ada yang menjemput saya, hari ini.” Sun Ye bangkit berdiri lalu membungkuk memberi hormat kepada CEO Park. “Terima kasih atas pagi tadi, saya benar-benar menghargainya begitu juga Se Hun.” Lalu Sun Ye bergegas membereskan meja kerjanya dan berlalu pergi dari hadapan CEO Park.

Sebelum Sun Ye benar-benar hilang dari hadapannya, CEO Park cepat-cepat memanggilnya. Memaksa Sun Ye untuk berbalik, kembali dengan senyum canggung terlukis di wajahnya.

“Kau berhutang padaku, Hwang Sun Ye. Aku akan menagihnya nanti…”

Sun Ye hanya balas tersenyum mendengar perkataan CEO Park. Ya…hutangnya untuk memenuhi apapun permintaan CEO Park karena telah bersedia mengantarkan Se Hun ke sekolah, pagi tadi.

_Getting Married Because Of Debt_

CEO Park tak bisa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari apa yang berada di luar, di bawah sana. Hanya memperhatikan dari jendela ruangannya dan rasanya sudah terbakar api cemburu. Sun Ye menolak ajakannya lagi dan kali ini karena seorang pemuda. Seorang pemuda jangkung dengan setelan jas rapi berwarna hitam yang langsung membukakan pintu mobil belakang untuk Sun Ye, lalu mobil itupun pergi.

CEO Park hanya bisa menyaksikan kepergiaan Sun Ye dengan kedua tangannya yang mengepal, di samping tubuhnya. Gadis itu, Hwang Sun Ye, tidak pernah melihatnya meski seberapa besarpun rasa peduli yang ditunjukkannya. Harus apa lagi ia sekarang?

To Be Continued

Gi mana? Lanjut? Tolong beri coment ya!!!

4 thoughts on “Getting Married Becacause Of Debt Part 1

  1. Lanjut dong ya😉 Ini udah bikin penasaran banget!
    Ada typo pd kata ‘di mana’..
    Yenna itu typo atau memang seseorang di masa lalunya CEO Park itu?
    Lalu typo pd “Maaf, saya tidak mau merepotkan Anda lagi. Lagipula sudah ada yang menjemput saja, hari ini.”

    Sippo…. Keep writing n fighting!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s