Le Cadeau

Title : Le Cadeau

Author : Catharina Griselda

Facebook / Twitter : Catharina Griselda / @almighty_rina

Length : Oneshoot

Genre : angst, romance, sad

Rating : PG-13

Major Cast : Park Ga In (OC)

                    Park Chan Yeol / Chanyeol (EXO-K)

                    Chow Zhou Mi (SuJu-M)

Minor Cast : Xi Lu Han / Luhan (EXO-M)

                     Kim Jong In / Kai (EXO-K)

Disclaimer : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

‘Aku menyukai Chow Zhou Mi, aku menyukainya.’

AHKKK!!!

Chan Yeol kembali terbangun dari tidurnya. Entah sudah ke berapa kalinya, yang pasti, malam ini bukanlah malam yang cukup baik bagi seorang Park Chan Yeol, untuk pergi tidur. Ia masih mengingat dengan jelas, semua perkataan Ga In, hingga terbawa ke dalam mimpinya.

Baru siang tadi, Chan Yeol ingin mengungkapkan perasaannya kepada Ga In, tapi sayang, semuanya tidak berjalan sesuai rencananya. Semua kembali kepada kesalahannya sendiri, di mana ia hanyalah seorang pemuda pengecut yang hanya berani menunda-nunda. Padahal, Chan Yeol sudah mengenal Ga In selama kurang lebih 14 tahun dan mereka sudah menemukan kecocokkan, selama bersama. Tapi, kembali lagi pada cerita awalnya, Chan Yeol terlalu pengecut.

‘Kami mulai berpacaran sejak malam perpisahan SMA…tidakkah menurutmu itu cukup lama?’

Lama, lama sekali, Ga In, batin Chan Yeol. Ia kembali memikirkan pertanyaan yang dilontarkan Ga In, siang tadi dan baru kali ini, ia menemukan jawabannya. Hanya setahun menjadi guru seni mereka dan kini ia menjalin kasih dengannya.

Drt…Drt…Drt…

Chan Yeol melirik dengan malasnya ke arah meja kecil di samping tempat tidurnya. Ponselnya bergetar hebat, seseorang menghubunginya, dini hari.

Chan Yeol meraih ponselnya dan menatap layarnya sesaat, bingung. Dengan jelas tertulis di layar, panggilan itu berasal dari Ga In. Untuk apa menghubungiku?tanya Chan Yeol dalam hati sebelum akhirnya ia menerima panggilan itu.

“Yeobose…”

“Yeol, kita harus bertemu sekarang.” Ga In terdengar sangat panik, ia bahkan tidak membiarkan Chan Yeol menyelesaikan sapaan singkatnya.

“Ini masih dini hari…siang nanti saja, kita bertemunya.” balas Chan Yeol dingin. Sejujurnya, hanya alasan untuk menghindari Ga In karena rasa sakit hatinya.

“Harus sekarang, Yeol. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.” Suara Ga In seakan memohon, mendorong Chan Yeol untuk setuju. Tapi, saat ini terlalu awal untuk menemui Ga In, apalagi…perasaannya sedang tidak menentu, seperti sekarang ini.

“Katakan sekarang saja, aku ingin kembali tidur dan mungkin sampai siang nanti.” Sekali lagi, Chan Yeol mencoba menghindar.

“Appa menjodohkanku, Yeol. Appa menjodohkanku.”

“Bagus, bagus untukmu.” jawab Chan Yeol, asal. “Siapa yang menjadi jodohmu? Apa Chow Zhou Mi?”

“Park Chan Yeol, jodohku adalah Park Chan Yeol.”

“Ne?”

Sambungan terputus begitu saja. Pertanyaan Chan Yeol bahkan tidak dijawab sama sekali.

Chan Yeol menunggu ponselnya untuk kembali bergetar. Berharap Ga In akan kembali menghubunginya.

Satu jam berlalu dan Ga In tetap belum menghubunginya kembali. Chan Yeol melirik jam dinding yang terpasang tepat di atas pintu kamarnya. Sudah pukul 4 pagi, mungkin saja Ga In kembali tertidur, pikir Chan Yeol.

Akhirnya, penantian Chan Yeol terbayar sudah. Tepat pukul 6 pagi dan ia mendapatkan sebuah pesan singkat dari Ga In. Jantungnya berdebar tak karuan, begitu menerima pesan itu.

Chan Yeol membuka pesan itu dan rasanya, luka di hatinya kembali bertambah besar. Pesan itu hanya memintanya untuk tidak datang ke kediaman keluarga Park untuk bertemu dengan keluarga Ga In. Tidak datang sama dengan menolak perjodohan, itu keinginan Ga In.

Chan Yeol tidak membalas pesan singkat itu, sama sekali. Ia malah membiarkan ponselnya dalam keadaan mati. Merenung di dalam kamarnya hingga tiba-tiba telepon di ruang keluarga, berbunyi. Chan Yeol terpaksa keluar dari kamarnya untuk menerima panggilan itu. Tinggal di apartemen seorang diri membuatnya tidak bisa menyuruh orang lain untuk menerima panggilan itu.

“Yeoboseyo?” tanya Chan Yeol dengan malas. Ia menerima panggilan itu sambil melihat pakaian yang dikenakannya untuk pergi tidur, semalam. Sama seperti yang dikenakannya sepulang kemarin siang. Kemeja biru muda berlengan pendek dengan celana jeans selutut, berarti ia tidak mandi, kemarin.

Ternyata eommanya yang menelepon. Memberitahukan hal yang sama dengan Ga In, perjodohan dan pertemuan di kediaman keluarga Park, malam ini.

“Ne, Eomma. Aku akan mempersiapkan yang terbaik untuk malam ini,” ucap Chan Yeol sebelum ia mengakhiri pembicaraan singkat itu.

Telepon dari eommanya, memberikan semangat tersendiri bagi Chan Yeol untuk menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman keluarga Park. Memang tidak sesuai dengan keinginan Ga In, tapi memang ini yang dinanti-nantinya, bisa hidup berdua, hanya berdua, dengan Park Ga In.

Chan Yeol bergegas kembali ke kamarnya untuk memeriksa pakaian yang dimilikinya, selama ini. Kebanyakan yang tersedia di dalam lemari besarnya, hanya kaus bergambar serta celana jeans selutut atau celana pensil. Tidak ada pakaian formal, keluhnya. Kemeja yang kemarin siang dikenakannya, adalah pakaian paling formal yang dimilikinya. Tidak mungkin untuk mengenakannya lagi, malam ini. Seluruh keluarga Ga In dan keluarganya akan mengusirnya pergi jauh-jauh karena bau.

“Aku harus meminta saran Kris Hyung. Ia pasti membantu,” ucap Chan Yeol lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya.

Tepat seperti perkiraan, Kris memang sangat membantu. Ia menyarankan agar Chan Yeol tidak terlalu mengenakan pakaian formal karena hanya acara makan malam keluarga. Sebaiknya, menjadi diri sendiri, senyamannya, itu saran Kris.

Chan Yeol memeriksa koleksi kausnya dan koleksi celana pensilnya. Menggunakan warna yang sama hanya akan memberikan kesan kaku, batin Chan Yeol saat melihat beberapa kaus dan celana pensil yang berserakan di atas ranjangnya.

Drt…Drt…Drt…

Chan Yeol mencari-cari ponselnya di antara tumpukan pakaiannya yang berserakan. Tidak ketemu dan mulai panik. Chan Yeol baru menemukannya setelah panggilan itu terputus. Ternyata dari Ga In, jadi Chan Yeol memutuskan untuk menelepon balik.

“Jangan datang, malam ini…jebal.” Lalu Ga In memutus panggilan Chan Yeol, sepihak.

“Ani…aku harus datang, malam ini,” ucap Chan Yeol, tak peduli apakah Ga In mendengarnya atau tidak.

—————

“Mereka terlihat sangat serasi, bukan begitu, tuan Park?” tanya Ga In Appa, berusaha menggoda Chan Yeol yang duduk bersebelahan dengan Ga In. Chan Yeol hanya membalasnya dengan sebuah senyuman manis, sementara wajah Ga In terlihat sangat datar. Ia sangat marah dan benci terhadap Chan Yeol karena mengabaikan permohonannya, sebelumnya.

“Berhentilah bersikap kaku terhadapku, Park Chan Yeol…kita ini sudah menjadi keluarga, jauh sebelum rencana pernikahan ini.” sambung Ga In Appa lagi. “Marga kalian sudah sama sejak lahir. Benar-benar takdir yang menakjubkan, bukan?” Sekali lagi, Chan Yeol hanya tersenyum, membalasnya.

Tiba-tiba, Ga In memundurkan kursi yang didudukinya. Menimbulkan bunyi berderit yang cukup keras, memaksa semua orang yang sedang duduk mengelilingi meja makan itu untuk menoleh ke arahnya, memberikan tatapan bingung.

“Aku muak dengan semua ini!” teriak Ga In sambil bangkit berdiri meninggalkan kursinya lalu melemparkan serbetnya, asal ke atas meja makan. “Aku harus pergi.” sambung Ga In lalu berlari meninggalkan ruang makan, sambil menangis. Kedua orang tua Chan Yeol dan Ga In hanya bisa menatap kepergian Ga In dengan saling bertukar pandangan bingung. Chan Yeol mengambil inisiatif untuk mengejar Ga In, daripada Ga In Appa yang mengejar dan berakhir dengan pertengkaran antara sesama orang keras kepala.

Chan Yeol berlari ke lantai 2, menuju kamar tidur Ga In, tempat yang selalu didatanginya setiap kesal. Di depan pintu kamar Ga In, Chan Yeol terdiam sejenak. Ia bisa mendengar dengan jelas suara tangisan di balik pintu itu. Tapi, Chan Yeol tetap harus masuk ke dalam sana dan setidaknya memberikan hiburan bagi Ga In, sama seperti 14 tahun yang lain.

Chan Yeol mengetuk pintu kamar Ga In beberapa kali, tapi Ga In tidak menjawab. Terlalu sibuk menangis, sepertinya. Jadi, Chan Yeol memutuskan untuk masuk ke dalam tanpa seizin Ga In. Kebetulan, pintu kamarnya tidak dikunci.

Chan Yeol diam mematung di ambang pintu. Ia memperhatikan Ga In yang duduk di atas ranjang, memunggunginya. Punggungnya yang kecil itu, bergetar hebat sementara kedua tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.

“Kau tahu…kau tampak hebat dengan gaun hitam dan sanggul itu. Kau seperti akan ke pemakaman saja.” ledek Chan Yeol, berusaha mencairkan suasana. Ga In berbalik, sekedar memberikan tatapan sinis kepada Chan Yeol.

“Kenapa kau datang!” bentak Ga In, suaranya bergetar, percampuran emosinya.

Chan Yeol masuk lebih dalam lagi lalu menutup pintu kamar Ga In. Duduk di atas ranjang Ga In, di belakangnya. Ga In tidak berusaha menghindar, ia hanya diam.

“Dengarkan penjelasanku atau setidaknya apa yang ingin kutawarkan.”

Tiba-tiba, Chan Yeol memaksa memeluk tubuh mungil Ga In, dari belakang. Tentu saja, Ga In berusaha memberontak, pada awalnya, tapi tidak lagi setelah Chan Yeol terus menerus memaksanya untuk tetap diam dan hanya mendengarkan.

“Aku hanya ingin berada di sampingmu. Siang itu, aku ingin menyatakan perasaanku, tapi ternyata kau sudah menyukai orang lain.” Chan Yeol menghembuskan napasnya, berat. “Aku mencintaimu sejak lama…jadi, aku rela jika setelah kita menikah nantipun, kau menduakanku…”

“Mwo?” tanya Ga In, tidak percaya.

“Ne, aku rela…asalkan kau tidak meninggalkanku, tetap berada di sampingku. Hanya itu permintaan dan penawaranku. Gomawo…sudah mau mendengarkan.” Chan Yeol melepaskan pelukannya terhadap Ga In, lalu cepat-cepat pergi dari sana. Tapi, langkahnya terhenti, tepat di ambang pintu karena Ga In memanggilnya.

“Kau terlihat tampan dengan pakaian itu, Yeol.”

Chan Yeol melihat pakaian yang dikenakannya dari atas ke bawah. Sepasang sepatu sniker berwarna hitam yang senada dengan blazer yang baru dibelinya serta kaus putih polos yang dipadukan dengan celana pensil berwarna biru laut. Chan Yeol tersenyum sejenak lalu pergi dari kamar itu, meninggalkan Ga In yang hanya menatap nanar punggung Chan Yeol yang semakin jauh. Seulas senyum dipaksakan, kembali menghiasi wajah manisnya.

—————-

3 tahun kemudian

“Ga In, aku akan pergi ke luar kota, tak perlu menungguku pulang. Tidur yang nyenyak.”

Chan Yeol memutus panggilannya lalu menghembuskan napas dengan berat. Rasanya, sudah terlalu sering Chan Yeol diperlakukan seperti ini sejak 3 tahun yang lalu, mereka resmi menikah. Tiap kali menelepon ke rumahnya, hanya ada kotak suara yang setia menerima panggilannya, tak lebih. Untung saja, telepon rumahnya belum diputus oleh Ga In.

Pantas Ga In ingin tinggal berpisah dari orang tuanya maupun orang tua Chan Yeol, karena ia tidak ingin terus menerus berada di rumah, bersama orang yang tidak dicintainya. Sejak malam sesudah Chan Yeol mengatakan bahwa ia rela diduakan, Ga In selalu bersikap dingin, padanya. Lebih parahnya lagi adalah, Ga In tidak pernah menganggap Chan Yeol berada di sekelilingnya, sebelum maupun sesudah menikah.

“Bicara dengan kotak suara lagi?” sindir Luhan yang kebetulan sedang duduk di hadapan Chan Yeol. Mereka tadi memang sedang membicarakan rencana kerja sama antar perusahaan masing-masing. Setelah 3 tahun, Chan Yeol telah menduduki jabatan wakil presdir karena diminta langsung oleh sang Appa, meskipun ia mendapatkan tugas pertama di perusahaan keluarganya sendiri, sebagai seorang pegawai rendahan.

“Ehm…pikiranmu saja. Aku bicara dengannya, tadi.” Luhan hanya berdecak kesal, menanggapi kebohongan Chan Yeol.

“Tapi kau yakin akan pergi sendiri ke  situs itu? Tidak apa kalau kau hanya menyuruh Kai seorang, sudah cukup.”

“Tidak apa, aku hanya ingin melihat situs itu sendiri. Memastikan apakah semuanya berjalan dengan lancar atau tidak.” jawab Chan Yeol lalu tersenyum. Senyumnya selalu manis, seperti biasanya.

“Bukan menghindari Ga In?” sindir Luhan dan langsung dibalas oleh gelengan singkat dari Chan Yeol. “Coba nyalakan televisi, kalau begitu.”

“Memang ada apa?” tanya Chan Yeol, bingung.

Luhan tak mau menjawab. Ia merebut remote yang berada di atas meja kerja Chan Yeol dan langsung menyalakan televisi. Mencari program  infotaiment yang mungkin menayangkan berita yang memang ingin ditunjukkannya kepada Chan Yeol.

“Lihat ini,” ucap Luhan lalu ia mengeraskan suara televisi.

Chan Yeol langsung menghentikan aktivitasnya, membaca dokumen yang baru saja diberikan Luhan saat mendengar nama Ga In disebut-sebut. Benar, gosip terpanas yang saat ini sedang ditayangkan adalah mengenai Ga In bahkan wajahnya terpampang jelas, di sana. Berjalan dengan mesra bersama Chow Zhou Mi, seorang pengusaha muda yang tampan, berbakat, dan benar-benar terkenal karena mobil-mobil sport yang berhasil dikeluarkan perusahaannya. Mereka berjalan dengan mesra sambil melewati kerumunan wartawan yang berusaha mewawancarai mereka.

Chan Yeol sungguh merasa sangat sakit hati. Apalagi, gosip itu sempat mengatakan bahwa Zhou Mi dan Ga In berencana untuk melangsungkan pernikahan tepat saat natal nanti. Chan Yeol hanya berusaha meredam emosinya sambil diam-diam mengepalkan tangan kirinya, erat-erat, tapi wajahnya tetap dihiasi senyum sambil memperhatikan gosip itu hingga selesai. Begitu gosip itu selesai, Luhan kembali mematikan televisi yang tergantung di pojok ruang kerja Chan Yeol, di dekat pintu untuk keluar masuk ruangannya.

“Bagaimana? Kau tidak kesal?” sindir Luhan. Sejujurnya, ia benar-benar sudah muak dengan kelakuan Ga In terhadap sahabatnya ini. Belum lagi, Ga In juga merupakan salah satu sahabatnya. Mereka selalu bersama, dulu. Antara Kris, Luhan, Chan Yeol, Kai, Tao, Sehun, dan satu-satunya yeoja di sana, Ga In. Hebatnya juga, mereka semua tahu bagaimana perasaan Chan Yeol terhadap Ga In. Hanya Ga In seorang yang tidak tahu apa-apa hingga saat ini.

“Kesal? Untuk apa?” Chan Yeol malah balik bertanya lalu kembali sibuk memperhatikan data yang diberikan Luhan, untuknya.

“Tentu saja kau harus kesal!” bentak Luhan. Ia memukul meja kerja Chan Yeol dengan kencang, berhasil menghentikan aktivitasnya dan memberikan tatapan bosan sambil memasang senyum terbaiknya untuk Luhan. “Dulu ia hanya mantan guru senimu, kawan!” Chan Yeol hanya terus tersenyum.

“Berhenti tersenyum, Yeol! Astaga, dia itu istrimu…buat dia mengerti!” bentak Luhan lagi.

“Untuk apa? Aku sendiri yang bahkan telah membiarkannya untuk mendua, jadi…untuk apa lagi?” Chan Yeol kembali tersenyum.

“Terserah, aku pergi duluan. Kutunggu di situs, malam nanti.”

Chan Yeol menunggu cukup lama setelah Luhan keluar dari ruangannya dan menutup pintu dari luar. Setelah yakin Luhan tidak akan kembali lagi, Chan Yeol baru meluapkan kekesalannya. Ia mengeluarkan sebotol wine berkadar alkohol tinggi dari lemari meja kerjanya, dengan tergesa-gesa. Tanpa menuangkannya ke dalam gelas terlebih dahulu, ia langsung meneguk seluruh isi wine itu dari botolnya. Meneguknya dengan rakus hingga cairan wine itu membasahi kemeja kerjanya.

Chan Yeol tak peduli apapun lagi. Ia hanya merasa kesal dan harus melupakannya dengan cepat. Hingga malam tiba, Chan Yeol masih meneguk botol winenya yang kedua. Memabukkan memang, tapi rasa sakit itu tetap ada.

“Kau bahkan tidak pernah mencemaskanku, jadi untuk apa aku hidup?” racau Chan Yeol. Sebenarnya, Chan Yeol sudah mabuk berat saat ini, tapi ia tetap meninggalkan kantornya dan memutuskan untuk mengemudikan mobilnya seorang diri. Meskipun dihujani puluhan klakson, tapi Chan Yeol tidak peduli dan malah semakin memacu mobilnya. Terus memacunya hingga mencapai batas maksimum di mana ia sudah mencapai jalan tol.

Semuanya berjalan dengan lancar, pada awalnya, tapi tiba-tiba, Chan Yeol seakan melihat Ga In duduk di sebelahnya, tersenyum untuknya. Chan Yeol senang bukan main dan menyebabkan dirinya tidak memperhatikan jalan dan menabrak dinding pembatas. Hal terakhir yang sempat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh Chan Yeol adalah saat tim medis mendatanginya, mengevakuasinya dari kecelakaan mematikan yang baru dialaminya. Setelah itu, semuanya berubah menjadi gelap.

—————

‘Tuan Park mengalami trauma di bagian otak kecilnya, menyebabkan koordinasi tubuhnya tidak akan begitu baik…tapi masih bisa diterapi. Sayangnya, kedua kornea matanya yang rusak tidak akan dapat sembuh kecuali ia mendapatkan donor.’

Penjelasan dokter, 3 hari setelah Chan Yeol tersadar dari koma selama sebulannya, masih terngiang dengan jelas di dalam pikiran Ga In. Ia benar-benar merasa bersalah akan kecelakaan yang menimpa Chan Yeol. Seandainya dan hanya seandainya, gosip rencana pernikahan antara dirinya dan Zhou Mi tidak dilihat oleh Chan Yeol, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Ga In mengetahui penyebab kecelakaan naas itu dari Luhan yang hingga detik ini memutuskan untuk memusuhinya, sama seperti Kai. Sebenarnya, berita itu hanya kebohongan belaka yang entah siapa yang menyebarkannya. Hubungannya dengan Zhou Mi, belum sejauh itu.

Ga In duduk termenung di samping ranjang rawat Chan Yeol. Ia tidak berbicara sama sekali dan berharap Chan Yeol tidak bertanya apapun, kepadanya.

“Ga In…” panggil Chan Yeol, lemah.

“Ne, Yeol…apa kau merasakan sakit lagi? Di mana sakitnya?” tanya Ga In, panik. Ia langsung tersadar dari lamunannya dan memeriksa tubuh Chan Yeol, sekilas.

“Aku tidak merasa sakit…aku hanya ingin bertanya.” Ga In kembali duduk sambil mengusap dadanya, pelan. Ia benar-benar merasa lega karena Chan Yeol baik-baik saja.

“Kenapa mataku harus dibalut perban? Apa tidak bisa dibuka?”

DEG!!!

Jantung Ga In seakan hampir berhenti, detik ini juga. Pertanyaan yang paling dihindarinya akhirnya dilontarkan juga dari mulut Chan Yeol sendiri. Rasanya lebih menyakitkan dan menegangkan ketimbang ketika kedua orang tua dan kedua mertuanya memarahinya habis-habisan karena peristiwa tragis ini.

“Ga In, kau masih di sana?” Chan Yeol berusaha menggerakkan tangan kanannya, berusaha menggapai Ga In. Sayangnya, tidak bisa, tangannya hanya bergetar hebat.

“Ga In, apa yang terjadi dengan tubuhku?” tanya Chan Yeol, polos.

“Mianhae….jeongmal mianhae…” ucap Ga In sambil menangis tertahan. Ia berusaha menahan tangisannya karena merasa tidak pantas untuk menangisi apa yang dibuatnya sendiri.

“Uljjima, katakan saja apa yang terjadi.” Suara Chan Yeol masih terdengar sabar, sangat sabar malah.

Ga In tidak sempat menjawab, pintu kamar rawat Chan Yeol tiba-tiba dibuka dari luar. Muncul Kai dan Luhan, langsung memberikan tatapan jijik kepada Ga In. Ga In langsung bangkit berdiri, menyambut kedatangan mereka lalu membungkuk memberi hormat.

“Yeol, aku tinggal dulu. Ada Luhan dan Kai, sengaja datang menjengukmu.”

“Jangan pergi, tetap di sini… Aku masih membutuhkan jawaban.” rengek Chan Yeol, tapi Ga In tetap keluar diam-diam karena Kai memberikan isyarat kepadanya untuk segera pergi. Isyarat yang lebih tepat digunakan untuk mengusir pergi seekor anjing.

“Ga In, kau masih di sana?” tanya Chan Yeol, panik.

“Ia sudah pergi keluar, Yeol. Hanya ada aku dan Kai di sini. Aku membawakan buah dan bunga untukmu…aku baik bukan?” Luhan meletakkan seluruh barang bawaanya di sebuah meja kecil di samping ranjang Chan Yeol lalu duduk di sebuah kursi kecil yang sebelumnya diduduki Ga In. Kai dengan setia, berdiri di belakang Luhan. Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya yang terkesan bad boy.

“Berapa lama aku tak sadarkan diri?”

“Woah!!! Kau lebih banyak bicara daripada hari pertama kau sadar.” Suara Luhan terdengar sangat antusias. “Kurang lebih sebulan.” sambungnya lagi.

“Sebulan? Bagaimana dengan perusahaan?” Chan Yeol benar-benar terkejut sekali. Ia tidak menyangka bahwa kecelakaan itu akan membuatnya tertidur selama sebulan penuh. “Berat badanku pasti bertambah.” canda Chan Yeol dan suasana tetap hening.

“Presdir meminta sepupumu untuk menggantikanmu.” jawab luhan, singkat.

“Lalu…kau tahu apa yang terjadi denganku, setelah kecelakaan itu?”

Luhan saling bertukar pandang dengan Kai. Mencoba bertanya lewat pandangan itu apakah dirinya harus memberitahu yang sebenarnya atau tidak.

Kai menggeleng pelan dan Luhan langsung mengerti. Biarlah anggota keluarga yang menjelaskan karena bagaimanapun juga, Luhan bukanlah anggota keluarga Chan Yeol. Hanya sahabat, tidak lebih, tidak kurang.

“Hyung, kurasa lebih baik bertanya pada Ga In Noona… Noona akan lebih leluasa untuk menjelaskannya,” ucap Kai tiba-tiba. Luhan menghela napas lega, ia tidak terpojok lagi.

“Kau benar Kai… Tapi masalahnya adalah ia tidak mau memberitahuku.” Terdengar kekesalan di sela-sela kalimat yang baru dilontarkan Chan Yeol. “Tolong panggilkan dokter, aku membutuhkan penjelasan.”

“Kami akan memanggilkan Ga In saja, bagaimana?” tanya Luhan. Jelas sekali tergambar kepanikan di wajah cantiknya itu.

“Terserah…yang jelas aku perlu penjelasan.”

Maka kunjungan singkat itu langsung berakhir. Kai dan Luhan keluar dari kamar rawat Chan Yeol dengan wajah yang sama-sama kusut. Mereka hanya menunggu di balik pintu kamar rawat Chan Yeol yang sudah tertutup. Menunggu Ga In yang sedang duduk di sebuah kursi panjang di depan kamar rawat Chan Yeol, tersadar dari lamunannya.

“Ga In-ssi.” panggil Luhan dengan enggan, tapi setidaknya, Ga In tersadar dari lamunannya.

Ga In menoleh dengan tatapan berbinar ke arah Luhan dan Kai. Baru kali ini, Luhan memanggilnya lagi dengan namanya, meski dengan panggilan formal.

“Chan Yeol menunggu penjelasanmu. Tolong jelaskan dengan sebaik mungkin, jangan buat ia semakin tertekan!” tekan Luhan lalu ia pergi bersama dengan Kai. Mereka sempat memberikan tatapan dingin lagi, sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Ga In.

Ga In masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kamar Chan Yeol. Ia menutup pintu perlahan lalu duduk di samping Chan Yeol tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia ingin memandangi wajah damai Chan Yeol untuk terakhir kalinya, sebelum semuanya berubah. Karena seperti yang sudah diketahuinya, Chan Yeol tidak akan pernah memaafkannya dan memiliki wajah damai seperti sekarang, setelah ia mengetahui apa yang benar-benar terjadi terhadap dirinya.

“Ga In? Kau ada di sana?” Ga In hanya membisu. Perlahan, air mata keluar dari kedua matanya.

“Ga In?”

“Ne.” Suara Ga In bergetar, menahan tangisannya. Ia tahu, ia harus menjelaskan semuanya cepat atau lambat dan sekarang, ia akan menjelaskannya perlahan-lahan.

“Ada apa sebenarnya? Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi padaku, setelah kecelakaan itu? Mian…aku banyak bertanya.”

“Yeol…” Ga In kembali terdiam. “Yeol…Yeol…”

“Berhenti memanggil namaku, tolong jawab pertanyaanku.” Terselip ketidaksabaran di sana, Chan Yeol memiliki perasaan buruk.

“Mianhae…jeongmal mianhae… Aku memang salah dan kau patut untuk memarahiku.” Ga In menghembuskan napasnya, berat. Kedua tangannya bergetar hebat dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

“Yeol, aku akan menemanimu tera-terapi tiap harinya.”

“Terapi? Untuk apa?”

“Koordinasi tubuhmu…kau mengalami…mengalami trauma pada bagian otak kecilmu.” jawab Ga In, lirih.

“MWO!!!” teriak Chan Yeol. “It-itu berarti…”

“Mianhae…jeongmal mianhae…”

—————

Semenjak Chan Yeol mengetahui keadaannya yang sebenarnya setelah kecelakaan, sikapnya berubah 180°. Dingin, penuh kebencian, pendendam, dan selalu menggerutu. Tak ada satupun lagi yang benar, jika hal itu dilakukan oleh Ga In.

Saat Ga In memutuskan untuk memasang besi pegangan di sepanjang rumah mereka, Chan Yeol sangat marah dan merasa tersinggung. Ia menganggap bahwa Ga In hanya memperlakukannya seperti orang cacat. Lalu ketika Ga In hendak membantunya mengenakan pakaian, makan, dan bahkan membantunya untuk membersihkan tubuhnya, Chan Yeol marah bukan main dan melontarkan kata-kata sinis kepada Ga In. Menyebut-nyebut nama Zhou Mi ketika Ga In bahkan sudah jarang bertemu dengannya.

Sejujurnya, Ga In merasa sangat terluka. Akan tetapi, di lain sisi, Ga In merasa sangat pantas untuk diperlakukan seperti saat ini. Ga In hanya menganggap tingkah laku dan perkataan Chan Yeol saat ini, adalah hukuman yang setimpal dengan perbuatannya dengan Zhou Mi dulu.

“Ga In! Ga In!”

Ga In langsung tersadar dari lamunannya dan segera berlari menuju kamar Chan Yeol, yang saat ini berada di lantai satu, dari dapur. Awalnya, Ga In sedang sibuk membuat sup rumput laut karena hari ini adalah hari ulang tahun Chan Yeol.

Ga In dan Chan Yeol memutuskan untuk pisah kamar. Sebenarnya, Ga In ingin tetap sekamar dengan Chan Yeol agar lebih mudah untuk membantunya di malam hari, akan tetapi Chan Yeol bersikeras bahwa ia tidak mau dan tidak akan pernah mau lagi sekamar dengan seseorang yang sudah berhubungan dengan pria lain.

“Ne, Yeol,” ucap Ga In, di ambang pintu kamar Chan Yeol. Chan Yeol sedang duduk diam di atas ranjangnya, memandang lurus ke depan, ke arah jendela yang tidak pernah bisa dilihatnya lagi, apa yang berada di luar sana. Ia bahkan tidak tahu bahwa jendela itu membuatnya dapat melihat keadaan di kamar Ga In, yang juga pindah dari kamar lama mereka, di lantai atas.

“Berhenti memanggilku seperti itu!” bentak Chan Yeol. Ia menghempaskan seluruh barang yang berada di atas meja kecil di samping ranjangnya. Lampu dan bingkai foto berisi foto pernikahan mereka, langsung pecah begitu menyentuh lantai, mengejutkan Ga In yang tidak sanggup berkata apapun. Dulu, foto itu adalah benda kesayangan Chan Yeol. Ia akan memandanginya sebelum pergi tidur.

“Kapan orang tuaku datang?”

“Lusa…Eomma dan Appa akan datang lusa.” Suara Ga In bergetar dan Chan Yeol tentu sangat menyadarinya. Sejujurnya, Chan Yeol merasa kejam, memperlakukan Ga In seperti ini. Akan tetapi, Chan Yeol hanya manusia biasa yang tersulut emosinya karena dirinya yang saat ini menjadi cacat.

“Lusa? Kau pasti senang.”

“Apa maksudmu?” Ga In benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan Chan Yeol barusan.

“Kau bisa menemui Zhou Mi lebih leluasa…ah, kau bahkan bisa membawanya ke rumah ini. Bermain liar di dalam kamar yang dulu kita tempati.”

“Yeol…” Ga In tidak percaya, sungguh tidak percaya, Chan Yeol bisa mengatakan hal seperti itu ketika bahkan saat ia berselingkuh dengan Zhou Mi dulu, Zhou Mi tidak pernah menyentuhnya sampai sejauh itu.

Chan Yeol tertawa terbahak-bahak. Ia merasa menang dengan apa yang dikatakannya barusan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia menorehkan luka lebih banyak, di sana.

“Kenapa tidak menjawab? Kapan Zhou Mi datang? Kapan kalian akan memulai permainannya? Lagipula aku tidak bisa melihat, bukan?” Ga In meremas ujung celemek yang masih digunakannya kemari. Ia merasa benar-benar direndahkan, saat ini. Belum pernah semenjak sebulan yang lalu Chan Yeol pulang ke rumah ini, ia begitu merendahkan Ga In. Ini yang pertama.

“Aku akan membawakan sup rumput laut untukmu. Saegil chukkae, Park Chan Yeol.” Ga In segera berbalik, hendak pergi dan menangis untuk menumpahkan seluruh kekesalannya, tapi panggilan Chan Yeol berhasil membuatnya membeku di tempat.

“Buang saja…aku tidak akan memakannya. Buat aku dapat melihat lagi untuk ulang tahunku atau bunuh dirimu sendiri…dan aku akan merasa puas.”

“Ne, aku akan melakukannya.” jawab Ga In, dingin. Sebenarnya, jawaban Ga In yang dingin adalah untuk menutupi rasa sakit hatinya yang sepertinya sudah benar-benar tidak bisa ditutupi lagi. Memang Chan Yeol pantas untuk melakukannya dan Ga In akan mengabulkannya dengan senang hati, lagipula Chan Yeol sudah memintanya sendiri.

Chan Yeol merasa sangat kesal dengan jawaban Ga In yang seakan menganggapnya angin lalu. Apalagi begitu ia mendengar suara pintu kamarnya ditutup perlahan, sakit hatinya kembali meradang dan ingin menghancurkan semua yang ada di dalam kamarnya. Tapi pada akhirnya, Chan Yeol memutuskan untuk tetap duduk di atas ranjangnya sambil menggerutu. Menggerutu akan hal yang tidak pernah ia tahu pasti apakah memang dilakukan oleh Zhou Mi dan Ga In atau tidak.

‘Ne, aku akan melakukannya.’

Perkataan Ga In setengah jam yang lalu, kembali terngiang di dalam kepalanya. Chan Yeol merasa cemas sekarang. Ia takut, Ga In akan melakukan tindakan gegabah dan pergi selama-lamanya dari dirinya.

Rasa cemas yang semakin menjadi itu, memaksa Chan Yeol untuk turun dari atas ranjangnya. Terapi yang dilakukannya selama sebulan, ternyata lumayan membantu. Setidaknya, Chan Yeol dapat berjalan perlahan-lahan sambil berpegangan ke barang-barang di sekitarnya. Baru kali ini, ia memaksakan diri untuk pergi seorang diri dan merasa seperti anak batita yang baru bisa berjalan.

“Akh…” ringis Chan Yeol lalu ia duduk perlahan-lahan ke lantai. Diraba-rabanya, telapak kaki sebelah kanannya dan ia menemukan bahwa sebilah beling menancap di sana.

Aku tidak boleh meminta bantuan, aku tidak boleh, teguh Chan Yeol dalam hatinya. Chan Yeol hanya duduk diam di sana, berusaha mengurangi rasa sakitnya dengan menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia mengepalkan kedua tangannya, kuat-kuat dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Tiba-tiba seorang pria jangkung membuka pintu kamarnya perlahan-lahan. Awalnya hanya untuk mengecek, tapi pria itu akhirnya merasa kasihan dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Chan Yeol. Ia berjongkok di samping Chan Yeol, memperhatikan dalam diam, apa yang terjadi terhadap Chan Yeol.

“Nu-nugusseo?” Chan Yeol berusaha untuk tetap menahan rasa sakitnya.

“Kau harus ke rumah sakit, Chan Yeol-ssi. Biar aku membantumu, sekarang.”

DEG!!!

Suara itu, suara orang paling brengsek yang pernah didengar oleh Chan Yeol. Suara pria keparat yang sudah membuatnya cacat seperti sekarang ini. Chow Zhou Mi, pria yang selalu berada di dalam hati Ga In.

“Untuk apa kau di kamarku?” tanya Chan Yeol, sinis. “Keluar!” bentaknya, tanpa menunggu jawaban Zhou Mi.

“Biar aku membantumu.” Zhou Mi berusaha menarik tubuh Chan Yeol, membantu untuk memindahkannya ke atas ranjang sambil menunggu tim medis datang, tapi dengan kasar, Chan Yeol menepis dan mendorong tubuh Zhou Mi, asal.

“Jauhi aku, keparat!” teriak Chan Yeol, gusar. Bahkan setetes air mata meluncur keluar begitu saja, karena ia merasa terlalu kesal. “Mana Ga In? Apa sekarang kau tinggal di rumah ini?”

“Jaga bicaramu, Chan Yeol-ssi…nanti Ga In mendengarnya.”

“Biar…biar gadis itu mendengarnya. Biar ia malu dan merasa bersalah kepadaku.” tegas Chan Yeol.

“Neo…” Zhou Mi mencengkram kerah kemeja Chan Yeol, membuat tubuhnya sedikit terangkat bersama dengan Zhou Mi yang sudah dalam posisi setengah berdiri.

“Omo!” Ga In begitu terkejut hingga tanpa sengaja, menjatuhkan mangkuk berisi sup rumput laut dari tas nampannya. “Apa yang kau lakukan, Zhou Mi?” tanya Ga In, masih terpaku di ambang pintunya.

Zhou Mi terpaksa melepaskan Chan Yeol, menghempaskan tubuhnya ke belakang. Ia bangkit berdiri sambil menatap jijik kepada Chan Yeol. “Aku belum selesai denganmu, Chan Yeol-ssi.” ancamnya lalu melangkah dengan cepat ke arah Ga In dan membawanya pergi dari sana.

Zhou Mi terus menyeret Ga In hingga mereka berdua sampai di ruang tamu. Zhou Mi menghempaskan tangan Ga In dengan kasar, menatapnya langsung dengan tatapan mengintimidasi.

“Mau sampai kapan, mau sampai kapan kau melakukan semua ini? Kau tahu kalau kau tidak hanya melukai dirimu seorang, bukan? Kau juga melukaiku, Chan Yeol, dan seluruh keluarga serta sahabatmu!” teriak Zhou Mi. Ia benar-benar emosi dengan kebodohan Ga In yang sepertinya seakan sudah benar-benar akut.

“Sampai aku siap…sampai aku siap untuk menyudahi semuanya.” balas Ga In dan Zhou Mi hanya bisa memberikan tatapan yang sama seperti sebelumnya. “Dan sayangnya, kurasa aku sudah siap sekarang.” sambung Ga In, lemah.

Kedua mata Zhou Mi membesar, mendengar ucapan terakhir Ga In. Ia tidak percaya bahwa Ga In akan begitu mudahnya menyerah. Ia merasa tidak dihargai oleh Ga In, untuk semua bantuannya selama ini.

“Andwae…andwaeyo…kau tidak boleh melakukannya, aku akan mencarinya lagi.” Zhou Mi mencengkram kedua lengan Ga In, kuat-kuat. Bentuk permohonannya agar Ga In tidak gegabah dan membuang nyawanya begitu saja.

“Aku harus, aku akan melakukannya. Lagipula, ini adalah bentuk pertanggungjawabanku dan juga penyesalanku. Hanya aku yang bisa, hanya aku yang cocok, sejauh ini.” Ga In melepaskan cengkraman Zhou Mi dan berbalik. “Tutup pintunya saat kau pergi nanti. Aku akan menemui Chan Yeol, sekarang.”

Ga In baru akan pergi tapi tiba-tiba Zhou Mi memeluknya dari belakang. Baru kali ini, Zhou Mi menangis untuknya. Menangis sambil memohon agar Ga In tidak melakukan apa yang ditakutinya. Memohon agar Ga In melupakan Chan Yeol, menjadi wanita jahat berhati dingin dan pergi jauh bersamanya. Tapi Ga In tidak sanggup melakukan semua itu. Ia hanya kembali berbalik dan memeluk Zhou Mi untuk terakhir kalinya.

“Pergilah dalam diam. Hanya kau yang tahu, masalah yang akan terjadi.” Ga In mendorong pelan, tubuh Zhou Mi. Memberikannya tatapan sinis agar Zhou Mi cepat pergi, pergi jauh-jauh.

Zhou Mi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia terpaksa pergi dengan rasa sakit hatinya. Merelakan Ga In untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Sebelum keluar, Zhou Mi melihat Ga In, sekali lagi.

Baru Ga In menutup pintu rumahnya untuk Zhou Mi, mobil dokter Lee, dokter yang membantu Chan Yeol terapi, tiba. Ga In segera berjalan keluar dan menyambutnya dengan wajah sumringah sambil membungkukkan tubuhnya.

Saat Dokter Lee mengobati Chan Yeol, Ga In tidak berada di sampingnya. Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan membersihkan sup yang tumpah dan pecahan lampu serta bingkai foto yang dipecahkan Chan Yeol. Lalu, ia memutuskan untuk pergi tanpa suara sedikitpun.

“Park doryeonim, donor kornea untukmu sudah ada yang cocok.”

“Oh, geurae?” Chan Yeol seakan tidak bersemangat mendengarnya.

“Saya mendapat datanya, pagi tadi. Kami akan melakukan operasi, besok siang seperti yang dijadwalkan oleh presdir.”

“Ne… Tolong jangan beritahu Ga In. Aku ingin menjalani operasi itu sendiri tanpa ada dirinya, di sekitarku.”

————–

Chan Yeol tidak pernah menyangka bahwa 2 bulan setelah ia dapat melihat kembali, ia tidak pernah mendapat kabar maupun melihat Ga In lagi. Kedua orang tuanya saja bahkan tidak mengetahui di mana Ga In berada. Inilah yang ditakuti olehnya. Ga In akan kembali menjauhi bahkan melarikan diri darinya, setelah dapat melihat kembali. Benar, itulah yang dirasakan Chan Yeol kepada Ga In, saat ini. Belum lagi dengan surat cerai yang tiba-tiba diantarkan pengacara Seo, kepadanya, sepulang dari rumah sakit. Semakin membenarkan bahwa selama ini, Ga In hanya terus bersama dengannya karena rasa kasihan. Cintanya tidak akan pernah mati untuk seorang Chow Zhou Mi.

Hari ini, entah ada angin apa, Zhou Mi mengajaknya bertemu di sebuah taman di dekat perusahaan keluarga Park. Awalnya, Chan Yeol tidak ingin bertemu Zhou Mi karena takut jika luka lamanya terbuka kembali. Tapi ternyata, Zhou Mi mengatakan ingin membahas mengenai Ga In, masalah yang menimpa Ga In selama ini, yang membuat hubungan mereka hancur, jadi Chan Yeol memutuskan untuk pergi menemui Zhou Mi.

“Aku tidak punya banyak waktu, langsung saja ke intinya.”

Zhou Mi menatap sinis kepada Chan Yeol. Ia bahkan belum duduk di sampingnya dan sudah menuntut penjelasan secara tiba-tiba. Pantas untuk ditinggalkan, batin Zhou Mi.

“Tidak mau duduk dulu?” Chan Yeol tetap berdiri di tempatnya sambil memberikan tatapan dingin.

“Baik…aku langsung ke intinya.” Zhou Mi merogoh kantung dalam jasnya, menarik sebuah amplop dari sana lalu menyerahkannya kepada Chan Yeol.

“Apa ini?” tanya Chan Yeol saat menerima surat itu. Suaranya benar-benar dingin.

“Bacalah, kau akan mengerti.” Zhou Mi bangkit berdiri lalu meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah dan ia kembali berbalik, melihat Chan Yeol yang masih terdiam.

“Oi!” panggil Zhou Mi. Chan Yeol menatapnya dengan tatapan sinis.

“Aku hanya mantan guru seni kalian, tidak lebih.” Lalu Zhou Mi pergi dari sana. Kembali ke dalam mobil sedan mewahnya dan melajukannya dengan kencang. Chan Yeol menatap kepergian Zhou Mi dengan tatapan bingung.

Pada akhirnya, Chan Yeol kembali ke ruang kerjanya sambil membawa amplop pemberian Zhou Mi. Ia bingung apakah harus membukanya atau tidak, yang jelas…ia merasa sangat bodoh, saat ini. Ia baru sadar bahwa ia tidak sempat menanyakan ada di mana Ga In sekarang atau mungkin sekedar kabarnya.

“Aku harus membukanya.” Lalu Chan Yeol membuka amplop itu. Ternyata isinya adalah 3 lembar surat yang ditulis sendiri oleh Ga In. Ia hapal bagaimana tulisan tangan Ga In dan merasa begitu menyesal, setelah membacanya. Ia baru mengetahui bahwa ternyata selama ini, ia adalah orang yang tidak pernah mengerti Ga In. Ia hanya orang yang bisa berburuk sangka, bukan sahabatnya.

“Eomma…kurasa Ga In…Ga In…dia…” Chan Yeol menggigit bibir bawahnya. Ia berusaha menahan tangisannya untuk melanjutkan perkataannya kepada mertuanya. “Kurasa…ia su-sudah tidak…ada di dunia in-ni lagi.”

—————

“Saem, kurasa…Chan Yeol tidak pernah menyukaiku. Kupikir ia menyatakan perasaannya kepadaku, ternyata ia hanya menjadikanku alat latihan untuk menyatakan perasaan pada siswi lain.”

“Tak perlu bersedih, aku…guru senimu, Chow Zhou Mi…ada di sini. Saranghae, Park Ga In…jadilah yeojachinguku”

-malam perpisahan, 2008-

“Zhou Mi-ssi, Chan Yeol mengatakan bahwa aku boleh menduakannya setelah menikah nanti. Kenapa ia seakan mengatakannya dengan mudah? Kenapa ia tidak pernah bisa menaruhku di dalam hatinya saat ia mengatakan bahwa ia mencintaiku?”

“Uljjima…Chan Yeol hanya masih terlalu muda untuk mengetahui apa yang namanya cinta. Tapi aku merasa yakin bahwa aku mencintaimu dan mengerti dirimu, Park Ga In.”

-makan malam perjodohan, 2010-

“Aku akan mendonorkan korneaku, untuknya. Aku ingin ia dapat tersenyum kembali, tidak menggerutu terus. Dokter yang kudatangi tadi sudah menyatakan bahwa korneaku cocok. Aku dan Chan Yeol ternyata cukup berjodoh. Aku senang.”

“Andwae, Ga In. Kau tidak boleh melakukan itu! Pergilah bersamaku.”

“Aku harus menebusnya, Zhou Mi-ssi. Mianhae karena memberikanmu harapan palsu, selama ini. Aku akan pergi menemui Dokter Lee, sekarang. Aku akan menandatangani surat untuk mendonorkan korneaku.”

-seminggu setelah Chan Yeol pulang, 2013-

“Bantu aku… Tutupi kematianku nanti. Aku akan sangat berhutang kepadamu.”

“Shireo.”

“Zhou Mi-ssi, jebal…jebal… Ini untuk Chan Yeol juga.”

“Shireo, Park Ga In! Kenapa kau hanya peduli kepadanya? Kenapa hanya dia yang ada di hatimu?”

-rumah sakit, terapi Chan Yeol, 2013-

“Menikahlah denganku dan tinggalkan Chan Yeol. Ini akan lebih baik daripada kau meninggal.”

“Jebal…jangan terus menyiksaku, Park Ga In.”

“Aku tidak bisa. Aku harus bertanggungjawab akan keegoisanku.”

“Park Chan Yeol yang egois! Pabbo yeoja…jeongmal pabbo yeoja!”

-Kaki Chan Yeol terluka, 27 November 2013-

“Aku ingin bersama dengannya terus-menerus…bukan karena keluarga kami dekat, bukan karena perjodohan, atau karena hubungan 14 tahun kami. Aku ingin bersama dengannya jika ia memang mencintaiku, sama seperti aku yang mencintainya.”

-The End-

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s