A Warewolf Boy

Title : A Warewolf Boy

Author : Catharina Griselda

Genre : fantasy, action, a bit romance

Main Cast : Hwang Yoon Mi ( Fic )

                    Wu Yi Fan / Kris ( EXO-M )

                    Kim Joon Myeon / Suho ( EXO-K )

Support Cast : Kim Min Seok / Xiumin ( EXO-M )

                        Tao ( EXO-M )

                        Sehun ( EXO-K )

                        Chanyeol ( EXO-K )

 Cameo: Luhan ( EXO-M ), Baekhyun ( EXO-K ), Lee Soo Hyuk ( actor )

              { the king’s guard }

               Kim Myungsoo ( Infinite )

Disclaimer : This Fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves.

                     So, don’t bash me!

Pagi ini bukanlah pagi yang menyenangkan bagi seorang Hwang Yoon Mi. Setelah semalam suntuk ia habiskan untuk mabuk-mabukkan karena patah hati, kini ia terbangun di atas ranjang orang asing. Mengenakan pakaian lengkap, tapi ada seorang pemuda yang tidur di sampingnya. Pemuda berwajah tampan dan mungkin terlihat sedikit…mempesona?

Yoon Mi berusaha untuk duduk, lalu mungkin ia melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu keluar dari kamar ini dan pergi pulang ke apartemennya. Tapi, ia baru sadar sesuatu saat berusaha untuk duduk dan ternyata tidak bisa. Pemuda itu melingkarkan tangannya di pinggang Yoon Mi. Melingkarkan tangannya dengan sangat erat seakan pemuda itu sadar sepenuhnya dan tidak mau melepaskan Yoon Mi.

Dasar pemuda cabul, omel Yoon Mi dalam hati. Yoon Mi berusaha menyingkirkan tangan itu. Awalnya perlahan, tapi berubah menjadi kasar. Syukurlah bisa lepas setelah Yoon Mi berusaha mati-matian.

Rasanya masih pusing dan mual saat Yoon Mi duduk di atas ranjang yang sepertinya milik pemuda asing di sampingnya. Yoon Mi memegangi perutnya, berusaha menahan rasa mual yang benar-benar menyiksanya. Ia tidak pernah menduga bahwa perasaan sehabis mabuk berat akan seperti ini. Kalau tahu, Yoon Mi pasti tidak akan pernah mencobanya. Ia akan tetap bertahan dengan rasa sakit hatinya dalam keadaan sadar total.

“Sudah bangun?”

Yoon Mi menoleh dengan malas ke arah pemuda yang ada di sampingnya. Jujur saja, ia kesal dan merasa harga dirinya benar-benar sudah diinjak-injak.

“Apa kau baik-baik saja?” Pemuda itu sudah dalam posisi duduk, sejajar dengan Yoon Mi dan berusaha menyentuh dahi Yoon Mi, tapi dengan cepat, Yoon Mi menepisnya. Kurang ajar, batin Yoon Mi.

“Tidak perlu segalak itu, Hwang Yoon Mi…kalau bukan karena aku, kau pasti sudah menjadi bulan-bulanan para lelaki hidung belang di bar semalam,” ucap pemuda itu dengan nada sinis sambil beranjak meninggalkan ranjangnya. Pemuda yang sangat menjijikkan, itu yang tergambar jelas dari sorot mata Yoon Mi saat ini.

“Begitukah caramu berterima kasih, Yoon Mi? Dengan sorot mata munafikmu itu?” tanya pemuda itu, masih berdiri di samping ranjangnya.

“Baik, begitulah caraku menilaimu. Menurutku, kaulah lelaki hidung belang itu, dasar kurang ajar!” gertak Yoon Mi, lalu ia juga beranjak dari ranjang. Berjalan sempoyongan sambil memegangi perutnya yang terasa semakin mual. Hendak pergi ke arah pintu di mana Yoon Mi bisa meninggalkan kamar itu dan pergi jauh dari pemuda tak tahu diri yang membawanya pulang, semalam.

Sayangnya, saat sampai di depan pintu dan Yoon Mi menarik kenopnya, pintu itu sama sekali tidak terbuka. Terkunci dan saat Yoon Mi menengok ke belakang, ia bisa melihat samar-samar pemuda itu memberikan tatapan penuh kepuasan sambil memainkan kunci kecil di tangannya.

Sial! umpat Yoon Mi dalam hati. Berarti, Yoon Mi harus memohon kepada pemuda itu untuk membukakan pintu kamar ini untuknya, jika pemuda itu mau melakukannya. Jika tidak, entah apa yang terjadi.

“Berikan kuncinya, aku harus pergi kerja,” ucap Yoon Mi, ketus.

“Mintalah dengan baik, Yoon Mi. Setidaknya kau harus berterima kasih lebih dulu lalu tanyakan namaku setelah itu baru tanyakan apa yang bisa kau lakukan untuk membalas kebaikanku.”

Yoon Mi hanya bisa mendengus kesal. Pemuda ini benar-benar membuat kepalanya terasa semakin berputar. Mungkin, hal ini terasa lucu di mata pemuda itu, tapi tidak bagi Yoon Mi. Tapi, jika ingin keluar, maka setidaknya Yoon Mi harus berpura-pura.

“Baiklah…terima kasih karena sudah menyelamatkanku semalam. Siapa namamu, tuan? Apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu?” Yoon Mi berusaha sebisa mungkin untuk menjaga nada bicaranya, karena bagaimanapun juga ia merasa sangat kesal. Ingin rasanya menampar pemuda di hadapannya dan memakinya karena telah melecehkannya. Membawa orang yang tak sadarkan diri ke atas ranjang adalah sebuah tindakan pelecehan, meskipun tidak melakukan apa-apa, tapi tetap saja. Mereka sama-sama wanita dan pria dewasa saat ini.

“Aku suka caramu berbicara, Yoon Mi…” Pemuda itu berjalan beberapa langkah, mendekati Yoon Mi. Memaksa Yoon Mi untuk mundur selangkah dan langsung menabrak pintu kayu di belakangnya.

“Namaku Wu Yi Fan, kau bisa memanggilku Kris karena aku lebih suka dipanggil seperti itu.” Lalu pemuda itu, Kris, memberikan seulas senyum tipis di wajahnya. Mendekati Yoon Mi yang sudah benar-benar tidak bisa mundur lagi.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres dan akan menimpa dirinya sebentar lagi, Yoon Mi berusaha menghindar, tapi ia kalah gesit dengan Kris yang tiba-tiba meletakkan tangannya di sisi tubuh Yoon Mi. Sangat dekat, memenjarakan tubuh Yoon Mi yang mulai sedikit bergetar ketakutan.

Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Yoon Mi. Yoon Mi yang merasa terdesak, tanpa pengendalian diri lagi, segera menampar Kris cukup keras. Ia terlalu takut tapi berhasil membuat Kris mundur beberapa langkah.

“Kenapa kau memukulku!” bentak Kris sambil memegangi pipi sebelah kanannya yang memerah. Pasti sakit rasanya.

“Dasar cabul!” bentak Yoon Mi tak mau kalah.

“Cabul katamu! Keterlaluan! Aku hanya ingin memberitahukan keinginanku agar kau bisa menebus kebaikanku!” Kris balas membentak.

“Tapi tidak perlu dari jarak sedekat itu, aku hanya berusaha melindungi diriku.” Suara Yoon Mi memelan, ia kembali merasa takut dengan bentakan Kris yang terakhir.

“Baik, kalau begitu keinginanku hanya satu dan kau harus mengabulkannya karena ini sangat mudah.”

“Baik, apa itu?” Yoon Mi melihat ke arah jam tangannya, sekilas. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 tepat. Tinggal 15 menit lagi dan ia akan langsung dipecat jika belum sampai di sana.

“Kau tidak sabaran rupanya…..Aku ingin kau datang ke apartemenku tiap malam bulan purnama.”

“Malam bulan purnama? Untuk apa?”

“Hanya datang setiap malam itu ke apartemenku, tak usah banyak tanya. Sekarang pergilah.”

Kris melemparkan kunci yang dipegangnya ke arah Yoon Mi. Untung, Yoon Mi dapat menangkapnya tanpa meleset sama sekali. Mempercepat langkahnya, keluar dari kamar Kris.

Dasar bodoh, aku tidak akan kembali. Tidak akan pernah, batin Yoon Mi. Ia berlari kecil ke arah pintu depan, pintu yang akan membawanya keluar dari apartemen Kris.

Tinggal selangkah lagi dan tiba-tiba Kris meneriakkan sesuatu. Berhasil membuatnya cukup terkejut dan diam di tempat.

“Jangan pikir aku bodoh! Jika kau tidak datang saat malam bulan purnama, maka aku yang akan mendatangimu dan mencabikmu menjadi potongan-potongan kecil!” Teriakan itu terdengar seperti ancaman. Nada bicaranya juga  terdengar serius.

Akhirnya, Yoon Mi berhasil meninggalkan apartemen Kris dan segera pergi ke halte bis. Beruntungnya, sudah ada bis yang menunggunya, jadi ia langsung masuk ke dalam bis tanpa perlu menunggu lama.

Di dalam bis, sempat terpikir oleh Yoon Mi, mengapa Kris bisa mengetahui nama lengkapnya, namanya yang sesungguhnya. Padahal, Yoon Mi tidak pernah mengenal Kris sebelum peristiwa ini, bertemu saja belum pernah. Hanya mantan namjachingunya dan kakaknya yang mengetahui namanya yang sesungguhnya. Orang lain, kenalannya, dan para pekerjanya biasanya memanggilnya dengan nona Kim atau Kim Yoon Mi, marganya mengikuti sang Kakak angkat.

Yoon Mi menginjakkan kakinya di kantor tepat lebih 1 menit dari waktu yang ditakutinya. Sungguh hari yang sial. Belum lagi, ia ke kantor dalam keadaan benar-benar kacau. Hanya membawa sebuah ponsel, dompetnya, dan tentunya bau alkohol di sekujur tubuhnya. Benar-benar penampilan sempurna.

Sampai di lantai 5, lantai di mana meja Yoon Mi berada, bersebelahan dengan sahabat semasa kuliahnya, Kim Myungsoo, si pegawai teladan.

“Pak kepala menunggumu di kantornya,” ucap Myungsoo tanpa melihat ke arah Yoon Mi. Ia sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen di mejanya.

“Aku harus pergi sekarang?” tanya Yoon Mi ragu. Sungguh, ia berharap Myungsoo menjawab tidak, tapi kenyataannya, jawabannya malah ya.

Yoon Mi terpaksa kembali menaiki lift hingga ke lantai 7. Menyusuri lorong di lantai 7 sambil berdoa dalam hati. Berharap sang pimpinan hanya memarahi tapi tidak memecatnya. Memalukan jika ia sampai dipecat Kakak angkatnya sendiri.

“Kau terlambat lagi hari ini.” sindir sang pimpinan, begitu Yoon Mi menutup pintu ruangannya kembali. Sungguh, hati Yoon Mi langsung bergetar begitu mendengar ucapan itu dikatakan oleh kakaknya sendiri.

Yoon Mi mendekati meja kakaknya. Menunggu sang Kakak memberi izin untuk duduk, barulah ia duduk. Duduk berhadapan, sangat menguji adrenalin.

“Kenapa hari ini kau terlambat, huh?”

“Jalanan macet…”

Kakaknya langsung menggebrak meja kerjanya sendiri. Ia sangat kesal. Sekarang, adiknya sudah berani berbohong.

“Jangan berbohong! Jelas-jelas kau bau alkohol! Apa kau menginap di rumah seseorang kemarin malam!” bentak sang Kakak yang sudah benar-benar emosi. “Kau tidak pulang semalam!”

“Maaf…..Aku memang menginap semalam, tapi karena tidak sadarkan diri bukan karena kehendakku sendiri.” Akhirnya Yoon Mi terpaksa mengaku. Lagipula untuk apa berbohong lagi saat sudah tertangkap basah.

“Tak sadarkan diri, katamu! Pulang sekarang juga dan benahi dirimu! Kita bicara lagi di rumah!” Yoon Mi segera berdiri dan mengambil langkah cepat ke pintu. Tapi sebelum keluar, kakaknya sempat mengatakan bahwa mulai hari ini, ia tidak akan lagi dibiarkan membawa mobil sendiri. Mulai hari ini dan seterusnya, ia akan diantar jemput seperti seorang anak kecil.

Yoon Mi sampai ke rumahnya dan segera berendam air panas. Ia memasukkan banyak sekali sabun ke dalam air panasnya karena ia merasa bau alkohol di sekujur tubuhnya benar-benar menyengat. Setidaknya, berendam membuatnya lebih rileks, tidak pusing, dan tidak mual lagi.

Selesai berendam dan merasa lebih segar, Yoon Mi memutuskan untuk bekerja di rumah. Membereskan beberapa dokumen yang seharusnya diserahkannya hari ini, di kantor, kepada sang presdir Kim Joon Myeon.

Saat sibuk-sibuknya bekerja seorang diri di dalam kamarnya, tiba-tiba Yoon Mi merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di dalam kamarnya. Angin kencang tiba-tiba menerpa masuk ke dalam kamarnya dari jendela yang tiba-tiba terbuka. Aneh bisa terbuka tiba-tiba, padahal Yoon Mi merasa selalu mengunci jendela kamarnya rapat-rapat.

Tak mau ambil pusing, Yoon Mi kembali menurunkan jendelanya ke bawah, menguncinya, lalu menutup gordennya. Bisa bahaya jika angin terus masuk ke kamarnya dan menerpa dokumen di atas mejanya. Joon Myeon akan langsung meninggal dalam usia muda jika semua ini hilang.

Yoon Mi kembali tenggelam dalam pekerjaannya untuk sesaat, sebelum ia kembali terganggu. Kali ini, ia merasa tidak seorang diri di kamarnya. Seperti ada yang berdiri di belakangnya, mengawasinya.

Aneh, mana mungkin siang-siang seperti ini bisa ada hantu, batin Yoon Mi. Merasa semakin risih, akhirnya Yoon Mi menoleh ke belakangnya. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Hanya pikirannya saja yang terlalu paranoid.

Drt…Drt…Drt…

Yoon Mi segera berbalik dan memeriksa ponselnya yang berada di atas meja. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Biasanya, Yoon Mi akan langsung menghapus pesan dari nomor asing, tapi kali ini, Yoon Mi memutuskan untuk mengeceknya terlebih dahulu. Ternyata, pesan dari Kris, si pemuda cabul.

‘Kau sedang diawasi. Ingat untuk menemuiku bulan depan, jika masih ingin hidup.’

“Dia pikir dia itu siapa,huh?” gumam Yoon Mi lalu kembali larut ke dalam pekerjannya.

Karena terlalu larut dalam pekerjaan, Yoon Mi bahkan melewatkan waktu makan siangnya. Terus bekerja karena ia harus memberikan tumpukan dokumen itu besok, jika tidak ingin kena marah. Seharusnya hari ini dan langsung kena marah. Jadi diusir dari kantor pagi tadi, merupakan sebuah keuntungan tersendiri bagi Yoon Mi.

Tak terasa, waktu sudah tepat pukul 6 sore. Perut Yoon Mi mulai merasakan lapar. Jadi ia turun ke bawah dan melahap sayuran hangat yang tersedia di lantai bawah. Biasa, seorang pelayan harian telah menyiapkannya sebelum pulang.

Saat sedang melahap makanan sambil sibuk berkutat dengan ponselnya, tiba-tiba lampu di seluruh ruangan padam. Sial! Padahal Yoon Mi sangat membenci gelap. Terpaksalah ia berjalan kembali ke lantai atas dengan penerangan dari layar ponselnya untuk mencari lilin di kamar Kakak angkatnya.

“Di mana ia menaruh lilin-lilin itu, ya?” gumam Yoon Mi sambil memeriksa laci di samping ranjang kakak angkatnya. Tidak ketemu, jadi Yoon Mi memutuskan untuk mencari di lemari pakaian Joon Myeon. Yoon Mi merasa sangat bodoh, 25 tahun tinggal di rumah yang sama dan ia tidak tahu di mana sebatang lilin disimpan.

Saat sedang memeriksa lemari pakaian Joon Myeon, tiba-tiba Yoon Mi merasa ada hembusan napas, menerpa lehernya. Yoon Mi menghentikan pergerakan tangannya. Ia diam terpaku, tak berani membalikkan tubuhnya. Ia yakin sekali, ada seseorang di belakangnya, saat ini.

Apa yang harus kulakukan? tanya Yoon Mi dalam hati. Jantungnya berdetak tak karuan. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi kepalanya.

Tiba-tiba, lampu di kamar Joon Myeon kembali menyala, bersama dengan seluruh lampu di dalam rumah. Dengan perasaan ragu dan takut, Yoon Mi menoleh sedikit, ke belakang dan tidak menemukan siapapun. Berarti, hanya pikirannya saja, merasa ada hembusan napas yang mengenai lehernya.

“Apa yang kau lakukan di kamarku, Yoon?” tanya Joon Myeon yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.

“Aku mencari lilin, tadi.” jawab Yoon Mi. Yoon Mi yakin, ia dapat melihat raut wajah cemas, saat ini, di wajah Joon Myeon. Tapi, cemas untuk apa?

“Oh…harusnya kau tetap diam di tempat jika tiba-tiba ada pemadaman listrik. Bagaimana kalau kau terjatuh saat menaiki tangga karena gelap?” Yoon Mi tak menjawab apapun.

“Ah, sudahlah. Aku akan kembali ke bawah dan melanjutkan makan.” Lalu Yoon Mi segera turun ke lantai bawah. Kembali ke ruang makan dan menikmati makanannya yang tinggal tersisa sedikit. Sempat terlintas di pikirannya saat melanjutkan makan bahwa apa yang dirasakannya tadi saat rumah dalam kondisi gelap gulita, adalah nyata. Yoon Mi berani bersumpah bahwa ia dapat merasakan kehangatan hembusan napas itu.

“Kau baru membereskan laporan hari ini, ya? Pasti kau merasa beruntung,  hari ini aku menyuruhmu pulang.” sindir Joon Myeon yang tiba-tiba masuk ke ruang makan. Yoon Mi hanya menanggapi ocehan sang Kakak dengan tatapan sebal.

“Oraeboni…” panggil Yoon Mi setelah Joon Myeon duduk di hadapannya. Joon Myeon menatap wajahnya lekat-lekat sambil tersenyum penuh kesabaran.

“Apa mungkin hantu bisa bernapas?” Pertanyaan Yoon Mi berhasil membuat suasana serius yang baru saja terbangun menjadi menyebalkan dan dipenuhi dengan suara tawa Joon Myeon yang pecah seketika. Sungguh, hal ini terlalu lucu baginya.

“Aku merasakan ada seseorang yang bernapas di belakangku, saat aku sibuk mencari lilin di lemari pakaianmu.” sambung Yoon Mi, tak mempedulikan Joon Myeon yang masih sibuk tertawa. Tapi, perkataannya barusan berhasil membuat Joon Myeon diam. Memberikan ekspresi tak percaya kepadanya.

“Tak mungkin ada orang lain di rumah ini. Seluruh pelayan sudah pulang, bukan? Lagipula, apa ini bentuk pengalihan perhatianmu dari masalah pagi tadi yang akan kubahas sekarang?”

“Ah, sudahlah…tidak perlu dibahas, aku takut.” Lalu Yoon Mi beranjak dari ruang makan sambil membawa piring kotornya, meninggalkan Joon Myeon dalam kebisuan. Ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang tertata rapi di hadapannya, sibuk berpikir. Berpikir cukup lama hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi seseorang atau lebih tepatnya, sahabat dekatnya.

“Hoi! Aku akan ke apartemenmu, sekarang.”

Hanya itu yang diucapkan Joon Myeon, lalu ia langsung memutus panggilan itu. Bergegas kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya.

“Oraeboni akan keluar?” tanya Yoon Mi yang kebetulan lewat di depan kamar Joon Myeon yang terletak di sebelah kamarnya. “Oraeboni kan baru pulang…tidak ingin mendengar penjelasanku dulu?”

“Aku tidak akan lama.” jawab Joon Myeon sambil menutup pintu kamarnya dan bergegas berlari turun ke bawah, melewati Yoon Mi yang membisu karena bingung, begitu saja. Pergi ke garasi, mengambil mobil, dan memacunya secepat yang ia bisa. Untungnya, jalanan Seoul sudah tidak begitu macet karena hampir seluruh pegawai kantoran, sudah pulang ke rumah masing-masing kurang lebih 1 jam yang lalu.

Joon Myeon menghentikan mobilnya di sebuah parkiran gedung apartemen mewah. Sebelum keluar dari mobilnya, ia menghela napasnya berat, seperti akan pergi menghadapi sesuatu yang buruk.

Dari parkiran, Joon Myeon menaiki lift hingga ke lantai 6. Lantai di mana apartemen sahabatnya berada. Di paling ujung lorong sebelah kanan.

Joon Myeon tak perlu mengetuk pintu lebih dahulu. Ia sudah tahu sandi yang digunakan sahabatnya untuk mengunci apartemennya. Langsung masuk dan menutup pintu dengan sedikit kasar.

Ternyata, apartemen yang dimaksud Joon Myeon adalah apartemen Kris, sang sahabat. Kris sedang duduk di hadapan televisi yang menyiarkan sebuah acara musik ternama, saat Joon Myeon tiba.

“Kenapa tiba-tiba kau harus kemari?” tanya Kris tanpa menoleh ke arah Joon Myeon yang berdiri terpaku, di ambang pintu. Tergambar jelas kekesalan di wajahnya.

“Kau hampir membunuhnya, Kris!” Kris mematikan televisinya lalu menoleh dengan malas ke arah Joon Myeon.

“Siapa? Siapa yang hampir kubunuh?”

Dengan langkah besar, Joon Myeon menghampiri Kris. Dicengkramnya kerah kemeja Kris begitu ia sudah berdiri di hadapannya. Memaksa Kris untuk berdiri dengan sangat kasar.

“Kau hampir membunuh Yoon Mi! Katamu kau mencintainya!” bentak Joon Myeon, marah. Wajahnya bahkan sampai merah padam karena sangat kesal dengan kebodohan Kris yang baru saja diketahuinya.

“Apa maksudmu! Aku sama sekali tidak mengerti!” Kris langsung mendorong tubuh Joon Myeon. Cengkraman Joon Myeon, terlepas begitu saja. Ia hanya bisa memberikan tatapan kesal ke arah Kris yang menurutnya sedang berpura-pura bodoh di hadapannya, saat ini.

“Aku tidak mungkin berusaha membunuhnya. Aku mengenalnya sejak kecil dan ya, aku memang sangat mencintainya.” Lalu Kris berniat untuk pergi dari hadapan Joon Myeon, kembali ke kamarnya, tapi Joon Myeon segera menahannya. Pembelaan Kris saat ini, terasa kurang cukup untuk memadamkan api yang sudah terlanjur menyala.

“Kau membawanya ke apartemenmu, kemarin malam, bukan? Dia tidak pulang semalam karena menginap di sini, benar kan?” tanya Joon Myeon sinis, memaksa Kris kembali berbalik, menatapnya.

“Tidakkah kau tahu kalau tadi pasukan Xiumin datang ke rumahku? Hampir mencelakai Yoon Mi karena ulahmu yang membawanya kemari!”

“Xiumin? Putra mahkota datang ke rumahmu, untuk apa?” tanya Kris tidak mengerti. Ia bingung, sangat bingung saat ini.

“Dia datang untuk mencarimu…sepertinya aroma tubuhmu terlacak dari tubuh Yoon Mi…..jadi sepertinya mereka berusaha menculiknya, menjadikannya umpan untuk menjebakmu agar kembali kepada Xiumin dan membalas dendam.” jelas Joon Myeon. Suaranya melemah, sepertinya terlalu putus asa.

“Tapi bagaimana mungkin? Aura Yoon Mi sangatlah kuat dan sanggup menutupi aroma tubuhku, selama ini.” Hening, Joon Myeon tak menjawab lagi. Ia sibuk berpikir.

“Salah-salah bukan aura Yoon Mi yang sangat kuat dan sanggup menyamarkan aroma tubuhmu,” ucap Joon Myeon, tiba-tiba.

“Lalu apa yang menyamarkan aromaku selama ini?”

“Aroma werewolf itu tertutup oleh sesuatu yang sepertinya bersemayam di bawah kediamanku. Melindungimu, selama ini.”

Kris merasa sulit untuk percaya dengan apa yang diucapkan Joon Myeon kepadanya. Tapi, perkataan Joon Myeon, ada benarnya juga. Selama 24 tahun, Kris berlindung di sekitar Yoon Mi, di rumah Joon Myeon, setiap malam bulan purnama, aromanya tak pernah terlacak sedikitpun. Padahal aroma tubuhnya akan sangat terasa oleh Xiumin jika Kris sedang bertransformasi menjadi manusia serigala. Belum lagi, dengan datang ke rumah Joon Myeon setiap malam bulan purnama, maka ia tidak akan bertransformasi menjadi manusia serigala. Tapi kini muncul pertanyaan baru. Mengapa ia tidak berubah kemarin malam, setelah membawa Yoon Mi yang mabuk berat ke apartemennya dan memeluknya sepanjang malam?

“Pasti…ada sesuatu di balik tanah itu. Sesuatu yang cukup kuat untuk menutupi aroma tubuhmu.” Joon Myeon berusaha menegaskan, sekali lagi.

Tiba-tiba, listrik di apartemen Kris padam. Seluruh jendela membuka sendiri dan angin kencang langsung menerpa masuk ke dalam. Padahal, di luar, angin tidak sedang bertiup kencang.

“Kita sudah ketahuan, Kris,” ucap Joon Myeon.

Di tengah kegelapan, mata Kris menyala menjadi berwarna kekuningan. Ia dapat melihat dengan lebih jelas di dalam kegelapan. Melihat dengan jelas bahwa ada sebilah pedang yang melayang ke arah mereka berdua.

Kris langsung mengambil langkah cepat dan mendorong tubuh Joon Myeon agar menjauh darinya. Memberi cukup celah bagi pedang melayang itu untuk lewat dan berakhir dengan menancap mulus di dinding.

“Apa yang terjadi?” Joon Myeon tetap diam di tempat setelah didorong oleh Kris. Ia berani bersumpah bahwa saat ini, ia tidak bisa melihat apa-apa.

“Kita kedatangan tamu.” jawab Kris, datar. Pandangan kedua matanya menerawang ke sekeliling, ingin mencaritahu siapa yang melemparkan pedang itu ke arahnya dan Joon Myeon. Kalau tidak salah, pedang itu milik Tao, salah satu penjaga putra mahkota.

“Keluarlah! Bersikap jantan dan hadapi aku, sekarang!” teriak Kris. Matanya masih sibuk menjelajah ke sekelilingnya, memastikan semuanya baik-baik saja.

Tiba-tiba ada bola api berwarna keunguan yang melesat ke arah Kris. Untungnya Kris bisa menghindar dan bola api itu hanya membentur televisi. Lebih baik televisi yang rusak daripada dirinya sendiri yang terluka, pikir Kris.

Tepat setelah bola api itu berhasil menghancurkan televisi Kris, seluruh lampu kembali menyala. Baik Joon Myeon maupun Kris dapat melihat beberapa orang yang tidak disukainya, berada di sekeliling mereka.

Tepat seperti perkiraan sebelumnya, yang melempar pedang adalah Tao. Ia berdiri di samping kanan pedangnya sambil tersenyum meremehkan ke arah Kris dan Joon Myeon yang masih duduk diam di lantai. Mengenakan setelan jas serba putih dengan jubah sepaha yang berwarna senada. Sementara di sebelah kiri pedangnya, berdiri Sehun dengan tatapan dinginnya yang masih sama saat terakhir kali Joon Myeon meninggalkannya. Pakaian yang dikenakannya sama persis seperti pakaian Tao.

Kurang 1 orang lagi, batin Kris. Sang pemimpin pasukan yang menembakkan api, Chanyeol. Kaum Lexolite yang sangat ingin menangkap Kris dan Joon Myeon. Tapi ia paling benci dengan Kris dan ingin membunuhnya langsung di tempat.

“Mana Xiumin dan Chanyeol, apa mereka tidak datang bersama kalian? Tapi aku yakin tadi ada yang menembakkan bola api ke arahku…merusak televisi layar datarku. Kalian tahu itu mahal, bukan?” ejek Kris, tapi baik Sehun maupun Tao sama sekali tidak merespon. Mereka hanya tetap menunjukkan wajah datar.

“Apa mau kalian di sini, hah!” bentak Joon Myeon yang sudah bangkit berdiri. Ia benar-benar kesal melihat kedatangan 2 orang itu, yang sudah mengejarnya selama 30 tahun setelah dirinya meninggalkan tanah Eximia. Tanah ajaib milik kaum Lexolite yang keberadaannya tidak diketahui oleh manusia.

Hanya Joon Myeon yang termasuk kaum Lexolite. Bahkan ia adalah salah satu mantan pasukan penjaga putra mahkota. Sementara Kris hanyalah seorang manusia serigala yang dianggap rendah oleh kaum Lexolite. Ia adalah binatang peliharaan kesayangan yang mulia raja, saat beliau masih ada dulu, sebelum Xiumin memberontak dan membunuhnya. Kalau dihitung-hitung, Kris sudah meninggalkan Eximia selama 24 tahun sejak pemberontakan itu.

“Rupanya kau jadi tidak sopan setelah tinggal cukup lama  bersama si busuk Kris, Suho.” ejek Sehun sebagai jawaban atas bentakan Joon Myeon, sebelumnya. Joon Myeon hanya menggeram kesal, mendengar Sehun memanggil namanya saat masih termasuk pasukan penjaga,dulu. Keadaan menjadi lebih panas dari sebelumnya dan iris mata Joon Myeon sudah berubah warna menjadi biru laut. Menandakan bahwa ia akan mengeluarkan kekuatannya.

“Joon Myeon, sudahlah…” cegah Kris karena tadi ia sempat melihat bahwa iris mata Sehun dan Tao juga sudah berubah warna menjadi abu-abu, warna kaum pasukan penjaga putra mahkota.

Dari keadaan yang memanas berubah menjadi ruangan yang memanas. Tiba-tiba, di tengah-tengah kedua kubu yang bersebrangan itu, muncul kobaran api berwarna keunguan yang cukup besar. Melahap sofa yang sempat diduduki Kris sebelum segala kekacauan ini terjadi di apartemennya. Kris memalingkan wajahnya ke arah lain. Cahaya yang terlalu terang dari kobaran api besar itu, mengaburkan pandangannya.

Tak lama kemudian, muncullah orang yang ditunggu-tunggu Kris dari dalam kobaran api yang mulai mengecil. Chanyeol, wajahnya terkesan imut tapi hatinya sangat kejam seperti kekuatan yang dimilikinya. Menghancurkan semua yang menghalanginya.

“Kau mencariku, kan?” sindir Chanyeol kepada Kris. Ia mengenakan pakaian semi formal serba hitam dan dibalut jubah semata kaki berwarna senada.

Kris memicingkan matanya, bingung. Ia masih belum bisa melihat dengan jelas. Pandangannya terlalu buram.

“Ayolah…jangan bilang kau masih belum bisa melihat cahaya, Kris…..” ejek Chanyeol lalu ia menoleh ke sebelah kanan Kris di mana sudah berdiri Joon Myeon dengan geramnya, di sana. Kedua tangannya yang mengepal, sudah terbungkus oleh air. Air itu menunjukkan getaran halus di kedua kepalan tangannya, tidak menetes sama sekali.

“Suho…lama tidak bertemu, masih ingat denganku?”

“Berhenti menggangguku dan pergi dari sini sekarang juga!” bentak Joon Myeon, tiba-tiba. Ia sudah benar-benar kesal dengan permainan bodoh ini. Seharusnya, mereka tidak mengejarnya dan Kris sampai selama dan sejauh ini. Mereka sudah meninggalkan Eximia sejak lama dan seharusnya hal itu merupakan tanda kebebasan bagi mereka. Tak ada lagi perjanjian Lexomia yang membatasi kehidupan Joon Myeon, seharusnya.

“Lebih baik kita berhenti basa-basi, bukan?” Chanyeol memberikan senyuman sinis kepada Kris yang baru bisa melihat dengan jelas ke arahnya, sekarang. “Yang mulia akan langsung ke intinya.” sambungnya lagi sambil menoleh ke arah jendela, jendela yang terbuka lebar di dinding sebelah kirinya Kris. Jendela itu tepat di tengah-tengah dinding.

Hawa di dalam ruang apartemen Kris yang tadinya panas, tiba-tiba berubah menjadi dingin. Dinginnya serasa menusuk sampai ke dalam tulang. Joon Myeon bahkan terpaksa menarik kembali kekuatannya sebelum ia membeku, menjadi es batu besar.

Tao dan Sehun segera memposisikan dirinya berlutut ke arah jendela. Chanyeol juga berlutut, tapi hanya ditopang oleh salah satu lututnya saja, menandakan bahwa pangkatnya lebih tinggi daripada Tao dan Sehun. Sementara itu, Joon Myeon dan Kris hanya menatap aneh ke arah jendela.

Ruang apartemen Kris yang cukup luas, sudah ditutupi oleh kabut, membuat hawa semakin dingin. Kris dan Joon Myeon menggigil kedinginan tapi mereka tetap tidak mau berlutut. Xiumin yang sebentar lagi akan tiba, bukanlah siapa-siapa lagi untuk mereka.

Kris dan Joon Myeon pikir, Xiumin juga akan muncul tiba-tiba di tengah-tengah ruangan seperti Chanyeol, tapi ternyata dugaan mereka salah total. Xiumin berselancar masuk dari jendela dengan sepotong lempengan tipis es sebagai papan selancarnya. Membawa serta seorang gadis yang tak sadarkan diri di dalam pelukannya.

“Hai.” sapa Xiumin seakan tak terjadi apa-apa. Ia mengenakan tuxedo hitam, seperti akan pergi ke acara formal saja.

“Kau! Lepaskan dia!” teriak Kris dan Joon Myeon bersamaan, begitu melihat dengan jelas ternyata yang berada di dalam pelukan Xiumin adalah Yoon Mi.

“Kenapa harus? Dia kan sahabat baikku. Kami sudah bersahabat selama 8 tahun…jadi kenapa aku tidak boleh memilikinya?” jawab Xiumin, santai. Ia lalu mengelus pipi Yoon Mi yang masih belum sadarkan diri.

“Keparat!”

Joon Myeon sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosi dan kekuatannya. Dengan begitu mudahnya, Joon Myeon mengeluarkan pusaran air yang begitu besar ke arah Xiumin. Belum sehelai rambutpun air itu mengenai Xiumin, Kris sudah menghalanginya. Membiarkan dirinya basah kuyup dan sedikit terpental ke belakang.

“Jangan gegabah!” teriak Kris, gusar. Iris matanya sudah berwarna merah menyala. Aneh, berarti ia bisa berubah menjadi warewolf sebentar lagi.

“Yoon Mi bisa terluka.” sambung Kris lagi. Suaranya memelan seiring iris matanya yang kembali menghitam.

“Tao, berikan jubahmu untuk Kris. Dia pasti kedinginan, nanti bisa sakit.” ejek Xiumin.

Kris langsung berbalik dan memberikan tatapan penuh kemarahan kepada Xiumin. Ia merasa telah dilecehkan oleh Xiumin, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yoon Mi yang berada di genggaman Xiumin bisa terluka kapan saja, jika dirinya maupun Joon Myeon menyerang Xiumin.

“Tidak malu berlindung di belakang seorang gadis, yang mulia Xiumin?” balas Kris. Ejekannya sungguh merendahkan Xiumin, merubah ekspresi penuh kemenangannya menjadi ekspresi kesal, tapi benar-benar hanya untuk sesaat. Setelah itu, ia kembali menyeringai licik kepada Kris.

“Lepaskan dia, Xiumin…kita bertarung secara jantan di luar,” ucap Joon Myeon begitu saja. Ia menjaga nada bicaranya agar tidak terlalu menunjukkan kekesalannya.

“Sebenarnya kalian harus memanggilku yang mulia…..bagaimanapun, aku seorang raja sekarang.” Xiumin menoleh ke arah Chanyeol sesaat. Sepertinya, memberi tanda untuk melakukan sesuatu kepada Chanyeol.

“Kalian tahu, kenapa gadis di pelukanku ini bisa pingsan?” Xiumin menunggu Kris dan Joon Myeon untuk berpikir sesaat. Tidak ada yang menjawab, mungkin terlalu takut bahwa Xiumin telah melakukan sesuatu kepada gadis itu.

“Aku yang telah membuatnya patah hati… Aku sahabat yang pastinya sering Yoon Mi ceritakan kepadamu, Suho.”

Joon Myeon serasa disambar petir, mendengar hal itu. Ia merasa sangat bodoh selama ini. Bagaimana bisa ia melewatkan hal yang begitu besar dari cerita adiknya sendiri? Apakah ia terlalu bodoh atau tidak pernah mau mendengar? Atau begitu keluar dari Eximia, ia melupakan segalanya? Kebiasaan sang putra mahkota yang sudah dilayaninya selama 10 tahun. Bersama sejak masih terbilang anak kecil di Eximia.

“Jadi, aku tidak akan berlindung di baliknya…aku bukan pria sejati jika melakukan hal itu… Jadi sudah kuputuskan.” Xiumin menoleh sambil tersenyum ke arah Chanyeol. “Maka kuputuskan untuk membiarkan gadis ini memilih.” sambung Xiumin lagi.

Chanyeol memberi aba-aba kepada Tao dan Sehun untuk pergi mendekati Joon Myeon dan Kris. Setelah itu, memaksa keduanya berlutut. Tao memegangi Kris sementara Sehun memegangi Joon Myeon.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Joon Myeon kepada Xiumin, sambil berusaha memberontak. Sementara Kris hanya diam saja, menunggu.

Xiumin kembali membelai pipi Yoon Mi dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit. Lalu berhenti melakukannya dan melepaskan sarung tangannya. Kembali membelai pipi Yoon Mi dengan punggung tangannya yang polos. Menyalurkan rasa dinginnya es, hanya untuk memaksanya segera sadar.

“Hah!” teriak Yoon Mi, begitu mendapatkan kembali kesadarannya. Dipaksa bangun karena dinginnya es, bukanlah sesuatu yang menyenangkan, yang ada malah mengejutkan.

Xiumin mengencangkan pelukannya kepada Yoon Mi, membuat Kris ingin memberontak juga, tapi tidak terjadi apa-apa. Sementara Xiumin memaksa Yoon Mi untuk menghadap ke arah Kris dan Joon Myeon. Fokus, hanya melihat mereka berdua. Tak peduli dengan penglihatan Yoon Mi yang masih sedikit kabur.

“Berikan keputusanmu, Yoon Mi-ya…” bisik Xiumin, menggelitik telinga Yoon Mi, berhasil mengembalikan penglihatan dan kesadarannya, sepenuhnya.

Begitu sadar sepenuhnya, Yoon Mi berusaha memberontak sebisa mungkin agar lepas dari Xiumin. Kenyataannya, Yoon Mi terlalu lemah untuk berhasil lepas dari pelukan Xiumin yang begitu erat.

Jujur, Yoon Mi benar-benar ingin lepas dari Xiumin yang sangat menjijikkan menurut pandangannya, saat ini. Ia bahkan tidak begitu mempedulikan Kris dan Joon Myeon yang sedang berlutut di hadapannya. Rasa ingin lepasnya dari Xiumin terlalu kuat. Ia benar-benar marah dengan kebohongan Xiumin. Berpura-pura menjadi sahabat yang baik selama 8 tahun, di mana 4 tahun di antaranya adalah masa indah mereka sebagai sepasang kekasih hingga akhirnya Xiumin memutus hubungan sepihak. Oh…ayolah! Orang ini benar-benar menjijikkan, batin Yoon Mi.

“Lepaskan aku, Min Seok-ssi!” bentak Yoon Mi yang justru mengundang tawa dari Xiumin.

“Min Seok sudah mati…aku Xiumin.” jawab Xiumin sinis. Lalu ia memaksa Yoon Mi untuk fokus melihat ke arah Kris dan Joon Myeon.

Yoon Mi baru sadar dengan keadaan Kris dan Joon Myeon, sekarang. Ia begitu terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi. Dalam hati ia sempat bertanya, apakah saat ini ia sedang diculik oleh mantan kekasihnya yang ternyata adalah seorang pembunuh berantai atau apa?

“Berikan aku keputusan…jika aku akan membunuh salah satu di antara mereka, siapa yang akan kau selamatkan, Mi-ya?”

“Mwo?” Yoon Mi malah balik bertanya.

“Ayolah…aku bukan orang yang sabar, kau tahu itu. Berikan aku jawaban sekarang juga.”

“Mungkin perlu sedikit dorongan,” ucap Chanyeol tiba-tiba, lalu ia menyemprotkan pusaran api dari tangannya, tepat mengenai lantai di hadapan Joon Myeon.

Joon Myeon dan Kris sempat terkejut, tapi Yoon Mi lebih terkejut lagi. Ia benar-benar merasa seperti orang gila, melihat ada orang yang mengeluarkan api dari tangannya. Apakah ini nyata? tanyanya dalam hati.

“Kau tidak sopan sekali, Chanyeol…tapi aku suka.” puji Xiumin.

“Putuskan sekarang atau kau akan melihat mereka terbakar.”

Yoon Mi benar-benar takut sekarang. Joon Myeon adalah kakaknya sendiri sementara ia juga tidak bisa menelantarkan Kris, orang menjijikkan yang ditemuinya pagi tadi. Tapi, hati nuraninya membuat tekanan semakin bertambah. Tak mungkin untuk membiarkan salah satu di antara mereka berdua meninggal, bukan?

“Aku…aku…”

“Tak perlu bingung. Selamatkanlah orang yang menurutmu lebih penting.” desak Xiumin.

“Aku…aku akan memilih kakakku,” ucap Yoon Mi. Suaranya memelan di akhir kalimat.

“Bagus sekali…” Xiumin melepaskan Yoon Mi, mendorongnya hingga jatuh tersungkur ke lantai. “Bunuh Kris sekarang juga!”

Chanyeol tersenyum puas menanggapi permintaan Xiumin. Sudah sejak dulu, ia menantikan hal ini. Kini kesempatan itu datang dan ia tidak akan menyia-nyiakannya, tentunya.

Chanyeol bersiap untuk menembakkan bola api lainnya, ke arah Kris. Kris sudah menutup kedua matanya, pasrah. Ia merasa sangat sakit hati karena ternyata selama ini Yoon Mi tidak pernah mengenalinya dan tak akan pernah, tapi di lain sisi, ia juga merasa tidak pantas untuk sakit hati. Justru ia merasa sedikit senang karena Yoon Mi adalah seorang Adik yang baik, lebih memilih kakaknya sendiri.

“Bersiap untuk pergi selama-lamanya, Kris!” teriak Chanyeol bersamaan dengan ditembakkannya sebuah bola api yang cukup besar ke arah Kris.

Semua terasa berjalan begitu lambat di mata Yoon Mi, saat ini. Hati nuraninya mendesak untuk melakukan sesuatu, mungkin karena rasa kasihan. Rasanya, Yoon Mi harus berlari dan segera memeluk Kris, menjadi tameng untuk melindunginya.

“Andwae!” teriak Yoon Mi. Ia segera bangkit berdiri dan berlari ke arah Kris. Berlari lebih cepat dari bola api yang menuju ke arah Kris sambil menangis, lalu segera memeluknya. Pelukan yang sangat tepat, menjadi tameng yang melindungi Kris dari hantaman bola api yang akan membunuhnya, di tempat. Ruang apartemen menjadi hening setelah Yoon Mi terkena tembakan itu. Xiumin menatap dengan tatapan meremehkan ke arah Yoon Mi yang tergeletak di lantai, sekarat. Tao dan Sehun memutuskan untuk melepaskan Joon Myeon dan Kris, sementara Chanyeol menatap sebal ke arah Kris.

Baik Kris maupun Joon Myeon, sama-sama merasakan kesedihan yang amat mendalam, tapi di sinilah Yoon Mi berakhir…di atas pangkuan Kris yang menangisinya. Memarahinya dan mengatainya sangat bodoh karena telah melindungi seseorang yang bahkan tidak pernah dikenalinya, jika menurut sudut pandang Yoon Mi.

“Kau harusnya tidak melakukan itu,” ucap Kris lemah sambil menangisi Yoon Mi yang berada di pangkuannya. Sungguh, tak apa jika ia dianggap lemah saat ini, yang terpenting adalah ia dapat menumpahkan perasaan tulusnya untuk Yoon Mi yang mungkin untuk terakhir kalinya.

“Begitulah akibatnya jika kalian melawanku, meninggalkan Eximia sesuka hati kalian…” ejek Xiumin.

“Tutup mulutmu, brengsek!” teriak Joon Myeon, emosi. Ia berlari menghampiri Xiumin, hendak membunuhnya, tapi ditahan oleh Chanyeol. Mereka bertarung sengit, sama-sama dipenuhi emosi. Akan tetapi, Joon Myeon lebih unggul karena kekuatan airnya yang dipenuhi emosi. Lagipula, prinsip air itu mematikan api, membuat Chanyeol lebih lemah.

Sementara itu, Kris masih larut dalam kesedihannya. Kini, Yoon Mi telah pergi, pergi untuk selamanya.

“Mian….saranghae, Hwang Yoon Mi.” Kris mengecup singkat, dahi Yoon Mi. Lalu ia melepaskan kalung berbandul kristal kecil berwarna biru langit, pemberian raja sebelumnya, kepadanya. Dipasangkannya kalung itu ke leher Yoon Mi sambil mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, Yoon Mi hanya tertidur untuk sesaat.

Kalung itulah yang selama ini melindungi Kris, tanpa ia sadari. Mencegahnya bertransformasi, menyamarkan aroma tubuhnya. Semua itu dapat terjadi karena kalung yang dikenakannya, bukan karena Yoon Mi maupun tanah di mana bangunan rumah Joon Myeon berdiri dengan kokoh di atasnya. Kesalahan terbesarnya hanya satu hingga menyebabkan meninggalnya Yoon Mi, yaitu ia memeluk tubuh Yoon Mi dan meninggalkan aroma tubuhnya di sana. Meninggalkan jejak untuk melacaknya yang selama ini sebenarnya tidak pernah lepas dari pengawasan Xiumin, sedikitpun.

“Kau akan mati sekarang juga, pemberontak.” tegas Kris dengan nada mengancam. Ancaman itu ia tujukan untuk Xiumin, sambil berdiri, meninggalkan tubuh Yoon Mi yang dingin.

“Bagaimana caranya, Kris?” tanya Xiumin dengan nada mengejek. Tao dan Sehun berada di dekatnya, siap melindungi jika Kris tiba-tiba saja menyerang Xiumin.

“Aku akan mencabikmu!” teriak Kris bersamaan dengan iris matanya yang kembali memerah. Napasnya mulai tidak beraturan dan taring serta kuku-kukunya memanjang. Otot-otot di tubuhnya membesar, merobek kemeja santai kesukaannya.

Kini, Kris sudah bertransformasi seutuhnya. Ia telah menjadi warewolf berbulu hitam mengkilat.

Kris sudah tak bisa berpikir lagi saat ini. Perasaan ingin membunuhnya begitu kuat hingga ia langsung berlari ke arah Xiumin, hendak menerkamnya. Tapi Sehun menghalangi jalan Kris. Ia menghembuskan angin kencang ke arah Kris, mendorongnya hingga menabrak dinding di belakangnya yang jaraknya lumayan.

“Tao, bawa yang mulia pergi, sekarang juga. Aku dan Chanyeol akan menghabisi mereka berdua, di sini.”

“Ne…” jawab Tao. Tao mencabut pedangnya dari dinding dan memberi jalan kepada Xiumin untuk pergi lebih dahulu. Tapi, Xiumin tidak mau. Ia ingin menunggu, menghabisi Kris dengan tangannya sendiri. Kris, mahkluk hina yang pergi begitu saja saat ia memutuskan untuk memberontak kepada Ayah tirinya sendiri.

“Kau dan Sehun yang harus pergi. Aku akan membunuh Kris, sendiri,” ucap Xiumin, masih menatap lekat ke arah Sehun dan Kris yang masih berkelahi.

“Tapi…”

“Pergi, sekarang!” bentak Xiumin. Tao tidak mau ambil pusing lagi, ia memanggil Sehun dan segera menyuruhnya untuk ikut pergi bersamanya. Sehun sempat menengok sebentar ke arah Chanyeol yang sepertinya akan kalah sebelum pergi dengan senyum mengembang di wajahnya. Di pikirannya, jika Chanyeol meninggal hari ini, maka tidak akan ada lagi pemimpin yang menyebalkan, yang bertingkah seenaknya, di hadapannya.

“Bunuh aku, warewolf hina.” Xiumin menarik sebilah pedang yang terbuat dari es, dari punggungnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya, yakin akan menang.

Kris berbalik dan berlari ke arah Xiumin, hendak menerkamnya dan menggigit lehernya hingga putus. Tapi, Xiumin bukanlah orang lemah. Dengan mudahnya ia menghindar, membiarkan Kris menabrak dinding, hingga dindingnya runtuh.

Tak perlu waktu lama, Kris segera kembali. Kekuatannya tetap sama kuatnya seperti sebelumnya dan pergolakan emosi di dalam dirinya meningkat, semakin ingin membunuh Xiumin.

“Ayo kemari, anjing kecil.”

Kris melompat ke arah Xiumin dan berhasil membuat Xiumin terjatuh.

Posisi tubuh Xiumin yang berada di bawah Kris, terasa menguntungkan sekali untuk Kris. Padahal sebenarnya, saat ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh Xiumin. Ia sengaja memendekkan pedangnya, untuk sesaat. Tapi kini, kesempatan ini telah datang. Xiumin hanya tinggal kembali memanjangkan pedangnya dan semuanya berakhir.

“Matilah, anjing lemah.” bisik Xiumin. Ia memanjangkan pedangnya kembali, tepat sebelum Kris berhasil menggigit lehernya. Pedang es itu menembus dada Kris begitu saja. Menancap begitu dalam dan mengeluarkan ratusan jarum es di dalam tubuhnya, membuatnya lemas.

Xiumin mendorong tubuh lemas Kris yang masih berupa warewolf. Ia bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya sambil tersenyum. Menoleh sejenak ke arah Chanyeol yang tergeletak tak bernyawa, tak jauh dari Joon Myeon yang dalam keadaan sama. Sayang sekali, batin Xiumin. Lalu ia pergi dari apartemen Kris, menghilang begitu saja bersamaan dengan hembusan angin yang begitu dingin.

Setelah kepergian Xiumin, tiba-tiba bandul kalung di leher Yoon Mi menyala terang sekali. Memancarkan sinar yang begitu menyilaukan lalu hilang begitu saja.

Tiga orang pemuda tiba-tiba berada di ruangan itu, setelah cahaya dari bandul hilang. Salah satu pemuda yang berwajah cantik, menghampiri Joon Myeon sementara seorang pemuda yang mengenakan topeng porselen putih menghampiri Kris yang telah menjadi manusia kembali.

Sementara di samping Yoon Mi telah berlutut seorang pemuda berwajah tirus. Mengelus pipinya perlahan sambil tersenyum.

“Aku akan menghapus seluruh kenanganmu bersamanya dan semuanya akan baik-baik saja,” ucap pemuda itu.

Seberkas cahaya kembali bersinar terang di dalam apartemen itu. Cahaya menyilaukan yang mengembalikan semua keadaan seperti semula. Bersinar cukup lama hingga pada akhirnya hanya Yoon Mi yang tersisa di dalam ruang apartemen Kris yang sudah dalam keadaan baik-baik saja. Jari-jarinya bergerak perlahan dan napasnya mulai kembali ke dalam dirinya.

Semuanya kembali normal untuk Yoon Mi, jika ia sadar nanti. Joon Myeon dan Kris terpaksa dibawa pergi oleh ketiga pemuda tadi ke Eximia. Mereka adalah pasukan penjaga mendiang raja yang terpanggil oleh kalung Kris dan akan membantu Joon Myeon dan Kris untuk sembuh.

‘Maaf karena tidak bisa melindungimu, Mi-ya.’

*************

Yoon Mi sedang sibuk berkutat dengan dokumen-dokumen yang berserakan di atas mejanya. Sesekali ia mengomel sendiri karena menemukan kejanggalan pada dokumen yang diperiksanya.

Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Yoon Mi mempersilakan orang itu masuk begitu saja tanpa menanyakan terlebih dahulu, siapa orang itu.

“Permisi…nona Kim.” sapa orang yang baru saja masuk. Berdiri di hadapan meja kerja Yoon Mi, menunggu diijinkan duduk.

Yoon Mi menoleh ke arah orang yang memanggilnya, menemukan seorang pemuda berwajah tampan mempesona. Perawakannya tinggi, sangat menarik.

“Silakan duduk.”

Pemuda itu duduk dengan sangat sopan di hadapan Yoon Mi. Menyerahkan sebuah map tebal ke hadapan Yoon Mi.

“Namaku Wu Yi Fan…aku ke sini untuk bekerja.”

“Kebetulan sekali, presdir sedang tidak ada di tempat…ia sudah pergi dari Korea, 3 tahun yang lalu.” jawab Yoon Mi sambil memperhatikan Yi Fan dengan seksama. Entah mengapa, ia merasa pernah bertemu dengan pemuda di hadapannya sekarang. Namanya juga, ia merasa pernah mendengarnya di suatu tempat.

“Berarti aku datang di waktu yang salah?”

“Tidak…tentu saja tidak, aku akan mewawancaraimu lebih dulu untuk pekerjaan itu.”

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s