Last Chance

Tittle : Last Change

Author : Catharina Griselda

Rating : General

Major Cast : Kim Doo Jin ( actor / Won Bin )

                        Choi Siwon ( Super Junior )

Minor Cast : Kim Woo Bin  / Kim Hyun Joong ( actor )

                         Kim Jongin / Kai ( EXO – K )

                         Huang Zi Tao / Tao ( EXO – M )

                         Lee Soo Hyuk ( actor, model )

Cameo : Catharina G.

Note : Bisa baca dulu Happiness

Kim Doo Jin sangat sibuk berkutat dengan setumpukan kertas di atas mejanya. Ia bahkan sampai melewatkan makan malamnya demi menyelesaikan pekerjaannya saat ini.

Ya. Pekerjaan sangat mengesalkan, memisahkan kasus penting untuk ditangani lebih dulu dan kasus kurang penting.

Sebenarnya, pekerjaan remeh seperti ini, harusnya diselesaikan oleh partnernya, petugas Choi. Tapi entah ada apa, dari kemarin ia tidak masuk kerja hingga hari ini.

Drt…Drt…Drt…

Doo Jin melirik dengan malas ke arah ponselnya yang bergetar tak terkendali di antara tumpukan kertas. Menyebalkan sekali bagi dirinya saat mengetahui nama yang terpampang di layar ponselnya. Choi Siwon, si anak petinggi militer.

“Yeoboseyo,”ucap Doo Jin dengan malas.

“Hyung, salah seorang tetanggaku menghubungiku tadi. Katanya, teman sekamarnya tidak pulang dari kemarin.”

“Jadi?”

“Namanya Kim Min Seok, apa Hyung bisa mencarinya?”

Tunggu. Nama itu benar-benar terdengar familiar di telinga Doo Jin. Sepertinya, baru hari ini ia mengenal nama itu. Tapi ia bingung, dari mana ia bisa mengenal nama itu.

“Siapa namanya tadi?” Doo Jin berusaha memperjelas pikirannya.

“Kim Min Seok, seorang mantan dosen jurusan design visual di Seoul Arts College.” Benar! Doo Jin ingat sekarang.

Siang tadi, Doo Jin baru saja memberikan harapan palsu kepada seorang yeoja bernama Jessica Chen yang melaporkan namjachingunya, Min Seok, yang hilang tiba-tiba. Benar-benar kebetulan yang hebat.

“Aku akan mencarinya, kau cepat ke kantor.”

“Ne, aku akan segera ke sana.”

Doo Jin memutus panggilan itu lalu segera mengobrak-abrik memo warna-warni yang melekat di setiap inci mejanya. Mencabutinya satu per satu. Membacanya lalu melemparnya ke sembarang tempat.

Akhirnya, batin Doo Jin. Memo berwarna biru muda di genggamannya saat ini, berisi sebuah nomor telepon. Nomor telepon yang untungnya sempat ia minta dari Jessica siang tadi. Sebenarnya, hanya sekedar menunjukkan profesionalitas kerja saja saat meminta nomor ini dari Jessica.

Doo Jin mengetikkan kombinasi nomor-nomor yang tertulis di dalam memo ke ponselnya. Lalu, segera Doo Jin menghubungi nomor itu.

Tut…Tut…Tut…

Sudah ke-5 kali, tidak dijawab sama sekali. Doo Jin melirik jam tangannya dan menemukan waktu baru menunjukkan pukul 9 malam. Tidak mungkin seorang mahasiswi bisa pergi tidur sepagi ini.

Doo Jin mencoba menghubungi nomor itu sekali lagi. Hasilnya tetap nihil. Terpaksa, Doo Jin menyerah.

Ke mana gadis itu, rutuk Doo Jin. Ia melihat sekeliling dan kantor tempatnya bekerja sudah serba gelap. Hanya lampu di atas mejanya yang masih menyala, berarti Doo Jin harus mengurungkan niatnya meminta pertolongan orang lain.

Tapi tunggu, masih ada Siwon. Sudah tugasnya untuk membantu Doo Jin.

Jadi Doo Jin kembali menghubungi Siwon. Memintanya tak usah datang ke kantor, lebih baik pergi memeriksa keberadaan Jessica. Tapi, niat itu kembali diurungkan Doo Jin. Ia baru menyadari bahwa ternyata ia tidak memiliki alamat Jessica.

“Ah, tidak jadi. Kau cepatlah kemari.”

“Ne, dasar plin-plan.” keluh Siwon lalu segera memutus panggilan Doo Jin sebelum ia kena marah.

Dasar!batin Doo Jin. Ia kembali sibuk mencoba menghubungi ponsel Jessica. Hasilnya tetap sama nihilnya seperti sebelumnya. Menyebalkan sekali.

“Agassi, Anda tidak boleh berada di sini! Agassi!”

Doo Jin menoleh ke arah pintu kaca di hadapannya. Keributan itu berhasil menarik perhatiannya dan sepertinya semakin mendekat. Dan benar saja, tak berapa lama, muncullah seorang gadis berpotongan rambut pendek dan berkacamata yang memaksa menerobos masuk ke dalam kantor Doo Jin. Langsung menghampiri meja Doo Jin.

Tanpa memperkenalkan diri lebih dulu, gadis itu, Catharina langsung berbicara dengan tergesa-gesa. Raut wajahnya benar-benar panik sekali. Doo Jin memperhatikan dengan seksama tiap perkataan Catharina, ia bahkan mengusir petugas keamanan yang sepertinya mengejar Catharina tadi.

“Jadi, kau adalah apanya Jessica tadi?”

Catharina menghembuskan napasnya dengan berat. Ia bahkan sampai tidak sempat menarik napas tadi karena ingin cepat-cepat menjelaskan kondisinya saat ini kepada detektif Kim di hadapannya, tapi yang ia dapat malah ketidakmengertian dari seorang Kim Doo Jin. Salahnya, berbicara terlalu cepat tadi.

“Jadi, aku teman sekamar Jessica Chen. Aku Catharina Lee, Jessica belum pulang dari semenjak ia membolos kuliah siang tadi. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi sama sekali. Aku takut terjadi sesuatu padanya.”

Doo Jin berhasil mencatat semua penjelasan Catharina. Jika dihitung-hitung dari perkiraan Jessica yang tiba-tiba meninggalkan kampusnya, berarti Catharina sudah kehilangan kontak dengannya selama kurang lebih 10 jam.

“Bisa kau berikan alamat rumah orang tua Jessica dan nomor telepon rumahnya?”

*************

“Jadi, orang tua gadis itu tinggal di Tokyo saat ini?” Doo Jin menggangguk sambil tetap memperhatikan layar komputernya. “Berarti kita tidak bisa mendatangi alamat orang tuanya?”

Doo Jin tiba-tiba bangkit berdiri, mengejutkan Siwon yang sedang duduk di atas meja kerjanya. Lalu berjalan mendekati printer di seberang meja kerjanya.

“Mencetak apa?” Siwon sedikit memiringkan kepalanya, ingin tahu apa yang keluar dari printer yang terhalang tubuh Doo Jin.

Ia kembali dibuat terkejut saat tiba-tiba Doo Jin berbalik dan mengatakan bahwa ia orang yang usil sekali. Lalu ia melemparkan beberapa lembar kertas ke atas meja kerjanya. Menambah berantakan.

Siwon meneliti beberapa lembar kertas yang baru saja Doo Jin cetak. Ia tidak mengerti sama sekali, apa maksud Doo Jin mencetak data pribadi Kim Min Seok.

“Apa ini akan membantu menemukannya?” tanya Siwon sambil mengacung-ngacungkan kertas-kertas itu di hadapan Doo Jin yang sudah kembali duduk di kursinya.

“Akan.” Doo Jin langsung merebut seluruh kertas yang dipegang Siwon. “Kalau kau turun dari mejaku.” sambungnya dengan ketus.

Siwon sedikit salah tingkah dan akhirnya bangkit berdiri. Ia memberikan senyumnya kepada Doo Jin, berusaha meredakan tingkat kesinisannya yang sudah mencapai batas, sepertinya.

Doo Jin berhenti memandang sinis kepada rekan kerjanya lalu kembali sibuk berkutat dengan data Min Seok yang baru saja dicetaknya. Siwon hanya memperhatikan sambil berdiri, dalam diam.

“Coba hubungi nomor rumah orang tuanya,”ucap Doo Jin tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Ne?” Doo Jin sedikit kesal dan terpaksa mengangkat kepalanya. Kembali memberikan tatapan sinis kepada Siwon.

“Aku akan menghubunginya sekarang.” Lalu Siwon cepat-cepat menjauh dari meja kerja Doo Jin. Ia berdiri di dekat ambang pintu, seakan melakukan panggilan rahasia.

Sementara itu, Doo Jin kembali sibuk dengan berkas data Min Seok. Syukurlah anak itu bukan kriminal, batin Doo Jin. Prestasinya terbilang sangat baik. Ia anak akselerasi di sekolahnya dulu hingga sudah menjadi dosen di usianya yang baru menginjak 23 tahun. Sangat menarik.

“Hyung, tidak ada yang mengangkat.” Siwon tiba-tiba sudah kembali berada di hadapan meja kerja Doo Jin.

“Minta petugas bandara Incheon untuk memberikan data penumpang kemarin dan hari ini. Seluruh penerbangan menuju Jepang.”

“Aku akan segera melakukannya.” Siwon segera berlari keluar sedangkan Doo Jin segera menghubungi pihak kantor administrasi Seoul Arts College. Ia ingin tahu, apa status Min Seok saat ini. Apa mungkin ada surat keterangan sakit dari Min Seok.

“Dosen Kim sudah mengundurkan diri pagi ini.”

“Apa ada dosen atau mahasiswa yang mengundurkan diri juga, pagi ini?”

Pihak administrasi di seberang sana diam sejenak. Memeriksa data sepertinya.

“Ada, dosen Lee juga mengundurkan diri pagi ini. Surat pengundurang diri dosen Kim, beliau yang memberikan.”

“Bisa aku tahu siapa nama lengkap dosen Lee itu?”

“Lee Soo Hyuk.”

*************

Waktu semakin sempit dan Doo Jin masih belum menemukan titik terang apapun. Yang ia ketahui, dari berkas negara dan berkas dari Seoul Arts College mengenai Soo Hyuk, pemuda itu pernah masuk rehabilitasi sekali karena tindak kekerasan. Tapi, tidak langsung dapat menjadikan Soo Hyuk sebagai pihak yang bisa disalahkan atas hilangnya Min Seok. Bisa saja mereka hanya mengundurkan diri bersama karena kebetulan.

Tapi yang aneh adalah, jika teman sekamarnya saja sudah tidak bertemu dengan Min Seok selama kurang lebih 2 hari, kenapa Soo Hyuk seakan bertemu langsung dengan Min Seok hingga ia bisa memiliki surat pengunduran dirinya. Itulah yang membuat kecurigaan Doo Jin terhadap Soo Hyuk.

“Hyung!” Doo Jin menoleh ke arah pintu kantornya dan menemukan Siwon yang terlihat kacau. Napasnya naik turun tidak beraturan dan kemejanya basah karena keringat.

“Kau pergi 1 jam karena berlari?” ejek Doo Jin.

“Hyung…” Siwon berhenti sejenak. Napasnya masih belum beraturan.

“Mwo…atur napasmu dulu! Untuk apa terus memanggilku!”

Setelah jeda beberapa menit, akhirnya Siwon menghampiri meja Doo Jin dan memberikan beberapa lembar kertas berisi daftar penumpang yang diminta Doo Jin sebelumnya.

“Jessica berangkat siang tadi, jam 12 siang.” jelas Siwon sambil menunjuk salah satu kertas yang ada di atas meja Doo Jin.

“Min Seok bagaimana?”

“Ia berangkat pukul 3 dini hari, hari ini.”

Ada sesuatu yang janggal dan Doo Jin dapat merasakannya dengan jelas. Jika ingin pergi jauh, kenapa Min Seok dan Jessica sama sekali tidak pulang ke apartement dulu untuk mengambil beberapa potong pakaian mungkin. Atau sewajarnya, mereka pulang untuk mengambil uang. Tapi dari penuturan masing-masing teman sekamar, tak ada satupun dari antara mereka yang pulang.

“Apa kau percaya bahwa mereka pergi ke Jepang hari ini?” Siwon hanya memberikan tatapan bingung kepada Doo Jin.

“Coba minta pihak bandara Narita untuk mengecek apakah Jessica Chen dan Kim Min Seok sudah sampai.”

“Ne, Hyung.”

Siwon berbalik hendak pergi, tapi ia tiba-tiba berbalik lagi. “Oh ya…pihak rehabilitasi mengatakan Jongin dan Tao tidak ke sana dari kemarin.”

“Mereka tidak pergi ke pusat rehabilitasi?” Siwon hanya mengangguk.

Aneh. Semua semakin ganjil sekarang. Kenapa kedua orang yang seharusnya dipenjara itu tiba-tiba menghilang juga? Apa ada kaitannya dengan hilangnya Min Seok dan Jessica?

“Tidak ada di rumahnya juga?” Siwon hanya menggeleng.

“Aku sudah ke sana pagi ini.”

*************

Doo Jin diam terpaku di hadapan papan tulis yang ditempelinya berbagai catatan dan foto yang mungkin saja bersangkutan dengan hilangnya Min Seok dan Jessica. Ia memutar keras otaknya. Berusaha mencari jawaban meski tetap buntu.

Ah! Benar! Seharusnya Doo Jin mencaritahu apakah Jessica memiliki saudara yang bisa dihubungi atau tidak. Siapa tahu, mungkin saja salah satu saudaranya mengetahui letak Jessica yang sebenarnya.

Jadi, Doo Jin kembali ke meja kerjanya dan mencari ponselnya di antara tumpukan kertas yang masih berantakan di atas mejanya. Dapat.

Tapi belum sempat menghubungi Catharina, ada panggilan masuk dari Siwon yang langsung diterimanya.

“Hyung, tidak ada satupun penumpang bernama Jessica Chen dan Kim Min Seok yang mendarat hari ini.”

“Mwo!” Doo Jin benar-benar terkejut. Tidak salah lagi, kasus ini sudah benar-benar menjadi kasus penculikan.

Tapi, siapa yang mau menculik mereka berdua? Siapa otak di balik penculikan ini? Kenapa harus mereka berdua?

“Baiklah, kembali lagi kemari. Kurasa aku tahu sesuatu.”

“Ne, Hyung.”

*************

Drt…Drt…Drt…

“Hyung, ponselmu bergetar terus. Tidak akan diterima?” tanya Kai yang sudah kesal karena daritadi ponsel Woo Bin tidak berhenti bergetar di atas meja yang berada di pojok ruangan di mana mereka berempat sedang berkumpul, memperhatikan Min Seok yang masih belum sadar juga.

“Kau saja yang terima.” jawab Woo Bin asal. Ia masih ingin memperhatikan wajah Min Seok lebih lama. Wajahnya yang masih menunjukkan kehidupan.

Bagaimanapun juga, Min Seok pernah menjadi sahabat baiknya dulu. Min Seok dan Nikolas, kedua orang yang dibencinya setelah menjadi namjachingu Jessica.

Woo Bin mengangkat tangannya perlahan lalu menyentuh pipi kanan Min Seok dengan punggung tangannya. Masih hangat. Rasanya nyaman.

“Berapa banyak dosis yang kau berikan pagi tadi, hah? Kenapa ia masih belum sadar juga?” tanya Woo Bin kepada Tao, tanpa menengok ke arahnya.

“Tidak banyak. Mungkin daya tahan tubuhnya terlalu lemah.” jawab Tao santai sambil memainkan scalpel di genggamannya.

Tiba-tiba, Kai berteriak lalu bangkit berdiri dan meninggalkan kursinya menuju meja di mana ponsel Woo Bin berada. Ia sudah hampir gila dngan panggilan masuk yang tak ada hentinya itu.

“Yeoboseyo,” ucap Kai sedingin mungkin. Ia terbiasa menutupi perasaannya. Ia sangat terlatih untuk itu.

“Yeoboseyo, apakah ini Kim Woo Bin, saudara laki-laki dari Jessica Chen?”

Kai menengok sebentar ke belakangnya. Melihat ke arah Woo Bin yang masih sibuk menyentuh setiap inci wajah Min Seok.

“Ne…Ada apa?”

“Begini, apakah Jessica bersama dengan Anda saat ini?”

Lagi, Kai menengok ke belakangnya dengan cemas. Tao melihat hal itu dan menanyakan siapa yang menelepon tapi Kai hanya menggeleng dalam diam.

“Ne.”

“Syukurlah kalau begitu, baru saja salah satu temannya melaporkan Jessica hilang.”

“Oh, begitu. Jangan khawatir. Ia bersamaku sekarang.” Tao tiba-tiba sudah berdiri dekat sekali dengan Kai. Ia ingin tahu, apa yang dibicarakan Kai.

“Baiklah, berarti tinggal Min Seok yang harus dicari. Selamat malam.”

Sambungan terputus begitu saja. Kai kembali meletakkan ponsel Woo Bin di tempat sebelumnya.

“Siapa yang menelepon?” tanya Tao penasaran begitu Kai berbalik dan menghadap ke arahnya. Tapi Kai tidak menjawab, ia malah sedikit mendorong tubuh Tao untuk menjauh. Memberinya celah untuk berjalan menghampiri Woo Bin.

“Hyung, kita dalam masalah.”

Woo Bin menengok dengan malas ke arah Kai. Ia benci diganggu saat menikmati momen bersama calon korbannya.

“Ada seseorang yang mencari Jessica dan Min Seok. Sepertinya ia detektif Kim.”

*************

“Kau dengar tadi bukan? Suara orang itu cemas ketika aku mengatakan tinggal mencari Min Seok.”

“Lalu?” Siwon tidak mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Ia masih sibuk berkutat dengan permainan yang sedang dimainkannya di sana.

“Itu berarti, ada sesuatu yang disembunyikan orang itu. Orang yang menerima panggilanku tadi, bukanlah saudara laki-laki Jessica.”

“Lalu siapa?” Siwon mulai tertarik, jadi ia meninggalkan permainannya sebentar.

“Bisa jadi Tao atau Kai. Aku kenal suara itu.”

Siwon benar-benar menghentikan permainannya dan segera menghampiri meja kerja Doo Jin. Kabar ini membuat darahnya bergejolak. Sebentar lagi, mereka bersama pasukan khusus akan bertindak melakukan pelacakan.

“Ayo kita mencari mereka, Hyung.” Tapi Doo Jin tetap duduk di kursinya. Tidak merespon perkataan Siwon sama sekali. Ia sedang memikirkan jutaan kemungkinan mengenai Tao atau Kai yang terlibat dalam kasus ini dan akan semakin mengecohnya. Dan jika ia sampai terkecoh permainan kedua orang itu atau bahkan lebih, maka dapat dipastikan akan ada korban jiwa yang jatuh.

“Siapkan pasukan khusus, kita akan mencari seseorang.”

“Mencari siapa?” Doo Jin langsung menatap sinis kepada Siwon. Sekarang, ia benar-benar sadar kenapa anak itu tidak naik pangkat menjadi detektif, otaknya tidak begitu berfungsi dengan baik, sepertinya.

“Mencari Lee Soo Hyuk.”

*************

Soo Hyuk dan Woo Bin sibuk memikirkan rencana baru setelah Kai mengatakan bahwa seorang detektif sedang mencari keberadaan Jessica dan Min Seok. Mereka tidak bisa tertangkap sekarang. Tidak bisa, permainan bahkan belum dimulai.

Jika kasus Nikolas saja bisa hilang begitu saja, maka yang perlu mereka lakukan saat ini, hanya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Segera memadamkan asap yang baru muncul dari semak.

“Kurasa lebih baik Tao, Kai, dan aku kembali ke rumah masing-masing,” ucap Soo Hyuk tiba-tiba. Berhasil mengundang tawa meremehkan dari Tao. “Aku serius.” sambung Soo Hyuk lagi sambil menatap Tao dengan tatapan sadis.

“Untuk apa?” tanya Woo Bin penasaran.

“Menutupi jejak kita. Hanya kau yang tidak diketahui oleh detektif itu, menurutku.” Woo Bin mengangguk setuju.

“Aku pasti akan dicarinya saat ini. Kebodohanku adalah menyerahkan surat pengunduran diri Min Seok yang kita buat, dengan suratku. Aku seakan sangat dekat dengannya.” Woo Bin mengangguk mengerti.

Tiba-tiba, terlintas sesuatu di pikiran Woo Bin. Jika pikiran itu tidak melintas, maka mereka pasti akan tertangkap sebentar lagi.

“Hancurkan ponselku, sekarang!” teriak Woo Bin.

Tao yang berada paling dekat dengan meja di mana ponsel Woo Bin berada langsung melakukan apa yang disuruh Woo Bin. Ia menghancurkan benda itu hingga menjadi kepingan-kepingan kecil.

“Kita harus pergi sekarang juga, posisi kita sudah terlacak saat ini.” perintah Soo Hyuk yang dibalas dengan langkah gesit Kai dan Tao untuk melepaskan Min Seok.

“Bawa Min Seok ke mobilmu, Kai. Kita berpencar,” ucap Woo Bin tiba-tiba. Menghentikan seluruh aktivitas yang saat ini sedang terjadi di ruangan itu.

“Lalu bagaimana dengan Jessica?” tanya Soo Hyuk. “Kau akan pergi bersama Kai, membawa Min Seok?”

Woo Bin hanya menggeleng sambil tersenyum sinis menanggapi pertanyaan itu. Ia akan pergi sendiri, membawa Min Seok bersamanya. Jessica, nuidongsaengnya, akan ia serahkan kepada ketiga teman lainnya.

“Baiklah, Hyung. Ini kunci mobilnya.” Kai menyerahkan kunci mobilnya kepada Woo Bin setelah ia dan Tao memasukkan Min Seok ke dalam bagasi mobilnya. Woo Bin segera menerimanya lalu masuk ke dalam mobil Kai dan memacunya dengan kencang. Sangat kencang hingga dalam hitungan detik, mobil itu sudah tidak terlihat lagi.

“Ayo kita ke dalam sebelum detektif itu datang.” ajak Tao.

“Ne. Bagaimana dengan ponsel orang tadi?” tanya Kai sambil berjalan kembali, menghampiri rumah di mana mereka menyekap Min Seok.

“Soo Hyuk Hyung sudah mengurusnya. Ia sengaja menguji kepandaian detektif Kim.” Kai tersenyum mendengarnya. Soo Hyuk Hyung benar-benar jenius, batinnya.

Sementara itu, Soo Hyuk sudah berada di ruangan di mana Jessica disekap. Ia masuk sambil mengenakan topengnya, membuat Jessica bergidik ketakutan.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jessica dengan nada penuh ketakutan begitu Soo Hyuk memaksa menarik lengannya untuk berdiri.

Soo Hyuk hanya diam di balik topengnya. Ia tidak ingin berbicara dengan orang yang sangat ingin dibunuhnya karena alasan tersendiri.

Sekilas, Soo Hyuk sempat melihat ke arah kedua tangan Jessica yang terlilit tali tambang. Lalu ia hanya memberikan senyum meremehkan melihatnya.

Soo Hyuk hanya terus menyeret paksa Jessica yang berusaha memberontak. Ia membawa Jessica ke ruangan di mana Min Seok tadinya berada. Sekarang yang tersisa hanya Kai dan Tao yang sudah mengenakan topengnya kembali.

“Mobilmu sudah siap?” tanya Soo Hyuk kepada Tao.

“Sudah. Kita bawa sekarang.” balas Tao, satu-satunya suara yang dikenali Jessica saat ini.

*************

Saat Doo Jin dan Siwon sampai bersama 2 kelompok pasukan khusus, mereka tidak bisa menemukan apapun. Yang bisa mereka temukan hanya 2 rumah reyot kosong.

Rumah di mana Jessica ditangkap oleh Tao, meninggalkan sebuah ponsel milik Min Seok yang Doo Jin temukan diselipkan di lubang dinding. Ponsel itu masih hidup hingga menuntun Doo Jin dan Siwon kemari.

Sementara itu, rumah di mana Min Seok disekap, ketika diperiksa menyisakan beberapa jenis obat-obatan terlarang dalam bentuk cair. Ada beberapa suntikan juga.

“Hyung, kemari!” teriak Siwon tiba-tiba yang sedang sibuk menyisir ruangan di mana Jessica disekap sebelumnya.

“Apa yang kau temukan?” tanya Doo Jin begitu berjongkok di sebelah Siwon.

“Ada darah. Salah satu dari mereka berdua kemungkinan besar terluka.”

“Kita harus cepat menemukan mereka, sebelum semuanya di luar kendali.”

Doo Jin lalu diam sejenak. “Kalau mereka memang berdua.” sambungnya lagi.

Tiba-tiba salah seorang anggota tim yang dibawa Doo Jin, memegang bahunya dari belakang. Doo Jin langsung menoleh ke arah orang yang menyentuhnya dari belakang.

“Kita baru saja mendapatkan laporan.” Doo Jin menunggu orang itu melanjutkan perkataannya.

“Tempat ini merupakan saksi bisu di mana kasus 39 terjadi.”

“Mwo!” teriak Doo Jin tak percaya. Ia langsung bangkit berdiri. Mensejajarkan tatapan matanya dengan tatapan mata orang itu.

“Ada kumpulan tulang belulang di basement rumah ini.”

Siwon ikut bangkit berdiri. Menganga tak percaya mendengar perkataan seperti itu. Jadi rumah jelek seperti ini bisa memiliki basement, batin Siwon.

“Kita benar-benar harus menemukan mereka malam ini juga, atau kita akan menemukan tulang belulang lainnya.”

“Ne, Hyung.” jawab Siwon.

*************

‘Jangan lupa, pulang dulu ke rumah kalian masing-masing. Lusa, kita bertemu di atas bukit. Bawa Jessica bersamamu.’

Ucapan Woo Bin kembali terlintas di dalam benak Soo Hyuk. Sebenarnya, pernah ada rasa sedikit tidak tega melihat Jessica yang begitu ketakutan. Tapi teringat dengan cerita yang pernah diceritakan Woo Bin kepadanya, membuatnya semakin ingin cepat-cepat menghabisi Jessica dengan tangannya sendiri.

Baik Tao yang sedang mengemudi, maupun Kai yang duduk di bangku penumpang di belakang bersama Jessica, tak ada yang berani mengajak Soo Hyuk berbicara. Mereka berdua sudah tahu jika Soo Hyuk sedang berpikir keras saat ini dan mungkin yang ada di pikirannya saat ini hanya Woo Bin seorang. Karena seperti yang mereka berdua ketahui semenjak kasus Nikolas, baik Soo Hyuk maupun Woo Bin memiliki perasaan lebih satu sama lain. Mereka seakan memiliki hubungan khusus.

Flashback

“Oi, tidak akan pulang?” tanya Soo Hyuk yang tiba-tiba duduk di sebelah Hyun Joong yang sudah kehilangan setengah kesadarannya karena pengaruh alkohol. Hyun Joong hanya diam, sibuk memutar-mutar gelas kosong di hadapannya.

“Biar aku mengantarmu pulang, Hyun.” Soo Hyuk bangkit berdiri dan menarik salah satu lengan Hyun Joong. Tapi, Hyun Joong malah menepisnya dengan kasar dan berteriak kepadanya agar menjauh.

Soo Hyuk tidak bisa membiarkan Hyun Joong, sahabat baiknya, hoobaenya di sekolah, sendirian di club malam seperti ini. Bagaimana jika ia membuat onar nantinya dan malah dipukuli habis-habisan. Soo Hyuk tak tega untuk membayangkannya saja.

“Aku sakit, Hyung. Rasanya sangat sakit. Ia mengkhianatiku…” keluh Hyun Joong.

“Apa yang sakit?” tanya Soo Hyuk tak mengerti.

Tiba-tiba, Hyun Joong menarik salah satu tangan Soo Hyuk dan meletakkannya tepat atas dadanya. Hyun Joong ingin Soo Hyuk merasakan detak jantungnya yang sangat kacau saat ini.

“Sica…Jessica melakukan ini kepadaku. Ia merusak semuanya.”

Soo Hyuk dapat merasakan detak jantung Hyun Joong yang tidak karuan. Memacu jantungnya untuk berdetak tidak karuan juga. Membuatnya tersipu malu secara tak sadar. Ia menyukai bagaimana cara Hyun Joong mempertahankan tangannya seperti saat ini.

Hoobae yang disukainya di sekolah. Memang terdengar tidak normal, tapi Soo Hyuk tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Hoobaenya ini adalah sumber kebahagiannya sejak mereka memutuskan untuk menjadi sahabat. Bahkan sekarang, rasanya Soo Hyuk berada di atas angin saat Hyun Joong mengijinkannya merasakan detak jantungnya.

“Bantu aku, Hyung. Bantu aku.” racau Hyun Joong. Ia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah saat ini. Padahal, ia sudah benar-benar salah langkah saat ini. Meminta bantuan dari Soo Hyuk yang tentunya akan melakukan apapun asalkan orang yang dicintainya ini bahagia.

Soo Hyuk menarik Hyun Joong ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Sementara Hyun Joon tak membalas pelukan itu. Ia masih sibuk mempertahankan tangan Soo Hyuk dalam genggamannya.

“Aku akan membantumu, kau tidak perlu cemas. Jessica melukaimu, maka aku akan membalasnya untukmu.”

“Tapi, Hyung….Dia…”

“Aku tahu, kita hanya akan membuatnya merasakan hal yang sama. Ceritakan saja semuanya padaku.”

Jadi, malam itu, kedua pemuda itu menghabiskan waktunya berduaan saja, di club malam itu. Hyun Joong tak henti-hentinya menceritakan kekesalannya akan Jessica yang ia salahkan telah merusak semuanya. Sementara Soo Hyuk menjadi pendengar yang baik.

Pada akhirnya, pikiran orang mabuk dan stress itu dengan mudahnya dikuasai Soo Hyuk. Soo Hyuk menekankan tiap kata-kata solusi yang berkembang di otaknya kepada Hyun Joong. Tak ada satu katapun yang luput dari pendengarannya. Ia justru sudah kehilangan akal sehatnya karena amarah dan dendam.

“Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku bersumpah, aku akan mencabik hatinya, seperti yang dilakukannya kepadaku,” ucap Hyun Joong bersemangat. Ia sudah memperoleh sedikit kesadarannya saat ini.

“Kita akan melakukannya bersama, aku akan selalu ada untukmu.”

Tiba-tiba, Hyun Joong menarik Soo Hyuk ke dalam pelukannya. Melingkarkan kedua tangannya dengan erat di pinggang Soo Hyuk.

“Gomawo, Hyung. Aku menyayangimu. Sangat.”

Soo Hyuk membalas pelukan Hyun Joong sambil menorehkan senyum tipis di wajahnya. Hubungan mereka menjadi lebih erat mulai malam itu.

Hyun Joong hanya memperbolehkan Soo Hyuk memanggilnya dengan Hyun Joong karena orang itu adalah orang yang sangat penting baginya. Sementara Kai dan Tao, yang waktu itu baru berusia 14 dan 15 tahun, memanggil Hyun Joong dengan Woo Bin Hyung.

The End

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s