Happiness (Special Post, Sica’s Birthday)

Tittle : Happiness

Author : Catharina Griselda

Rating : General

Major Cast : Jessica O.V

                        Kim Min Seok ( EXO – M )

Minor Cast : Kim Woo Bin ( actor )

                         Kim Jongin / Kai ( EXO – K )

                         Huang Zi Tao / Tao ( EXO – M )

                         Lee Soo Hyuk ( actor / model )

Cameo : Kris ( EXO – M )

                 Kim Doo Jin ( actor, Won Bin )

                 Catharina G.

                 Gaby

Note : ff khusus buat si halmeoni nih…yg hari ini ultah ke-16….gila tua banget!!!

Ff nya sengaja dibikin ngegantung karena kerasanya terlalu panjang klo mpe tamat bener. Jadi, mungkin akan disambung nanti aja ya…abisnya mepet banget buat nyiapin ff ini…( curhat ).

Pokoknya, singkat kata…HBD, Jess. Klo mw protes di skul aja, jgn di wordpressku, nti namaku jadi rusak. Sedikit bocoran, bkal happy ending….

Ok…selamat membaca!!!!

Jessica sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper. Ia bahkan tidak menyadari, ada seorang pria berdiri di ambang pintu kamarnya, menatapnya dengan tatapan tajam.

Tak sedikitpun gerak-gerik Jessica yang sedang duduk di lantai sambil membenahi kopernya, terlewatkan oleh pria itu. Yang diinginkan pria itu, hanya menunggu Jessica menyadari kehadirannya. Gadis berambut keriting yang sangat dikenalnya.

“Omo…aku lupa,”ucap Jessica tiba-tiba lalu segera bangkit berdiri. Ia berbalik dan menemukan seorang pria di ambang pintu kamarnya yang sempat membuatnya terkejut sesaat.

“Oraeboni, apa yang Oraeboni lakukan di sini?” tanya Jessica dengan sedikit nada kesal terselip di suaranya. Jessica tidak menunggu jawaban pria yang dipanggilnya Oraeboni itu, ia langsung keluar dari kamarnya begitu saja, melewati celah kecil yang disisakan pria jangkung itu, di ambang pintu.

“Melihatmu membereskan pakaianmu.” jawab pria itu sambil mengekor di belakang Jessica. Jessica tidak membalas kembali ucapan pria itu. Ia berjalan tergesa-gesa menuju sebuah kamar yang berada di ujung lorong. Berjarak 3 pintu dari kamarnya, itulah kamar oraeboninya, pria itu.

Sampai di depan pintu kamar oraeboninya, Jessica berhenti lalu menatap sinis ke arah pria tadi yang sedang bersandar di tembok, tak jauh dari kamarnya. Oraeboninya hanya membalas tatapan Jessica dengan seulas senyuman tipis.

“Bonekaku, aku ingin mengambilnya kembali.” Nada bicara Jessica sangat sinis. Sepertinya, Jessica masih kesal dengan kejadian 2 hari yang lalu.

“Katakanlah dengan sopan dan dengan nada yang lebih bersahabat.” tantang pria itu.

Jessica menghembuskan napasnya dengan kasar lalu memutuskan untuk pergi menjauh. Melewati sang Oraeboni begitu saja.

Tapi, Jessica tidak bisa pergi jauh, karena tiba-tiba, oraeboninya mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Jessica dapat merasakan dengan jelas hembusan napas oraeboninya di puncak kepalanya.

“Kalau kau masih marah karena urusan 2 hari yang lalu, katakan saja, jangan seperti ini.”

Sekali lagi, Jessica menghembuskan napasnya dengan kasar. Apa yang dikatakan oraeboninya ada benarnya. Baru kali ini, Jessica dapat bertahan mendiamkan oraeboninya selama ini.

“Sica….” rengek pria itu sekali lagi, berusaha meyakinkan Jessica untuk bersikap lebih akrab, seperti biasanya.

“Aku tidak bisa.” Jessica memaksa melepaskan kedua tangan oraeboninya yang melingkar di bahunya, lalu Jessica berbalik dan menghadap oraeboninya. Jessica sedikit mengangkat kepalanya karena oraeboninya yang terlalu tinggi.

“Aku tidak bisa jika Oraeboni tidak membiarkanku mengejar cintaku.”

“Cintamu? Min Seok?” Jessica hanya mengangguk dengan tatapan kedua matanya yang dipenuhi keyakinan.

Oraeboninya seperti berpikir sejenak. Ia sibuk melihat ke sana kemari, tidak melihat langsung kedua mata Jessica yang seakan menyalurkan keyakinan untuknya.

“Jebal…”rengek Jessica.

Rengekan itu, berhasil membawa oraeboninya kembali fokus. Memberikan tatapan khawatir untuk membalas tatapan meyakinkan Jessica.

“Tapi, bagaimana kalau Min Seok terluka seperti yang dulu? Apa kau akan baik-baik saja?” Jessica mengangguk dengan penuh keyakinan untuk menjawabnya. Berhasil membentuk seulas senyum tipis di wajah oraeboninya.

“Kalau begitu, pergilah.”

*************

Drt…Drt…Drt…

Min Seok meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk sesaat untuk menoleh ke arah ponselnya. Mengecek siapa yang menghubunginya di jam kerjanya siang ini.

Nomor asing. Min Seok tidak akan pernah menerima ataupun membalas nomor asing yang menghubungi ponselnya.

Jadi, Min Seok membiarkan ponselnya terus bergetar di antara tumpukan berkas-berkas yang sedang diperiksanya. Membiarkan dan membiarkannya terus. Tapi lambat laun, Min Seok tidak tahan lagi. Ponselnya tidak bisa berhenti bergetar. Memaksa Min Seok untuk menerima panggilan itu.

“Yeoboseyo,” ucap Min Seok dengan nada kesal. Baru kali ini, ada yang mencoba menghubunginya tanpa henti.

“Oppa!”

DEG!

Min Seok kenal betul siapa pemilik suara di seberang sana. Malah, Min Seok langsung yakin 100% bahwa orang ini sangat dikenalnya. Membiarkan tak terjadi percakapan sama sekali untuk beberapa saat.

“Oppa…?”

“Oh..” jawab Min Seok yang baru tersadar dari lamunannya. “Jessica?” sambungnya lagi.

“Ne… Aku ada di depan tempat kerja Oppa. Oppa bisa kemari?”

“Ne, jangan ke mana-mana.”

Min Seok memutus panggilan secara sepihak. Jessica tidak memiliki kesempatan untuk memprotes Min Seok. Yang terpenting, Min Seok mau menemuinya.

Min Seok sampai di pekarangan kampus yang sangat luas. Banyak orang berlalu lalang ke sana kemari, memadati pekarangan kampus. Min Seok hanya bisa menjulurkan lehernya, melihat ke sana kemari, berharap menemukan Jessica. Sayang, tak semudah yang diharapkan.

Drt…Drt…Drt…

Nomor asing itu lagi, nomor Jessica. Min Seok langsung menerima panggilan itu.

“Kuberi waktu 5 menit untuk menemukanku, Oppa.” Lalu tanpa menunggu jawaban Min Seok, Jessica langsung memutus panggilannya begitu saja.

Hanya 5 menit, Min Seok harus segera menemukan Jessica secepatnya. Gadis itu tidak pernah menarik ucapannya kembali.

Min Seok beberapa kali memaksa menerobos di antara gerombolan mahasiswa dan mahasiswinya yang sibuk mengobrol. Tidak ada yang berani protes, karena Min Seok adalah seorang dosen di fakultas seni rupa.

Di mana dia?tanya Min Seok dalam hati. Sudah hampir mencapai pekarangan sayap timur di mana pintu gerbang untuk keluar dan masuk berada, tapi sayang, Min Seok tetap belum dapat menemukan Jessica.

Pabo!rutuk Min Seok. Apa karena sudah tidak bertemu selama  setahun, ia tidak mengenali yeojachingunya sendiri?

Min Seok akhirnya memutuskan untuk berhenti di tengah-tengah pekarangan sayap timur. Menatap lurus ke arah pintu gerbang.

Itu dia! Min Seok menemukan Jessica. Yeojachingunya berdiri di sebelah pintu gerbang sambil tersenyum memperhatikan layar ponselnya. Semuanya terekam dengan jelas dari kejauhan, di mana Min Seok berada saat ini.

Bagaimana rambut keritingnya melambai tertiup angin, cara berdirinya yang tidak begitu tegak, dan cara tersenyumnya yang tidak dipenuhi kepura-puraan. Masih sama, di mata Min Seok.

Min Seok baru akan menghampiri Jessica ketika tiba-tiba ada seseorang yang menarik pergelangan tangan kirinya. Memaksanya untuk berbalik, mencaritahu siapa yang menariknya dari belakang.

Ternyata seorang pria berperawakan kurus dan tinggi dengan sorot mata tajam yang lumayan mengerikan. Baru kali ini, Min Seok melihat wajah seperti itu.

“Apa kau bisa menunjukkan di mana kantor administrasi?”

“Ne?” balas Min Seok. Ia tidak menangkap apa yang dikatakan pria berwajah sadis itu karena terlalu asyik berpikir sendiri.

“Kantor administrasi.” ulang pria itu sekali lagi.

Min Seok tak menjawab. Ia melihat kembali ke arah Jessica lalu kembali fokus kepada pertanyaan pria di hadapaannya.

Jujur, Min Seok tahu di mana kantor administrasi, tapi ia juga lebih ingin menemui Jessica saat ini. Untung saja, salah seorang asistennya, Huang Zi Tao, tak sengaja melewatinya, sehingga Min Seok meminta Tao untuk mengantar pria bertampang seram itu ke kantor administrasi.

“Xie-xie, Tao. Nanti aku traktir makan,”ucap Min Seok yang hanya dibalas senyum tipis oleh Tao.

Min Seok berlari kecil ke arah Jessica dan sesaat sebelum ia sampai di hadapan Jessica, tiba-tiba seorang pemuda sudah berdiri di sebelah Jessica dan menyapanya. Jessica sepertinya sudah mengenal cukup baik pemuda yang tiba-tiba menyapanya.

Awalnya, Min Seok tidak ingin melanjutkan tujuannya yang sebelumnya, tapi ia memutuskan untuk tetap melanjutkan. Bagaimanapun juga, hubungan mereka sempat renggang  setahun dan mungkin Min Seok ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jessica masih menganggapnya.

“Sica,”panggil Min Seok. Membuyarkan Jessica yang sibuk mengobrol dengan pemuda yang sempat dilihat Min Seok sebelumnya.

Mereka berdua sama-sama memberikan tatapan aneh ke arah Min Seok. Sepertinya merasa terganggu.

“Apa aku mengganggu kalian?” Jessica menggeleng sambil tersenyum kepada Min Seok. Pemuda di sebelah Jessica hanya menatap dingin ke arah Min Seok. Tatapan yang tidak disuka Min Seok sama sekali.

“Ayo, Oppa ajak berkeliling.”

Min Seok mengulurkan tangannya kepada Jessica. Tapi Jessica tidak langsung menerimanya. Ia menengok dulu ke arah pemuda di belakangnya, seperti meminta persetujuan untuk menerima ajakan Min Seok.

Sekilas, Min Seok dapat melihat pemuda itu menggangguk pelan kepada Jessica. Barulah, Jessica menerima uluran tangan Min Seok.

“Siapa tadi?” tanya Min Seok tak jauh dari lokasi di mana ia menemukan Jessica. Jessica bukan menjawab, malah memberikan tatapan tidak mengerti ke arahnya. “Pemuda tadi.” sambung Min Seok. Berusaha mempertegas.

“Teman sekolah.” Wajah Jessica terlihat lebih berseri saat menjawab.

“Teman biasa?”

Jessica menarik tangannya yang digenggam Min Seok. Memberikan tatapan sinis sambil memposisikan tubuhnya seakan tidak nyaman.

Min Seok terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik. Mungkin Jessica yang dikenalnya dulu, tidak pernah marah secara serius, tapi mungkin saja sekarang ia sudah berubah.

“Maksud Oppa?”

Pertanyaan itu berhasil membuat Min Seok salah tingkah. Sepertinya, Jessica tersinggung dengan pertanyaannya tadi.

“Ehm…hanya berusaha meyakinkan diriku.”

Aneh. Jessica tiba-tiba menghampiri Min Seok kembali dan memeluk salah satu lengannya. Sekali lagi, Min Seok dapat menangkap rona bahagia di wajah Jessica.

“Teman biasa. Benar-benar biasa.”

*************

Sudah seminggu Jessica menjadi mahasiswi jurusan seni rupa bersama pemuda yang sempat dicurigai Min Seok. Nama pemuda itu Kim Jongin, tapi ia ingin dipanggil Kai.

Sebagai dosen, Min Seok tidak terlalu suka Kai berada di kelas design visualnya. Kai adalah murid yang dingin dan terlihat sombong di matanya. Belum lagi, satu-satunya teman yang dimiliki Kai di jurusan seni rupa, hanya Jessica saja. Orang lain tidak ada yang diajaknya mengobrol, menurut penuturan beberapa dosen lainnya.

Belum lagi, pemuda bertampang sadis yang dilihatnya seminggu yang lalu. Namanya Lee Soo Hyuk. Ia dosen baru bidang design grafis.

Bidang yang harusnya bekerja sama dengannya dalam hal kurikulum, tapi malah tidak pernah saling menyapa sama sekali. Yang pasti, Soo Hyuk sangat dekat dengan Tao. Tao bahkan sudah 6 kali melewatkan kelas tutor milik Min Seok karena lebih memilih mengajar di kelas tutor arahan Soo Hyuk.

Sungguh membingungkan sekali. Jadi, saat jam istirahat, Min Seok memutuskan untuk menemui Jessica di taman belakang, sayap selatan. Sebenarnya, melanggar kode etik antara guru dan murid, tapi, Min Seok sudah tidak tahan lagi untuk menceritakan kejadian aneh yang dialaminya selama seminggu ini.

Min Seok terpaksa menunggu di taman karena Jessica belum datang. Jessica yang dikenalnya adalah orang yang tepat waktu. Tapi sekarang, semuanya seakan berubah begitu saja. Ternyata, setahun bukanlah waktu yang singkat.

“Oppa!”

Min Seok menoleh ke arah kirinya dan menemukan Jessica sedang berusaha menarik napas sebanyak mungkin. Tak jauh, hanya tinggal kurang lebih 6 langkah lagi untuk sampai ke bangku taman di mana Min Seok sedang duduk di sana.

“Mian, aku terlambat,”ucap Jessica lalu langsung duduk di sebelah Min Seok. Ia juga tidak bisa duduk dengan tenang karena sibuk mengibaskan kedua tangannya untuk menurunkan suhu tubuhnya yang naik akibat berlari dari gedung seni rupa di sayap utara hingga kemari.

“Kenapa terlambat? Tidak biasanya.”

“Aku habis menemani Kai menemui Tao,”jawab Jessica dengan santai. Ia menganggap, jawabannya adalah hal biasa, padahal sebenarnya tidak di telinga Min Seok.

Jujur saja, ia cemburu. Setelah setahun tidak bertemu dan ternyata Jessica lebih peduli dengan Kai yang notabene hanya dianggapnya teman biasa sedangkan statusnya lebih tinggi, namjachingunya Jessica.

“Oh…kau lebih peduli dengan temanmu itu?” sindir Min Seok.

Jessica hanya membalas sindiran itu dengan tatapan bingung. Lalu kembali sibuk sendiri. Sepertinya, Jessica hanya mengganggap sindiran itu angin lalu.

“Apa Kai sebegitu dekatnya denganmu selama setahun belakangan?”

Jessica kembali menoleh kepada Min Seok. Ia bingung, kenapa Min Seok menjadi cerewet sekali.

“Cukup dekat. Dulu aku satu-satunya teman seangkatan yang diajaknya mengobrol.”

Oh, jadi naik status sekarang, batin Min Seok. Awalnya, Min Seok yang sudah terpancing emosinya, ingin menjawab Jessica lagi, tapi tidak jadi karena tiba-tiba ponselnya bergetar hebat di saku kemejanya.

Min Seok memeriksa ponselnya dengan enggan. Hanya memastikan apakah penting atau tidak.

Ternyata, pesan dari Soo Hyuk yang diberinya nama kontak, Freddy Kruger. Hebat, keluh Min Seok dalam hati.

From : Freddy Kruger

Jessica dengan Kai…menarik, aku tahu dari Tao.

Temui aku pulang mengajar nanti di taman belakang sayap timur. Ada yang ingin kubicarakan.

-Soo-

Selesai membaca, Min Seok sama sekali tidak membalas pesan itu. Kalimat pertamanya sudah membuatnya semakin kesal saat ini.

Jadi, Min Seok memutuskan untuk pergi menjauh tiba-tiba. Meninggalkan Jessica dalam kebingungan tanpa sepatah kata apapun. Daripada berdiam di taman dan malah bertengkar dengan Jessica.

*************

Meski tidak suka, tapi Min Seok memutuskan untuk tetap pergi ke tempat yang disebutkan Soo Hyuk sebelumnya. Siapa tahu, mungkin ada hal penting. Itu murni yang terlintas di dalam pikiran Min Seok.

Tapi, saat sampai di taman belakang sayap timur, yang ditemukannya malah Tao. Ia berdiri dengan gaya angkuhnya yang sudah biasa.

Min Seok menghampiri Tao perlahan agar tidak mengejutkannya. Tapi justru, malah Min Seok yang terkejut karena Tao yang tiba-tiba berbalik dengan memberikan tatapan bengis kepadanya. Tatapan yang tidak pernah Min Seok lihat sebelumnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Tao?” tanya Min Seok begitu sadar dari keterkejutannya.

“Aku?” Tao malah balik bertanya dengan nada sinis terselip di dalamnya.

“Ehm,” jawab Min Seok. Ia sedikit merasa janggal dengan gaya bicara Tao yang tidak biasa. Selama 2 tahun, baru kali ini Tao berbicara seperti ini kepadanya. Apalagi, bagaimanapun juga, Tao adalah asisten sekaligus muridnya.

“Menunggumu, Min Seok.”

“Mwo?” tanya Min Seok tidak percaya.

Belum sempat Min Seok mendapat jawaban lainnya dari Tao, tiba-tiba ada sesuatu yang cukup keras, menghantam kepalanya dari belakang. Malah sangat keras hingga Min Seok terjatuh ke bawah, tak sadarkan diri.

“Kita sudah membereskannya,” ucap Kai, orang yang memukul kepala Min Seok dari belakang dengan pemukul bisbol yang diambilnya dari gudang olahraga.

“Beritahu Hyung. Kita akan membawanya sekarang juga.” balas Tao. Kai hanya menyeringai sambil mengangguk.

Lalu, tubuh tak berdaya Min Seok, Tao seret begitu saja dengan menarik salah satu tangannya, sementara Kai sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.

Bisa dibilang, sore ini bukanlah sore semenyenangkan sore biasanya bagi Min Seok.

*************

Pagi ini, pelajaran pertama di kelas Jessica adalah design visual. Tak seperti hari-hari kemarinnya, Jessica bersama dengan kedua temannya, Gaby dan Catharina memilih duduk di bangku terdepan. Alasannya hanya satu, Jessica ingin memperhatikan ekspresi Min Seok lebih jelas. Ekspresi yang akan memberikan Jessica jawaban apakah Min Seok masih marah karena keterlambatannya atau tidak.

Sejak sepulang kuliah dan Jessica berusaha menghubungi Min Seok kemarin, tak ada satupun yang dibalas. Kalaupun menelepon, hanya tersambung dengan kotak suaranya saja. Jadi sedikit membuat Jessica ketar-ketir akan hubungannya dengan Min Seok.

“Dosennya terlambat.” keluh Gaby sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Udara pagi ini sangat panas.

“Tidak biasanya.”jawab Jessica.

Catharina tidak terlibat dalam pembicaraan. Ia sedang sibuk dengan ponselnya sendiri. Raut wajah gadis berkacamata itu sangat serius, seperti ada hal penting saja.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jessica sambil berusaha melihat layar ponsel Catharina. Kebiasaan buruk Jessica, ia selalu ingin tahu.

Catharina hanya menengok sebentar lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Jadi, Jessica menoleh ke arah kirinya dan ternyata Gaby sedang sibuk berbicara dengan ponselnya. Sepertinya, Luhan, asisten dosen muda itu, yang menghubunginya. Mereka sedang pendekatan tampaknya.

Jessica tidak tahu harus melakukan apa. Ia mengambil secarik kertas putih dari mapnya lalu mulai menggambar di atasnya.

Saat Jessica sedang sibuk-sibuknya dengan dunianya sendiri, tiba-tiba Catharina menyenggol pelan bahunya. Membuat Jessica menoleh ke arahnya.

“Dosen Kim sepertinya tidak akan datang hari ini.” Jessica memberikan tatapan menuntut penjelasan.

“Menurut rumor, dosen Kim sudah berhenti dari universitas ini.” sambung Catharina lagi.

“Tidak mungkin.”jawab Jessica bersamaan dengan masuknya seorang wanita paruh baya berkacamata ke kelas mereka, dosen baru untuk design visual sekaligus bukti rumor yang beredar begitu cepat.

Sepanjang pelajaran design visual selama 2 jam penuh itu, Jessica sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Padahal, jika Min Seok yang mengajar, ia bisa berkonsentrasi dengan baik. Mungkin lebih banyak memperhatikan wajah dosennya.

Selesai pelajaran design visual, Jessica segera berlari keluar dari kelas menuju kantor administrasi. Sebenarnya, masih ada pelajaran setelah kelas design visual, tapi Jessica tidak mempedulikannya.

“Dosen Kim, yang mana?”balas seorang pria paruh baya.

“Dosen Kim Min Seok, apakah ia benar-benar berhenti?”

Pria paruh baya itu mengutak-atik komputer di hadapannya sejenak. Lalu ia hanya menggangguk singkat kepada Jessica. Bahkan, pria paruh baya itu juga mengatakan bahwa Min Seok keluar bersama dengan dosen Lee Soo Hyuk yang baru saja melakukan pertukaran dosen selama seminggu. Sangat ganjil.

*************

‘Aku juga tidak tahu, Min Seok tidak pulang kemarin.’

Ucapan Kris, teman sekamar Min Seok di apartementnya, kembali terlintas di benak Jessica.

Saat ini, Jessica sedang duduk termenung di hadapan meja seorang detektif bernama Kim Doo Jin. Detektif yang katanya bisa membantunya, tapi sepertinya tidak.

Daritadi, detektif Kim sibuk sendiri menanyakan hal yang tidak penting, seperti berapa umur Jessica, ia tinggal bersama siapa, apa statusnya saat ini, dan lainnya. Jam terus berlalu karena pertanyaan bodoh itu, 15, 20, 30 menit.

Cukup! Jessica tak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit berdiri, hendak melupakan laporannya kepada detektif Kim mengenai hilangnya Min Seok. Terlalu mengesalkan.

“Agassi!” Jessica yang sudah berada di ambang pintu, kembali menoleh dengan malas kepada detektif Kim.

“Tolong jangan ikut campur. Aku pasti akan menemukannya, agassi.” Jessica hanya membalas dengan senyum yang dipaksakan lalu segera bergegas lari keluar. Menghentikan sebuah taksi, membawanya entah ke mana.

*************

Akhirnya, taksi itu membawa Jessica ke sebuah rumah tua yang letaknya hampir di pinggiran kota. Cukup mahal untuk membayar biaya taksi.

Jessica merinding setelah mengetahui taksi yang mengantarnya telah pergi jauh. Rumah tua di hadapannya saat ini, terlihat angker sekali. Bahkan hampir roboh termakan usia, sepertinya. Akan tetapi, rumah ini adalah tempat yang ditunjukkan oleh GPS di mana ponsel Min Seok terakhir terlacak oleh ponsel Jessica.

Apa mungkin Oppa berada di dalam sini?tanya Jessica dalam hati. Pertanyaan yang hampir membuatnya tidak ingin masuk ke dalam. Tapi, pada akhirnya, dengan kedua kaki yang bergetar ketakutan, Jessica masuk ke dalam.

Melihat sekeliling  untuk mencari ponsel Min Seok. Ia hanya menemukan rumah tua itu kosong. Hanya diisi debu, sarang laba-laba, dan beberapa serangga lainnya.

Tiba-tiba, Jessica seakan melihat sesuatu di dinding sebelah kanan. Sesuatu yang mengkilat, yang menariknya untuk mendekati benda itu.

Jessica mengusap benda mengkilat itu dan ia menemukan cermin di baliknya. Rasanya lebih menakutkan saat melihat pantulan dirimu di hadapan sebuah cermin tua, seperti yang dirasakan Jessica.

Jessica tak berlama-lama di hadapan cermin itu. Ia berbalik dan di saat yang sama, Tao yang entah datang dari mana, langsung berada di hadapannya.

“Jess…” ucap Tao lalu menyeringai, sangat menakutkan.

“Ann-annyong?” balas Jessica dengan suara bergetar. Ia berjalan mundur ke belakang untuk menghindari Tao yang mendekatinya dengan seringaian bengis yang masih tampak di wajahnya.

Sialnya, Jessica hanya bisa mundur 2 langkah, lalu Tao berhasil menguncinya, merapat di cermin yang tadi dipandanginya. Seringai di wajah Tao menghilang begitu berhasil mengunci Jessica. Tatapannya berubah menjadi sangat bengis.

“Woo Bin Hyung akan senang melihatmu, Jess.”

*************

Tao memaksa menarik-narik tangan Jessica, mengikutinya ke kaki bukit yang letaknya tak jauh di belakang rumah tua tadi. Sama seperti sebelumnya, di kaki bukit itu juga ada sebuah rumah tua, hanya saja kondisinya lebih terawat dan lebih luas. Ada pagar usang yang mengelilingi rumah ini.

Tao menendang pintu reyot di hadapannya dan Jessica dapat melihat dengan jelas, terdapat Min Seok di sana. Duduk terikat di sebuah kursi kayu usang, tak sadarkan diri. Ada 3 pria berpakaian serba hitam yang menutupi wajahnya dengan topeng badut, mengelilingi Min Seok dengan scalpel di tangan masing-masing. Jessica yakin mengenali perawakan salah satu pria yang ada di sana. Belum lagi, Tao sempat mengatakan nama yang sangat dikenalnya, saat menangkapnya tadi.

“Hyung, aku membawa nuidongsaeng cantikmu….”ucap Tao lalu mendorong Jessica hingga jatuh tersungkur di atas lantai kayu yang ditutupi debu sangat tebal. Ia batuk-batuk begitu jatuh ke sana.

Dalam hati, Jessica memohon agar salah satu di antara pria yang memegang scalpel, bukanlah oraeboninya. Semoga hanya kemiripan nama. Tapi, darimana Tao bisa tahu siapa saudara laki-laki tertua Jessica… Hal ini semakin mempersempit kemungkinan bahwa orang yang disebut, bukanlah oraeboninya.

Tiba-tiba, seseorang berjongkok di dekat Jessica dan memaksa mengangkat kepala Jessica. Mungkin ingin melihat wajah Jessica lebih jelas. Seseorang yang perawakannya paling ia kenali.

“Jangan lakukan ini, lepaskan kami.” Jessica mencoba memohon untuk kehidupannya dan Min Seok. Baru kali ini, ia mengalami hal seperti ini.

Tapi orang itu tak menjawab. Ia sibuk meneliti wajah Jessica.

“Jebal…”

Orang itu tetap diam. Lalu tiba-tiba orang itu membuka topeng yang dikenakannya, perlahan-lahan dengan salah satu tangannya yang bebas.

“Sica…Aku tak menyangka kita akan bertemu seperti ini,”ucap Woo Bin lalu mengelus pipi Jessica yang sedikit kotor.

“Oraeboni…..!”

*************

Beginilah akhirnya, bagi Jessica yang ingin menyelamatkan Min Seok. Terikat tak berdaya di sebuah ruang kosong yang berbau apek, sangat lembab. Hanya sendiri, di dalam kegelapan. Ia merapat di salah satu pojok ruangan, berusaha menyerap rasa aman sebanyak mungkin.

KRET…

Cahaya memaksa menerobos masuk, mengaburkan pandangan Jessica yang sudah cukup lama berada di dalam kegelapan. Sempat terlintas di dalam pikiran Jessica, hari pastilah sudah menjelang sore hari.

Pandangan Jessica yang masih kabur, tidak bisa menangkap sesosok jangkuk yang mendekatinya sambil membawa sesuatu yang menyala-nyala di atas kedua tangannya. Tapi Jessica sudah tahu, bahwa yang saat ini mendekatinya, adalah oraeboninya.

Woo Bin berjongkok di hadapan Jessica sambil tersenyum meremehkan. Jessica dapat melihat dengan jelas, apa yang dibawa oraeboninya, untuknya.

“19 tahun, tidak terasa. Ayo, tiup lilinnya.” Woo Bin menyodorkan kue tart yang dibawanya lebih dekat ke wajah Jessica. Tapi Jessica tidak merespon, hanya menatap nanar kepadanya. “Ayo…”

Jessica menolehkan wajahnya ke arah lain. Saat ini, wajah Woo Bin terasa sangat mengganggu pandangannya. Ia merasa sangat tersakiti dan bingung dengan kelakuan oraeboninya.

Oraeboninya seakan-akan berubah dari malaikat menjadi iblis. Melakukan tindak kriminal, menculik Min Seok tanpa alasan yang diketahuinya dan sepertinya, berniat untuk membunuhnya.

Woo Bin meletakkan piring kue tart yang dibawanya ke atas lantai di sampingnya. Lalu, memaksa menahan kepala Jessica agar menatapnya baik-baik.

“Tatap aku!” bentak Woo Bin. Jessica hanya bisa bergetar ketakutan.

“Apa kau ingin diam saja, hah!” Woo Bin mengencangkan cengkramannya yang menahan kepala Jessica. “Tanyakan kenapa aku berbuat seperti ini!”

“Lalu kenapa!” bentak Jessica kembali.

Saat ini, Jessica sudah tidak bisa menahan diri lagi. Rasanya benar-benar terlalu sakit, dan ia memerlukan penjelasan sekarang juga.

“Karena aku ingin bahagia, Sica. Aku ingin bahagia.” Woo Bin melepaskan cengkramannya tapi Jessica tetap menatap kedua matanya, mencari kejujuran, mencari jawaban.

Woo Bin mengalihkan pandangannya dari Jessica. Kembali mengambil kue tartnya lalu bangkit berdiri.

Kedua mata Jessica tak bisa lepas dari oraeboninya. Ia masih menuntut jawaban lebih jelas dan Woo Bin senang sekali, menyadari hal itu.

“Aku hanya bisa bahagia jika kau menderita, Sica. Aku akan merebut semua kebahagianmu seperti yang kau lakukan sebelumnya.” Woo Bin mundur beberapa langkah. Wajahnya terlihat lebih menyeramkan karena disinari pantulan cahaya lilin.

“Sekedar info, Nikolas, aku telah membunuhnya.”

DEG!

Jessica benar-benar lemas sekarang. Hilangnya Nikolas secara misterius waktu itu. Hilangnya namjachingunya waktu itu, ternyata karena oraeboninya. Woo Bin, orang yang dianggapnya berhati malaikat meskipun mereka bukan saudara kandung, hanya saudara angkat.

Ia benar-benar tidak siap dengan kenyataan kejam ini. Woo Bin adalah pembunuh. Ia melenyapkan Nikolas, entah ke mana hingga bahkan kasusnya pun ditutup begitu saja. Semua karena Woo Bin. Salahnya.

“Happy Birthday, Sica.” Woo Bin meniup lilin yang menerangi wajahnya, di hadapan Jessica yang diam membisu, tak percaya.

The End

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s